أول 200 سطر.
NO TAIL TO TELL
Bagaimana jika…
aku tidak ingin jadi normal?
Apa?
Jika kau berniat menghapus ingatanku
dan hanya kau yang mengingat momen ini…
setidaknya aku boleh melakukan ini, bukan?
Apa maksud…
Apa… Apa yang kau lakukan?
Tidak sepertimu, aku tidak bisa setengah-setengah.
Jika kuputuskan berbuat sesuatu, akan kulakukan sepenuh hati.
Apa? Apa maksudmu?
Ayo berpacaran. Sungguhan.
Aku serius.
Kau ini masih bocah ingusan. Kau belajar dari mana berbuat begitu?
Kau pikir apa yang kau lakukan?
Kenapa kau gugup begitu?
- Ada masalah? - Tentu saja.
Begitu kita kembali seperti semula, kita tak akan pernah bertemu lagi.
Jadi, kau bersikap sangat agresif seperti ini
membuatku merasa terbebani.
Kalau begitu, seharusnya jangan beri aku harapan palsu.
Aku baru saja mulai.
Kenapa? Kau mau berhenti?
Kapan aku memberimu harapan palsu?
Jangan berpikir untuk lari, dan jangan setengah-setengah juga.
Mari lakukan ini dengan benar. Kau dan aku.
Mulai sekarang, aku tidak main-main lagi.
EPISODE 9 SERANGAN CINTA
Rubah ekor sembilan itu.
Katanya dia berubah jadi manusia.
Apa?
Dia hanya manusia biasa sekarang.
Manusia biasa?
Manusia biasa.
Jadi, rubah itu
tak punya kekuatan lagi
dan tak ada alasan untuk takut kepadanya.
Ini jadi menarik.
Kau akan bagaimana?
- Soal apa? - Bagaimana pendapatmu?
Kini keadaan berubah, kau tak akan mengejar rubah itu?
Untuk apa?
Apa?
Entah kukuliti atau kupanggang,
aku tak akan mengotori tanganku kecuali itu menguntungkanku.
Tunggu, apa maksudnya…
Katanya binatang yang melatih diri memiliki bola kristal.
Naga punya bola naga untuk memanggil angin dan hujan.
Rubah ekor sembilan punya manik rubah untuk melakukan trik-trik tanpa batas.
Namun, jika rubah itu benar-benar menjadi manusia biasa,
maniknya pasti sudah pecah dan hilang.
Jadi, aku tidak tertarik lagi.
Namun, lihatlah penderitaan kita
gara-gara makhluk yang bahkan bukan manusia itu!
Kita bersembunyi seperti tikus, meringkuk ketakutan!
Apa hanya aku yang merasa kesal?
Kalian juga, kan?
Sudah kuberi tahu sebelumnya, kan?
Pemburu tak berburu karena dendam pribadi.
Sialan kau.
Tunggu.
Lalu siapa yang menghapus ingatanmu?
Dia manusia biasa sekarang. Bagaimana dia bisa menghapus ingatanmu?
Trik apa yang sedang kau coba lakukan?
Bukan dia
yang melakukannya.
Lalu siapa?
Entah dia rubah ekor sembilan atau apa,
tetapi ada orang lain di sana.
Ayo berpacaran. Sungguhan.
Aku serius.
Ini membuatku gila.
Ada apa denganku? Aku tak bisa tidur sama sekali.
Kenapa aku juga sangat haus?
Astaga.
Aku haus setengah mati, tetapi terlalu canggung untuk keluar.
Apa yang kupikirkan kemarin?
Tidak sepertimu, aku tidak bisa setengah-setengah.
Jika kuputuskan berbuat sesuatu, akan kulakukan sepenuh hati.
Sepenuh hati untuk apa?
Kalau begitu, seharusnya jangan beri aku harapan palsu.
Aku baru saja mulai.
Ada apa denganku?
Aku pasti sudah gila.
Dia akan segera bangun.
Pasti canggung sekali. Bagaimana aku harus menghadapinya?
Dia benar-benar pergi?
Ini canggung sekali.
Seharusnya dia meladeniku saja.
Kenapa dia tiba-tiba begitu berani?
Aku tak menyangka dia akan…
Aku jadi terkejut sekali.
