أول 200 سطر.
"Dream To You."
"Kenapa aku berdiri di jalan ini?"
"Apa ini sungguh jalanku?"
"Di ujung jalan ini."
"Apa mimpiku akan terwujud?"
"Aku ingin percaya diri menyebutnya jalanku."
"Memercayainya dan tidak akan kembali."
- Hei, hei. - "Tanpa penyesalan..." Astaga!
Saat ini,
apa kamu berpikir kamu berjalan dengan benar?
Kenapa kamu mengatakan itu?
Kamu meremehkanku karena aku dipecat?
Tidak, bukan begitu.
Kamu mau ke mana? Ke mana tujuan jalan yang kamu tempuh ini?
Jalan yang sama denganmu.
Aku akan membuat film denganmu.
- "Apa yang aku mimpikan?" - Hei, hei, tunggu sebentar. Tunggu.
"Mimpi ini untuk siapa?"
"Di ujung jalan ini, mimpiku..." Astaga.
Yang benar saja.
Joo Yi Jae.
Untuk apa kamu hidup? Untuk apa?
Untuk apa?
Sial.
Ian.
- Apa itu? - Diam.
- Ada orang di luar. - Ian, ayo menyarap.
Kak In Wook.
Ada apa? Kenapa?
Dingin.
- Astaga. - Astaga.
Apa itu?
Kamu di dalam?
Kamu sungguh luar biasa.
- Kak, aku sedang mandi. - Mandilah.
Sepertinya mandimu berisik sekali.
Akan merepotkan kalau kamu pingsan sendirian di sana.
Aku akan kerepotan,
hotel juga akan kerepotan.
Kamu juga akan kerepotan jika penampilan terakhirmu begitu.
Tidak.
Kamu mungkin bangga.
Benar.
Sampai jumpa di ruang santai.
Apa yang kamu pikirkan?
- Aku bingung harus melihat ke mana. - Mataku?
Bengkak.
Hei, bagaimana denganmu?
Jika kamu tinggal dengan seseorang, seharusnya beri tahu aku.
Aku sudah memberitahumu.
Kami tidak tinggal bersama.
- Dia di kamar sebelah. - Astaga.
Jangan pergi. Tunggu.
Sepertinya kamu tidak ingat kejadian kemarin.
Tunggu.
Biasanya, dalam situasi seperti ini, si wanita yang kabur.
- Tapi aku adalah Joo Yi Jae. - Sepertinya kamu menyiapkannya.
Bagaimana aku bisa sampai di sini?
Aku ingat mengatakan aku akan membuat film.
Aku mau kamu menjelaskan apa yang terjadi setelahnya.
Ingatanmu hilang mulai dari situ?
Aku tidak menyangka kamu akan seagresif itu.
Agresif? Aku?
Apa yang kulakukan dengan seagresif itu?
Joo Yi Jae.
Kamu mengiklankan rumahmu untuk dijual.
Apa?
Meski bangunannya sudah tua, tidak ada struktur sebagus ini.
Rumah ini menghadap ke selatan, jadi dapat banyak sinar mataharinya.
- Kamu penyewanya, bukan? - Halo.
Aku sudah bicara dengan pemiliknya. Katanya kami boleh melihat-lihat.
Mereka bahkan memberi kode sandinya. Terima kasih banyak.
Aku memberikannya?
Astaga, aku sudah sibuk sejak pagi
karena ingin sekali menunjukkan rumah ini.
- Ayo, lihatlah tiap sudutnya. - Penyesalanku adalah.
- Tentu saja. - Aku benar.
Lihat juga di sebelah sana dan di sini.
- Aku suka tempat ini. - Benar, bukan? Kemarilah.
Halo.
- Halo. - Halo.
- Halo. - Halo.
- Halo. - Halo.
Halo.
"Kontrak Skenario Dan Penyutradaraan Film."
"Kontrak Skenario Dan Penyutradaraan Film."
- Yi Jae. - Kenapa?
Stempel itu terasa berat?
Sedikit.
Aku juga begitu saat kontrak pertamaku.
Bagaimana jika kamu mencoba mengubah cara pandangmu sedikit?
Dunia ini
bukanlah tempat yang tidak akan
menyadari kehadiranmu meski kamu menghilang.
Pemilik cerita ini adalah kamu.
Kamu yang memulainya,
jadi hanya kamu yang bisa menyelesaikannya.
Kamu yang menulisnya
dan kamu yang menyutradarainya.
Aku akan menemanimu dalam perjalanan itu.
Aku akan menemanimu sampai akhir.
"Joo Yi Jae."
Astaga!
Akhirnya dimulai.
Senang bertemu denganmu. Aku Seo In Wook.
Halo.
Agar kalian berdua bisa fokus hanya pada pengerjaan skenario,
aku akan mendukung kalian dengan segenap kemampuanku.
