Prvních 200 řádků.
Geng.
Kamu bantu ibu agar kembali bersama Bapak.
Memangnya Bapak masih mau?
Ya pasti, Geng.
Bapak 'kan sudah punya keluarga baru, Bu?
Itu tidak benar.
Ibu saja tidak percaya, kok.
Bapak sendiri yang cerita sama Ageng.
Bahkan,
Bapak sudah memperkenalkan Ageng sama Jarot.
Bapak pernah mengantar Ageng pulang
bertiga sama Jarot, Bu.
Ibu tahu, 'kan?
Bu Sri itu
penggantinya Ibu di rumah Bapak.
Tidak.
Ibumu ini, tak bisa tergantikan oleh siapapun. Mengerti?
Bu.
'Kan sudah terjadi.
Siapa ini?
Kok nomor baru?
Ini pasti Bu Yuni.
Tidak, Bu, tidak, aku ini tidak mau sama kamu.
Sudah.
Jangan-jangan
nomor barunya si Sri.
Berarti pesanku sudah disampaikan sama si Tuti.
Halo, Sayang.
Halo.
Dengan Santoso, S.Pd. di sini.
Hah?
Pak Santoso?
Pak Santoso kepala sekolah itu, ya?
'Kan saya ingin menyelidiki kasus ini,
makanya saya mesti tahu
namanya kamu itu siapa?
Kamu 'kan cuma
datang bolak-balik ke tempat saya, tidak menyebut nama.
Nama saya Gunawan, Pak.
Gunawan.
Kenapa, Pak, pakai nama segala?
Ini jadinya bagaimana?
Saya itu tidak peduli,
entah ini itu kasus,
apa kaktus, apa kardus,
kepala saya, Pak, yang hampir meletus.
Tolong bantu saya, Pak, saya itu cuma minta tolong,
kembalikan Sri pada saya, Pak. Saya pengen balikan sama Sri.
Itu saja.
Mas? Kok, jadi menangis?
Bagaimana, sih?
Dimatikan begini.
Jangan-jangan semua itu terjadi karena Bapak.
Kok aku, Bu?
Ya, Pak.
Ini 'kan gara-gara Bapak kasih syarat soal kartu keluarga itu,
jadi semua kena akibatnya, Pak.
Oh ya.
Sepertinya memang karena peraturan zona sekolah ini,
jadi makan korban.
Korbannya cinta.
Assalamu'alaikum.
Assalamu'alaikum.
Wa'alaikumsalam.
Ya.
Pak.
Pak.
Masya Allah, Pak ustad.
Sastro.
Pak ustad.
- Apa kabar? - Baik.
Alhamdulillah.
Silakan, Pak ustad.
- Kita mengobrol di dalam. - Mari.
Silakan, Bu.
Silakan.
Jadi begini, Pak Ustad Soleh Bejo,
kami ini punya masalah
dengan anak kami.
Saya sampai pusing
memikirkan anak saya, Pak ustad.
Makanya, kami selaku orang tuanya
mau minta tolong sama Pak ustad
untuk merukiah anak kami, Pak ustad.
Anaknya yang mau dirukiah itu mana?
Ya, itu masalahnya, Pak ustad.
Rasa-rasanya anak saya sudah
tidak betah lagi tinggal di rumah,
terus saja mengejar perempuan itu.
Betul, Pak ustad.
Anak kami itu terpikat sama janda anak satu.
Ya, itu dia,
setelah saya pikir-pikir kok,
dunia ini sekarang
makin banyak yang aneh-aneh.
Contohnya,
saya punya pasien baru menikah,
istrinya janda, suaminya duda,
baru menikah sudah ribut-ribut,
malah mau pisah rumah segala.
Jangan-jangan itu guna-guna, Pak ustad?
Saya percaya itu,
anak saya pasti diguna-guna.
Buktinya dia bisa sampai tergila-gila.
