أول 200 سطر.
Dia akan selamat.
Aku bisa beritahu kalian sekarang, kupikir dia tak bakalan.
Aku membesarkan dua anak. Ini anak pertama istriku.
Dia belum mengalami susahnya.
Dokter, akankah putriku baik saja?
Besok pagi dia akan robohkan pagar Kapten Keller lagi.
Tak adakah yang harusnya kami lakukan?
Buat pagar yang lebih kuat, huh?
Hanya biarkan dia membaik.
Dia tahu lebih baik dari kita.
Hal ini muncul dan menghilang pada bayi. Tak pernah tahu kenapa.
Menyebutnya kongesti akut pada perut dan otak.
Aku antar kau ke keretamu, Dokter.
Hal yang penting itu, demamnya sudah reda.
- Belum pernah lihat bayi berdaya tahan lebih kuat. - Itu benar.
Jangan kau menangis sekarang.
Kau sudah cukup merepotkan.
"Menyebutnya kongesti akut."
Aku tak tahu seberapa bahayanya tentang kongesti hanya karena itu dialami olehmu.
Kita akan lihat ayahmu mengurus sebuah editorial di surat kabarnya.
Bertanya-tanya tentang pengobatan modern.
Mereka tak tahu apa yang mereka sembuhkan bahkan saat mereka menyembuhkannya.
Pria. Pria dengan bekas luka pertempuran mereka.
Kita perempuan punya...
Helen?
Helen?
Kapten!
Kapten! Bisa kau kemari?
Katie! Ada apa? Apa yang terjadi?
Katie! Katie, ada apa? Ada masalah apa?
Lihat. Dia tak bisa melihat.
Perhatikan matanya! Dia tak bisa melihat.
Helen!
Atau mendengar. Waktu aku berteriak, dia tidak berkedip! Tidak sedikit pun!
Helen!
- Dia tak bisa mendengarmu! - Helen!
Helen!
Aku sudah bilang untuk membiarkannya!
Arthur, Arthur, sesuatu harusnya dilakukan terhadap anak ini.
Saran yang baru. Apa?
Institut Perkins ini amat terkenal di Boston.
Mereka diharapkan melakukan hal yang mengagumkan.
Anak ini sudah ke spesialis di mana saja.
Mereka tak bisa menolongnya di Baltimore atau Washington, kan?
Kupikir Kapten akan kirim surat ke Institut Perkins besok.
Katie, berapa kali kau bisa biarkan mereka buat dirimu kecewa?
Sekian banyak kali, selama ada sedikit kesempatan
buatnya untuk melihat atau mendengar.
- Apa, nak? - Tak ada! Sekarang aku harus selesaikan ini.
Kupikir dengan persetujuanmu, Kapten, aku akan kirim surat ke Institut Perkins.
- Aku bilang tidak, Katie. - Kirim surat tak ada ruginya, Arthur.
Hanya surat yang amat kecil untuk mencari tahu apa mereka bisa menolongnya.
- Mereka tak bisa. - Kita tak tahu itu akan jadi benar, Kapten, sampai kau kirim surat.
Mereka tak bisa.
Katie!
Aku sebaiknya usahakan bekerja di kandang ayam seperti rumah ini.
Ayah sungguh harus bawa dia ke panti rehabilitasi mental, yah.
- Apa? - Sebuah rumah sakit jiwa. Itu tindakan terbaik.
Dia adikmu, James.
Separuh adik dan separuhnya secara mental cacat.
Dia tak bisa buat dirinya bersih. Itu tak enak melihatnya sepanjang waktu.
Kau sampai hati mengeluh atas apa yang bisa kau lihat?
Pembicaraan ini berakhir!
Rumah ini berantakan pagi malam karena anak ini.
Aku ingin ketenangan di sini! Aku tak peduli bagaimana caranya.
Satu hal, kita tak bakalan ribut-ribut seperti ini demi mencari dukun baru.
