Prvních 200 řádků.
-=Episode 7=- Jalanku hanya satu!
Selamat tinggal, sobat.
Bersatulah dengan tubuhku!
Ma Gang Rim...
Ma Gang Rim!
Jeon Woo Chi...
Woo Chi...
Gerhana bulan.
Yang benar saja...
Woo Chi...
Jeon Woo Chi...
Kau harus cepat. Kalau tidak kita akan ketahuan.
Tidak ada pilihan lain.
Hanya ini yang bisa kita lakukan, tak ada cahaya bulan.
Setelah kau ikat, lemparkan dia ke sungai.
Para bajingan itu...
Belum cukup membunuh ayahku dan sekarang kau membunuh orang lain.
Dia bukan orabeoniku, kan?
Tidak bisa. Aku harus cepat bawa orang kemari.
Bagaimana ini?
Gadis ini diam-diam mengintip, sambil bersembunyi di rerumputan.
Kau bilang apa?
Itu gadis yang mencuri kacang beracun tempo hari.
Benarkah?
Kita dulu sulit menangkapnya walau kita sudah mencarinya ke sana kemari.
Lalu sekarang dia tiba-tiba muncul.
Gadis ini sepertinya tidak asing.
Kau orang yang membunuh ayahku.
Pembunuh?
Kau gadis yang kulihat di Busan waktu itu.
Bereskan gadis ini juga.
- Jeon Woo Chi tidak akan kesepian diperjalanan. - Baik.
Kita sudah dekat.
Membiarkanmu pergi seperti ini sedih rasanya.
Sudah tidak apa-apa.
Lemparkan mereka saat malam dan air pasang.
- Baik. - Baik.
Tolong! Tolong! Tolong! Tolong!
Talinya sudah dilepas, harusnya dia sadar, kan?
Hye Ryeong! Hye Ryeong!
Hye Ryeong!
Sepertinya ada sesuatu di sini.
- Benarkah? - Cepat kita lihat.
Hye Ryeong!
Sepertinya orang!
- Hye Ryeong! - Hye Ryeong!
- Hye Ryeong! - Hye Ryeong!
Agassi, Anda kenapa?
Hye Ryeong!
Di mana orang itu?
Aku? Aku di sini.
Bukan kau.
Dia tadi jelas ada di sampingku.
Tidak, siapa?
Sebenarnya siapa yang kaumaksud?
Jeon Woo Chi.
Jeon Woo Chi? Siapa dia?
Apa dia yang berbuat ini?
Apa yang dia perbuat padamu?
Dia menyelamatkanku.
Ketika aku dilempar ke air, kupikir aku akan mati...
Tapi kau tidak melihatnya? Dia tadi di sini.
Kami tidak melihat siapa pun.
Kau terbaring sendirian.
Tapi, bagaimana tentang orabeoni-mu? Di mana kakakmu?
Bukankah dia bersamamu?
Orabeoni?
Dia tidak mungkin mati di suatu tempat, kan...
Tuan...
Aigoo, Tuan!
Ada apa dengan kakimu?
Kau tahu seberapa sulitnya aku mencarimu?
Hentikan omong kosongmu
dan diam-diam tinggal di Bagian Pemberitaan.
Syukurlah kau selamat.
Benar, kakimu sungguh tidak apa?
Cepat!
Tuan...
Cepat pergi...
Wartawan Lee, tadi malam...
Ada apa? Apa kau terluka?
Tidak parah...
Maksudmu apa tidak ada yang serius...
Coba kulihat.
Aigoo, demi langit! Dari mana kau dapat luka seperti itu?
Kau berkelahi?
Ada sedikit kesalahpahaman di meja judi.
Kau gila? Kau gila!
Diam di sini dan jangan ke mana-mana. Aku akan ambil obat.
Tunggu sebentar.
Bukannya kita baru saja melewati tempat ini?
Dari tadi kita berputar-putar di tempat yang sama.
Dasar kunyuk, kau bermain dengan kami semalaman.
Tangkap dia!
Jangan sampai dia lolos.
Dia sungguh tidak bisa lolos...
Meskipun kau ingin melihat orabeonimu, ganti pakaianmu dulu.
Kau mau ke mana dengan baju basah begitu?
Komplotan itu benar-benar menakutkan.
Jika terjadi sesuatu dengan orabeoni, aku harus bagaimana?
Tidak boleh.
Minggir! Minggir!
Wartawan Lee, tahan sedikit lagi!
Orabeoni! Ada apa?
Apa komplotan bajingan itu yang melakukannya?
Bajingan? Bajingan apa?
Tuan Muda, bagaimana Anda bisa terluka?
Ada apa?
Sebenarnya, siapa yang melakukannya?
