أول 200 سطر.
Kau telah memberi begitu banyak dalam hidup.
Aku harap istirahat jiwamu sempurna dan damai,
karena tubuhmu akan menempuh perjalanan panjang.
Kalau peti mati bergoyang, jangan coba-coba mengetuk.
Garret, tunggu sebentar.
Kenapa tidak ada peti mati?
Karena tidak ada
yang tersisa dari ayahnya untuk dikubur.
Bergabunglah dengan kami, saudara.
Selamat datang.
Kau akan senang di sini.
Sepertinya aku sudah suka.
Halo, ayah.
Jadi, Dollface ini mencekik penjaga raksasa
dengan kuncian,
tiba-tiba aku dengar suara keras...
Penjaganya mati total,
dan bola matanya
menggantung keluar dari soketnya.
Dollface bilang, "kayaknya dia pelaut sejati,
karena aku baru saja membuatnya jadi Popeye."
Itu benar-benar gila.
Dia punya banyak cerita seperti itu,
dan dia menceritakannya jauh lebih baik dariku.
Kau pasti tahu kalau saja berhenti menghindarinya.
Aku tidak menghindarinya.
Aku hanya tidak sengaja mencari interaksi dengannya.
Itu berbeda.
Baiklah, kalau jujur saja,
dia memang bukan tipeku.
Kau bahkan tidak mengenalnya.
Kalau saudaraku ada di mobil belakang,
aku jelas tidak akan naik mobil sama kau.
Keluarga itu bukan cuma karena ada hubungan darah.
Kalau aku seekor berang-berang, aku tidak akan habiskan semua waktu
hanya nongkrong sama hewan pengerat besar lainnya.
Kalau ada buaya yang keren, dan suasananya pas,
aku akan nongkrong dengannya.
Sial, lagi-lagi.
Apa?
Cek saja di perhentian berikutnya.
Tidak. Berhenti sekarang. Kalau ada masalah,
sebaiknya segera ditangani.
Berhenti di sini saja.
Pergilah bicara dengan saudaramu, brengsek!
Kau membuatnya marah?
Masuklah.
Kau, keluar.
Ada yang butuh tumpangan?
Aku sudah bilang, kita selesai. Dan aku serius.
Itulah yang kusukai dari Jeremy Express.
Semuanya gerbong belakang.
Aku suka apa yang kau lakukan dengan interiornya.
Benar-benar menunjukkan rasa bangga memiliki.
Masih gila kebersihan.
Jadi, bagaimana rasanya kembali ke rumah lama kita?
Seperti penjara, hanya dengan banyak pizza.
Ayolah, tak ada satupun yang menarik perhatianmu?
The Baby-Sitters Club.
Astaga.
Aku dulu suka sekali buku-buku itu. - Serius?
Ya, ya. Aku naksir berat Logan.
Oke, aku harus tahu,
bagaimana Abby bergabung dengan BSC di buku 89?
Abby?
Abby. Abby.
Uh, Abby, aku...
Aku tidak ingat.
Ya ampun, maaf kalau aku tak ingat sebuah buku,
Tuan "Kepalaku terbentur
dan aku benar-benar tak bisa ingat apa pun."
Bukannya aku sengaja melupakan.
Aku capek. Kita bikin camp, ya?
Ya, Ash.
Kita menuju Diesel City saat fajar.
Kenapa kau tidak pasang tenda dekat menara air di depan?
Aku dan John akan ambil jalan memutar.
Jalan memutar? Aku tidak mau jalan memutar.
Diam. Kau mau. Kita pergi.
Siap.
Bersenang-senanglah, John.
Siap. Aku dan Ashley
akan cari makanan dan persediaan, selesai.
Siapa tahu?
Mungkin aku beruntung, nemu muffin.
Sudah kubilang, tokonya tutup.
Cek jam buka toko roti.
Akhirnya. Siap untuk nge-rock.
Ayo!
Bisakah kau diam?!
Apa yang kau lakukan di sini?
Menutup telinga, kebanyakan.
- Itu John yang nyanyi. - Ya.
Apa yang kau lakukan di bagasiku?!
Kau membelaku tadi.
Kau...
Kau menyelamatkanku, Quiet.
Baiklah,
mungkin aku agak berlebihan di akhir tadi.
Baiklah. Dengarkan,
Aku ingin ikut turnamen.
