Prvních 200 řádků.
TELL ME THAT YOU LOVE ME
TOKOH, LOKASI, ORGANISASI, DAN PERISTIWA DI DRAMA INI FIKSI
Sepertinya aku merasakannya dengan segenap hatiku.
Rasanya kita seperti
melakukan percakapan sunyi
yang tak pernah berakhir di dunia sunyi kita sendiri.
Moeun.
Moeun.
Ibu.
Kenapa kalian ada di sini? Kalian tak bilang akan datang.
Kami mendatangi pernikahan putra teman Ibu tadi dan berniat mampir.
Modam pasti terganggu saat kau pergi seperti itu ketika pulang tempo hari.
Dia terus meminta kami menemuimu saat datang ke Seoul.
Bagus.
Mereka orang tuaku.
Halo.
Siapa ini?
Begini…
"Halo. Namaku Cha Jinwoo."
Begitu rupanya. Senang bertemu.
Halo.
Aku berpacaran dengannya.
Kalian berpacaran?
Ya.
Moeun berpacaran dengannya, Sayang.
Begitu rupanya.
Omong-omong,
alasan aku terkejut adalah
putriku tak pernah bilang dia berpacaran dengan seseorang.
Kau mengerti?
Dia mengerti. Dia membaca bibir Ibu.
- Sungguh? - Ya.
Senang bertemu denganmu.
Pasti ini juga mengejutkan baginya.
Karena kita sudah bertemu hari ini, katakan kita akan bertemu lagi lain kali.
Baiklah.
Tunggu, Jiyu ada di dalam. Kalian masuklah lebih dahulu.
- Tentu. - Baiklah.
- Baiklah, sampai bertemu lagi. - Sampai bertemu lagi.
Ayahku bilang,
"Sampai bertemu lagi lain kali."
Bertemu.
Kau baik-baik saja?
Kau pasti terkejut.
EPISODE 9 ALASAN
TELL ME THAT YOU LOVE ME
- Hei. - Hei.
Tidak ada minuman.
Aku akan membelinya.
- Anggap saja di rumah sendiri! - Baiklah.
Mungkin seharusnya kuundang dia masuk.
Dia pasti kecewa.
Tidak apa-apa. Sudah kujelaskan.
Kau jelaskan kepadanya?
Bagaimana bisa?
Dia tunarungu, ya?
Ya.
Dia tak bisa dengar sama sekali.
Dia tak bisa mendengar…
sama sekali?
Entah apa kalian menyadarinya,
aku belajar bahasa isyarat belakangan ini karena dia.
Untuk kata-kata sulit, kami berkomunikasi lewat tulisan,
kami juga pakai ponsel.
Ada aplikasi yang mengubah ucapan menjadi teks.
Tak ada masalah berarti.
Begitu rupanya.
Bagaimana dia
bisa hilang pendengaran?
Dia terlahir tuli?
Tidak.
Kurasa saat usianya tujuh tahun.
Terjadi setelah dia sakit beberapa hari.
Astaga.
Orang tuanya pasti sangat sedih.
Omong-omong, adakah di antara orang tuanya yang tunarungu?
Kudengar itu bisa diwariskan.
Entahlah.
Tapi lagi pula,
kau bukan akan segera menikah.
Tidak sopan menanyakan hal pribadi seperti itu.
Dia bilang tak pernah melihat orang tuanya.
Dia…
tumbuh di panti asuhan.
Kau…
Astaga.
Kau pasti kesulitan karena pekerjaanmu.
Dan kini, hubungan…
Kenapa kau mengambil cara yang sulit?
Aku paham Ibu khawatir.
Tapi…
Aku sungguh baik-baik saja.
Terkadang sulit untuk audisi di banyak tempat
selagi bekerja paruh waktu,
tapi aku tak menyesalinya.
Dan dia…
Dia sungguh orang yang baik.
Bisa dibilang
aku menjadi putri yang buruk bagi kalian.
Tapi aku
berusaha keras menjalani hidup
tanpa penyesalan.
