أول 200 سطر.
Mereka datang.
Hai.
Hai, Kate.
Hai, Annie.
Biar kuambil itu. Akan kusingkirkan.
- Kate? - Hai, Sayang.
Lihat ini.
Tidak, jangan. Itu untuk besok.
Baginya, tak ada hari esok.
- Jack, kendalikan dirimu. - Hei, apa-apaan kau?
Aku mengantre 20 menit membeli itu. Sini.
Tunggu, berikan itu. Sini.
- Semua sudah di sini? - Ya, berangkat.
Hei!
Pria itu akan pergi selama akhir pekan
dan membawa seluruh isi lemarinya.
Hati-hati.
Jangan memusingkan terungnya.
Aku bawa lima.
Kau bawa lima terung?
Maksudmu yang mini?
Yang mini? Itu seperti salami.
Tiga belas terung.
Bukankah itu agak berlebihan?
Punya terung lebih selalu bagus.
- Hai, apa kabar? - Hai.
Claudia di studionya.
Belok kiri di Christopher, di Hudson.
Hei, mana rotinya?
Apa ini, kalian mulai tanpa aku?
Butuh bantuan?
Aku bisa.
Hai, Claudia.
- Hai. - Hai, Claudia.
Kau membawa pekerjaanmu.
Aku berhenti bekerja pada akhir pekan.
Danny, kau itu dokter gigi.
Dengar ini?
Aku bisa membuat bikuspid yang bisa menipu Tuhan,
tapi aku hanya dokter gigi.
Ada jahe?
Ada satu kilogram jahe dan 500 gram bawang putih.
Annie, bukankah kau punya pohon di sana?
Ya, tapi kami harus menebangnya.
Aku rindu. Dulu bisa lihat dari kamar.
Kita punya wajan, 'kan?
Ada dua, wajan besar dan wajan kecil.
Aku suka bunga itu.
- Aku lupa bawa pisau. - Tak apa, aku punya pisau.
Kau percaya ini?
Mereka mengurus satu hidangan selama dua minggu?
Aku percaya.
Astaga, lihat itu.
- Lihat ini. - Bagaimana kau potret?
Kau melemparnya ke udara?
Aku ambil sepotong kaca
menaruh sayuran di kaca, lalu...
Tunggu, itu yang aku mau.
- Indah, kan? - Terlalu berat untuk menahannya.
- Ini memang begini? - Ya.
- Seperti wajah. - Memang mirip.
Hidung, mata, telinga.
Sudah coba Galeri Pegasus di SoHo?
Ya. Aku... kesal sekali dengan pria itu.
Aku bilang kepadanya bahwa aku mengerjakan
seri foto ini selama tiga tahun
- dan tahu dia bilang apa? - Tidak.
Katanya, "Tiga tahun memotret sayuran?
"Bukankah bisa sembelit?"
Kau percaya itu?
Tergantung apa sayurannya.
Kau mau apakan tutupnya?
Tolong buka tutupnya.
Cabainya sedang dimasak. Harus hangus.
- Baik, sampai hangus. - Ayolah.
Masak atau tertawa saja. Ini apa?
Lakukan sesuatu. Tuangkan air.
Tuang air di minyak panas. Kau bercanda, 'kan?
Mataku berkaca-kaca. Tak bisa lihat.
Bisa-bisa ada jari dalam saus pedas.
- Ini. - Aku tak bisa lihat.
Tunggu. Sini. Bagaimana? Mendingan?
Bagus, keras sekali menggosoknya. Aku buta.
Minyaknya kurang panas.
Lalu buat apa aku sampai tidak melihat?
Ini kurang panas.
Kalau memasak makanan Tionghoa, suhu minyaknya harus 250 derajat.
- Sial. - Itu fakta ilmiah.
Apa Einstein bilang begitu?
Isaac Newton. Penemu Babi Moo Shu.
Hei, Annie?
Majalah membuat artikel
tentang sepuluh eksekutif teratas di negara ini.
Mau memotret mereka untuk kami?
Astaga, aku ingin masuk Fortune.
Butuh untuk kapan?
Bulan Juli.
Maksudmu tahun ini?
Annie, itu dua bulan dari sekarang.
Ya, aku tahu itu.
Aku hanya...
