As primeras 200 linias.
KOMEDI SPESIAL NETFLIX ORIGINAL
Hadirin, sambutlah Tom Papa.
Terima kasih.
Lihatlah kalian.
Lihatlah diri kalian.
New Jersey.
Ya!
Itulah alasanku kemari.
Karena orang-orangnya.
Jelas bukan karena cuacanya, tapi orang-orangnya.
Terima kasih sudah datang. Aku bangga kepada kalian.
Kerja bagus sudah keluar dari rumah.
Kerja bagus.
Senang bisa kembali. Sungguh.
Kini aku tinggal di LA.
Agak menakutkan.
Bumi tak menginginkan kita lagi.
Kita selalu terbakar.
Anak-anakku berlari ke halaman
dan menangkap abu dengan lidah seolah itu kepingan salju.
Terima kasih, Sinterklas.
Kubilang, "Ludahkan itu. Itu rumah tetangga kita."
Bumi tak menginginkan kita, bukan? Semua kini dalam masalah.
Houston terkena beberapa kali, Florida,
Kepulauan Bahama, Puerto Riko...
Bagaimana para warga malang di Staten Island?
Astaga.
Bisa kalian bayangkan...
terpaksa hidup di Staten Island?
Ada orang-orang di sana sekarang...
memakai piama mereka,
tahu mereka akan bangun di Staten Island.
Apa yang kita lakukan? Hanya tertawa gembira,
seolah itu tak terjadi.
Warga Kepulauan Bahama baru menggalang dana
bagi orang-orang di Staten Island.
Aku turut prihatin.
Terima kasih sudah datang. Kalian rupawan.
Semoga kalian baik. Kalian tampak bahagia.
Aku bepergian ke seluruh negeri
dan semua orang panik.
Ke mana pun pergi, orang-orang melakukan napas dalam yoga di bandara.
Mereka mengunduh aplikasi meditasi di ponsel mereka,
mencoba tenangkan diri.
Tenang, kau baik-baik saja.
Percayalah, kau baik-baik saja.
Hidup tak sempurna. Baik dulu maupun nanti.
Kita harus menghadapi masalah. Kau baik-baik saja.
Memangnya kenapa jika gemuk? Siapa peduli?
Kita semua gemuk.
Kita entah sangat gemuk, agak gemuk, atau berusaha tidak gemuk.
Apa pun itu, lemak akan datang.
Itu tak masalah. Jangan benci itu.
Kau tahu kenapa kau gemuk? Karena kau pemenang.
Ya, generasi pertama, lahir pada saat yang tepat,
tak harus berjuang untuk bertahan hidup.
Makanan selalu mudah didapat, suhu sempurna ke mana pun kau pergi.
Setiap hari kau bangun di Amerika, suhunya selalu 22 derajat dan agak lapar.
Jadi, ya, kita akan jadi agak gemuk. Bukan masalah.
Jangan dibenci.
Terima dirimu. Itu intinya. Kau sudah besar dan dewasa.
Seperti inilah jadinya penampilanmu.
Itu saja.
Jadi, kau tak punya tubuh atlet Olimpiade.
Kau memang bukan atlet Olimpiade.
Kau Don dari Bagian Penjualan.
Bokongmu gemuk, bercelana khaki, yang kau naikkan saat berjalan.
Kami masih menyukaimu.
Jadi, jangan bilang kau berhenti dari apa. Aku tak peduli.
Aku tak peduli yang harga diri rendahmu putuskan kau berhenti dari apa pekan ini.
"Aku berhenti makan daging, gluten." Aku tak peduli.
Kau temanku.
Kau tampak buruk kemarin dan agak lebih buruk besok.
Ya.
Kenapa kita membicarakan ini? Ayo ambil es krim dan nikmati hari ini.
Istriku berhenti mengonsumsi gula Januari lalu
karena dia makan kukis bagai monster...
sepanjang Desember
dan pada 1 Januari, dia masuk ke dapur,
"Cukup. Aku takkan makan gula lagi."
"Tentu saja."
Lalu kau akan makan lebih banyak dari sebelumnya.
Bukan karena kau lemah, tapi karena kau manusia
dan terkadang kau sedih.
Untuk mencegahmu menggorok lehermu sendiri,
kau makan kukis sesekali.
Aku punya teman yang tak makan roti lagi.
Mereka tak makan roti.
Mereka tak makan roti.
Mereka akan kehilangan bobot 1,5 kg.
Takkan ada yang tahu.
Mereka tak makan roti.
Kenapa kau ada di sini?
Bisa kalian bayangkan?
Tak ada roti panggang bermentega saat pagi seumur hidupmu?
Bunuh dirilah saja.
Beri ruang untuk orang yang tahu caranya hidup.
Aku tahu ini sulit. Aku juga tertekan.
Semua menyuruhmu berusaha lebih giat, untuk kurus, jadi lebih baik,
aku paham.
Mereka tunjukkan iklan sasana, selalu mencoba mengajakmu bergabung.
Tunjukkan foto "Sebelum" dan "Sesudah". Jujur, aku selalu mirip pria "Sebelum".
Dia memang tampak agak gemuk dan seolah punya sekotak donat
dan banyak teman.
Tatapan pria "Sesudah" itu terlihat aneh.
Seolah dia melepas bajunya padahal seharusnya tidak.
Mereka selalu bilang, "Generasi lain dulu lebih kurus."