- Astaga, terima kasih. - Bagaimana dengan ruang penulisnya?
Dia
tidak punya rumah.
Hei, kenapa kamu membicarakan itu?
Jadi, karena itu kamu tinggal di hotel.
- Apa? - Aku melihat sepasang sepatu asing.
Ini kali pertamaku bertemu denganmu, Yi Jae, tapi sepatumu
sudah aku kenal.
- Maaf. - Tidak perlu minta maaf.
Untuk ruang penulisnya, aku sedang mencari
rumah yang sangat tenang di Kota Bunam.
Orang ini terus bersikeras ingin di sana.
Mungkin akan tidak nyaman,
tapi hanya sampai ruang penulisnya siap,
tolong tinggallah di hotel.
Tidak perlu. Aku bisa tinggal di rumah teman saja.
Aku tidak bisa mengizinkan itu. Kamu harus menulis.
- Kamu akan lebih nyaman di hotel. - Baik.
Kalau begitu, mohon bantuannya ke depan.
Aku juga mohon bantuannya.
Baik.
Awas! Dong Hyeon datang!
Jauh lebih hidup.
Dong Hyeon, kenapa lama sekali?
Itu karena seleramu luar biasa, Sutradara.
Bagus, bukan?
- PD Gyeong Sun Yeong? - Ya?
- Aku Seo In Wook. - Ya.
- Kudengar namamu Jaden. - Itu juga aku.
Ya, baiklah.
Baiklah. Namun, ada urusan apa perusahaan film denganku?
Aku datang karena gaji terakhir Joo Yi Jae belum dibayar.
Joo Yi Jae?
Tunggu.
Apa hubungan kalian?
Dia baru saja menandatangani kontrak dengan perusahaan kami.
Bisa dikatakan, ini berkat kamu.
Aku sedang berusaha keras mengajukan penawaran kontrak kepadanya.
- Yang perlu diurus harus diurus. - Apa? Kontrak apa?
Dan apa yang perlu diurus?
Sepertinya ada kesalahan administrasi.
Aku akan memeriksanya dan menghubungimu.
Tidak. Tidak perlu.
Kamu mau melakukan pekerjaan merepotkan itu sendiri?
Kudengar kamu bahkan merasa pekerjaanmu cukup merepotkan.
Astaga! Keterlaluan. Joo Yi Jae mengatakan itu?
Tampaknya dia menyimpan dendam dan menyebarkan rumor palsu.
Aku bukan orang seperti itu. Kamu salah orang.
Melanggar kontrak standar, menyuruh mengemudi, menyunting,
melakukan presensi masuk kerjamu, dan menggantikanmu dalam rapat.
Selain perintah kerja tidak adil kepada pegawai tidak tetap,
kamu juga memecatnya secara tidak adil.
Tim hukum perusahaan kami bekerja dengan baik.
Agar kamu tidak merasa repot,
kami sudah rapikan dengan baik, jadi silakan diperiksa.
Kertas apa itu?
Ini...
Anggap saja ini pemanasan sebelum mendapat studiomu sendiri.
- Jangan berlebihan. - Tidak.
Di lingkungan kerja yang luar biasa ini,
jiwa seniku yang telah padam
sedang hidup kembali.
"Satu jam kemudian."
Sepertinya memang sudah lama padam.
Mari kita nyalakan api yang padam itu.
Bagaimana kalau kita menonton film dahulu?
Referensi itu penting.
Dia tidak pernah datang tepat waktu.
Itu dia.
Sutradara, Sang Yeon belum siap. Jika kamu bisa menunggu sebentar...
Dia sudah terlambat.
- Menunggu apa lagi? - Maaf. Ini kelalaianku.
Astaga, kamu selalu beri kelonggaran pada jadwal Oh Ha Na,
jadi apa masalahnya jika aku sedikit terlambat?
Aku bisa bersiap saat gladi bersih.
Suruh saja orang yang mirip denganku untuk berdiri di sana.
Hei, kamu di sana. Hei. Kamu.
- Kamu dengan kemeja putih. Kemari. - Hei, pergilah.
- Aku? - Ya. Baiklah, adegan 26.
Kamu akan menggantikan aku untuk gladi bersih.
Oh Ha Na, tumben sekali kamu datang lebih awal.
Berhenti! Baik. Ini bagus sekali.
Ini hanya gladi bersih, tapi aku ingin langsung memakainya.
Sudah berapa lama kamu berakting?
Mari bekerja sama dalam proyekku yang berikutnya.
Terima kasih.
Penampilanmu bagus dan ekspresi emosimu jelas. Ya?
Hei! Kamu, ikut aku.
Pergilah.
Kenapa dia selalu seperti ini? Astaga, dia mulai lagi.
Karena filmnya gagal total,
- dia sangat sensitif. - Hei, apa ini hal baru?
No comments yet. Be the first to leave one.