Prvních 200 řádků.
Ya, ampun!
Aduh!
Gila, ya.
Yang benar saja.
- Mbak. - Ya?
Kaki.
Kenapa kaki saya?
- Nginjak kaki saya. - Oh...
Sengaja. Maaf.
Baru tahu di Transjakarta sekarang boleh ada pengamen.
Anda tahu koper siapa yang Anda barusan geser?
Koper saya.
Mbak, ini fasilitas umum.
Kalau mau pindahan bawa barang banyak, naik mobil pribadi. Jangan gangguin fasilitas umum.
Ini kan juga bukan bus lo.
Nggak mau keganggu? Nggak usah naik!
Gua nggak ada waktu buat ngejelasin konsep fasilitas umum.
Maaf, gue juga datang ke Jakarta bukan buat diceramahin sama lo.
Oh baru turun gunung? Atau baru keluar hutan?
Pantas kayak singa!
Ih nggak jelas.
Balik aja lo ke hutan.
Kotor.
Geez!
Buku gue!
Ini buku berat banget, apaan sih isinya?
"Bicaralah saat malam tenggelam dalam keheningan.
Memahami dirimu yang sesungguhnya.
Jiwamu akan menerangi gelapnya malam.
Jujurlah dengan siapa tanganmu bergenggaman hingga ujung usia.
M."
Mia... Manda...
- Maria... - Mana sih? Ribet banget nyari alamat doang.
Silakan diisi.
Saya kan dikirim ke sini bukan buat interogasi.
Kalau kamu nggak suka, silakan pergi.
Masih banyak anak-anak lain yang mau masuk ke sini.
Dan biasanya memang anak seperti kamu dikirim ke sini.
Nggak usah serius-serius, Bu.
Di antara ibu-ibu ini, majikannya siapa?
Kamu pikir ini lucu?
Uh-huh.
- Ini nggak lucu. - Oh.
Dan peraturan dibuat dan dijalankan di sini.
Sial.
Saya mau telepon papa saya.
Bukannya dari pagi-pagi kamu sudah telepon papa kamu?
Sepertinya kamu tidak ada pilihan.
Kalau kamu ada pilihan, kamu nggak mungkin dikirim ke sini dari luar negeri.
Isi.
Besok kamu mulai sekolah. Semua berkas ambil di saya.
Ayah serius? Tolong angkat teleponnya. Kita harus bicara.
Yang benar saja.
Yang benar saja.
Tapi Ayah tak beri aku kesempatan untuk memilih.
"Jika kau ingin tinggal di indahnya pelangi...
...kau harus mencintai hujan.
Tak memusuhi gelagat petir."
"Atau mencibir langit kelam."
"Begitu pun saat kau memilih untuk jatuh hati.
Bersiaplah menangkap hatimu sendiri di saat hatinya tak siap menangkap.
M."
Misterius.
Apa-apaan?
Astaga!
Siapa yang matiin air? Gue lagi keramas, belum bilas! Woi!
Bu!
Bu Satpam!
Bu Satpam, kok air mati sih? Saya lagi mandi, lagi keramas. Ini belum bilas!
Tunggu! Minggir, minggir!
Belum 24 jam kamu berada di asrama ini, kamu sudah bikin masalah!
Logikanya...
...seseorang buat peraturan itu menyesuaikan keadaan.
Dan Ibu juga seharusnya sudah mempertimbangkan semua risiko yang akan Ibu terima...
...karena sudah membuat aturan tersebut.
Cukup!
Kalau yang lainnya bisa disiplin, kenapa kamu tidak bisa?
Harusnya kamu introspeksi diri kenapa sampai kamu dikirim ke asrama ini.
Memangnya semuanya tentang saya?
Ibu juga introspeksi diri, Bu, kenapa saya bisa dikirim ke asrama ini.
Apa ini salah gue sendiri?
Emang segitunya ya gue nyusahin semua orang sampai gue harus ada di tempat ini?
Ada apaan sih? Kebakaran?
- Sesuai dengan aturan asrama, sarapan hanya... - Ya, ya, ya.
Ya elah.
Aduh!
Woi, woi!
Buku gua mana?
- Maaf, nggak kenal. - Nggak kenal, nggak kenal.
Nggak kenal. Kepala lo nggak kenal! Buku gua mana?
Buku apaan sih?
Yang gua lempar waktu itu!
Oh, buku itu.
Kan lo udah kasih buat gua.
Dih, apaan?
Ih.
Lo nggak pernah sikat gigi ya? Mulut lo bau!
Ngapain juga dicium? Cowok aneh.
Aduh.
Halo?
Hah?
Oh udah?
Oke, oke. Nanti gue ke bengkel ya.
Oke. Yok.
Eh.
Bukannya lo berhenti di sini?
Tahu.