Aku tak secepat itu.
Annie, bagaimana karyamu bisa diterbitkan?
Kau harus bergerak.
Kenapa kau repot-repot?
Buat saja artikel sepuluh brokoli terbaik di negara ini.
Salad ayam. Kau punya mi beras itu?
Ya.
Masukkan sekarang dan semua akan matang bersamaan.
Aku sudah atur waktu pakai ilmu.
- Ya, Pak. - Lihat ini. Kau siap?
- Ya. - Awas.
Ini dia.
- Indah, bukan? - Luar biasa.
Baik. Hidangan pertama.
Dan bir Tionghoa.
Bravo!
- Bravo! - Terima kasih.
Bravo!
Kau tidak pakai MSG?
Tanpa MSG. Ambil sumpit, makan.
- Ini nasinya. Bagikan. - Tunggu, hidangan pembuka dulu.
Salad ayamnya.
Astaga, Danny. Ini enak sekali.
Tunggu, bagikan!
- Aku mencintaimu. - Geniusku!
Udangnya luar biasa.
Baik. Bersulang.
Bersulang. Untuk Nick dan Anne.
Ya.
Dan untuk makan malam ini yang luar biasa.
Hati-hati.
Untuk alasan kita di sini malam ini.
Bukan hanya merayakan hari jadi kalian,
tapi untuk hal yang lebih berarti, yang membuat kita dekat.
Untuk yang menyatukan kita dan...
Membuat kita bersama melawan angin dingin perceraian
yang meniup kehidupan teman-teman kita.
Itu bagus.
- Sangat bagus. - Bagus.
Terima kasih, Jack.
- Boleh aku bicara? - Ya.
Aku mau mengatakan
bahwa itu pidato bersulang paling menyedihkan
yang pernah kudengar seumur hidupku.
Kenapa?
- Apa salahnya? - Dia langsung ke intinya.
Dia jujur soal ketakutannya.
Itu sebabnya kita di sini.
Itu sebabnya aku di bidang analisis.
Bukan alasanku makan malam.
Kurasa dia benar. Itu yang menyatukan kita.
Aku tak sedekat ini dengan pasienku.
Kita tak bertemu melaluimu.
Melalui aku!
Benar!
Bukankah kuurus masalah hukummu?
Lalu kita saling mengenal, mulai jalan bersama.
Tidak. Aku ingat mengurus harta bersamamu.
- Ya. - Kita tak bertemu lewat para lelaki.
Mereka pikir semua berhubungan dengan mereka.
Annie benar sekali.
Kita bertemu
di pameran fotografer wanita,
lalu Anne dan aku bertemu Claudia di galeri seni.
Kau baru periksa gigi mereka setelahnya.
Kami bertemu tujuh tahun lalu.
Itu minggu ketiga... Terima kasih.
Minggu ketiga bulan Juli.
Janji temu pertamaku dengan Danny untuk tambal gigi.
Saat itu tanggal 8 September
dan hari itu Rabu.
Bagaimana kau bisa ingat itu?
Aku ingat hal seperti itu karena aku merasa itu penting.
Dengar, intinya adalah yang menyatukan kita.
Benar. Itu intinya.
- Benar? - Itu intinya.
Persahabatan kita bisa seerat ini
berkat emosi paling kuno di dunia:
rasa takut dan panik.
Aku benar?
- Kucinta kau. - Benar?
Aku menghabiskan tiga jam membeli ini,
empat jam memotongnya kecil-kecil.
Bukan cuma kumakan, tapi kuajak bercinta juga.
Terus bicara, kumakan punyamu.
Tunggu. Yang benar saja. Hentikan.
Ayo, dia di kebun.
Sepatbor ini tidak mau lurus.
- Sampai jumpa di bawah. - Ya.
Hei, kau hebat juga.
Jangan dekat-dekat. Awas kakimu.
Ayo, kita balapan.
Aku cukup cepat. Aku hanya ingin mengeringkan rambut.
Ayo, balapan sampai rumah.
Lihat apa kita bisa sampai. Itu dulu.
- Kau mau helm? - Tentu aku mau helm.
Itu lebih baik. Bagus.
Hei, Danny!
Hei! Mau balapan?
No comments yet. Be the first to leave one.