Aku hanya terluka, itu saja.
Tidak parah.
Orang ini buat keributan saja.
Mana mungkin tidak parah?
Jika Anda biasrkan saja,
Anda akan pincang seumur hidup.
Diam di sini dan jangan ke mana-mana.
Tolong ambilkan air hangat dan beberapa baju.
Baik.
Maafkan aku.
Karena keteledoranku hingga Dong Gae melarikan diri.
Apa orang yang meloloskan diri dengan nyawanya akan gampang ditangkap?
Tidak ada yang bisa kita perbuat.
Lantas apa yang kita harus lakukan sekarang?
Kita tidak punya petunjuk apapun untuk menemukan orang yang mencuri lukisan itu.
Dasar bajingan! Bajingan itu yang mencuri lukisannya!
Cepat berikan lukisannya.
Aku tak tahu apa yang kau bicarakan.
Aku yakin itu dia!
Aku jelas lihat dia yang mencuri lukisannya!
Kepala Kasim, Anda ingin buronan itu ditemukan?
Tidak usah.
Dong Gae hanya menuduh orang ini agar tidak dicurigai.
Bukan dia pelakunya.
Mungin dia antek-anteknya Ma Suk.
Mungkin dia mengkhianati Ma Suk malam itu dan mencuri gulungannya.
Jika benar begitu maka Ma Suk tak akan membiarkan dia hidup tenang.
Tapi, dia lompat keluar dari rumah Ma Suk.
Masalahnya tidak sesederhana itu.
Kau benar.
Buat beberapa kopian gambar wajah ini dulu
dan temukan siapa dia diam-diam.
Kita mulai dari orang ini dulu.
Iya.
Aku masuk.
Baik.
Aku baru dengar dari Yeong Gam bahwa kau hampir mati.
Komplotan begundal itu melemparmu ke sungai. Kau tak apa?
Iya, hanya sedikit ketakutan.
Sekarang sudah baikan.
Sungguh? Syukurlah.
Tapi, orabeoni...
Orang yang bernama Jeon Woo Chi, dia menyelamatkanmu, kan?
Iya, benar.
Orang itu yang menyelamatkanku.
Saat itu kau tidak sadar, dari mana kau tahu dia yang menyelamatkanmu?
Bagaimana kau bisa tahu aku tidak sadar?
Aku bahkan tidak katakan hal ini pada Yeong Gam.
Begini... bukannya kau katakan kalau kau nyaris tenggelam?
Jadi wajar kalau kau tidak sadar, iya kan?
Betul... Tapi, orabeoni,
orang yang bernama Jeon Woo Chi juga menggunakan sihir Tao.
- Sihir Tao? - Iya.
Tiba-tiba ada energi terang memancar dari tapak tangannya.
dan menyebabkan kebakaran besar.
Seperti bajingan yang membunuh ayah.
Benarkah?
Lalu, orang yang bernama Jeon Woo Chi, apa dia berkomplot dengan bajingan yang membunuh ayah?
Kurasa tidak.
Kalau dia berkomplot, kenapa dia menyelamatkanmu?
Itu benar.
Aku tak takut sedikitpun padanya.
Aku selalu merasa, aku akan bertemu dengannya lagi... seperti telah ditakdirkan.
Benar, berbaringlah. Aku akan ganti obatnya.
Tidak, tidak, akan kulakukan sendiri.
Mana mungkin kau bisa melakukannya sendiri? Cepat berbaring.
Apa ini?
Tidak, bukan apa-apa.
Lukanya terlalu dalam.
Sakitnya bukan itu.
Sungguh?
Aigoo... aigoo... pelan-pelan.
Ada apa, Agassi?
Yeong Gam, aku tanya padamu.
Kau ingat bahwa orabeoni punya bekas luka di kaki kirinya karena terbakar?
Tentu.
Bukankah luka bakarnya karena tungkunya nyaris jatuh menimpamu?
Mana mungkin aku tak ingat?
Aku akan memberinya obat tiap hari.
Benar. Orabeoni jelas punya bekas luka di kakinya, kan?
Iya benar, bekas lukanya sebesar kepalan tangan.
Tapi, ada apa?
Itulah, dia tidak punya.
Dia tak punya apa?
Dia tak punya bekas luka bakar.
Aku lihat kaki orabeoni saat Tabib Park menyuruhku mengganti obatnya.
Bekas luka itu harusnya ada, tapi tak ada.
Kok bisa? Kau pasti lihat kaki yang salah, kan?
Tidak, aku sudah periksa beberapa kali,
dan tak ada bekas luka di kaki satunya.
Itu sebabnya aku merasa aneh.
No comments yet. Be the first to leave one.