أول 200 سطر.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
Modal recehan jadi Jutawan! Visi Mis Foya Foya, cuma di RECEH88
Hua.
Andai kau
masih di sini bersamaku.
Kau pasti bisa membantuku
membuat keputusan.
Kubawakan ini.
Teh Tie Guan Yin.
Ini kesukaanmu.
Liu.
Minum lagi.
Tidak, aku tak mau.
Rasanya pahit sekali.
Bagaimana bisa kau minum itu?
Ini memang teh terpahit sedunia.
Namun, kau harus tetap minum.
Kenapa harus?
Dengarlah. Teh ini bisa mencegah penuaan dini.
Kau bisa tetap hidup sampai tua.
Aku tak mau hidup lama.
Kau tak tahu
seberapa melelahkannya hidup ini,
untuk bekerja dan mencari nafkah.
Aku harus mengurus toko dan menghitung penghasilan.
Lalu semua uang yang kuhasilkan
habis untuk menyewa rumah kita
dan toko.
Astaga...
Ini sungguh melelahkan.
Hua.
Kau hamil?
Kita beri nama apa anak kita?
Kita beri nama apa?
Kita namakan dia "Tee".
Karena nenekku
memanggil kakekku Tee.
Nama yang bagus.
Liu.
Kau harus menjaga Tee dengan baik.
Ayolah. Jangan khawatir soal itu.
Itu pun jika aku tak mati.
Kau selalu mengundang sial.
Apa yang kau khawatirkan?
Kau lupa?
Aku seorang peramal.
Aku bisa membaca ramalanku sendiri.
Peramal macam apa
yang tak pernah membaca ramalan istrinya?
Kenapa kau mau diramal?
Aku hanya meramal untuk orang yang membayarku.
Aku tak dibayar saat meramalmu, jadi, aku tak mau.
Dengar ucapanmu sendiri.
Kau tak meramalku hanya karena tak kubayar?
Tepat sekali.
Aku tak mau bicara lagi.
Aku harus periksa sesuatu di sana.
Kau kembali bekerja saja.
Baiklah.
Hati-hati berjalan.
Ayo.
Hua.
Maafkan aku.
Aku memang ayah yang buruk.
Aku tak bisa menjaga Tee.
Aku tak mampu membawanya ke rumah sakit swasta, Hua.
Hong mau membantuku,
tapi aku menolaknya.
Liu.
Kenapa kau kembali?
Aku minta maaf
karena berkata begitu.
Jangan meminta maaf.
Aku tahu niatmu baik.
Sebaiknya kau pulang.
Tidak, aku tak mau.
Malam ini,
aku akan tidur di sini.
RUMAH SAKIT THEPTARIN
Permisi.
Ada yang menjenguk Tee saat ini?
Tidak.
Pasien sedang berbicara dengan dokter.
Berarti,
boleh aku menjenguknya?
Aku mau tahu hasilnya.
Dia memintaku menemuinya.
Tentu.
Astaga.
Pak.
Astaga.
Liu.
Ya.
Pak.
Tunggu. Aku sedang buang air besar. Tunggu aku.
Aku sedang buang air besar. Tunggu.
Pak, bagaimana keadaan Tee?
Apa parah sampai harus rawat inap?
Kemarin Ong dan aku mau menjenguk Tee di rumah sakit,
Hong bilang dokter tak izinkan pengunjung.
Kapan kau ke sana?
Kami mau ikut denganmu.
Kami bawa makanan favorit Tee.
Lihat, ada kerupuk beras, babi renyah, abon babi.
Ini, ada bihun.
- Ini dari kedai favoritku. - Ya.
Ada puding kacang dan sarang burung.
Begitu.
Sementara untukmu,
ayahku memintaku memberikan
kemaluan sapi.
Begini saja.
Kita pergi bersama,
- mendengar pendapat dokter. - Ya.
Namun sekarang,
tunggu aku di bawah saja.
Aku ganti pakaian dahulu, ya?
- Baiklah. - Bagus.
Omong-omong,
kau sudah boleh menyuruh Hong masuk.
Kami akan tunggu di bawah.
Di mana, Pai? Aku tak melihat Hong.
Kita pergi saja.
Ya, pergilah.
Biar mereka mengobrol.
Tuntun aku.
Liu.
Bagaimana Pai bisa tahu aku di sini?
Ayolah.
Kau membuat keributan.
Aku yang tak buta saja bisa mendengarmu.
Liu.
Semalam,
aku...
aku...
Kau minta maaf sendiri kepada Hua.
Aku tak mau tahu.
Hua.
Jangan marah.
Kemarin,
Liu agak sedih.
Aku harus tetap menemaninya.
Jadi,
semuanya di luar dugaan.
Kemudian, itu terjadi.
Kau paham, 'kan?
Ya, 'kan, Hua?
Aku siap. Kita pergi sekarang?
Kau pergi dahulu.
Aku mau pulang dan ganti pakaian.
Sampai nanti, ya.
RUMAH SAKIT THEPTARIN
Permisi.
Dokter,
aku tak mau di sini lagi, aku mau pulang.
Bisa panggilkan taksi untukku?
Tenanglah.
Aku ingin mengobservasi keadaanmu.
Keluargamu akan datang dan memutuskan
soal operasi otakmu.
Aku bukan anak-anak lagi.
Aku bisa buat keputusan sendiri.
Tunggu keluargamu untuk bayar biaya perawatan.
- Soal itu... - Aku saja yang tangani.
Elle, bisa antar aku pulang?
Biar aku gantikan pakaiannya dahulu.
Baiklah,
ikut denganku.
Ikuti aku.
Pastikan dia datang untuk temu janjinya,
dan jangan buat dia stres.
Yang terpenting, pastikan dia minum obat yang diresepkan.
Baik.
Aku sudah siap pulang.
Aku akan bicarakan dengan pasiennya.
- Sampai jumpa. - Baik.
Tee.
Semua sudah diurus.
Terima kasih.
Aku akan segera
membayar utangku kepadamu.
Pikirkan itu nanti.
Namun, aku mengantarmu pulang untuk bicara dengan ayahmu.
Jangan.
Kau bisa bawa aku ke mana pun,
jangan ke rumahku.
Baiklah.
Ayo.
Terima kasih.
Ayo, Pai.
- Pai, ayo cepat. - Haruskah?
Ayo.
Perawat,
kenapa putraku, Tee, tak ada di kamarnya?
Tee sudah pulang.
Dia sudah pulang?
Bagaimana bisa? Dengan siapa?
Ada yang membawanya pulang.
Siapa?
Aku ayahnya.
No comments yet. Be the first to leave one.