Prvních 149 řádků.
CERITA ORISINAL OLEH KANEHITO YAMADA / TSUKASA ABE
Begitu rupanya.
Aku sudah ingat.
Dia Frieren.
Dia sangat membantu manusia dalam meneliti dan menganalisis Zoltraak.
Mage yang paling banyak membunuh Demon dalam sejarah.
Frieren sang Pembasmi.
Orang genius lain yang kubenci.
Anda harus beristirahat untuk sementara waktu.
Terima kasih.
Hei!
Kau baik-baik saja?
Aku selamat berkat kalian berdua.
Terima kasih.
Aku akan menoleransi insiden terkait teman Mage kalian.
Keputusannya benar.
Kini, Frieren bisa kembali ke kota ini.
Ayo minta dia mengalahkan Lügner.
Bukan Nona Frieren yang membunuh sipir penjara.
Aku tahu. Itu ulah si Demon.
Yang lebih penting, kau bilang Mage itu bernama Frieren?
Benar.
Jangan bilang dia Mage Elf yang merupakan anggota Grup Pahlawan.
Kalau benar, berarti aku sudah bersikap amat lancang.
Padahal, keluarga Granat berutang budi kepada Grup Pahlawan.
Pada masa kakekku menjabat,
mereka berhasil mengusir pasukan Demon
yang menyerang kota ini.
Musuh mereka saat itu jugalah Sage of Destruction,
Aura the Guillotine.
Lama tak jumpa, Aura.
Ya.
Sudah sekitar 80 tahun, ya, Frieren?
Kau sedang menuju ke kota di depan, 'kan?
Sebaiknya urungkan niatmu.
Tak mau.
Kenapa?
Karena aku jelas lebih unggul darimu.
Oh, begitu.
Jumlahnya lebih banyak dari waktu itu.
Pasukan sebanyak ini saja bisa dikendalikan.
Sihir Demon memang luar biasa.
Bahkan dengan teknologi saat ini, manusia tak mungkin bisa membayangkannya.
Namun, sihir ini amat menjijikkan.
Sungguh hina.
Ucapanmu jahat sekali.
Padahal, aku sudah bersusah payah mengumpulkan mereka.
Aku mengenali beberapa baju zirah ini.
Aura, aku terpaksa harus membunuhmu di sini.
Scales of Obedience.
Gara-gara sihir itu, kami tak bisa mengalahkan Aura selama bertahun-tahun.
Dia menggunakan
sebuah sihir yang dapat memperbudak dan mengendalikan lawannya.
Tujuh Sage of Destruction memakai sihir yang jauh melampaui pemahaman manusia.
Aura meletakkan jiwanya dan jiwa lawannya pada timbangan,
lalu menimbang perbedaan mana-nya.
Sisi yang memiliki lebih banyak mana
dapat memperbudak sisi lainnya dan menjadikannya boneka.
Sihir ini berlangsung selamanya hingga tubuh mereka binasa.
Makin besar risikonya, makin kuat pula sihirnya.
Bagi Aura, yang memiliki mana dalam jumlah luar biasa,
sihir itu tak terkalahkan.
Tak adakah cara untuk melawannya?
Saat ini, mana Aura sedang membebankan salah satu sisi timbangan itu,
tapi timbangan itu sendiri adil.
Jika jiwa yang mana-nya lebih banyak daripada Aura naik ke timbangan itu,
Aura dapat dikalahkan.
Namun,
sudah 500 tahun Aura menjadi salah satu dari Tujuh Sage of Destruction,
dan belum pernah ada yang bisa melampaui mana Aura.
Jadi, tidak ada langkah antisipasi?
Sebenarnya ada.
Orang yang memiliki tekad kuat
bisa melawannya, meskipun hanya sebentar.
Dan tekad yang begitu kuat
sering kali dimiliki Warrior yang cerdas dan berani.
Sekalipun ada, cuma bisa bertahan sebentar, ya?
Bagaimanapun, itu tetaplah kelemahan yang krusial.
Aku yakin dia merasa sangat terganggu oleh tekad semacam itu.
Maka itu...
Aura the Guillotine
melakukan tindakan yang sangat logis pada mereka yang dia kendalikan.
Sesuatu yang sangat kejam.
Bagaimana?
Pasukan abadiku tangguh, 'kan?
Boleh juga.
Kau mencabut sihir yang kutanamkan pada mereka.
Baru kali ini ada yang bisa mencabutnya.
Mencabut sihir sekuat ini
pasti membutuhkan mana yang amat banyak.
Untuk apa kau repot-repot melakukan ini?
Padahal, terakhir kali kita bertarung, kau memusnahkan mereka tanpa ragu.
Himmel memarahiku sesudahnya.
Kalau begitu, kau semestinya tak perlu ragu lagi.
- Kenapa begitu? - Karena Himmel sudah tidak ada.
Begitu rupanya. Baguslah.
Demon seperti kalian memang benar-benar monster.
Kini, aku akan membunuhmu tanpa ampun.
Oke!
Kini, aku bisa bergerak dengan lebih luwes.
Bapa, tempat ini aman, 'kan?
Ya. Meskipun tak sekuat penghalang pertahanan kota,
gereja ini juga dilindungi oleh penghalang.
Kalau begitu, tunggulah di sini, Graf.
Kau mau ke mana lagi, Berandal?
Kau pikir Demon akan berbaik hati
dan pergi saat kita bersembunyi di sini?
Tuan Stark, kau yakin?
Serangan tadi berhasil karena dia tak menduganya.
Bahkan itu pun belum cukup untuk membunuhnya.
Andai tadi terus bertarung,
kita pasti sudah terbunuh.
Harus ada yang bertindak.
Kau benar. Kalau begitu, mari berjuang bersama-sama.
Tidak, kau sebaiknya pergi ke pos penjaga.
Bantulah mengevakuasi penduduk kota ini.
Berarti kau akan pergi ke...
Ya.
Aku akan...
berlutut dan memohon kepada Frieren untuk kembali.
Apa?
Apa? Mau bagaimana lagi? Harus dia yang mengalahkan mereka!
Yah, metode itu memang yang paling praktis.
Graf bilang penjaga akan menuruti kita kalau menunjukkan ini kepada mereka.
Baiklah.
Aku akan langsung pergi.
Ada apa?
Cedera di tanganmu cukup parah.
Kau yakin bisa melewati gerbang dengan luka seperti itu?
Aku yakin akan baik-baik saja.
Ini wajar bagi seorang Warrior. Memangnya ini aneh?
Aku tak pernah melihat Warrior berjalan-jalan di kota
dengan kedua tangan yang berdarah.
Fern, kalau bicara, tahu dirilah. Kau juga...
Darah siapa ini? Bukan darahku, 'kan?
Eh! Ada apa?
Tuan Stark, darah ini mengandung mana...
Fern!
Bukan main... Apa aku sedang bermimpi?
Itu teknik Guru.
Karena kau bergerak, aku gagal mengenai organ vitalmu.
Aku sungguh tak berniat membuatmu menderita.
Kenapa terkejut?
Apakah karena aku berdiri di sini meskipun sudah mengalami luka fatal?
Atau karena kau tak bisa mendeteksi kedatangan kami?
Menyembunyikan keberadaan dengan mengendalikan mana
bukanlah bakat yang hanya dimiliki kau seorang.
Semua Demon bisa melakukan itu.
Dengan kata lain, aku tak setuju itu pantas dilakukan
No comments yet. Be the first to leave one.