أول 200 سطر.
Apa ada takdir
yang telah terukir bagi kita?
Andai takdir itu benar ada,
apa kita…
bisa bebas dari takdir…
yang berulang?
EPISODE 12 PENYELAMAT KEHANCURAN
Selamat pagi, Tuan Muda.
Pagi yang indah, Tuan Muda Yi-sun.
- Selamat pagi, Tuan Muda. - Selamat pagi, Tuan Muda.
Tuan Muda Yi-sun.
Dahulu, aku manusia.
Manusia istimewa
yang dihormati dan disayangi
oleh warga desa.
Tuan Muda!
Tuan Muda Yi-sun!
Jangan cerewet.
Berhentilah memanggil namaku. Kau tidak bosan?
Guru privatmu segera tiba. Masa, malah pergi melihat bunga?
Andai ayahmu tahu, kini dia tak akan tinggal diam.
Semua akan damai selama kau tutup mulut.
Aku tak bisa menutup mulut
karena bibirku monyong.
Pokoknya, tidak bisa.
Bila kau bersikeras…
Jangan injak aku, sakit. Silakan langkahi saja.
Kau ini!
Itu lebih bagus.
Jadi, pemandangan indah hanya untukku.
Dia benar melangkahiku.
Kau pergi sendirian diam-diam, Tuan Muda!
Aku tak tahu apa-apa.
Dia bandel sekali.
Seingatku, tempat terbaik ada di sekitar sini.
Tunggu!
Aduh, dingin!
Maafkan kelancanganku, padahal kita belum kenal.
Aku hanya sedang melepas jenuh saat menimba ilmu.
Jangan takut.
Aku bukan orang aneh. Namaku…
Seo Yi-sun.
Tidak ada yang tak tahu nama itu di desa ini.
Aku memang cukup terkenal di desa ini.
Tapi
wajahmu sangat asing.
Kelihatannya kau berasal dari luar desa.
Karena mustahil aku tak kenal wanita secantik…
Tentu wajar aku tidak tahu
karena terlalu serius menimba ilmu sampai tak ada waktu
untuk mengobrol dengan wanita.
Begitu?
Rumor yang kudengar berbeda.
Rumor apa?
Putra semata wayang keluarga bangsawan nomor satu desa ini
yang jauh dari ilmu
dan disebut hidung belang paling beruntung
sebab ayahmu pun tidak tega menegur
saking ibanya melihatmu
ditinggal mati ibu saat masih kecil akibat penyakit.
Rupanya kau
perhatian sekali kepadaku.
Kau banyak tahu tentang aku,
tapi aku tak tahu apa-apa tentangmu.
Siapa namamu?
Tuan Muda!
Tuan…
Tuan Muda Yi-sun!
Teganya kau tinggalkan aku sendiri…
Tunggu!
Kenapa kau menatap seperti itu?
Kurasa alasanmu untuk menjauh dari ilmu kian bertambah.
- Aku hanya tak ada niat. Jika niat… - Ternyata
dia memang cantik sesuai rumor.
Kau kenal wanita itu?
Tentu saja.
Dia dari keluarga bangsawan mana?
Bukan dari keluarga bangsawan.
Dia penghibur dari Hanyang yang baru tiba belum lama ini.
Penghibur?
Kudengar dia terkenal di Hanyang karena begitu pandai menari dan pintar.
Aku heran kenapa dia bisa ada di desa ini.
Mungkinkah untuk bertemu aku?
Omong-omong, namanya siapa, ya?
Siapa namanya?
- Minumlah. - Minumlah, Tuan Muda.
- Baiklah. - Kau tampak sehat hari ini.
Aku Wolsim.
Dia mau ke mana?
Apa-apaan ini?
Kudengar dia juga jual mahal di Hanyang.
Sombong sekali.
Wolsim.
Rupanya itu namanya.
Maafkan aku.
Waktu itu, aku ke sana hanya karena ingin melihatmu.
Maaf atas kelancanganku.
Lancang karena apa?
Aku tidak tahu, tapi…
Jangan minta maaf jika tak tahu alasannya.
