Prvních 200 řádků.
Itu ibumu.
Ibuku? / - Apa yang harus kita lakukan?
Ibuku? / - Cepat!
Bereskan ini! / - Kenapa tak menelepon dulu?
Cepat! / - Kubilang aku akan mampir besok.
Ada apa ini? / - Cepat.
Singkirkan saja. Aku akan membukakan pintu.
Cepat. / - Jangan, belum!
Aku akan membiarkannya masuk. / - Ya.
Astaga, Ibu.
Maafkan aku. Aku mengejutkanmu, ya?
Astaga, sama sekali tidak.
Ibu datang untuk mengantarkan lauk?
Seharusnya aku membawanya.
Aku pergi terburu-buru sampai lupa.
Kalian tidak senang melihatku?
Tentu saja senang melihatmu. / - Kami bahagia.
Ya, hanya itu yang kuinginkan.
Ibu, silakan duduk. / - Duduklah, Ibu.
Astaga, Ibu.
Kubilang aku akan mampir besok.
Apa ini?
Ibu, jangan! / - Astaga.
Ibu! / - Apa?
Astaga, Ibu baik-baik saja?
Ya, aku baik-baik saja. / - Ibu baik-baik saja?
Maaf soal itu. / - Kenapa kau mendorongku?
Aku hanya...
Apa itu?
Bukan apa-apa.
Coba kulihat. Apa itu?
Astaga.
Bukankah ini sepatu bayi?
Apa kalian hamil?
Ibu. / - Kami baru saja membelinya.
Untuk apa kau membeli ini?
Mereka pasti sangat menginginkan bayi.
Ibu sudah makan malam?
Tentu sudah, ini sudah lewat jam makan.
Atau mungkin belum.
Mau pesan sesuatu?
Kenapa repot-repot? Mari makan yang tersedia.
Aku ingin mentraktirmu makanan enak
karena kau datang.
Kau punya ramyeon?
Aku yakin ada. Benar, bukan?
Kau masih punya kimchi pemberianku?
Ya.
Hanya itu yang kubutuhkan.
Sebenarnya, itu dan miras.
Miras?
Kalau begitu...
Kubuatkan ramyeonnya? / - Masaklah air.
Yuna, biarkan aku menggendongmu.
Tidak perlu, aku tidak mau merepotkanmu.
Menggendongmu akan lebih mudah.
Maafkan aku.
Tunggu sebentar.
Pegangan. / - Ya.
Pegangan meja.
Terima kasih.
Kau akan libur besok?
Tidak bisa.
Saetbyul tak mungkin bekerja sendiri.
Lagi pula, ini hanya kakiku.
Kau harus minum pereda nyeri dan antibiotik.
Aku tahu.
Temui dokter setiap dua sampai tiga hari
untuk mengganti perbanmu.
Aku bisa ke sana sendiri.
Aku terpaksa merepotkanmu hari ini,
tapi aku akan berusaha sendiri.
Aku yang minta maaf tentang semua ini.
Maksudku
kau tidak perlu terluka menggantikanku.
Aku senang tidak ada yang terluka parah.
Kau harus pergi sekarang.
Aku akan kembali besok pagi
agar kau bisa sarapan.
Aku bisa sendiri.
Ini hanya kakiku, yang lain baik-baik saja.
Tapi kau tak bisa berjalan dengan benar.
Jahitannya akan dilepas dalam dua pekan,
jadi, aku akan membantu sampai saat itu.
Hei. Nanti kutelepon lagi.
Tentu.
Ibu. / - Ya?
Ibu tampak lebih baik.
Ya. Reaksi alerginya tidak terlalu buruk.
Alergiku sembuh tak lama setelah minum obat.
Aku baru bicara dengan Mirae
dan menceritakan situasi Ibu.
Dia akan datang.
Ini untuk Nenek? / - Ya.
Ini. / - Akan kubawakan untuknya.
Ibu tidak mau menurunkan berat badan?
Kau yang harus melakukan itu.
Dasar kau. / - Ibu benar.
Seluruh keluarga kita di sini kecuali Mirae.
Dia akan datang. / - Benarkah?
Aku pulang! / - Dia datang.
Apa maksudmu kau pulang?
Kedengarannya seperti kau belum menikah.
Maaf, itu menjadi kebiasaan.
Ibu tampak lebih baik.
Benar.
