Racket Boys (Racketsonyeondan / 라켓소년단)

Racket Boys (Racketsonyeondan / 라켓소년단)

تنزيل الترجمة Indonesian

معلومات الإصدار

ㅡㅡ라켓소년단ㅡRacket Boys E15 NF-360P/720P/1080P
تعليق من DD_Movie
NF Retail [ RT 01:27:34 ] | t.me/ddmoviechannel

الوسوم

720p
720
1080
نشرت في: 2021-07-27
تنزيلات: 7
ضعاف السمع: No

معاينة ترجمة Indonesian

أول 200 سطر.

EPISODE 15

Bagus. Anak rambutku mulai tumbuh.

Dulu kau tak mau, tapi sekarang rajin minum vitamin.

- Kau punya pacar? - Jangan asal bicara,

dan diam saja.

Selesai.

Sempurna.

Ada yang berbeda darimu hari ini.

Pakaian dan rambutmu berubah.

Aku langsung berangkat setelah bangun.

Bisa dibilang ini baju tidurku.

Begitu.

Terima kasih banyak untuk yang kau taruh waktu itu.

Tak perlu.

Seok-hyun. Kau tahu aku menyukaimu, dan sangat mengandalkanmu, 'kan?

Tentu saja.

Aku menganggapmu kakak kandungku.

Aku juga bak adik kandung bagimu. Ya, bukan?

Margaku Hong, dan margamu Shin.

Kenapa saudara kandung? Kita tak punya hubungan keluarga.

Tak berangkat?

Ya. Ayo berangkat.

- Tae-seon, ini. - Ya.

Hei. Bukankah dia Kang Tae-seon?

Bukankah dia sudah pensiun?

Hei. Beri salam yang benar.

Kenapa berbisik dengan keras?

Lagi.

Hei.

Halo.

Senior? Era Kang Tae-seon sudah lewat.

Kami pemain profesional.

Berengsek.

Sudahlah. Duduk.

Namun, terima kasih karena kau mau makan bersamaku,

dan tak merundungku.

Hei. Dahulu kau selalu baik kepadaku.

Kau bahkan memberiku raket.

Aku harus balas budi.

- Sial! - Ada apa ini?

- Ada apa ini? - Sayang, kau tak apa-apa?

- Kalian sudah gila? - Sialan.

Mereka pikir ini jalan mereka? Yang benar saja.

Jangan terlalu emosi.

Astaga. Hampir saja kecelakaan. Menyetirlah dengan benar.

Pak. Kau tahu berapa harga mobil itu?

Kau mau jatuh miskin?

Kau yang sembarangan masuk. Sudahlah. Pergi sana.

Sayang, ada apa?

Kau tak lihat kekasihku kaget?

Istrimu tegar sekali.

Astaga. Sudahlah.

Kita sudah terlambat. Cepat pergi.

Hei. Jangan bicara sembarangan.

Pakai tangan dan kakimu yang benar.

Teruslah bicara omong kosong

jika kau mau berakhir menyetir dengan mulutmu.

Paham, kau?

Bukan begitu maksudku. Maafkan aku, Pak.

Bagiku, wanita ini orang yang sangat berharga bagiku.

Jadi, jaga mulutmu.

Baik. Maafkan aku.

Pergi.

Maafkan aku.

Kenapa kau memukul seniormu hanya karena itu?

- Apa? - Kau memukul

Lee Gyeong-min saat jadi atlet nasional.

Seharusnya kau menahan itu.

Apa kau akan diam saja jika ada yang mengumpat aku?

Tentu saja! Aku pasti menahannya.

Fokuslah pada Pertandingan Hwasun besok.

Kenapa? Ada apa lagi?

Tidak.

Aku hanya khawatir soal pendapat orang-orang tentangku.

Kau kena sindrom pesohor?

Tak ada yang peduli kau.

Dunia ini sudah cukup keren dan menarik.

Tak ada yang mengenalmu.

Era Kang Tae-seon sudah berakhir.

Aku hanya bersamanya karena pernah mengenalnya.

Aku hampir kecewa kepadamu tadi.

Hei. Kau marah?

Maafkan aku.

Kenapa?

GIMNASIUM HWASUN

Hei, Yun-jong.

Apa maksud perkataanmu?

Kenapa? Itu memang kenyataan.

Kau…

Kenapa kau sampai begini?

Kenapa kau kembali?

Mau mengambil posisi juniormu?

Sudahlah. Tak usah bicara lagi.

Kau tahu siapa lawan pertamamu besok?

Itu dia datang.

Lama tak bertemu.

Apa Serigala Putih belum mati?

Senior. Kenapa kalian diam saja?

Dokter berkata dia bisa bertanding. Jangan khawatir.