- Karena aku mengerti atas persoalan ini... - Helen!
Kancingku.
Mata.
Dia ingin bonekanya punya mata.
Ya Tuhan, aku tidak sepatutnya.
Dia tak tahu memperbaikinya, bibi Ev.
Aku akan jahitkan itu lagi.
Ini sepasang kancing yang bagus, Kate. Lihat.
Anak ini punya perasaan lebih dibanding semua keluarga Keller,
andai ada suatu cara untuk menjangkau pikirannya.
Helen!
Helen!
Helen, kau jangan berbuat seperti itu! Bagaimana cara ibu bisa buat kau mengerti?
Bagaimana cara ibu bisa buat kau paham sepenuhnya, sayang ibu?
Katie, sebuah cara untuk mengajarinya sedikit disiplin harus ditemukan.
Bagaimana caramu bisa disiplinkan anak disabilitas? Ini salahnya?
- Aku tidak bilang ini salahnya. - Lalu salah siapa? Aku tak tahu yang harus dilakukan.
Bagaimana caraku mengajarinya? Memukulinya hingga babak belur?
Tak aman biarkan dia berkelakuan seperti ini.
Pasti ada sebuah tempat untuk mengurungnya. Entah...
- bagaimana... - Di mana? Di kurungan? Dia anak yang sedang bertumbuh.
Dia harus mampu untuk hidup.
Jawab aku satu hal. Apa itu baik buat bayi di sana?
Kau tega membawanya ke panti rehabilitasi mental?
Sekarang apa?
Dia ingin bicara seperti...
ku, seperti kau dan aku.
Setiap hari dia terus melarikan diri.
Aku tak tahu cara memanggilnya kembali.
Aku sendiri berniat untuk kirim surat ke Boston.
Kalau institut itu tak bisa menolongnya,
barangkali mereka akan tugaskan seseorang yang bisa.
Aku yang kirim surat ke Perkins.
Ini jelas akan sulit buatmu di sana.
Semuanya naik.
Semuanya naik.
Ini kesempatan terakhirku untuk menasihatimu, Annie.
Kau punya sedikit kekurangan, dan karena sedikit, maksudku semua...
Apa? Budi bahasa.
Atau pembawaan untuk menerima yang lain.
Dan apa yang telah menyelamatkanmu lebih dari satu kejadian di Perkins
itu bahwa tak ada tempat lain untuk mengucilkanmu.
- Matamu sakit? - Kupingku, Mr. Anagnos.
Tak ada tempat lain selain balik ke tempat mengerikan itu
di mana kau tumbuh besar belajar menjadi baik!
Annie, aku tahu betapa tidak bahagianya itu buatmu di sana.
Tapi pergolakan itu sudah berlalu lama. Kenapa tidak biarkan itu terus terkubur?
- Kupikir Tuhan harus memberiku pemulihan. - Apa?
- Sungguh, Dia terus memunculkan pergolakan itu. - Itu hal yang tak pantas untuk diucapkan, Annie.
Rendah hatilah. Kau akan butuh manfaat kasih sayang terhadap ini anak.
Hadiah, karena kasih sayang kami.
Hadiah, Mr. Anagnos?
Aku harus bilang apa?
Aku bebal, wanita keras kepala, dan segala hal dalam diriku yang kuberhutang padamu.
Itu hanya kebenaran separuhnya, Annie.
Separuhnya apa?
Sampai jumpa. Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Aku tak bakal beri mereka suatu masalah.
Aku akan sangat santun, mereka tak bakal tahu aku sudah datang.
Kita mau pergi ke mana, Annie?
- Jimmy. - Kita mau pergi ke mana?
- Aku bilang, aku akan merawatmu. - Kita mau pergi ke mana?
Annie Sullivan, berusia sembilan, pada dasarnya buta.
James Sullivan, berusia tujuh.
Ada apa dengan kakimu, nak?
