أول 198 سطر.
Kami punya tamu hari ini. Amber.
- Hai, Amber. - Hai, Amber.
Ku dengar kau sangat dekat dengan seseorang di acara ini.
Ya, Eric salah satu teman terbaik ku.
- Oh, ya. - Eric.
Aku sedikit takut ...
aku akan terlalu jujur mengenai dirinya saat ini.
Jika kau ingin menjelek-jelekkannya hari ini, kau bisa melakukannya.
Kami akan menggantinya dengan efek suara.
- Silahkan. - Kami akan menggantinya.
Kalau begitu ayo kita mulai dengan pasangan pertama.
Perlakukan aku seperti seorang suami.
Punggungku kaku.
Aku tahu titik akupunktur.
- Kau merasa lebih baik sekarang? - Iya.
Bisakah aku membuat keinginan sekarang?
Apa itu?
- Bukankah itu seragam sekolah? - Seragam sekolah?
- Apa itu? - Hai.
Aku seorang gadis.
Aku tahu sekolah ini.
Ayo kita pergi kencan mengenakan seragam sekolah.
Apa?
Ini keinginanku.
Aku selalu ingin pergi kencan...
mengenakan seragam sekolah.
Aku mengabulkan keinginan Seong Jae duluan,
agar dia tidak bisa menolak permintaanku.
Aku sangat lega.
Dibandingkan dengan apa yang kita kenakan di pesta pernikahan,
seragam sekolah tidak buruk sama sekali.
Aku bisa melakukannya untuk Joy, tentu saja.
Seong Jae.
Astaga.
- Dia terlihat lucu. - Ini kencan berseragam sekolah.
Seong Jae.
Hei, aku bilang jangan bertingkah sangat intim di sekolah.
Mengapa?
Kita belum sampai sekolah sekarang.
Ada apa dengan Joy? Apa dia selalu seperti itu?
Dia bertingkah benar-benar imut.
Semoga kelasmu menyenangkan. Aku pergi.
Aku lulus dari SMA ini.
Aku mengenakan seragam dari sekolah yang berbeda.
Benar.
- Sekolahku saingan sekolahmu. - Kau benar.
Aku di sini untuk menaklukkan sekolah ini.
Ini apa yang sudah kuimpikan.
- Mimpimu? - Ini mimpiku.
"Ini apa yang sudah kuimpikan."
Itu terlihat seperti sebuah adegan dari drama.
Setuju.
Biasanya, kita tidak boleh bergandengan tangan di sekolah.
Benar. Hukumannya benar-benar besar.
Dilarang menunjukkan kasih sayang didepan publik.
- Kita tidak boleh bermasalah. - Tapi aku sudah lulus.
- Kita siswa sekarang. - Halo.
- Halo. - Sudah lama.
Apa ia gurunya?
Ia wakil kepala sekolah kami.
- Halo. - Aku sering melihat kalian di televisi.
- Wakil kepala sekolah. - Benar.
Karena aku anak kelas 10...
- Aku bersikap baik padamu. - Ya.
Bagaimana dengan nilai-nilainya?
- Nilai nya bagus. - Lihat?
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Benar-benar menarik...
ternyata dia bisa menjadi begitu dekat dengan wakil kepala sekolah.
Apa yang dia ceritakan tentang kehidupan sekolahnya itu semua benar.
Aku tidak berpikir dia akan menjadi siswa yang cerdas.
Ini auditorium.
- Aku sangat menyukai auditorium. - Mengapa?
- Aku menghabiskan banyak waktu di sana. - Benarkah?
Kau pandai bermain basket?
Mengapa?
Lelaki yang ku suka pandai bermain itu.
- Benarkah? - Iya.
Tapi aku tidak pandai bermain itu.
- Ku rasa kau tak akan menyukaiku. - Tidak mungkin. Kemari.
- Sebenarnya, aku kesepian di sekolah. - Mengapa?
Aku tidak pandai berolahraga, tapi aku harus bermain basket...
untuk kelasku hanya karena aku tinggi.
Dan lelaki itu mengajariku bagaimana caranya bermain basket.
Astaga.
- Dengarkan aku. - Apa kau seorang karakter drama?
Dengar.
Kau benar-benar total dalam komik roman.
- Aku serius. - Oke.
- Beri aku bolanya. - Kau tahu bagaimana dia mengajariku?
- Tidak. Beritahu aku. - Dia meneleponku saat makan siang.
Kau berpura-pura menjadi aku.
Tangkap ini.
Astaga.
Benar. Itulah bagaimana aku bereaksi.
Itu sebabnya aku menyukainya.
Kau sangat konyol.
- Mengapa? - Dia sedikit marah sekarang.
Dan kau tahu apa?
Dia pindah ke Kanada,
- jadi aku sedih. - Tidak masuk.
Ku rasa kau terlalu banyak membaca komik roman.
Aku tidak mengada-ada. Ini kisah nyata.
- Apa namanya sesuatu seperti "angin"? - Bukan.
- Apa sesuatu seperti Si Woo? - Bukan, bukan itu.
