Notes from the Last Row

Notes from the Last Row (맨 끝줄 소년)

Descargar subtítols en Indonesian

Temporada 1

Información d'a versión

Notes from the Last Row S01 KOREAN NF WEB h264-EDITH
Un comentario de tedi
Retail NF (6 eps)

Etiquetas

webdl
Publicau o: 2026-06-26
Descargas: 78
Ta personas con problemas auditivos: No

Anvista previa d'os subtitulos en Indonesian

As primeras 200 linias.

NOTES FROM THE LAST ROW

SEANDAINYA MENGANGGUR SETELAH LULUS?

ORANG TUAKU PASTI KECEWA JIKA AKU MASIH BERGANTUNG.

SEJAK AWAL MENGULANG-ULANG.

TUGAS ESAI UNIVERSITAS YEONSEO

Lee Min-yeong.

Hadir.

Jang Han-seul.

Jang Han-seul?

- Heo Do-jun. - Hadir.

Tugas minggu lalu sudah aku koreksi dan kutaruh di sana.

Silakan diambil seusai kelas.

Baik.

Kau sudah mencatat?

Nanti aku pinjam, ya?

- Nanti kukirim. - Kau belum menonton? Sejak waktu itu…

Profesor!

Ini, Profesor.

"Sampah"? Kenapa Profesor tega sekali?

Sejujurnya aku seorang pemengaruh.

Apa Profesor tahu artinya?

Lebih dari 30.000 orang mengikuti blogku.

Dalam sehari, banyak yang suka tulisanku!

Oh, ya?

Hebat sekali.

Berarti itu tempat sampah, ya?

Tunggu. Jika isinya begini, lebih pas disebut tempat pembuangan sampah.

Ada 12 paragraf dan 167 kalimat.

Kaukira ini sebuah tulisan karena penuh dengan huruf.

Sayangnya, tak ada kalimat di kertas ini.

Tak ada satu pun kalimat yang tulus dari hatimu.

Isinya hanya ungkapan klise, sentimen receh,

dan salinan kalimat orang lain.

Kau menulis sesuatu yang tidak kaupahami,

lalu aku harus berkomentar apa?

Sebutkan kata yang lebih pas daripada "sampah".

Lain kali, kuusahakan untuk memakai kata itu.

Aku boleh pergi, 'kan?

Menyebalkan.

Haruskah kubunuh saja dia? Dasar perusak harga diri.

Andai saja ini bukan kelas wajib.

- Dia begitu karena rasa rendah dirinya. - Apa?

Kudengar saat minum dengan para senior,

Heo Mun-oh hanya punya satu novel.

Itu pun lebih dari 20 tahun lalu.

Tetapi, dia tak bisa menulis novel keduanya.

Dia sudah berusaha, tapi tak berhasil.

Dia melampiaskan inferioritas dan stresnya kepada mahasiswa.

Dasar pecundang.

SEDANG PENELITIAN DILARANG GANGGU

Halo, Kak.

Pintunya terbuka.

Ada apa, Profesor Park? Kita baru bertemu kemarin.

Itu kemarin. Aku datang lagi karena merindukanmu.

Astaga. Berhenti memanggilku "Kakak".

Baik, Profesor Heo.

Tapi, aku tetap suka memanggilmu "Kakak".

Kemarin pulang dengan aman?

- Mau kopi? - Tidak, aku baru minum kopi.

Ya, ampun. Apa ini?

Kau keras kepala. Masih mengabsen secara manual, ya?

Mau aku instalkan program? Itu sangat mudah.

Aduh, tidak perlu. Aku suka caraku.

Ada perlu apa?

Tak mungkin mampir dari Fakultas Teknik tanpa alasan.

Begini. Kemarin aku lupa mengatakannya kepadamu.

Kak,

kudengar kau kenal baik dengan Penulis Kim Su-hun?

Siapa? Kim Su-hun?

Ya. Katanya dia teman kuliahmu.

Aku tak menyangka koneksimu sehebat itu.

Kalau tahu sejak awal,

aku pasti sudah minta tolong kepadamu.

Apa maksudmu?

Waktu itu aku pernah bilang kepadamu.

Setiap bulan, aku mengurus acara budaya Fakultas Teknik.

Mahasiswaku kurang sentimental.

- Aku inisiatif… - Intinya saja.

Baik, intinya saja.

Intinya, bulan depan

kami akan mengundang Penulis Kim Su-hun.

Kami ingin dia memberi kuliah dan membahas novel barunya.

Kami ingin kau yang memandu acara.

Bagaimana?

- Aku memandu acara? - Ya.

Penulis Kim duluan yang mengusulkannya.

- Kim Su-hun mengusulkanku? - Ya.