Perkataan itu membuatku makin khawatir.

Dia tetap andal meski kakinya sakit.

Tapi lawannya kali ini berbeda, Ada Park Chan,

dan final pertandingan junior.

Omong-omong. Kapten, kapan ibumu melahirkan?

Besok atau lusa.

Mungkin tak bisa bertemu karena tanding.

Lee Yong-tae. Kau khawatir?

Kenapa bertanya?

Aku takut melawan Jae-seok.

Kenapa takut?

Kau punya kalung dan Lee Yong-dae.

Jae-seok tahu semua teknikku.

Kuharap ada Pak Bae pada saat begini.

Kira-kira bagaimana urutan dari Pak Yoon?

Dia juga pasti bingung.

Astaga.

Astaga.

Kupikir dia bukan siapa-siapa. Rupanya mau mengambil desa kita.

Jangan memberi cap apa pun.

Apa yang akan dia lakukan?

Perkataan Song-hee benar.

Mereka perlu persetujuan warga.

Namun, apa mereka sungguh akan beri 30 juta won?

Astaga. Jangan bicara omong kosong.

Aku merasa ada yang mengganjal karena pegawai daerah juga datang.

Kenapa? Kau mau dilihat baik di mata senior PNS?

Bukan itu maksudku.

Berhenti.

Ada masalah apa?

Apa? Tak ada masalah apa pun.

Wajahmu mengatakan kau ada masalah.

Mungkin aku hanya gugup karena pertandingan besok.

Baiklah. Sudah malam. Sampai di sini saja.

Terima kasih, Pak.

Anak-anak, ayo makan.

Kenapa?

Lauknya tak enak?

Ada apa dengan kalian?

Dulu kalian senang hanya menang penyisihan.

Sekarang kalian takut kalah?

- Tidak. - Tidak.

Kecewalah nanti setelah pertandingan.

Namun, tentunya lebih baik jika menang.

- Ya. - Ya.

Mana suara kalian? Kalian paham?

- Ya. - Ya.

- Apa sudah lahiran? - Belum.

Mungkin masih lama, jadi, jangan khawatir.

Astaga. Bagaimana bisa begitu?

Berikan kepadaku.

Anak sulungku, Yoon-dam!

Ibu baik-baik saja? Seharusnya aku di samping Ibu.

Kau tahu ini kali keenam ibu melahirkan.

Namun, final pertandingan junior yang pertama bagimu.

Kalah pun tak apa, tapi jangan sampai terluka.

- Semangat! - Semangat!

Kau baik-baik saja? Kau makan sedikit tadi.

Tak perlu khawatir.

Aku akan tanding seperti biasa.

Aku lebih tahu dari siapa pun bahwa kau sudah berusaha keras.

Dirimu lebih penting dari hasilnya.

Kau tahu itu, 'kan?

Bagaimana matamu?

Hanya sedikit tak nyaman. Tak masalah bertanding.

- Kau tak bohong, 'kan? - Ya.

Namun, bagaimana kau selama ini sebelum bertanding di final?

Apa kau gugup? Khawatir?

Kenapa harus gugup? Aku pasti menang.

Namun, hari ini aku gugup

karena kau bertanding di final.

Kau pasti bisa, Hae-kang.

Kau sudah berusaha keras, dan kau akan begitu nanti. Ya, 'kan?

Tetap saja. Aku akan melawan Park Chan di final.

Hal seperti gugup dan khawatir sangat tak cocok bagimu.

FINAL PERTANDINGAN JUNIOR PRIA JEONNAM MELAWAN SEOUL

LIMA JAM SEBELUM PERTANDINGAN

Aku sangat bangga dan berterima kasih kepada kalian.

Kalian mengerahkan semua kemampuan di setiap pertandingan.

Namun, Dong-hyeon dan Seon-gyu terluka,

dan mata Hae-kang tak baik.

Dan lawan kalian adalah Seoul.

Aku berpikir semalaman soal bagaimana cara

mengalahkan Park Chan jika kita sampai di final.

Pelatih. Lantas, bagaimana?

Kalian masih muda,

dan masa depan masih panjang. Paham?

Kita tak bisa selalu menang.

Terkadang, menyerah juga butuh keberanian.

Keberanian sesungguhnya.

- Pelatih. - Pelatih.

SATU JAM SEBELUM PERTANDINGAN

Perayaan final. Aku akan traktir minuman.

Yong-tae. Belikan kami minum.

Apa kau sudah gila?

Aku hanya bercanda.

Kau tak bisa main, jadi, kau saja.

Apa katamu?

Jangan berlebihan. Maaf.

SEOUL

Abaikan saja mereka. Jangan takut, Yong-tae.

التعليقات

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left