أول 200 سطر.
SEMUA TOKOH, LOKASI, PERISTIWA, DAN NAMA-NAMA ADALAH FIKTIF.
Pesan ponsel yang terbaca dan tak dibalas
lebih membingungkan daripada misteri alam semesta.
Orang yang jatuh cinta hanya percaya apa yang ingin mereka percaya.
Sebagian besar perpisahan itu hanya sementara,
hanya untuk menanti saat pertemuan kembali.
Namun,
cara kita mengukur cinta masih saja sama.
Akhirnya, sepasang kekasih tak bisa membaca pikiran pasangannya
dan menderita karenanya.
Mencintai atau tidak,
hanya ketidakberdayaan seseorang terhadap cinta.
- Selamat pagi. - Pagi.
Kenapa bangun pagi sekali?
Aku mau pergi, harus bangun pagi untuk bersiap.
Kenapa pulang telat semalam?
Aku jenguk ibuku di rumah sakit.
Dia sudah membaik?
Kondisinya menurun setelah jatuh.
Tak bisa lagi beraktivitas.
Penyakit demensianya memburuk.
Tak lama lagi, dia takkan kenal aku.
Dia pasti menderita.
Katanya dia sudah lelah hidup.
Entah aku harus bagaimana.
Menurutku, dia hanya tak mau hidup tanpa harga diri.
Jika tak bisa melakukan apa pun sendiri seperti dia,
aku akan minta hal yang sama.
Jadi, menurutmu
harus kurelakan dia pergi?
Menurutku, jika itu keinginannya,
kau harus menghargainya.
Apa maksud ucapanmu?
Aku hanya menyampaikan pendapatku.
Bagaimana jika itu ibumu?
Kau juga akan bilang begitu?
Kau tak usah tersinggung.
Aku hanya membantu.
Jangan bawa-bawa ibuku.
Memangnya aku minta pendapatmu?
Ucapanmu sangat tak bertanggung jawab.
Menurutmu kau jujur.
Itulah kesalahan generasi kalian.
- Minim empati. - Terserah kau saja.
- Dia ibumu, lakukan semaumu. - Dengar.
Baru kenal beberapa bulan, kau pikir sudah memahamiku?
Kau mengenal ibumu seumur hidup, apa kau memahaminya?
- Apa yang kau lakukan? - Beraninya menilai keluargaku!
Kenapa tengah malam datang ke rumahku?
Aku tak sebegitunya butuh kau.
Aku sibuk, pergilah jika sudah selesai.
Kau sibuk apa?
Hanya menyusun foto dan meramban internet.
- Kau menghindariku. - Coba ulangi!
Itulah pendapatku. Apa itu membuatmu kesal?
Jangan sampai kau menyesali ucapanmu.
Pergilah.
Aku tahu kau sengaja datang telat sehari dari ulang tahunku.
Sial.
Selamat ulang tahun.
Rong mencarimu. Kau matikan ponselmu?
Baterainya habis.
Punya pengisi daya?
Katakan, kenapa kau harus berdebat dengan para pemuda itu?
Masalahmu sudah banyak, 'kan?
Memang kenapa?
Tidak mungkin.
Hei!
Kau sungguh tak tahu?
Soal apa?
Obrolanmu dengan mereka beredar di internet.
Sudah viral.
Memangnya itu masalah besar?
Orang dewasa boleh menyampaikan pandangan berbeda.
Ayolah.
Aku hanya menyampaikan pendapatku.
Menurutmu...
Lihatlah sendiri.
...kau bisa mewakili anak muda?
Sudah temui mereka?
Jika kau mencalonkan diri, mereka akan memilihmu?
Pada zaman kami, kami menentang kediktatoran KMT.
Melakukan gerakan pelajar dan bersenjatakan pena.
Kami melawan tirani dan membubarkan Parlemen Abadi.
Tadi kalian membahas pandangan dunia. Bagaimana pandanganmu?
- Itu... - Tidak penting.
Kami punya kakak kelas.
Tak pernah bertemu lagi sejak dia putus kuliah.
Kabarnya dia jadi relawan di negara dunia ketiga,
pergi keliling dunia.
Sedangkan kami pola pikirnya masih Taiwan-Tiongkok.
Pemikiran kami sempit.
Aku baru tahu Taiwan sudah bukan negara dunia ketiga.
Pak Li,
apa maksudmu dunia ketiga?
Biar kujelaskan.
Berdasarkan pengaruh,
ada negara-negara adidaya,
seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang,
dan negara yang naik kelas seperti Tiongkok dan Rusia.
Ada pula negara maritim abad ke-17
yang kini mengalami kemunduran, seperti Inggris, Belanda, dan Spanyol.
