أول 200 سطر.
noebot08 -
ROME, OPEN CITY
Peristiwa dan tokoh dalam film ini...,
...meskipun terinspirasi dari peristiwa tragis dan heroik...
...selama sembilan bulan pendudukan Nazi, hanyalah fiktif belaka.
Jika ada kesamaan tokoh dan peristiwa adalah kebetulan semata.
Ya tuhan!
Aku datang!
- Insinyur Giorgio Manfredi. - Dia tidak ada.
Di mana dia?
Kami tidak tahu. Dia tidak selalu tidur di sini.
Ke mana dia pergi?
Aku tidak tahu. Anda tahu kehidupan bujangan.
Baiklah. Dimana kamarnya?
Sebelah situ.
Geledah rumah ini.
- Apa banyak yang mengunjunginya? - Sebelumnya, tapi tidak saat ini.
Baiklah.
- Berapa banyak penghuni di sini? - Dua.
- Di mana teleponnya? - Di ujung lorong.
Berhenti! Biar kuangkat sendiri!
Apa Giorgio ada?
Tentu saja. Tn. Manfredi. Siapa ini?
- Aku temannya. - Teman apa?
Siapa ini?
Siapa wanita itu?
Bagaimana mungkin aku tahu? Jika tidak melihatnya.
- Kau menemukan sesuatu? - Tidak ada.
- Dan pintu itu? - Menuju ke teras.
- Tetap tenang. - Ya tuhan!
- Siapa yang tinggal di sana? - Itu kedutaan Spanyol.
Kota ini akan dibagi menjadi 14 sektor.
Metode Schroder, sudah diterapkan di beberapa kota Eropa...,
...untuk mengelompokkan warga masyarakat...
...dengan menggunakan kekuatan minimum.
Masuklah.
Sersan Bauer menelepon, Pak.
Mereka tidak menemukan orang yang bersangkutan.
Tidak ketemu? Sudah kuduga.
Pemilik rumah dan pelayannya ada di sana. Apa kami harus bawa mereka ke sini?
Tidak, itu tidak perlu. Terima kasih.
Kabar buruk?
Seseorang melanggar janjinya.
Orang penting?
Aku harap begitu.
Kau tahu mereka?
Tidak. Siapa mereka?
Dia seorang insinyur, namanya Manfredi.
Nama itu sepertinya ada dalam berkas kami.
Sepertinya dia pemimpin militer Komite Pembebasan Nasional.
Aku punya alasan yang kuat bahwa dialah orangnya.
Bagaimana kau mengetahuinya?
Aku menyadarinya saat duduk di sini, di meja ini.
Setiap malam aku berjalan-jalan menyusuri kota Roma...
...tanpa pernah meninggalkan kantor ini.
Aku tertarik dengan foto yang jarang diperhatikan orang.
Foto-foto menarik dari orang-orang.
Contohnya, belum lama ini aku berpapasan dengan Tn. Manfredi...
...bersama teman wanitanya.
Aku pikir, "Aku pernah melihat orang ini di suatu tempat."
Perhatikan kelompok ini.
Kedua dari kiri.
Aku dikrimi foto itu dari Berlin.
Aku tidak salah, 'kan?
Tentu saja. Ini orang yang sama.
Menyebalkan sekali!
Permisi.
Suara apa itu?
Maaf, Mayor. Kami sedang menginterogasi profesor itu.
Baiklah, tapi buat dia tenang.
Begitulah teriakan orang Italia!
Memang.
Dan siapa gadis ini?
Marina Mari, pemain kabaret.
Ya, aku pernah melihat dia sebelumnya. Gadis cantik.
Sangat cantik.
Tenanglah!
Aku tak tahan lagi.
- Ada apa? - Mereka menyerbu toko roti.
- Bagaimana denganmu? - Sayangnya, aku berseragam.
- Sersan! - Apa yang mereka inginkan?
Aku tak bisa melakukan apa-apa! Ini benar-benar rusuh!
- Aku tak berdaya. - Tapi hanya empat ons sehari.
Tikus bahkan bisa makan kue. Lihat!
Dan mereka bilang tidak punya tepung!
Agostino, cari sendiri.
Aku tidak bisa. Aku penjaga gereja. Aku bisa masuk neraka.
Kalau begitu ambil kuemu di sorga.
Kembalikan!
Pina, kau gila. Dengan kondisimu yang seperti ini?
Apa aku mesti mati kelaparan?
Sersan, tolong!
Urus dirimu sendiri!
Akan kuantar sampai rumah.
Roti!
- Sudah sampai. - Terima kasih.
Perlu kubawa naik ke atas? Barang bawaanmu berat.
Dengan begini jadi lebih ringan.
Aku sebenarnya tidak mau, tapi aku kelaparan.
Pina, menurutmu orang Amerika benar-benar ada?
Sepertinya begitu.
- Mau beli telur seharga 16 lira? - Lupakan.
Beraninya kau bicara pasar gelap di hadapanku!
Sersan, abaikan saja.