Astaghfirullah al azim.
Kalau Pak ustad,
bisa 'kan, untuk melawan guna-guna?
Saya sih tidak bisa apa-apa, Bu, Pak,
tapi Allah pasti bisa.
Kita tinggal ikhtiar.
Memohon kepada Allah.
Minta tolong. Insya Allah
semua pasti bisa diatasi.
Masya Allah.
- Amin. - Insya Allah.
Silakan diminum, Pak ustad.
Lah...
- Mas gembul? - Mbak Tuti?
Kapan datang?
Sudah beberapa hari yang lalu, Mbak.
Cuma belum ketemu Mbak Tuti.
Oh, begitu.
- Bu Bardi ada di dalam? - Ada, Mbak.
Tadi juga saya barusan habis ketemu.
- Oke, terima kasih ya. - Ya.
Permisi.
Bu Bardi.
Bu.
Bu Bardi.
Ya ampun.
Sombongnya gadis ini dipanggil Bu Bardi tidak mau menengok.
Hm, sombong loh.
Jangan begitu, Tut.
Jangan panggil aku Bu Bardi.
Panggil aku Sri.
Sama saja.
- Sebentar... - Aku malu.
Sebentar, aku lihat sebentar.
Hei, kamu tak dijambak 'kan?
Tidak dicubit 'kan?
Tidak dilempar ulekan sama si Yuni itu 'kan?
Duduk.
- Sudah siap? - Sudah.
Apa sih orang belum cerita, kok sudah ketawa?
Harusnya kemarin kamu ikut aku, Tut.
Kenapa?
Kamu harus lihat Bu Yuni kemarin.
Pakai daster.
Rambutnya itu loh,
dirol-rol kayak ulat.
Pas bukain pintu,
dia kaget lihat aku.
Melongo begini, Tut, lama banget.
Sungguhan?
Dia itu kayaknya belum mandi,
jadi belum pakai alis,
belum pakai bulu mata.
- Terbayang 'kan Bu Yuni kayak begitu? - Ya.
Pasti jelek sekali itu.
Terus kemarin
aku lihat Pak RT sama istrinya membuntuti aku ke rumah Bu Yuni.
Berhenti. Oke, Pak.
Sebentar.
Terima kasih, ya.
Pak RT yang menjijikkan itu?
Yang jodohin kamu sama Pak Bardi?
Itu?
Jangan kencang-kencang bicaranya.
Ya, terus aku sengaja saja,
aku bicaranya kencang-kencang, keras-keras,
biar Pak RT sama istrinya dengar.
Jangan-jangan Pak RT memang suka terus sama kamu ya?
Sembarangan kalau bicara.
Kamu cantik mau dibandingkan sama si Yuni,
jelas jauh, pantas...
- si Yuni begitu. - Ibu.
Oh, ada Bu Tuti.
Hei, Sayang.
Halo, Anak Ganteng.
Bu, maaf, nanti kita jalan jam berapa?
Aduh, jalan sekarang saja, ya?
Loh,
ini pada mau ke rumah?
Iya, Tut, aku mau lihat rumahku, sudah lama tidak pulang.
Lagipula ini mumpung hari minggu si Jarot tidak sekolah.
Ya sudah bareng saja kalau begitu.
Ya sudah, tidak apa-apa sama Bu Tuti ya?
- Tidak apa-apa, Bu. - Ayo pamit dulu sama Pak Bardi.
Ayo. Pak Bardi, Sayang saja lah.
- Pak Bardi... - Ayo.
- Pak, Jarot mau pamit. - Iya.
Oh ya. Ya.
Ya, senang-senang, baik-baik kamu ya.
Ya, Pak.
Mbak Sri.
Kalau ada apa-apa cerita sama saya.
Jangan dipendam sendirian, tidak baik.
Ya, Pak.
Serius.
- Ya, Pak. - Jangan sungkan.
No comments yet. Be the first to leave one.