Lalu ada beberapa negara Eropa
yang bangkit setelah PD II dan perlahan menguat.
Sisanya negara-negara dunia ketiga.
Namun, mereka adalah pasar yang penting.
Lihat besarnya investasi Tiongkok di Afrika belum lama ini.
Benar.
Jadi, pandangan duniamu hanya berfokus pada pasar?
Jangan bilang begitu. Pasar itu indikator penting.
Perusahaan di Beijing melakukan bisnis global.
Namun, di Taiwan, selain produksi, transportasi, dan OEM,
bisnis global kurang dirambah.
Pengaruh kita kecil.
Ya, tapi nilai sebuah negara lebih luas dari itu.
Masih ada standar hidup, literasi budaya,
demokrasi, supremasi hukum, keberlanjutan, dan lain-lain.
Menurutku, ucapan Pak Li seperti tamparan
bagi generasi muda pekerja keras di Taiwan,
seolah upaya kami kurang.
Sejujurnya, aku tak paham generasi kalian.
Jadi, Pak Li,
menurutmu generasi kami
masih kurang berusaha dengan gaji 22.000 dolar?
- Bagaimana? - Bukan.
Boleh tanya, 'kan?
Boleh. Tak masalah.
Bukan upaya kalian kurang.
Maksudku, dibandingkan generasi kami,
"kerja keras" versi kalian belum apa-apa.
Maaf, Pak Li.
- Dia mabuk. - Shumei, rekam ini.
- Jangan hiraukan dia. - Dowming, aku belum mabuk.
Sejujurnya,
masa keemasan bukan berkat generasimu.
Namun, generasi yang perang sebelum kalian.
Mereka berjuang keras menciptakan Taiwan
hingga kalian berpeluang menempuh pendidikan.
Dahulu, belajar di luar negeri akan tampak hebat.
Digaji besar di perusahaan internasional
karena bisa bahasa Inggris.
Dengan gelar master, bisa mengajar di kampus,
seumur hidup dapat uang pensiun.
- Anak muda, langsung saja ke intinya, ya? - Intinya...
gelar master tak lagi menjamin pekerjaan.
Perusahaan internasional berpindah ke Tiongkok.
Meskipun kami bersedia pergi
kerja ke Tiongkok,
tak ada lagi benefit pegawai.
Pak Li, aku mau tanya.
Kami yang tak kompeten, atau semua sudah kau ambil?
Kuberi tahu, inilah mental korban yang klasik.
Kalian pikir masyarakat tak adil, tetapi apa upaya kalian?
Minum kopi bisa mengubah masyarakat?
Tak suka panas, tak mau masak?
Kesuksesan tak jatuh dari langit jika hanya duduk di rumah dan mengetik.
Sumber daya Taiwan diambil. Tiongkok laba, Taiwan berutang.
Eksploitasi pekerja mereka.
Kemudian kau beli saham dan real estat.
Anak muda sulit mencari uang
untuk membeli rumah dan menikah.
Menurutmu kau tak berandil?
Sudahlah, ayo minum.
- Minumlah. - Ayo makan.
Aku pun pernah muda.
Kalian tak bisa bayangkan kesulitan yang kami hadapi.
Aku tahu situasi kalian sulit,
tapi maksudku,
carilah solusi, jangan jadi pecundang,
lalu salahkan orang.
Pak Li, ayo makan.
Orang sukses bebas berbicara.
Ucapan orang tua harus dihargai.
Hak bicara harus diperjuangkan.
Ya, hak bicara bukan hanya bagi orang tua.
- Baiklah. - Benar, ayo makan.
- Ayo makan. - Kita belum mulai makan.
Pak Li, aku mau tanya.
Perusahaanmu telah beralih ke Tiongkok.
Kau jelas tak memahami generasi muda Taiwan.
Memang benar.
Kalian suka senang-senang. Tak bisa hadapi kesulitan.
Jika ada masalah, minta bantuan orang tua.
Tak mau lulus dari pascasarjana.
Mengeluhkan tentang masyarakat di media sosial.
Protes di mana-mana.
Kurasa sikap itu tak memajukan Taiwan.
Pada zaman kami, kami menentang kediktatoran KMT.
Melakukan gerakan pelajar dan bersenjatakan pena.
Kami melawan tirani
dan membubarkan Parlemen Abadi.
Setelah lulus, kami bekerja sekeras mungkin agar sukses.
Gunakan kekuatan kami untuk memakmurkan Taiwan,
meraih kebebasan bicara, demokrasi, bersaing dengan dunia,
dan memberi kalian kehidupan nyaman.
Namun, kalian tak pernah puas,
dan kurang berusaha.
Terkadang, aku berpikir
Taiwan tertinggal jauh,
karena andil dari generasi kalian.
No comments yet. Be the first to leave one.