As primeras 200 linias.
THE THIRD STAR
Kami tinggal di gedung yang sama.
Dia teman yang hebat. Seorang bintang.
- Dalam dan luar lapangan. - Saldanha hadir.
- Selalu. - Begitu kudengar.
João,
kau meliput beberapa perang sebagai koresponden.
Bagaimana dengan cerita dari…
Normandia dan Pendaratan Normandia?
Aku meliputnya.
Marsekal Montgomery. Pria yang bikin para Nazi melarikan diri.
Dia tak melakukannya sendirian.
Orang Brasil pertama yang tiba di Tiongkok Komunis.
Kurasa bukan.
Tiongkok Komunis?
Tunjukkan padanya.
Usus buntu.
Tanpa anestesia, paham?
Mereka menusukku dengan jarum akupunktur.
Lalu itu ditarik.
Operasi usus buntu di Tiongkok itu hal mudah.
Yang sulit itu melawan Uruguai di semifinal,
setelah apa yang terjadi di tahun 1950.
Ya, Saldanha.
Temanmu sedang menyinggung Maracanazo .
- Kau orang Uruguai? - Meksiko.
Itu lebih baik.
Maracanaço…
Tak ada yang bisa menandinginya.
Dari awal, hari itu terasa berbeda.
Piala Dunia pertama di Brasil.
Segalanya sudah sempurna untuk membawa kami jadi juara dunia.
Stadion Maracanã penuh sesak.
Penonton terbanyak.
Dua ratus ribu orang berkumpul untuk menonton final.
Friaça menendang! Gol!
Kami mencetak gol lebih dulu. Itu seperti Karnaval di Brasil.
Semua orang ingin merasakan perasaan menjadi juara.
HIDUP BRASIL
Kami sudah hampir meraih trofi itu.
Seri saja sudah cukup.
…Uruguai menyerang, dan gol!
Lalu…
Schiaffino menyamakan kedudukan.
Skor imbang di Maracanã.
…semuanya jadi sia-sia.
Tim Uruguai memengaruhi kami.
Mereka mengganggu tim kami dengan permainan kotor.
Obdulio Varela, kapten Uruguai, memperlakukan kami seperti anjing liar.
Dia bahkan menampar bek sayap kami.
Dan Bigode, malangnya, hanya menerimanya dan tertunduk.
Rakyat Brasil merasakannya.
Sejak saat itu, gol kedua hanya masalah waktu.
Uruguai mendominasi permainan.
Brasil tak boleh biarkan rasa takut menguasai.
Brasil takut pada Uruguai.
Mampukah Brasil mengalahkan hantu Maracanaço ?
KAMI TAKKAN PERNAH LUPA RASA TAKUT AKAN URUGUAI
Mereka beruntung di laga itu.
Wah.
Uruguai bukan hantu. Mereka tak sehebat itu.
Lihat ini.
- Tepat di hadapan kalian. - Dengar.
Uruguai bukan lawan sembarangan.
- Kalian tak tahu sejarah kita? - Kita tahu sejarah kita.
Kiper kita kebobolan yang seharusnya bisa ditepis. Blunder besar.
Diam saja, Leão.
- Benar, 'kan? - Diam.
Apa yang terjadi pada Barbosa di final itu,
aku tak mau itu terjadi pada siapa pun.
Moacir Barbosa do Nascimento. Kiper terhebat saat itu.
Dia bagian dari Victory Express.
Dia menangkan semua dengan Vasco. Carioca, Amerika Selatan, Rio-São Paulo.
Dia pilihan terbaik untuk menjaga gawang Brasil.
Tapi satu bola…
telah menodai kisah penuh kejayaan itu.
Dunia seakan-akan runtuh di pundaknya.
Tak ada yang bisa melupakan
aksi lari panjang Alcides Ghiggia menuju sudut pertahanan kami.
Setelah itu…
semua hening.
Satu gol…
menghancurkan hidupnya.
Félix, santai. Kau tak akan gagal.
Tak akan.
- Lagi pula, kau kulit putih. - Hei, dengar.
Apa maksudnya gagal?
- Jangan pernah bilang begitu! - Ya. Ayolah.
Ada apa ini?
Apa itu, Mário?
Mereka harus tahu, Zagallo.
Tidak perlu.
Kita akan bertanding, dan kau malah membahas masa lalu?
Aku melihat apa yang terjadi dari ruang ganti.
Laga melawan Uruguai bukan laga biasa.
Dan kau yang paling tahu soal itu.
Aku tahu, Mário. Dan aku ingin membalas dendam.
Kau yakin, Pelé?
Kalau begitu, pikirkan itu di lapangan.
Tapi jangan bawa-bawa hantu masa lalu ke ruang ganti ini!
Apa-apaan, Zagallo?