Namanya umum.
Apa kau membuat cerita ini tadi malam di tempat tidurmu?
- Kau tidak bisa tidur nyenyak, kan? - Tidak mungkin.
Itu benar-benar terjadi padaku.
Kau ingin aku cemburu karena lelaki itu?
Tapi aku tidak cemburu sama sekali.
Ku rasa aku seorang istri pencemburu.
Tapi dia tidak cemburu sama sekali.
Jadi aku melebih-lebihkannya sedikit.
Tapi dia tidak tak mempedulikannya.
Ku rasa dia berpura-pura tidak cemburu.
Pria biasanya menyembunyikan kecemburuan mereka.
- Memang benar. - Oke, berhenti membicarakan itu.
- Dengarkan aku. Ini kisah nyata. - Oke.
- Apa yang harus ku lakukan? - Dia berdiri dengan satu kaki.
- Benar. - Dia bahkan menyilangkan lengannya.
- Itu berarti ia memiliki banyak pikiran. - Benar.
Kau tampak begitu senang berbicara tentang masa lalu.
Itu benar-benar terjadi. Dan aku sangat menyukainya.
Dan ternyata dia tampak sepertimu.
- Itu pukulan besar. - Dia membuatnya lebih marah.
Apa ada lelaki yang mengajarimu voli?
Adakah? Voli...
Aku pandai bermain voli.
Itu sangat mengganggunya.
Ku rasa aku bisa mencetak skor dari sini.
Jika kau berhasil, kau akan terlihat sangat tampan.
- Dia membuang kemarahannya. - Aku bisa melihatnya.
- Dia sangat berpikiran sempit. - Benar.
Aku tidak tahu mengapa dia menceritakan kisah itu.
Aku mengenakan seragam sekolah dan pergi ke sana karena dia menginginkannya.
Dan itu bukan sesuatu yang harus dia ceritakan padaku disana.
Itu bisa menyebabkan pertengkaran.
Aku bahkan berpikir...
dia menyukaiku karena aku tampak seperti lelaki itu.
Dia juga mengatakan kepadaku apa yang lelaki itu lakukan setelah ia pindah ke Kanada.
Ku pikir dia berlebihan meskipun dia mencoba untuk membuatku merasa cemburu.
Jadi aku akan marah.
Aku tidak marah karena aku cemburu padanya.
Aku hanya tidak bisa mengerti mengapa dia membicarakan tentang lelaki itu padaku.
- Itu berarti dia merasa cemburu. - Benar.
Ku pikir masa lalu ya hanya masa lalu.
Jadi aku tidak pernah merasa cemburu.
Dia lucu.
Jika aku memasukkannya,
itu akan memutuskan apakah aku menyukaimu atau tidak.
Jika aku memasukkannya, itu berarti aku menyukaimu.
Jika ia gagal, itu akan aneh.
Masuk.
Dia menyukai Joy.
- Dia menyukai Joy. - Dia menyukai Joy.
- Itu harus masuk. - Dia menyukai Joy.
- Dia berhasil sangat mudah. - Benar.
Wow. Kau sangat pandai.
Ini tidak sering terjadi.
Aku terkejut, juga.
Aku melemparkan dengan tulus dan berhasil.
Sampai detik terakhir...
bolanya meninggalkan tanganku,
aku berharap bolanya akan masuk.
Dan itu berhasil.
Ku rasa jika dia gagal,
aku akan menjadi sedikit marah.
Karena dia menyatakannya terlalu mudah.
Jadi ku rasa dia mungkin tidak serius soal perasaannya untukku.
Itu bisa menyesatkan.
Tapi dia berhasil,
ku rasa itu pertanda, yang mengatakan...
"Joy, jangan pernah menduga-duga perasaannya."
Itu seperti suara dari Tuhan.
Jadi ku rasa dia benar-benar lupa tentang ceritaku dengan lelaki itu.
Itu konyol.
Dia membicarakannya sepanjang hari.
Bagaimana dia bisa mengatakan kalau itu pertanda?
Sekarang aku tahu kalau dia mengaitkan lapangan basket dengannya.
Aku tahu itu sangat baik.
Jadi aku tidak ingin dia membicarakannya mulai dari sekarang.
Meskipun dia mungkin memikirkan tentangnya, aku ingin dia membicarakan tentangku.
Ada siswa di sini.
- Hai. - Halo.
Halo.
- Mereka junior nya. - Ini seragam yang sama.
- Terima kasih. - Kau cantik.
Tolong perlakukan aku seperti teman kalian.
- Panggil aku Su Yeong. - Hai, Su Yeong.
- Lama tak bertemu. - Kau sudah menjadi lebih cantik.
- Benar. - Kau sudah menjadi lebih cantik.
Benar. Karena aku jatuh cinta.
Ini suamiku.
Aku nikah dini.
Kau harus belajar keras.
Kalian berdua tampak serasi bersama-sama.
Ku harap kalian bisa mencapai impian kalian.
No comments yet. Be the first to leave one.