Ya. Hidup mereka menyedihkan.
Gandhi tak tampak seperti itu karena dia berolahraga di SoulCycle.
Hidupnya buruk.
Dia memakai popok dan makan siang dengan kupu-kupu.
Setiap acara kini punya segmen mengubah penampilan, bukan?
Mereka selalu memilih wanita, berkata dia tak cukup baik
dan wanita yang menontonnya pun tak cukup baik.
Selalu memilih seorang ibu pekerja.
Benar? Punya 15 anak dan 20 hewan,
mengemudikan minivan berlapis Cheerio-nya.
Dia tak mengira hidupnya akan begini. Dia pikir akan menjadi putri.
Itu ucapan orang kepadanya selama ini, "Kau seorang putri."
Saat menikah, dia pikir dia berhasil. Mereka berpakaian seperti Ratu Salju.
Mereka memotretnya di samping kolam bebek. Dia pikir dia berhasil.
Dia bangun keesokan pagi, tudungnya diambil, diberi celana olahraga,
dan disuruh bekerja.
Namun, dia tak peduli. Dia cinta keluarga ini,
mengabdikan hidup untuk mereka.
Dia malaikat di Bumi.
Lalu apa balasan dari keluarganya?
Mereka keluar dari pantri di TV nasional dan berteriak di wajahnya.
"Kami akan mengubah penampilanmu!"
"Kukira aku tampak baik-baik saja."
Tidak, kau menjijikkan.
Kami menggelar rapat saat kau membuat makan siang.
Kami memutuskan takkan melihat ini lagi.
Lalu mereka menyeretnya ke acara Today.
Mereka memberinya pakaian yang tak mampu dia beli atau pakai.
Dia tak bisa pakai sepatu setinggi ini.
Itu akan terjebak di lapangan saat dia memasang jaring sepak bola.
Rambut dan riasan yang tak bisa buat ulang
tanpa tambahan tiga jam saat pagi sebelum bus sekolah datang.
Bagian terburuknya,
di TV nasional, dia berjalan dengan sepatu baru,
berusaha tak jatuh.
Seluruh keluarganya ada di depannya mulai menangis.
"Astaga, kau cantik. Kau tak mirip dirimu."
Beri dia kelonggaran. Kalian harus saling bersikap baik.
Bersikap baiknya kepada dirimu. Ini sulit.
Yang kita lakukan ini sulit, bukan? Sulit menjadi manusia.
Ya.
Ini sulit.
Saat kecil, aku biasa melihat orang dewasa yang kaya, bermobil,
dan berpikir, "Itu terlihat menyenangkan. Aku tak sabar."
Lalu aku jadi dewasa selama enam minggu dan berkata, "Ini payah.
Aku harus membayar semuanya."
Hanya untuk perawatan fisik setiap hari. Benar, bukan? Tak ada habisnya.
Menyikat, membersihkan, dan menyeka
yang semoga setiap hari.
Seolah kita peliharaan kita sendiri.
Beberapa orang tak merawat hewan piaraan dengan baik.
Kau lihat mereka di trotoar, berambut menggumpal.
Seolah baru saja makan sampah. Di mana kerahmu, Dan?
Itu daftar kegiatan untuk keluar dari rumah, bukan?
Lihat sekeliling kalian malam ini. Lihatlah.
Tak ada yang bertubuh kekar di sini.
Kalian tidak buruk, tapi tak sampai orang bilang, "Lihat dia."
Tetap saja, untuk tampak seperti ini butuh waktu, bukan?
Ya.
Kalian membuat pilihan, menaruh kembali barang-barang...
Aku sedang berjalan di Jalan Sixth di New York
dan ada pebisnis berjalan ke arah lain.
Matang dipikirkan, semuanya sempurna.
Jas, dasi, sepatu kulit yang cocok dengan tasnya,
kacamata, tak ada rambut berantakan.
Ritsletingnya terbuka, satu testikel keluar.
Aku mengerti.
Dia lakukan semua isi daftar, tapi lupa satu hal itu.
Sedang menuju sebuah rapat.
Atau mungkin itu perjalanan pulang dari rapat.
Itu hal lainnya. Sebagai orang dewasa, tak ada yang peduli dan membantumu.
Mereka mungkin menatapnya saat rapat.
"Takkan kuberi tahu, aku pun punya masalah."
Kurasa kupakai celana dalam istriku hari ini. Aku tak tahu apa yang terjadi.
Istrinya mungkin menciumnya saat pagi.
"Sampai jumpa, Sayang. Dasar bodoh. Dia akan mengetahuinya."
Jika aku terpaksa melihatnya, orang lain juga harus.
"Tak ada salahnya menjemur itu sesekali."
Tak ada yang peduli. Kita benar-benar sendirian.
Memang.
Bahkan orang terdekatmu takkan sepenuhnya dekat, bukan?
Orang yang tidur di sisimu, tak sepenuhnya dekat.
Kau harus memotivasi dirimu di dalam benakmu.
Sepanjang hari, seperti orang gila.
Karena hanya kau yang menjaga dirimu.
"Aku sudah membawa dompet dan ponselku. Baiklah.
Di mana kunciku?
Ini dia.
Ini akan menjadi hari yang indah.
Satu-satunya perbedaan antara kau dan orang gila,
mereka meneriakkannya di jalan.
"Kubawa dompet dan ponselku.
Hari ini akan indah!"
No comments yet. Be the first to leave one.