Itu tidak lucu.
Lucu kalau aku membayangkannya.
Kau akan mati dua menit pertama,
tergeletak rata, mata juling,
lidah terjulur. - Itu bukan aku. Oke?
Kau sedang melihat sopir terbaik di Pantai Barat.
- Tidak juga. - Ya, benar.
- Kau yakin? - Aku tahu.
Buktikan.
Wow, kau benar-benar tak tahu apa-apa
tentang apa yang kau lakukan, kan?
Aku hanya sedang menyesuaikan diri.
Kau tahu, mobil mantan suamiku itu mobil Eropa.
Jauh lebih keren dari ini.
Baiklah, tinggal masukkan gigi.
Astaga!
Berhenti, berhenti, berhenti, ya Tuhan.
Kenapa kau malah mundur?
D itu drive, tolol.
Apa... tidak, aku sudah masukkan ke drive.
D, drive. - Itu R.
Apa kau juga tak bisa membaca?
Tidak. Tentu saja aku bisa. Kau sedang melihat
pembaca terbaik di Pantai Barat.
Oke, cukup.
Keluar. Selesai kita.
Ha, kena kau!
Sekarang siapa yang tolol?
Selamat jalan kaki ke Diesel City, jalang.
Makan debuku!
Sial.
Tidak, debunya.
Diam!
Lebih cepat naik kano.
Tahu apa? Baiklah. Terserah.
Bangunkan aku saja kalau Dollface kembali.
Dia yang akan mengajariku.
Kau pikir itu yang akan terjadi?
Dia sama sekali tidak peduli.
Aku sempat peduli sedikit,
tapi ternyata aku salah.
Millennium Drive-In.
Lampu depan, Kamera, Aksi.
Aku bahkan tidak mau tahu aksi macam apa
yang bisa bikin darah sampai ke atas sana.
Mau ke mana kau?
Kita pernah berhenti di sini saat perjalanan keluarga dulu.
Kepalamu kecilmu terpesona nonton film dari dalam mobil.
Kau begitu terobsesi,
sampai membuat Ayah membawa kita ke sini tiap musim panas.
Ayo. - Kau gila
kalau mengira aku akan masuk ke sana.
Tempat ini kelihatan angker.
Kau masih takut hantu?
Wah.
Amnesia memang sialan.
Kau lupa seluruh hidupmu,
tapi masih ingat untuk jadi pengecut.
Aku akan tunjukkan siapa pengecut!
Tunggu dulu!
"I & K pernah di sini."
Ini tempat kita dulu.
Hmm. Ayo, masuklah.
Astaga, bisa tenang sedikit?
Tidak ada orang lain di sini selain kita. - Aku tahu itu.
Masuklah ke mobil.
Ayo.
Aku bisa coba nyalakan proyektor,
tapi aku tak akan masuk ke gubuk itu.
Tak apa. Kita memang bukan ke sini untuk itu.
Aku berharap
kita bisa mengguncang beberapa kenangan lama.
Mungkin ini bisa membantu.
Setiap ada adegan kejar-kejaran mobil,
Ayah membiarkanmu duduk di kursi pengemudi
dan berpura-pura kau ada di film itu.
Dan kau akan jadi gila
menarik-narik setir,
teriak dengan celetukanmu.
- Setir kering? - Mm-hmm.
Maksudmu mereka membiarkanku
memaksa tie rod seperti itu?
Belum lagi bikin ban aus.
Jadi orang tua kita benar-benar memperlakukan mobil mereka begitu?
Tenanglah, Martin Luther Keys.
Kau masih kecil.
Kau tidak bisa merusak serius.
Tapi kita memang bikin pelapis jok jadi rusak.
Setiap kali Ayah dan Ibu pergi ke kios makanan ringan,
kita memanjat lewat sunroof
dan menggores-gores kursi belakang. Itu bikin mereka kesal.
Kenapa kau menatapku begitu?
Peluit keluarga?
Itu cara Ayah menyuruh kita untuk duduk diam.
Sumpah, suaranya bisa terdengar sampai bermil-mil jauhnya.
Benar, seperti saat ayahnya Abby mengajarinya
bersiul pakai tutup biji pohon ek.
Bisa diam nggak soal buku tolol itu?
Lihat aku. Apa kau benar-benar berusaha mengingat?
No comments yet. Be the first to leave one.