Prvních 185 řádků.
Mereka sangat cantik.
Tetapi bagaimana bisa bercumbu di tempat begini?
Kenapa manusia sampai kemari?
Apa yang dilakukan para Soshin?
Kau bicara seakan bukan manusia, ya.
Apa kalian semacam monster juga?
Manisnya.
Kalian mau ikut
kawin bersama kami?
Kawin...
Pakai kata yang lebih baik.
Maaf.
Saking jarangnya ada manusia sampai sini.
Dasar.
Padahal sedang kunikmati.
Birahiku jadi hilang.
Kubunuh kalian.
Kalian tahu sendiri,
pulau ini misterius sejak awal.
Bukan masalah pertapa atau lainnya yang tinggal di sini.
Melainkan, penduduknya musuh atau kawan kita.
Hanya itu.
Bunga dan Tumbal
Tunggu!
Eh? Ada apa?
Anak kecil?
Apa dia terdampar?
Atau justru...
Gabimaru!
Siapa anak itu?
Yang lebih aneh...
Makhluk apa itu?
Manusia bonsai?
Apa mungkin sejenis monster juga?
Gabimaru!
Mungkin anak itu tahu sesuatu!
Atau mungkin saja juru kunci!
Harus ditangkap!
Tetapi ada monster yang...
Eh?
Kuserahkan kepada kalian!
Kau bercanda, 'kan?
Sagiri!
Gabimaru tak boleh lepas dari pengawasanku!
Semoga beruntung, Tuan Senta!
Apa yang kau lakukan?
Habisnya, aku tak mau kartu asku terbongkar.
Mumpung lawannya keroco, aku ingin coba mengujinya.
Monster-monster ini terpengaruh jurus ninjaku atau tidak.
Kau tampak terbiasa di hutan ini, ya.
Berarti, kita memang harus...
Gabimaru!
Apa itu barusan?
Itu tak mungkin tenaga lengan anak kecil.
Tolong berhenti!
Kami tak punya niat menyakitimu!
Kami hanya ingin bertanya-tanya!
Untunglah.
Kau memahami bahasa kami, ya?
Kekuatan ini
memang bukan tenaga otot belaka.
Jenis kekuatan lain...
Terlalu banyak hal yang tak masuk akal sejak tiba di pulau ini.
Mau anak ini, monster dan batu, bahkan desa...
Harusnya ini pekerjaan sederhana.
"Temukan Obat Keabadian."
"Mendapat pengampunan dan kembali kepada istriku."
Entah kau manusia atau bukan, penampilanmu memang anak kecil.
Sebisa mungkin, tak ingin berlebihan.
Tetapi aku juga putus asa di sini.
Aku tak yakin bisa tetap menahan diri.
Gabimaru!
Aku sudah capek merepotkan diri.
Yang kucari hanyalah Obat Keabadian.
Tolong jangan paksa aku melakukan yang lain.
Dia menangis.
Tentu saja akan takut.
Lalu bagaimana?
Mula-mula, turunkan dia!
Terserahlah, yang penting tertangkap.
Kalau kondisinya seperti ini...
Dia seperti anak biasa, ya?
Hei, kalian sedang apa di situ?
Kok malah kayak main rumah-rumahan,
selagi kami berjuang sekeras mungkin?
Sekarang, apa yang kita lakukan?
Aku ingin tanya soal Obat Keabadian.
Mungkin menunggu dia tenang dahulu.
Ada yang pandai menghibur bocah?
Kumohon...
Barusan...
Dia bicara?
Kumohon, kembalikan dia kepadaku.
Kuantar kalian ke desa.
Kuberi tahu tentang obat yang kalian maksud.
Tak usah, deh.
Tak kusangka bisa komunikasi, tetapi kau bisa saja menipu kami.
Lebih aman bertanya ke anak itu.
Ada benarnya.
Ada makanan di desaku.
Kami tak kelaparan.
Ada pemandian juga.
Mandi! Mandi! Mandi! Mandi!
Apa tak masalah kita percayai omongan orang, bahkan makhluk asing ini?
Sumber informasi apa pun tak jadi masalah.
Selama kita bisa dapat petunjuk.
Kalau dia macam-macam, tinggal dihabisi.
Kita sampai.
Seperti kota hantu saja.
Kabutnya tebal sekali.
Tak ada orang juga.
Semua berubah sejak seribu tahun yang lalu.
Seribu?
Mari kuantar ke rumahku.
Dekorasinya sangat menakjubkan.
Tetapi semuanya barang antik.
Kau benar-benar tinggal di sini?
Aku tak berbohong.
Aku ingin langsung bertanya.
Ha?
Diskusinya nanti saja!
Pertama, kita wajib mandi dahulu!
Kita tak punya waktu seluang itu.
Benar-benar pemandian.
Mantap!
Marahi sedikit wanita itu!
Aku angkat tangan soal itu.
Mereka juga tampak sangat ramah.
Sudah, sudah.
Orang pintar itu beristirahat selagi sempat.
Atau mungkin mau gabung...
Tak sudi.
Kaku banget, deh.
Sagirin saja mau gabung.
"Rin"?
Aku hanya bertugas memantaumu.
Karena Tuan Senta pasti merasa sungkan.
Kami hanya sekadar bertukar tugas,
tanpa melupakan...
...tanggung jawab.
Oh?
Percuma.
Air hangat ini meluruhkan semua rasa letih.
Setelah menghadapi berbagai kesulitan, mustahil tak terlena.
Oh, handuk buatku?
Terima kasih banyak.
Dia lengket kepadamu, ya.
Dia tak bisa berbicara, ya?
Ini dari sumur, bahkan disimpan dalam tembikar.
Urungkan saja.
Setidaknya, sampai kita mengenal monster itu lebih dalam.
Memang benar, sih.
Silakan dimakan juga.
Lebih baik, segera kita tanyakan seluk beluk pulau ini dan kemudian...
Kalau ingin makan, makan saja.
Tetapi aku tak mau tahu.
Buah ini tak beracun.
Anak itu makan ini juga.
Apa hubunganmu dengannya?
Aku tak berniat menjawabnya.
Begitu, ya.
Aku juga tak tertarik, selain pada Obat Keabadian.
Bisa mulai ceritakan kepada kami?
Tentang pulau ini dan lokasi obat ajaib itu berada?
Wah! Pesta makanan!
Sudah ada yang makan pula!
Maaf.
Aku juga mau.
Mau cicipi juga.
Keadaan ini...
Membuat kita tersisih, ya.
Kalian tak makan?
Aku bukan datang untuk makan.
Entah apa manusia menyebut tempat ini, tetapi kami menyebutnya Kotaku,
Tanah Surga, hunian para dewa.
Kondisi dewa dan Tanah Surga ini berbeda dari yang kudengar.
Bukankah seharusnya, dewa sosok supranatural?
Aku tak pernah meninggalkan pulau ini.
Semua itu tak kuketahui.
Apa benar ada obat ajaib untuk keabadian?
Tentu saja ada.
Ceritanya diwariskan sejak zaman dahulu.
Dalam legenda, kami menyebutnya "Tan."
Ramuan itulah sumber kehidupan abadi.
"Tan"?
No comments yet. Be the first to leave one.