- Apa-apaan, Zé? - Hei!
Apa-apaan?
BARBOSA GAGAL, BRASIL KEHILANGAN GELAR. AKANKAH SEJARAH TERULANG?
Keesokannya, rakyat Brasil bangun dengan rasa terpukul.
Seluruh negeri berduka.
Yang terburuk adalah kami memiliki kampanye yang brilian.
Kami menang telak di beberapa pertandingan.
Tapi setelah final sialan itu,
kami dianggap pecundang.
Lalu…
sepak bola, kebanggaan terbesar kami, menjadi mimpi buruk.
Hingga hari ini, orang Brasil merasa rendah diri.
Astaga, aku merinding membayangkan sejarah bisa terulang.
Félix goyah di setiap pertandingan.
Di banyak pertandingan. Suruh mereka mencadangkannya, João.
Aku tak ikut campur. Aku tidak lagi berwenang.
- Hidup harus terus berjalan. - Apa maksudmu? Ini Piala Dunia.
Para pemain menghormatimu. Bicaralah. Mereka akan mendengarkanmu.
Jangan memperkeruh suasana.
Coba dulu. Jadikan Ado kipernya.
- Minta Ado atau Leão jadi kiper. - Leão!
- Kita orang Brasil. Tak boleh menyerah. - Baiklah.
Akan kuusahakan sebisaku.
Jangan biarkan sejarah terulang.
Ayo.
MEKSIKO '70
Ayo!
Lígia, ayahmu pemain timnas Brasil, 'kan?
Kau sudah tahu itu. Berhentilah bercanda.
Tapi dia tak ada di album.
Cuma Ado dan Leão yang jadi kiper.
Tapi dia mestinya ada di sini.
- Mungkin karena tangannya licin. - Tangan licin?
- Ya, tangan licin. - Apa itu?
Félix Tangan Licin!
- Ayahmu si Tangan Licin! - Félix Tangan Licin! Ayahmu!
Pertama, lupakan hantu itu.
Mereka berdaging dan berdarah, seperti kalian.
Kalau terus dihantui pemain-pemain lama, kalian akan kalah dari pemain hari ini.
Hantu takkan mendribel melewati kalian.
Tapi Cubilla bisa.
Ayo!
Striker berbahaya. Larinya kencang.
Riva harus lebih sering mundur.
Di lini belakang, bertahan.
Mazurkiewicz.
Salah satu kiper terbaik dunia. Bahkan pikiran pun tak bisa melewatinya.
Ini tim yang berbahaya.
Kalian tahu kekuatan mereka.
Permainan psikologis.
Mereka akan memprovokasi, memukul, menginjak,
meludahi, mengutuk ibumu.
Jangan tertipu.
Terutama pada pria ini. Fontes.
Pria menyebalkan.
Terkadang kasar.
Bersikaplah cerdas.
Ingat, kalian pernah menghadapi lawan yang jauh lebih buruk
di São Januário dan Vila Belmiro.
Tetaplah waspada.
Mereka akan ungkit hantu 1950.
Jadi, kini para pemain senior takut hantu? Begitu, ya?
Yang benar saja!
- Jangan mengompol, Corró. - Diam, Leão.
Wah! Hormat sedikit, Nak.
Kubilang hentikan omong kosong hantu ini!
Sialan!
Mereka terus saja bercanda.
Ini bukan cuma soal melawan mereka, Zé.
Tidak, Pelé.
Ini laga melawan satu tim.
Jika menang, kita akan melaju ke final.
- Fokus pada itu, jangan yang lain. - Aku tak bisa.
- Aku lihat ayahku menangis. - Benarkah?
Dan aku melihat 200.000 orang menangis.
Aku ada di Stadion Maracanã.
Uruguai menjadi juara dunia
di hari yang dikenang sebagai hari terkelam dalam sejarah…
Aku masih muda, bertugas di militer.
Aku ditugaskan untuk mengamankan laga itu.
Tak kusangka 200.000 orang bisa sehening itu.
Mereka pergi dalam diam.
Tinggal satu orang di sana.
Jantungnya tak kuat menerimanya.
Dia meninggal di tribun.
Lihat, 'kan, Zé?
- Saatnya balas dendam. - Tidak!
Kita kubur pertanda buruk itu.
Hantu itu terlalu kuat.
Aku tak paham.
- Dia punya alasannya. - Parreira.
Kami bertanya karena kami ingin melaju ke final.
Hei, Félix. Ada apa? Ada masalah?
Ya, aku belum tidur.
Aku belum tidur sama sekali.
Aku ingat perbedaan waktu Brasil, dan kupikir kau sudah bangun.
Lígia sangat merindukanmu.
Aku juga. Ini Ayah.
- Hai, Ayah. - Hei, Tuan Putri.
No comments yet. Be the first to leave one.