Parasyte -the maxim-

Parasyte -the maxim- (寄生獣 セイの格率)

تنزيل الترجمة Indonesian

معلومات الإصدار

[Parasit - Sang Bidal] 24 Parasit
تعليق من Inisial ZA
https://www.facebook.com/ZainuddinAri

الوسوم

other
نشرت في: 2015-04-11
تنزيلات: 29
ضعاف السمع: No

معاينة ترجمة Indonesian

أول 196 سطر.

Pada akhirnya, tak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.

Memang banyak yang simpang siur di internet,

tapi, tak ada satu pun penjelasan resmi dari pemerintah.

Sejak insiden yang terjadi di balai kota,

sama sekali tak terdengar lagi ada aktivitas parasit di wilayah ini,

bahkan di seluruh penjuru dunia.

Kenapa mereka tiba-tiba lenyap dari permukaan?

Satu alasan kuatnya, insiden kemarin bisa mereka jadikan pengalaman.

Sedangkan alasan lainnya, mungkin mereka sendiri

sudah lebih bisa beradaptasi dengan umat manusia.

Mungkin sebagian dari mereka sudah berubah seperti Reiko Tamura sebelum mati,

yang berdiet daging manusia dan lebih kelihatan persis manusia umumnya.

Lalu, yang di sini juga...

Shinichi.

Kau selalu saja begini, Migi.

Selalu blakblakan.

Tapi, jujur saja, aku bersyukur kau masih hidup, Migi.

Bagaimana rupaku yang sekarang, Shinichi?

Lebih terlihat seperti kau yang biasanya.

Kalau sebelumnya sih, kau kelihatan berbeda.

Eh, kalau tak salah...

Lupakan saja.

Sejujurnya, hari ini aku ingin ucapkan perpisahan.

Eh? Maksudnya?

Aku akan tidur.

Tidur?

Bukankah biasanya kau juga tidur, 'kan?

Sekarang berbeda.

Kali ini, tidurnya lebih lama.

Mungkin saja sampai aku mati.

Singkatnya,

anggap saja tangan kananmu sudah kembali seperti sedia kala.

Lah? Maksudnya apa, sih?

Aku sama sekali tak mengerti.

Jaringan tubuhku mulai berubah lagi.

Terutama, karena sebelumnya aku habiskan waktu dalam mimpi buatan tubuh Gotou.

Yang awalnya aku sendirian, sekarang tak lagi bisa jadi faktor utamanya.

Tapi, Migi...

Bukan hanya aku dapatkan segudang informasi,

tapi, aku juga jadi bisa buka banyak pikiran sekaligus.

Sementara ini, aku ingin tutup informasi ke depannya,

dan lihat apa yang bisa kudapat dari bahan yang ditampung pikiranku.

Jadi, aku akan tutup diri dari dunia luar sementara waktu.

Kenapa begitu? Sama sekali tak masuk di akal.

Biasanya, kau ingin tahu segalanya.

Lalu, kenapa tiba-tiba begini?

Masih banyak hal yang belum kauketahui, 'kan?

Memang.

Ya sudah, begini.

Aku akan ambil jalur sebaliknya.

Akan kuambil jalur yang berbeda dari duniamu.

Apa maksudnya?

Shinichi, aku ingin kau anggap diriku ini hanya ada dalam mimpi.

Karena itulah, aku datang ucapkan perpisahan dari dalam mimpi.

Apa maksudmu?

Setiap hari yang kita habiskan bersama,

yang kita gunakan untuk saling bantu...

Itu semua bukan mimpi!

Memang benar.

Kejadian tak mengenakkan yang kaujalani,

dan juga kematian banyak orang yang terjadi di duniamu, adalah nyata.

Ibu?

Ibu!

Kenapa Ibu ada di sini?

Inilah yang kaugambarkan dari kematian yang kita obrolkan barusan.

Oh. Jadi begini ya, wajah ibumu yang ada di dalam ingatanmu?

Eh, apa?

Apa maksudmu?

Ini...

Mereka semua berbeda dari yang ada dalam ingatanku.

Coba perlihatkan sosokku dalam ingatanmu.

Oh.

Oh apanya, Migi?

Ya, pokoknya begitu.

Kita hanya bisa berharap untuk bisa saling pahami dari beberapa sisi.

Umat manusia yang notabene punya struktur tubuh yang sama,

bahkan bisa saling bertukar jiwa.

Seharusnya dunia yang ada di luar imajinasi pun, bisa terdengar dan terlihat oleh mereka.

Baiklah, aku harus pergi sekarang.

Aku akan balikkan katupnya.

Tunggu! Kalau misal ada parasit yang kutemui, aku harus bagaimana?

Kau pasti baik-baik saja.

Daripada pikirkan itu, lebih baik berhati-hatilah di jalan.

Tunggu!

Jadi, kita tak bisa mengobrol lagi?

Selamanya?

Bisa jadi.

Tapi, ya, bukan berarti kita berdua akan segera mati.

Lagi pula, aneh sekali 'kan, ada orang yang mengobrol dengan tangan kanannya?

Kejam.

Kenapa tiba-tiba begini, sih?

