معلومات الإصدار

The Uncanny Counter S01E02 NF WEB
تعليق من MarBot
Retail from Netflix

الوسوم

web
نشرت في: 2020-12-04
تنزيلات: 12
ضعاف السمع: No

معاينة ترجمة Indonesian

أول 200 سطر.

SERIAL NETFLIX ORIGINAL

Siapa gadis tadi?

- Aku tak bisa beri tahu. - Tak bisa?

Kalau begitu jangan. Akan kubuat kau berkata jujur.

Berengsek!

Berhenti memukuli Mun!

Mun, siapa dia? Katakan saja!

Jika tidak, kau bisa mati!

Sudah cukup.

Saatnya kau berhenti!

Hentikan omong kosongmu. Di mana gadis itu?

Aku sudah membayarmu sepenuhnya.

Kau berengsek.

Bocah ini bicara apa?

- Sial. - Hei, bangun.

Ini sudah berakhir, mengerti?

Apa? "Berhenti"?

Beraninya kau menyuruhku berhenti?

Hei, kemarilah.

Teruslah bertingkah!

Akan kubunuh kau.

- Hei, cukup! - Lepaskan!

- Hei. - Lepas kataku!

Hei, kau baik-baik saja?

Akan kubunuh kau!

Sudah cukup!

Hei, Mun.

Mun, kau tak apa-apa?

Mun!

- Hei. - Bangunlah!

Mun!

Apa dia mati?

- Kau sudah kusuruh berhenti! - Sial!

Berengsek.

Polisi datang!

Siapa orang aneh itu?

Tunggu, polisi di sini?

Aku bercanda. Tapi kalian sudah ketakutan.

Siapa kalian, berengsek?

Jangan menyerapah, bocah.

Mau apa kalian?

Anak itu adalah anggota

dari organisasi kami.

Organisasi?

Geng Eonni.

Beranggotakan pria tua sepertimu dan nenek itu?

Tunggu. Bukankah dia si gadis itu?

Astaga, kalian menghajarnya habis-habisan.

Anak zaman sekarang sangat kejam.

Ini bisa membunuh orang. Kalian akan masuk penjara.

Kenapa kami harus masuk penjara?

Jalang itu yang harus.

Pemukulan terhadap anak di bawah umur.

- Panggil polisi. - Kau tak apa-apa?

Ayahku adalah anggota dewan.

- Astaga. - Ya ampun, dasar berengsek.

Ini sebabnya korban tak bisa melapor.

Kujamin orang tua mereka juga berengsek.

Sangat berengsek pastinya.

Apa kau teman Mun?

Ya. Biar kugendong dia.

Tidak usah.

Hei. Kau sedang apa?

Kau mau ke mana?

Hei.

Kita belum selesai. Berhenti.

Bukankah kau jalang yang tadi?

Kalau kau panggil aku jalang lagi,

akan kubunuh kau.

Kami selalu membalas siapa pun yang macam-macam dengan kami,

tapi kali ini kami biarkan, kalian warga sipil.

Tapi jika kalian ganggu dia lagi, tak akan kami maafkan.

Aku serius,

camkan itu.

Astaga. Seram sekali.

Kami sangat takut!

- Astaga! - Ingat, Mo-tak. Kau sudah dewasa.

Mereka cuma anak-anak.

Mun sangat baik hati.

Dia bisa saja menghabisi mereka, tapi dia menahan diri.

Jangan lupakan itu.

Si pincang itu membutuhkannya.

Hei, itu jahat, tapi lucu.

- Hei. - Hei! Berhati-hatilah!

Mun, kau baik-baik saja?

- Kau tak apa? - Bangun!

- Mun, bangunlah. Mun! - Kau tak apa-apa?

Kakiku hilang.

Mun, kau baik-baik saja?

Tidak seru jika menghabisi mereka di sini.

- Dah! - Bangun.

- Hei, kau mahir soal ini. - Dah.

Maaf. Aku minta maaf.

Kami pergi dulu.

Mo-tak.

Jangan khawatir.

Seharusnya aku tak meneleponmu. Maafkan aku, Mun.