Astaga, aku merasa kasihan pada mertuamu.
Benar sekali. Dia hanya berusaha bersikap baik.
Aku harus menemuinya besok.
Aku akan ikut dengan Ibu.
Ibu bilang aku harus bersikap baik kepadanya.
Benar. Itu akan membuatku lebih tenang.
Ini sebabnya didikan seseorang penting.
Bersikap baik kepada orang tua
akan memberimu keberuntungan dalam hidup.
Omong-omong,
kau membawa kabar soal bayi?
Secepat itu?
Jangan konyol.
Usiamu sudah lebih dari 30 tahun.
Hyeonjae tampak lebih muda, padahal 40 tahun.
Kau harus segera hamil jika menginginkan anak.
Aku akan membicarakannya dengan Hyeonjae.
Bukankah kalian sudah membicarakannya?
Mereka khawatir pernikahan mereka batal
sampai mereka bergegas ke altar.
Benar. Bicarakan dengannya saat kau bisa.
Kau sudah menikah, tak ada yang menghalangi.
Aku ragu untuk datang
karena tahu itu akan mengganggumu.
Terutama karena kalian pengantin baru.
Apa maksud Ibu?
Ibu selalu diterima di sini.
Tentu saja, Ibu. Mampirlah kapan pun.
Mau kutuangkan segelas anggur lagi?
Tentu.
Kenapa kau tidak minum?
Perutku tak bisa mencernanya belakangan ini.
Itu pasti karena kau tidak makan dengan baik
saat tinggal sendirian.
Perutmu pasti melemah.
Kau tidak boleh lupa makan.
Ya, Ibu. / - Sejak kami menikah,
dia sarapan denganku setiap hari.
Yunjae punya kebiasaan makan yang baik.
Dia makan tiga kali sehari secara teratur.
Aku membuatnya memiliki kebiasaan itu.
Orang tua membesarkan anak adalah wajar,
tapi aku ingin dipuji untuk itu hari ini.
Apa? Bukankah itu Ayah?
Aneh kau memanggilnya seperti itu.
Tapi setelah menikah, kurasa itu harus diubah.
Aku tahu.
Ibu bertengkar dengan Ayah?
Kenapa tak mengangkatnya?
Aku bahkan tak bisa melawan Minho.
Hanya aku yang akhirnya frustrasi.
Ayahmu selalu mengatakan hal yang benar.
Kuharap Yunjae bicara dengan jelas seperti Ayah.
Kuharap Minho selalu bicara seperti...
Aku tidak bisa mengatakan
bahwa aku ingin dia menjadi seperti Yunjae.
Apa maksud Ibu? Apa yang lucu, Sayang?
Astaga. Hei, anggurnya enak sekali.
Rasanya lebih enak dengan ramyeon.
Ibu lucu sekali.
Pukul berapa ini? Kenapa dia belum pulang?
Haruskah aku meneleponnya?
Dia tidak menjawab teleponmu.
Kurasa harus Ayah. / - Baiklah.
Ini Yunjae.
Hei. / - Ayah.
Ibu ada di rumahku.
Dia di rumahmu? Kenapa tak memberitahuku?
Aku tidak tahu dia bertengkar dengan Ayah.
Kami tidak bertengkar.
Kurasa bagi Ibu tidak begitu.
Aku akan menyuruhnya menginap malam ini.
Tidak. Aku akan segera ke sana.
Hei, pastikan dia tetap di sana.
Apa dia di rumah Yunjae? / - Ya, akan kujemput.
Aku ikut, kurasa dia juga marah kepadaku.
Ayah tunggu saja di sini.
Aku pulang. / - Hei.
Ayah mau pergi?
Ibumu marah kepada ayah.
Dia di rumah Yunjae, aku akan menjemputnya.
Astaga, Ayah. Apa susahnya menghiburnya?
Ayah tahu Ibu berpikiran sederhana.
Aku tahu aku harus selalu memujinya.
Ini salahku.
Tapi bukankah kau hanya memedulikan ibumu?
Aku juga kesulitan.
Aku hanya memihak yang lemah.
Kau salah. Aku yang lemah di sini.
Dan ibumu yang kuat.
Kau bekerja lembur?
Tidak juga. Aku akan mandi, Kakek. / - Baiklah.
Tidak ada istirahat untuk keluargaku.
Kurasa itulah hidup.
No comments yet. Be the first to leave one.