أول 200 سطر.
Pratinjau
Chen!
Ajak aku, ya?
Kubayar, kok.
Tidak usah.
Jadi, Chen Ping'an hanya orang asing bagimu?
Kalau kau tak memahaminya...
Hati-hati, dia bisa jadi lubang iblis tak berdasar.
Bos!
Tolong!
Pergi!
Sudah kubilang, tinggalkan kami!
Jangan!
Kau lebih buruk dari Chen Ping'an!
Kenapa?
Kenapa kau bohong?!
Kenapa dulu kau tak membunuhku saja?!
Zhi Gui...
Kau benar.
Sebentar lagi...
Aku akan melupakannya.
Episode 19
Pion Menyeberangi Sungai
Kuat juga kau, Pendekar Muda.
Pantas berani menantang si tua di Gunung Zhengyang.
Aku terbiasa cari obat di sini.
Sudah biasa.
Lain kali, mampirlah ke Taman Fenglei.
Kulindungi kau.
Setelah jadi pendekar pedang...
Kuasai pedang, tunggangi angin...
Kita berdua, bersaudara...
Akan terbang ke Gunung Zhengyang!
Runtuhkan formasi pedang kolam petir!
Gunung Zhengyang sialan itu...
Akan tamat!
Gunung Zhengyang tak seburuk itu.
Taman Fenglei...
Juga tak sehebat itu.
Aku hanya takut adikku salah pilih sekte.
Menyesal seumur hidup.
Cepat sekali jadi saudara..?
Kalau begitu, saudaramu ribuan, ya?
Bukan puluhan ribu.
Nona, begini susah menikah nanti.
Kau pikir begitu, kan?
Adik...
Kau pikir begitu?
Tak perlu kau khawatirkan.
Keluarga Xu dari Kota Qingfeng...
mau kembalikan baju zirah itu sebagai permintaan maaf.
Kenapa kau tolak?
Jika Kota Qingfeng tahu dari awal...
bahwa leluhur Liu Xianyang adalah penjaga makam Keluarga Chen dari Yingyin...
mereka tak akan berani bertindak seperti itu.
Pasti akan ada akibatnya.
Tapi karena mereka tak tahu...
dan kesempatan bisa diperebutkan siapa pun...
Keluarga Chen dari Yingyin...
tak akan bertindak sewenang-wenang.
Bagaimana jika...
Kota Qingfeng juga mengincar Gunung Zhengyang?
Jika bukan karena kera tua itu maju duluan...
dan dijebak Keluarga Xu...
Kurasa Kota Qingfeng...
tak akan dapat baju zirah itu.
Seperti lalat dan anjing rebutan remah.
Mengikuti arus.
Terlibat masalah besar.
Liu Baoqiao...
bilang pada Chen Ping'an...
"Tunjukkan jalan, semakin cepat semakin baik."
Bodoh sekali.
Lanjutkan, hati-hati.
Aku baik-baik saja.
Jangan pedulikanku.
Pasti menyusul.
Istirahatlah.
Kita lanjutkan.
Napasnya hanya sedikit terganggu.
Tunggu saja.
Tak perlu.
Biarkan dia kembali ke kota.
Kalau begitu...
Merepotkanmu.
Aku juga tak mau melayani lagi.
Tunjukkan jalan saja.
Semakin cepat semakin baik.
Kalau lapar pulang nanti...
Bisa isi perut.
Terima kasih!
Aku takkan terima penghinaan ini!
Kembali ke kantor, kusiapkan hidangan lezat.
Bukankah lebih nyaman?
Tahu jalan pulang?
Untuk apa kau lakukan ini?
Membangun hubungan dengan Keluarga Chen dari Yingyin...
Untukmu...
Untuk Taman Fenglei, itu bagus.
Sebenarnya, Saudara Ping'an...
Tak menerima uang dari Chen Dui...
Juga bukan hal buruk.
Tidak berguna.
Seorang sarjana...
Tidak juga.
Guru Qi juga sarjana, kan?
Dan juga guru dari Guru Qi.
Hebat sekali.
Menurutmu...
Apa mau Guru Qi?
Hanya Tuhan yang tahu.
Yang benar saja..
Bagaimana menurutmu tentang Chen Ping'an?
Aku tak punya pendapat.
Tapi keberadaannya...
membuat...
keluarga kami canggung.
Kenapa?
Keturunan Keluarga Chen dari Gua Li Zhu...
kecuali dia...
semuanya jadi pelayan.
Hanya dia...
seperti daun di nasi kepal ini...
semakin dia menjaga diri...
semakin membuat kami terlihat konyol.
Ini bukan salah saudaraku.
Tentu saja.
Tapi ada hal...
yang sulit dijelaskan.
Bukan alasannya yang sulit...
tapi kalian yang tak punya alasan.
Kalian tak mau akui ketidakmampuan kalian.
Aku bicara tanpa pikir.
Aku...
tak pandai bicara...
tinjuku tak cukup keras...
pedangku tak cukup cepat.
Kalau tidak...
banyak alasan...
yang ingin kukatakan...
pada dunia ini.
Jadi...
kau rasa Chen Ping'an baik?
rasa baik?
Bagaimana mungkin?
Melihatnya...
aku malu.
Kakek, tenang saja.
Aku tak menjual kitab pedang.
Seratus tahun, tiga puluh enam ribu pertandingan,
meniru langit dan bumi,
masuk ke alam mimpi.
Kau bocah, mendapat berkah dari musibah.
Kitab pedang dalam tubuhmu...
Ternyata kau berjalan di jalan ekstrem, hancur lalu bangkit.
Ayah...
Inilah yang disebut mimpi sebagai tungku pedang.
Satu tarikan napas, pedang dewa terbentuk.
Semua anak muda di kota kecil memang jadi pion yang harus dikorbankan
Seandainya aku tahu...
Aku takkan meminjamkanmu ke Keluarga Chen Yingyin.
Ayah...
Kau bilang siapa pion?
Lalu Liu Xianyang bidak apa?
Apa yang kau bicarakan?
Sudah kubilang, banyaklah membaca!
Supaya nyambung kalau ngobrol.
Pion yang menyeberangi sungai...
bisa menggantikan kereta.
Pion menyeberang sungai bisa diarahkan horizontal dan vertikal seperti Kereta. Kereta “Jū” /车 dan “Jū” /车 Kereta bergerak mirip dengan benteng dalam catur biasa. Kereta bergerak sebanyak mungkin titik yang diinginkan secara horizontal atau vertikal. Namun tidak bisa melompati bidak-bidak lain di jalannya
Benar arahnya?
Aku tak punya waktu menemanimu berkeliaran.
Di sana.
Memang begitu.
Memang begitu.
Memang begitu.
Kalian turun dan tunggu aku.
Pohon tumbuh di makam leluhur!
Keluarga Chen akan kedatangan orang suci!
Keluarga Chen di kota kecil sudah dipindahkan.
Kesempatan ini...
Jatuh ke garis keturunan Yingyin-ku!
Keluarga Chen Yingyin-ku...
Terima kasih atas perlindungan leluhur.
Perjalanan kita jauh.
Kenapa kau memutar?
Nona Ning...
Kau menyadarinya?
Hilangkan "bahkan".
Ada tebing di sana.
Semuanya batu hitam Zhanlongtai.
Aku takut dia melihatnya.
Bagaimana kalau dia menginginkannya?
Pelit.
Nona Ning...
Kau lugas sekali.
Pasti tak banyak teman, kan?
Hati-hati!
Buah gunung musim ini...
enak kah?
No comments yet. Be the first to leave one.