As primeras 200 linias.
Viking di Eropa pada abad kedelapan dan kesembilan
mendedikasikan diri untuk dewa perang pagan, Odin.
Terkungkung di daerah utara yang tandus dan penuh es,
mereka meningkatkan keahlian mereka sebagai pembuat kapal
untuk menyebarkan teror
dengan kebrutalan tak tertandingi pada masanya.
Harapan terbesar setiap Viking adalah mati dengan pedang di tangan
dan memasuki Valhalla,
tempat Dewa Odin menanti dan menyambut mereka sebagai pahlawan.
Tak ada yang namanya kompas. Mereka hanya bisa berlayar sesuai matahari dan bintang.
Saat kabut menyelimuti, mereka tidak berdaya dan buta.
Bagaimanapun, Bumi itu datar.
Jika berlayar terlalu jauh, angin hitam akan meniup mereka
melintasi laut beracun di barat, melewati ujung dunia, menuju dunia lain.
Tujuan utama mereka adalah menaklukkan Inggris,
yang saat itu terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil,
yang saling bersaing satu sama lain.
Jadi, saat Viking mengangkat sauh untuk menjarah Inggris,
mereka tak pernah berlayar jauh dari daratan.
Serangan mereka selalu berupa satu malam yang penuh pembantaian.
Bukan kebetulan
bahwa buku doa Inggris berisi kalimat ini
"Lindungi kami, Tuhan dari murka Bangsa Utara"
Ragnar!
Raja sudah mati. Panjang umur Raja baru.
Sudah dua bulan kita meratapi Raja Edwin yang baik,
yang tewas di tangan Viking Ragnar, yang kejam,
dan kematiannya belum terbalaskan.
Dewan kerajaan menyatakan
bahwa Aella adalah keturunan kerajaan sejati
dan menyambut kenaikan takhtanya.
Yang Mulia.
Terima kasih, Nyonya.
Aku ingin meyakinkanmu, bahwa para barbarian
yang membunuh suamimu, sepupuku,
akan segera merasakan beban amarahku.
Meskipun pernikahanmu dengan Edwin tak dilengkapi buah hati,
yakinlah bahwa kau mendapatkan rasa hormat dari kami semua.
Kau boleh pergi, Ratu Enid.
Kami, Uskup Thurston dan Uskup Matthew bertanya,
maukah kalian menerima Aella sebagai rajamu dan menerimanya...
Kau tak perlu takut, Yang Mulia. Kata-katanya tak bisa menyakitimu.
Dia tak berhak mendapatkan takhta.
Tapi tidak ada pewaris langsung.
Sebetulnya, ada.
Apa?
Bapa Godwin, aku mengandung. Tetapi bukan keturunan Edwin.
Yang aku kandung adalah anak sang Viking, Ragnar.
Pertanda buruk.
Pedang suci Requitur, pedang raja diraja.
Panjang umur Sang Raja.
Dia putra seorang barbarian,
tapi aku menyayanginya seakan dia anak Edwin.
Rumor tentang kelahirannya telah menyebar. Jika mereka mencapai Aella...
Ke mana kau akan mengirimnya?
Ke Italia,
tempat para biarawan yang tak mengetahui jati dirinya akan merawatnya.
Tapi nyawanya akan aman, begitu juga nyawamu.
Bapa Godwin!
- Batu pelana pedang Requitur. - Itu hak miliknya.
Batu ini bisa kau gunakan untuk mengenalinya beberapa tahun lagi,
begitu pun dengan musuh-musuhnya.
Dua puluh tahun berlalu.
Ratu Enid telah meninggal,
tapi rumor bahwa dia memiliki seorang putra
terus mengusik Raja Aella.
Meski kastelnya menjadi benteng bagi seluruh Inggris,
bahkan Aella pun tak mampu menghentikan serangan Viking.
Kabarkan ke seluruh penjuru kerajaan Northumbria,
bahwa aku, Raja Rhodri dari Wales, mempersembahkan ke Raja Aella,
putriku, Morgana, dalam pernikahan ini.
Aku menerima ikatan ini.
Aku, Raja Rhodri dari Wales, pun menerima.
- Puji Tuhan. - Amin.
Bangkitlah, Nak.
Pada hari pertama musim semi, kau akan menjadi pengantinku.
Aku yakin, Lord Egbert, kau menyetujui persekutuan ini?
Dengan segenap hatiku, Tuan.
Lantas, mengapa menyebar kisah pewaris takhta peninggalan Ratu Enid?
Itu pengetahuan umum.
Sang Ratu, di akhir hayatnya, menyebut ada putra yang dikirim ke Italia
dengan batu pelana dari Requitur terikat padanya.
Yang Mulia, apakah bijaksana membahas hal-hal yang sudah lama berlalu?
Aku berharap untuk segera membungkam mulut yang membahasnya.
Anak cantik ini akan memberiku pewaris.
Dan pernikahan ini akan menggabungkan kekuatan Wales dan Notrhumbria
serta melindungi rakyat kita dari penindasan Viking.
Itu belum cukup.
Aku juga harus mengungkap pengkhianat di antara kita.
Tentunya tak ada pengkhianat di aula ini, Tuan.
Sepupu Egbert,
kenapa tanahmu tak pernah diserang oleh Viking?
Apa maksud Anda, Tuan?
Baik tanahmu atau tanah sekutumu
tidak pernah mengalami serangan.
- Sekutu? - Kau berencana melawanku.