Apa katanya?

Dia bilang akan nyaman dan seru kalau dipandu temannya.

Jika begitu, dia mau datang.

Kim Su-hun bilang begitu?

Ya.

Pak Gu, hati-hati licin.

- Tulis artikel yang bagus, ya? - Tenang. Siapkan saja salinan bukunya.

Su-hun.

Mun-oh! Tunggu sebentar.

Pak Gu.

Silakan duluan. Aku segera menyusul.

- Baiklah. - Jangan lama-lama.

- Wawancara yang sebenarnya baru dimulai. - Ya.

- Susul ke restoran kulit babi. - Baik.

Ya, ampun. Seharusnya aku menghubungimu. Maaf, ya?

Bukankah kita sudah janjian makan malam bersama hari ini?

Makanya aku datang.

Ya, tadinya begitu.

Aku juga perlu bicara denganmu, tetapi Pak Gu tiba-tiba bergabung.

- Kau tahu dia, 'kan? - Tentu. Semua penulis tahu Gu Yeong-ho.

Ini pertama kali aku lihat dia.

Omong-omong,

kau mau bilang apa?

Tentang apa?

Apa tentang permintaanku sebelumnya?

Tentang itu?

Benar.

Aku tak bisa memberimu testimoni.

Belakangan ini, aku keseringan memberi testimoni.

"Keseringan"?

Apa kau

sudah baca naskahku?

Tentu saja.

Kita bahas itu nanti.

Tunggu, Su-hun.

Katakan sekarang.

Bagaimana menurutmu? Beri tahu aku.

DUA UJUNG SPIRAL

Aku tak mengerti apa yang ingin disampaikan penulis.

Aku berpikir,

"Tak usah menulis jika tak ada yang mau dikatakan."

Hidupmu sudah cukup, 'kan?

Tetapi yang terpenting, mungkin kau

perlu belajar membuat kalimat lagi.

Jadi, menulis kalimat pertama itu penting.

Sejak menulis kalimat pertama,

penulis menginjakkan langkah pertama ke dalam ceritanya.

Simak kalimat ini.

"Alangkah bahagianya aku, pergi dari sini!

Sahabat,

itulah perasaan hati manusia!"

Ada yang tahu ini kalimat pertama dari novel apa?

Tak tahu?

Kalimat ini dari karya klasik Goethe…

Siapa itu?

Itu suara apa?

Mohon maaf.

Ini kalimat pertama Penderitaan Pemuda Werther karya Goethe.

Kalian tahu

bahwa ini ditulis

dalam format surat dari Werther untuk Albert, temannya…

Kau meremehkan kelasku?

Kau meremehkanku?

Berdiri.

Berdiri!

Tak mau berdiri?

Keluar!

Keluar dari kelasku.

Wilhelm, bukan Albert.

Apa?

Teman Werther bernama Wilhelm.

Albert adalah tunangan Lotte, wanita yang dicintai Werther.

Dia objek kecemburuan,

dambaan, dan rasa rendah diri Werther.

Namun,

jika perasaan seperti itu ada dalam pertemanan,

mungkin bisa dibilang mereka berteman.

Dia objek kecemburuannya

sekaligus temannya.

Profesor, waktunya sudah habis.

Sekian kelas hari ini.

Hei, bangun.

MEMAHAMI DAN MENERAPKAN ESAI DASAR

TEKNIK ELEKTRONIKA LEE KANG

Hei, terima kasih. Aku pasti kena masalah kalau tak ada kau.

Kutraktir kau hari ini.

Mau makan apa?

Sebutkan semuanya. Ayam goreng, piza…

Tetapi, jika kecemburuan ada lebih dulu daripada rasa sayang,

apa label "teman" bisa disematkan untuk hubungan itu?

Aku pertama kali bertemu Se-yun pada musim dingin sebelum masuk kuliah

secara kebetulan.

Kau sedang apa? Cepat bereskan!

Tunggu, ini…

Aku menyimpannya.

Terima kasih.

Sudah ketemu!

Terima kasih.

Pertemuan kami kebetulan, tapi pertemanan kami

bukanlah kebetulan.

Aku merencanakannya.

Wah, kau juga bergabung YDOC?

Ini suvenir untuk anak baru.

Aku Kim Se-yun, Ilmu Perpustakaan angkatan 2025. Kalau kau?

Lee Kang, Teknik Elektronika angkatan 2025.

Anak teknik juga ikut kelas ini?

Ya, ini memang kelas umum.

Apa kau bisa pengodean?

Jujur, aku tak paham. Aku daftar karena suka gim.

Apa susahnya pengodean? Itu mudah.

Serius?

Wah, bagaimana caranya?

Ajari aku, ya?

Comentarios

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left