Tunggu.
Tuan Muda.
Aku tahu kau lebih suka tidur daripada makan,
tapi jangan terlampau sering bermalas-malasan.
Nanti kau kurus.
Siapa kau?
Kau masih mengantuk
sampai tak mengenali tuanmu?
Tuanku mustahil bangun pukul sebegini.
- Ada angin apa ini? - Seok.
Aku bertekad untuk fokus menimba ilmu mulai hari ini.
Kenapa?
Ini jati diri asliku.
Biar kubawakan obat.
"Fan Xu bertanya tentang cinta kasih."
"Konfusius menjawab, 'Artinya, mencintai sesama.'"
Kau sedang apa?
Nona!
Kebetulan sekali.
Benarkah kebetulan?
Aku sedang membaca Ajaran Besar sambil mendengar suara air.
Anggap saja mengapresiasi seni sambil menimba ilmu.
Kelihatannya kau kemari karena alasan yang sama,
tapi pria dan wanita dilarang duduk bersama,
jadi, kau duduk di batu sebelah sana saja.
Ini tempatku.
"Lalu dia bertanya tentang kebijaksanaan."
"Konfusius menjawab, 'Mengenal sesama.'"
TAFSIRAN AJARAN BESAR
Rumahmu pindah ke sini?
Otakku lebih encer jika belajar di sini.
Kau tidak tampak seperti sedang belajar
di mataku.
"Jika tanggung jawab tidak benar, perkataan tidak benar."
"Jika perkataannya tidak benar, pekerjaan tidak terwujud."
Artinya sungguh mendalam!
Jangan khawatir.
Biar kuambilkan.
Jangan, berbahaya.
Aku sudah melatih jasmani dan rohani dengan berbagai seni bela diri,
seperti pedang, tombak, hingga panah.
Itu tak seberapa bagi…
Tak seberapa bagiku.
Tunggu di sini.
Tapi…
Tenang saja.
Tuan Muda!
Tuan Muda!
Astaga!
Dinginnya!
Tuan Muda!
Tuan Muda!
Tuan Muda Yi-sun!
Tuan Muda!
Tuan Muda Yi-sun!
Ini dia! Ini dia sepatunya!
Aku, Seo Yi-sun, berhasil menemukannya!
Nona.
Ini sepatumu, Nona.
Aku menemukannya.
Otakmu di mana?
Sepatu ini tidak penting.
Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?
Kau
mencemaskanku?
Siapa yang mencemaskanmu?
Jangan mengulanginya.
Kau baik-baik saja?
Aku sudah melatih jasmani dan rohani dengan berbagai seni bela…
Berikan padaku.
Tidak, biar aku saja.
Keringkan bajumu dahulu.
Tidak. Sepatunya hampir kering.
Tidak ada yang lebih hangat dari suhu manusia.
Sepatunya bisa terbakar.
Ayolah.
Aku kedinginan.
Hanyang itu seperti apa?
Pasti jauh lebih besar dan menyenangkan daripada desa ini.
Jauh lebih besar, banyak orang, dan lebih berisik.
Lalu, kenapa kau bisa sampai ke sini?
Maaf, aku salah bicara.
Aku menolak permintaan menari dari seorang pejabat.
Aku mungkin memang penghibur,
tapi mana bisa menari
ketika hatiku tidak tergerak?
Aku bersyukur penghibur rendahan sepertiku masih bisa hidup
setelah menolak permintaan pejabat.
Kau pasti punya alasan.
Alasan mengapa kau tak sanggup menari.
Pejabat itu tak bisa melihat tarianmu, sedangkan aku bisa lihat tiap hari.
Aku jadi bingung bagaimana membalasnya.
Kau sudah membalasnya.
Benarkah?
Kunang-kunang.
Aku mencintaimu, Wolsim.
Kukira kau merasakan hal yang sama.
Kini saatnya aku bangun dari mimpi.
Hal paling bodoh yang dimiliki manusia
adalah rasa cinta.
No comments yet. Be the first to leave one.