Aku tak mau disalahkan atas kegagalanmu menghentikan serangan Viking!
Kau bersekongkol dengan musuh Inggris untuk menggulingkanku!
- Musuh apa? - Para Viking. Bawa dia pergi.
Kebohongan takkan membantu tiran!
Lakukan dengan cermat. Harus terlihat seakan dia bunuh diri.
- Dia kabur, Tuan! - Buru dia.
Bawa kepalanya padaku!
Hidup Ragnar.
- Kau terlambat. Kami sudah menunggu lama. - Aku hampir tak sampai.
Aella tahu pertemuan kita. Aku nyaris tak selamat. Kau harus membawaku.
Dia tak berguna lagi bagi kita. Kirim dia kembali.
Bukan begitu cara menghargai orang yang memandu serangan kita.
Kita akan menemukan cara untuk memanfaatkan dia.
Naiklah.
- Putar kemudi menuju Long Sound. - Putar kemudi menuju Long Sound!
Ragnar!
Hidup Ragnar!
Hidup Ragnar!
Hidup Einar!
Hidup Ragnar!
Hidup Einar!
Aku bersulang atas kepulanganmu dengan bir Inggris.
Andai itu darah orang Inggris.
Jaga mulutmu! Dia orang Inggris.
- Orang Inggris? - Lord Egbert. Sekutu.
Kalau begitu, minumlah untuk kembalinya ayahku, Orang Inggris.
Kau mau orang Inggris berpikir kita barbarian?
Itu Einar, putra tunggalku dengan istriku.
Dia sangat congkak, dia tak mau jenggot menutupi ketampanannya.
Dia mencukur wajahnya seperti orang Inggris.
Hidup Ragnar. Hidup jenggot Ragnar.
- Aku ingin kau ajari Egbert adat kita. - Aku akan mengajarinya.
- Aku hidup dengan otak, bukan otot. - Baik, Tuanku.
- Kalau begitu, bawakan dia kuda. - Sekarang?
Tentu saja.
Einar. Pelan-pelan.
Aku tahu. Otak, bukan otot.
Dia masih harus menggambar peta pesisir Inggris.
Pria mana yang punya putra lebih baik?
Dia bisa saja menjadi keturunan Odin, tapi dia menjadi anakku.
Ayo.
Jangan takut. Dia dilarang memburu orang Inggris.
Mereka terlalu sulit dicerna.
Kami punya olahraga yang sama di Inggris.
Dengan elang seperti ini? Lihat.
Bunuh.
Kau sebut itu elang?
Kurasa kami punya elang yang bisa mengimbangi itu.
Ini. Bawakan Cakar Panjang.
Itu baru burung pemburu.
- Kau lagi. Burung siapa itu? - Milikku.
Seorang budak dengan elang berburu?
- Aku menemukannya saat membeku di pohon. - Di mana kau mencurinya?
Sandpiper bersamaku saat aku menemukannya.
Saksi yang sempurna. Tuli dan bisu.
Mungkin kau ingin lidahmu dipotong. Agar kau tak bisa berbohong lagi.
Aku bukan pembohong.
Beginikah cara budak berbicara dengan Viking?
Beri tahu tuan dari Inggris ini bahwa kau pembohong.
Bunuh!
Bunuh dia!
Tidak!
Jangan bunuh dia.
Odin!
- Odin! - Odin!
Bawa budak itu masuk.
Lihat caranya memelototiku.
Jika dia bukan peranakan domba jantan hitam di bulan purnama,
maka namaku bukan Ragnar.
Apa yang akan kau lakukan dengannya di negaramu?
Kami punya hukuman yang menghibur, tapi cukup berisik.
Apa?
Sederhana, hanya lubang penuh serigala,
yang buas karena kelaparan, dan terlatih untuk menghargai darah manusia.
Kau lihat? Orang Inggris beradab.
Bisakah kau pikirkan sesuatu yang lebih buruk?
Aku bisa pikirkan sesuatu yang jauh lebih buruk.
Kurasa bisa, mengingat wajah cantikmu kini rusak.
Tapi dia budak yang baik. Beri dia kematian yang cepat.
Tidak. Jangan beri dia kematian yang cepat.
Lalu harus aku apakan dia?
- Tidak ada. - Tidak ada?
Aku ingin budak ini hidup-hidup.
- Setelah dia merobek wajahmu? - Ya.
Matahari akan melintasi langit seribu kali sebelum dia mati.
Dan kau akan berharap seribu kali untuk kematianmu.
Kitala!
Kau tak bisa membunuh budak itu.
Apa kata ramalanmu?
Jika Odin menghendaki kematian Eric,
palu Thor akan membunyikan lonceng kematiannya.
Tapi langit hening.
Kutukan Odin menunggu siapa pun yang membunuh sang budak.
Maka tak akan ada orang yang membunuhnya. Biarkan gelombang laut melakukannya.
Ikat dia, lalu lempar dia ke kolam lumpur saat air surut.
Bawa dia pergi.
Kau tak membunuhnya tapi kau akan membuatnya tenggelam dan dimakan kepiting?
Maka biarkan para kepiting itu dikutuk oleh Odin! Itu keputusanku.
Lalu bagaimana jika dia selamat dari kolam?
Jika dia masih hidup saat air pasang surut kembali,
orang bodoh mana pun yang mengeluarkannya bisa memilikinya.
"Selamat" katanya.
Odin!
Kirimkan angin dan ubah arus pasang.
No comments yet. Be the first to leave one.