Astaga.
Hai, tidurmu nyenyak?
Ya.
Sedang apa kau?
Oh, ini…
Bukan apa-apa.
Aku hanya memungut sesuatu.
Oh.
Mau pergi atau mau tinggal. Putuskan saja.
Kenapa kau terus bolak-balik? Itu membingungkan.
Oh, aku lupa memberikanmu ini.
Aku akan berolahraga.
Aku mungkin pulang terlambat, dan kau mungkin akan lapar.
Pakailah uang ini untuk membeli makanan.
Baik.
Namun, kenapa tiba-tiba berolahraga subuh-subuh begini?
Begini,
aku menyadari tubuhku benar-benar berantakan saat ini.
Keseimbanganku terasa tidak bagus, dan staminaku menurun drastis.
Oh.
Oke, baiklah…
aku akan pergi.
Oke, pergilah.
- Oke. - Ya.
Apakah…
kau mau ikut?
Apa?
Si-yeol.
Sebenarnya…
ingatanku sudah pulih.
Kalian merencanakan apa?
Tak perlu mengkhawatirkan temanmu.
Aku hanya tertarik dengan manik rubahnya.
Benar, bukannya Si-yeol akan berada dalam bahaya.
Sebaiknya aku tidak ikut campur.
Maka, apa pun yang terjadi bukan salahku.
Namun, bagaimana jika mereka membunuh rubah ekor sembilan itu?
Apa Si-yeol harus hidup di hidupku selamanya?
Astaga.
Woo-seok.
Ayah.
Ayah baik-baik saja?
Ayah tidak minum-minum semalam,
tetapi tak ingat apa pun.
Serius tidak apa-apa?
Jangan tanya.
Mungkin itu semua karena stres akibat memblokir berita
tentang kau memukuli seseorang.
Astaga, Ayah benar-benar pingsan.
Ini sudah pagi?
Hari ini ada pertandingan internasional!
- Pertandingan internasional? - Pukul berapa ini?
Kita harus cepat bersiap.
Mandilah. Ayah akan kemas tasmu.
Ayo kita mulai dengan peregangan.
- Peregangan? - Seperti ini.
Jaga kakimu tetap lurus.
- Oke. - Bagus.
- Sekarang membungkuklah. Raih kakimu. - Oke.
Tunggu, sebegitu saja?
Ya.
Apa? Tidak mungkin.
Ayo coba lagi. Tak mungkin tubuh manusia sekaku ini.
Apa?
Buang napas.
- Tidak bisa lebih rendah lagi. - Sebegitu saja?
- Ada yang salah denganmu. - Apa?
Oke, buang napas.
Embuskan.
Lihat? Kau bisa.
Satu, dua, tiga, empat.
Buang napas.
- Embuskan. - Sudah!
Sekarang, miring. Sisi satunya.
Embuskan.
Lepaskan, Si-yeol.
- Lepaskan! - Kau baik-baik saja.
Sudah kubilang aku tidak baik-baik saja!
- Regangkan! - Kubunuh kau nanti!
Bagus.
- Sudah selesai istirahatnya? - Apa?
- Nah, embuskan napas. - Embuskan.
Si-yeol, rasanya aku tak sanggup lagi.
- Apa? - Aku selesai berolahraga hari ini.
Apa maksudmu? Kita baru selesai peregangan.
Ayo lari sebentar.
Tidak. Larilah sendiri.
Aku akan istirahat sebentar di sini.
Berlari hanya membuatmu berkeringat.
Itulah sebabnya kau berlari.
Lihatlah mereka berlari. Terlihat keren, kan?
Berlari membuat suasana hatimu baik.
Oke, satu, dua, satu, dua, satu.
Si-yeol, sejauh apa kita akan berlari?
Ayo kita lari sampai sana. Ayo, kau bisa melakukannya!
Kau bisa. Ayo!
Begitu sudah benar.
Kenapa manusia melakukan ini
padahal punya mobil yang bagus?
Bukankah ini menyiksa diri sendiri?
Ini.
Airnya terasa enak, kan?
Ya, aku merasa lebih baik.
Anginnya juga sejuk.
Menyenangkan, kan?
Kurasa begitu.
Kau hebat.
No comments yet. Be the first to leave one.