Itu pangkal pahanya, tuan. Dia terlahir seperti itu.
Tak bisa dia jalan tanpa itu kruk?
Wanita dibawa ke bangsal perempuan, laki ke bangsal pria.
Annie! Annie! Jangan biarkan mereka membawaku!
Annie!
Tuscumbia!
Tuscumbia!
- Nona Sullivan? - Di sini!
Akhirnya. Aku di kereta sudah berhari-hari,
kupikir mereka pasti berhenti tiap kali aku tertidur.
- Aku James Keller. - James. Aku punya adik bernama Jimmy.
- Kau saudaranya Helen? - Aku hanya seorang kakak tiri.
- Kau akan jadi pengasuhnya? - Itu, mencoba.
Kau tak terlihat seperti seorang pengasuh. Kau bawa peti, Nona Sullivan?
Ya.
Mrs. Keller.
Kami menunggu setiap kereta sudah dua hari.
Kau tidak ajak Helen. Aku harap kau mengajaknya.
Tidak, dia di rumah.
Kalian tinggal jauh dari kota, Mrs. Keller?
Cuman semil.
Aku rasa aku bisa menunggu satu mil lagi.
Tapi jangan terkejut kalau aku turun dan mendorong kudanya.
- Selamat datang di Ivy Green, Nona Sullivan. - Suamiku, Nona Annie. Kapten Keller.
- Oh, Kapten, apa kabar? - Senang melihatmu akhirnya.
- Aku yakin kau alami perjalanan menyenangkan. - Oh, aku mengalaminya sedikit.
- Di mana menurut ayah petinya ditaruh, ayah? - Di mana Nona Sullivan bisa mengambilnya, ayah pikir.
- Ya, tolong. Helen mana? - Dan kopernya.
Aku yang bawa kopernya, terima kasih. Aku ada sesuatu buat Helen.
- Kapan aku bisa menemuinya? - Di situ. Di situ Helen.
Katie...
Dia kasar sekali, Katie.
Aku menyukainya, Kapten.
Berapa usianya?
Dia tidak seusia remajanya, kau tahu.
Kenapa dia kenakan kacamata. Aku ingin lihat mata orang yang aku ajak bicara.
- Karena sinar matahari. Dia dulunya buta. - Buta?
Dia sudah jalani sembilan operasi pada matanya,
yang terakhir tepat sebelum dia pergi.
Buta? Ya Tuhan, mereka harapkan anak buta mengajari anak buta lainnya?
Berapa lama dia mengajar di sana?
Dia dulunya murid.
- Ini pekerjaan pertamanya? - Dia sudah menyampaikan pidato perpisahan.
Di sini serumah penuh orang dewasa tak sanggup atasi anak ini.
Bagaimana siswi Amerika tak berpengalaman, penglihatan bermasalah bisa melakukannya?
Kemajuan besar. Sekarang kita punya keduanya untuk dirawat.
- Kau diamlah. - Aku sependapat dengan ayah!
Kau banyak omong.
- Tak ada yang kukatakan itu benar. - Kenapa mengatakan sesuatu?
Semua masalah yang kutimbulkan, dan bagaimana penampilanku?
Oh, tidak, jangan celana dalamannya!
Baiklah, Nona O'Sullivan, mari dimulai, dengan boneka.
D.
O.
L.
L.
Boneka.
Kau mengejanya baik sekali.
Mencari tahu apa dia mudah marah? Dia mudah marah.
- Apa itu, sebuah permainan? - Alfabet.
- Alfabet? - Buat orang tuli.
Betapa cerdasnya dia.
Menurutmu dia tahu apa yang dia lakukan?
Dia monyet. Dia meniru segala hal.
Ya, dia monyet kecil yang cerdas, tentu saja.
Baiklah.
- Dia ingin bonekanya dikembalikan. - Waktu dia mengejanya.
No comments yet. Be the first to leave one.