Kok lo tahu gue biasa turun di sini?
- Lo kepoin gue ya? - Ih, najis!
- Ih najis! - Bau!
Bodo, gua pindah.
Sana lo!
Udah gue duga.
Sebelum pensi, kalian semua sudah harus siap ya.
Ingat, 'kan? Kita udah pensi beberapa minggu lagi.
Sudah, semuanya. Sekarang boleh keluar.
Kecuali Zahra.
Maaf.
Tadi itu guru musik ya?
Ya, namanya Bu Susan.
Menurut gue, apa yang tadi Bu Susan bilang agak kurang tepat.
Karena menurut gue, setiap balok musik itu harus dirasakan.
Bukan dihafalkan.
- Boleh coba? - Boleh.
Bu Lusi, Pak Heru. Dengar 'kan?
Ini Zahra, murid kita.
Kemampuan belajarnya sangat cepat. Dan dia juga cepat menyempurnakan kemampuan musiknya.
Gila! Lo keren banget sih.
Ngomong-ngomong, lo kelas berapa?
Um...
12 IPS. Lo?
12 IPS.
Melody.
Saya harap mulai besok kamu pakai seragam yang benar.
Emang ada yang salah sama seragam saya, Bu?
Jelas salah. Kamu lihat teman-teman kamu yang lain.
Semua seragam rapi.
Baju dimasukkan, lengan tidak digulung, kaus kaki putih.
Dan rok kamu terlalu pendek.
Bu, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Ibu. Saya mau nanya, Bu.
Yang dipakai belajar itu rok atau otak ya?
Sekolah ini punya peraturan yang harus ditaati.
Saya dengar kalimat itu beribu-ribu kali dalam dua hari ini, Bu. Ya. Makasih udah diingetin lagi, Bu. Ya?
Silakan duduk.
Ya udah, anak-anak, kita lanjut.
Sumpah lo keren banget.
- Selamat datang. - Makasih ya.
Abis ini lo ke mana? Nggak ke mana-mana, 'kan?
Uh-huh.
- Temenin gue ya. - Boleh, tapi mau ke mana?
Ntar lo tahu.
Yuk. Ikut gue.
Lo ngapain beli pilox, Mel? Mau mural?
Uh-huh.
Lo bawa duit, 'kan?
- Ya. - Bayarin gue dulu ya.
Saya rasa kamu sudah cukup pintar untuk tahu kesalahan kamu kali ini.
Dan saya yakin kamu sadar melakukan kesalahan kamu itu.
Saya senang akhirnya Ibu sadar bahwa peraturan-peraturan sebelum saya coret itu adalah kesalahan.
Ibu nggak usah terima kasih sama saya, karena menurut saya itu adalah...
...kewajiban saya sebagai anak baru di asrama ini untuk membenarkan hal-hal yang salah.
Percaya diri banget kamu.
Kamu pikir kamu tuh siapa?
Kamu tidak berhak untuk mengubah peraturan di sini sama sekali.
Ibu mungkin menganggap saya sebagai debu hingga meteor.
Tapi mungkin untuk sebagian orang...
...saya adalah...
...udara segar yang mereka hirup karena asrama ini pengap.
Maaf, tadi saya hanya mengutip dari...
...buku kesayangan saya.
Saya tidak akan memberikan kamu panggung di sini.
Saya rasa sudah cukup kamu berulah dan cari perhatian.
Sekarang kamu bersihkan kotoran yang kamu buat itu.
Saya akan dengan senang hati membersihkan kotoran-kotoran yang saya buat, Bu.
Bahkan kalau perlu, saya bisa keluar dari asrama ini. Tapi dengan satu syarat.
Kita akan mengadakan pemungutan suara untuk mengubah peraturannya.
Kalau saya menang, Ibu tidak boleh lagi atau tidak punya hak lagi mengatur-atur saya...
...apa pun yang saya lakukan di asrama ini.
Setuju?
"Menciptakan sebuah pengharapan yang berlebihan...
...akan menimbulkan kekecewaan.
Berdamailah dengan realita.
Jatuh cinta dengan setiap kesulitan.
Mungkin mereka akan meninggalkanmu juga."
Dante.
- Dan... - Ya, Bu.
Kamu nggak mau makan?
Um... Ayo, sebentar lagi.
Tahu nggak, Bu?
Buku ini banyak banget ngajarin aku hal-hal yang selama ini aku nggak pernah tahu.
Hmm...
- Ibu? - Hmm?
Ibu kok kayak kelihatan capek banget?
Biasalah.
Di asrama. Ada penghuni baru.
Belum-belum udah bikin masalah.
Yah...
Ibu itu pasti bisa menyelesaikan semua masalah dengan baik.
Ibu aku gitu loh.
Bisa aja kamu.
No comments yet. Be the first to leave one.