Berhenti menangis. Ini bukan salahmu.

Cukup satu tinju untuk satu orang.

Kau sebut itu minta maaf?

Sialan kau!

Kau tahu itu bukan permintaan maaf yang tulus, 'kan?

Jangan terlalu keras.

Mari hapus ingatan mereka sebelum wilayah kita hilang.

Tidak, biarkan mereka kesakitan sebentar.

Sakit itu harus dibagi!

Pulanglah.

Biarkan aku ikut.

Sudah malam.

Dia akan meneleponmu setelah sadar.

Bocah-bocah ini tak seharusnya berkeliaran.

Kenapa mereka boleh masuk sekolah?

Seharusnya mereka diskors.

Ayahnya adalah anggota dewan.

Korea adalah negara nomor satu yang melindungi pengacau.

Lenganku patah. Ini patah!

Kita bisa kehilangan Counter karena melukai warga sipil.

Sial, para bedebah di Yung harusnya beri kita kebebasan.

Mereka tak mau tahu tentang apa yang terjadi di lapangan.

Biar kuperiksa dirimu, bocah tengik.

Tidak, jangan!

- Tidak. - Tidurlah.

Tidak!

Baiklah. Selanjutnya kau, pecundang.

Jangan sakiti aku. Biarkan aku hidup!

Hei. Aku tak bilang akan membunuhmu.

Maafkan aku.

Katakan itu kepada Mun.

Jangan minta maaf karena kami lebih kuat.

Minta maaflah kepada orang yang kau aniaya.

Mengerti, Putra Anggota Dewan?

Maafkan aku.

Kumohon maafkan…

Baiklah. Selanjutnya!

Ayahku adalah wali kota!

Dia wali kota Jungjin!

Jangan macam-macam denganku!

Raja Jungjin, Wali Kota Shin Myeong-hwi?

Ya, itu ayahku. Ayahku adalah…

Baik, sudah cukup.

Orang-orang memuji ayahmu sebagai pria yang luar biasa,

dan kau di sini ditampar karena menjadi sampah masyarakat.

Kau tak ingat kami saat bangun.

Tapi kuharap kau ingat sedikit rasa sakit ini,

agar kau jadi orang yang lebih baik.

Wilayah kita menghilang.

Aku juga harus sembuhkan Mun.

Kita sudah hapus ingatan mereka, ayo pergi.

Kau meninju anak-anak ini.

Aduh.

Astaga.

Makin tua aku makin payah.

Kenapa aku tak bisa menyembuhkan?

Ini terlalu berat untukmu.

Kekuatan kita sesuai dengan kepribadian kita.

Kau kuat, bodoh tapi mahir bertarung.

Apa itu pujian?

Ya, tentu. Itu pujian.

Aduh. Astaga.

Kita lihat. Aduh.

- Salah tempat. - Benarkah?

Baiklah. Dasar anak bodoh.

Dia sudah bangun.

Bagaimana…

Bagaimana aku bisa di sini?

Kau dipukuli dan pingsan, makanya kami bawa ke sini.

Ayo, makan mi dulu.

- Aduh! - Astaga.

Kau sedang apa?

Tidak, hanya…

Ini aneh.

Kau sudah lupa

caranya berjalan dengan benar?

Aku sudah berjanji akan sembuhkan kakimu.

- Aduh! - Astaga.

Ayolah.

Aku berjalan.

Aku bisa berjalan.

Aku mau coba keluar.

Hei, pelan-pelan.

Hati-hati!

KEDAI MI EONNI

Astaga.

Mun! Kau belum boleh berlari!

Dia tak akan mendengarkan kita.

Cepat, Mun!

- Mun! - Cepatlah!

Ayo kita kabur!

Mun!

- Kau tak lelah? - Tidak.

Kau menangkap kami!

Terima kasih

untuk mi-nya

dan juga kakiku.

Kau pasti lapar. Makan yang banyak.

Hei, kau kenapa?

Kau menangis karena kakimu?

Atau karena mi itu terlalu enak?

Aku merasa bersalah pada orang tuaku.

Orang tuamu sudah meninggal?

التعليقات

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left