Sebangunnya nanti, kau juga pasti akan lupa soal mimpi ini, 'kan?

Karena itu, aku ingin kau lupakan diriku bersama mimpi ini.

Tidak, kau pasti bisa lupakan semua ini.

Dengar ya, saat kau bangun nanti,

bagian itu adalah tangan kananmu.

Karena sejak awal pun memang begitu.

Migi!

Terima kasih untuk segalanya, Shinichi.

Mana mungkin aku bisa melupakannya,

Bodoh!

Bodoh.

Parasit

ZainuddinAri

mempersembahkan

Sang Bidal

Belakangan ini, Si Nagai cari perhatian banget, ya.

Duh, dasar Akiho.

Nah, datang juga dia.

Izumi, lama tak ketemu!

Yo.

Sudah dari tadi?

Tidak kok, kebetulan Yuuko sama Akiho lewat tadi.

Habis dari sini, aku sama Akiho mau ke pasar seni, kok.

Aku sendiri tak begitu mau, sih.

Maaf sudah ganggu ya, kami pergi dulu.

Ya sudah. Sampai nanti, ya!

Mereka kelihatan senang sekali, ya.

Ya, kelihatannya mereka benar-benar nikmati masa kuliah.

Aku malah ketinggalan jauh.

Nah, makanya, kejar dari sekarang.

Aku akan menunggumu, kok.

Belajar lagi setelah gagal SBMPTN,

rasanya seperti bersantai di taman saat cuaca cerah,

kalau dibandingkan dengan kejadian tak masuk akal waktu itu.

Belakangan ini tak terjadi apa-apa lagi.

Bahkan, di sekitar sini pun, aku tak lihat parasit berseliweran.

Aku pun sudah tanyakan kira-kira penyebabnya

pada paman Uda lewat telepon,

tapi, aku tak bahas soal Migi.

Lenyapnya Migi dibilang terlalu unik, bahkan untuk rekannya sendiri.

Migi. Sampai saat terakhir pun, aku tetap sulit memahamimu.

Tapi, tak apa-apa.

Kau pun pasti melangkah di tempat yang berbeda denganku, 'kan?

Pertempuran yang kulewati bersama dengan Migi,

sebenarnya bukanlah demi kelangsungan bumi.

Tapi, untuk umat manusia. Atau tepatnya, untuk diriku pribadi.

Pokoknya,

aku sama sekali tak tahu jalan pikiran parasit, bahkan Migi sekali pun.

Atau lebih tepatnya,

dari awal pun memang tak mungkin bisa.

Sebagai dua spesies berbeda,

ada kalanya kami saling membutuhkan dan saling membunuh,

tapi, untuk saling memahami sepenuhnya, jelas tak mungkin.

Tepatnya, kita tak boleh pandang sesuatu hanya dari pandangan subjektif.

Kurasa, manusia terlalu sombong sampai bisa mengira, mereka mengerti perasaan makhluk lain.

Bisa jadi tak ada makhluk lain yang benar-benar anggap manusia itu teman.

Tapi, meskipun tak saling memahami,

mereka pun layak untuk kita hargai untuk hidup.

Kita lindungi spesies lain karena manusia takut kesepian.

Kita jaga lingkungan karena manusia sendiri tak ingin punah.

Yang mendorong kita lakukan itu, adalah untuk kepuasan pribadi.

Tapi, kurasa tak ada salahnya karena semuanya terlibat.

Tak ada gunanya benci manusia kalau dari pandangan manusia sendiri.

Benar juga.

Jadi, pada ujungnya, kalau tak cintai diri sendiri, mana mungkin mau cintai bumi.

Kau kenapa?

Eh?

Ah, tidak.

Rasanya belakangan ini tenteram sekali, ya.

Masa?

Bukankah belakangan ini banyak kejadian kriminal, ya?

Nah, ya!

Pantas saja mereka tak lagi banyak dibahas.

Ah, sejak awal juga mereka tak sering dibahas.

Kasus pembunuhannya pun banyak dihubungkan sebagai korban hewan buas.

Dalam arti luas, mereka itu musuh,

tapi, dalam arti sempit, mereka itu teman.

Karena kita semua dilahirkan di dunia ini, 'kan?

Lalu, kita kita hidup untuk saling berdampingan.

Parasit

Omong-omong,

kita sudah lama jalan bareng, ya.

Memangnya kita pacaran, ya?

Eh?

Bercanda, kok.

Begini.

Aku jadi lupa mau bilang apa.

Ha?

Lo?

Sekarang apa lagi?

Perasaanku saja kali, ya?

Orang itu persis dia.

Tidak kok, mungkin tadi salah orang.

Roda Dua Dilarang Lewat Sepeda dan Kendaraan Khusus Dishub Fukuyama Timur

Ternyata benar, itu dia!

Ada apa?

Bisa pegang dulu?

Tunggu di sini, ya!

Eh?

Sebentar saja, kok!

Dia lewat sini, 'kan?

Apa dia cari kenalannya, ya?

Dia mencariku.

Halo.

Satomi!

More Indonesian subtitles for Parasyte -the maxim-

التعليقات (2)

  • Bala A
    Tamil
  • Bala A
    Tamil
Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left