Kami
tak pernah memintamu hidup untuk kami.
Atau menjadi putri yang baik.
Dan Ayah tahu kau tak akan mematuhi kami.
Ya, ini jalan yang kau pilih.
Ayah tak berniat menentangnya.
Jadi,
bisakah kalian tunggu sedikit lagi saja?
Mungkin ini sulit,
tapi inilah pilihanku.
Jadi, akan kutangani konsekuensinya.
Kau… Dasar anak nakal.
Kami tak ingin kau sedih,
jadi, kami bahkan tak bisa tunjukkan kekhawatiran kami. Kau tahu…
Maafkan aku.
Ya.
Dia ada benarnya.
Kita baru bertemu sekali.
Moeun.
Dia tinggi dan tampan, juga tampak begitu baik.
DEEP
Hei.
Kenapa kau ada di sini?
Minum sendirian?
Ya.
Kau mau?
Ini.
Tapi kenapa kau kembali?
Aku baru saja bertemu orang tuanya.
Orang tua Moeun?
Kau menyapanya? Seperti apa mereka?
Mereka baik.
Lantas, kenapa kau terlihat murung?
Kau tahu alasannya.
Aku yakin kau bisa memahami mereka
karena kau seorang ayah.
Tentu saja.
Jika berandal sepertimu memacari putriku,
aku akan pukuli dia seperti…
Aku bercanda.
Maksudku,
memikirkan Sol nanti memperkenalkan pria kepada kami saja…
Aku menjadi marah.
Lalu, apa yang Moeun katakan?
Dia mengkhawatirkanku dan bertanya apakah aku terkejut.
Itu hal yang harus sekali kau lalui.
Begitulah cara hubunganmu dan Moeun menjadi lebih kuat.
Semua akan baik-baik saja.
Sudah datang.
Taksi kalian datang.
Terima kasih.
Jika datang lain kali, kalian sebaiknya menginap tiga hari.
Dari spa hingga ayam dan bir, kartu Go-Stop,
akan kutraktir sepenuhnya.
- Baik, mari lakukan itu. - Baiklah.
- Hati-hati. - Jangan khawatir dan masuklah.
Akan kututupkan pintunya. Hati-hati di jalan.
Maaf kau harus habiskan waktu di luar.
Mereka tampak baik-baik saja.
Mereka pura-pura baik-baik saja agar aku tak kecewa.
Jangan murung begitu.
Siapa yang berkata di pertemuan pertama,
"Dengar. Bagaimana jika kau menikahi putriku?"
"Menikah"? Yang benar saja.
Itu hanya pendapatku.
Mereka tampak tak apa-apa, jadi, aman.
Mungkin kau benar.
Percuma saja aku khawatir.
- Mari masuk. - Baiklah.
Seperti katamu,
kita baru sekali menemuinya.
Berhentilah menangis.
Itu karena aku sudah tua.
Tubuhku berhenti menuruti kemauanku sejak lama.
Jika dipikirkan,
saat ini Moeun lebih tua
dari usiaku
saat dia lahir.
Katanya saat orang menua, mereka menjadi anak-anak lagi.
Dan kau menjadi cengeng.
Moeun
lebih dewasa daripada kita.
Jadi, hentikanlah.
Benar sekali.
Selama ini hanya soal kemauanku.
"Demi anakku"? Itu semua bohong.
Saat dia berhenti dari pekerjaannya,
juga hari ini.
Tak masalah dia tak bisa mendengar atau yatim piatu.
Dia berpacaran dengannya karena menyukainya.
Tapi aku bahkan tak bisa mendukung dan berkata,
"Baiklah. Aku bahagia jika kau bahagia."
Aku tak tahu malu untuk mengatakan,
"Aku ibumu dan selalu mendukungmu."
Tapi itu tetap membuatku sedih.
Kau akan terus menangis di bus?
Maka aku akan bertukar kursi dengan yang jauh darimu.
Baiklah.
No comments yet. Be the first to leave one.