Sampai jumpa.
- Siapa yang kau cari? - Apa Francesco tinggal di sini?
- Ya, tapi dia sedang keluar. - Tahu ke mana dia pergi?
Itu urusannya, bukan urusanku.
- Maaf, kau siapa? - Apa urusanmu?
- Kau pasti Pina. - Bagaimana kau tahu?
Francesco selalu bercerita tentangmu.
- Jadi kau... - Aku temannya.
Bodohnya aku! Aku kira kau polisi!
- Apa yang bisa aku bantu? - Aku ingin masuk ke apartemennya.
Akan kuambilkan kuncinya.
Maaf. Kuncinya tidak ketemu.
Lewat sini.
Kamarnya berantakan, tapi...
Tak masalah.
Kau kenal Don Pietro, pastor paroki?
Aku ingin bicara dengannya.
- Aku akan pergi memanggilnya. - Tidak, jangan kau.
- Aku akan menyuruh anakku. - Lebih baik begitu.
Tunggu aku di sini.
Marcello!
Apa?
- Turunlah sebentar. - Tidak mau.
- Suruh Don Pietro ke sini, cepat. - Aku sibuk!
Aku bilang ke sini!
Sudah kuingatkan jangan bermain dengan Romoletto. Berbahaya.
- Panggil Don Pietro. - Apa yang harus kusampaikan?
Suruh dia ke sini secepatnya. Pergilah sekarang.
Jangan bermain-main di jalan.
- Don Pietro segera ke sini. - Terima kasih.
Kami berebutan di toko roti pagi ini.
Ini yang kedua kali dalam minggu ini.
Bagaimana dengan para wanita?
Mereka terpaksa melakukannya...,
...tapi mereka hanya dapat mengambil roti semampunya.
Pagi ini seseorang mencuri sepatu dan timbangan.
Aku ingin tahu siapa yang mencuri stokingku!
Permisi.
Aku yakin kau yang... Tn. Manfredi!
Apa yang kau lakukan di sini? Mencariku?
Ya.
Aku bertemu dengannya di tangga dan menyuruhnya masuk...
Seharusnya kau memberitahuku!
Tak masalah. Aku ingin minta bantuanmu.
Baiklah. Permisi.
- Kau bertemu Marina, kan? - Ya, di pertunjukan kabaret.
Tolong sampaikan aku tak bisa menemuinya beberapa hari ke depan.
Aku akan meneleponnya kalau ada kesempatan.
- Ada yang lain? - Tidak ada.
Baiklah aku pamit dulu.
- Apakah dia tinggal denganmu? - Dia adikku.
Kaget, ya?
Aku penasaran apa yang telah dia katakan padamu soal tempat tinggalnya.
Dia malu karena kami "pekerja rendahan." Sedangkan dia seorang artis.
Tapi aku tak sudi bertukar nasib dengannya.
Bukan karena keburukannya. Tapi karena dia bodoh.
Bagaimana kau kenal Laura?
Maaf. Aku banyak tanya.
Tak masalah, dia sahabat teman wanitaku.
- Marina? - Kau kenal dia?
Sejak dia masih bayi!
Ibunya penjaga pintu di dekat tempat kerja ayahku.
Marina dan Laura tumbuh bersama.
Tapi tolong jangan bilang ke Marina...
...yang kukatakan barusan.
Jangan khawatir. Aku tak akan menemuinya lagi.
Kenapa?
Sudah waktunya untuk mengakhirinya. Tak bisa dilanjutkan lagi.
- Kau sudah lama mengenalnya? - Empat bulan.
Aku baru saja tiba di Roma saat itu. Dia selalu makan di sebuah restoran.
Suatu hari alarm serangan udara berbunyi, semua orang berlari.
Hanya dia dan aku yang tetap tinggal.
Dia hanya tertawa. Tidak takut sama sekali.
- Lalu kau jatuh cinta. - Sepertinya.
Ya, kau jatuh cinta.
Tapi dia bukan wanita untukku.
Seandainya saja kami bertemu saat dia masih muda.
Wanita bisa berubah, terutama saat sedang jatuh cinta.
Siapa bilang dia jatuh cinta?
Kenapa tidak?
Astaga, aku sampai lupa menawarkan kopi.
Tidak merepotkan. Cuma sebentar saja.
Aku selalu menyebutnya kopi.
Jangan berkerumun!
Sudah kuperingatkan, jangan kasar.
Awas, Don Pietro!
Sebuah keajaiban melihatmu di sini.
- Ibu menyuruhku ke sini. - Ibumu pintar. Ini untuk kebaikanmu.
Don Pietro, biar aku selesaikan dulu.
Ibu meminta anda datang secepatnya. Penting.
- Ada apa? - Aku tak tahu. Tingkahnya misterius.
Tapi kupikir ada seseorang di apartemen Francesco.
Baiklah. Ayo pergi.
Gilberto.
Kau, menyingkirlah.
Agostino akan segera datang. Kau jadi wasit.
No comments yet. Be the first to leave one.