Prvních 200 řádků.
Kau memilihku?
Apa tipe idealmu?
Tipeku? Aku...
selalu konsisten.
Aku suka orang yang lembut,
tapi punya sisi tak terduga.
Menurutku, menggambarkan tipe ideal itu sulit.
Kita harus berpengalaman agar tahu tipe ideal kita.
Kau berpengalaman, 'kan?
Aku baru tahu di sini. Aku merasa...
Berpacaran 100 hari.
Selama ini, aku disebut payah
urusan cinta, tapi di sini,
semua bilang aku lama berpacaran.
Itu dia.
Lucu sekali orang berpengalaman 100 hari disebut rival ganas di sini.
Absurd sekali.
Apa kubilang? Dia dianggap ahli merayu di sini.
Namun, berkat rival ganas...
- Ya. - Benar.
Kemunculan Seung-chan mengubah banyak hal.
Benar.
Aku merasakan aura pria alfa.
- Apa Seung-chan memilihnya? - Bisa jadi.
- Benar. Sejenis kesempatan. - Benar.
- Ini... - Saat tidur pun...
Hebat. Apa ini?
"Kencan lokasi acak?"
- Apa itu? - Apa itu?
PEREMPUAN SILAKAN PILIH AMPLOP DAN PERGI KE LOKASI TERTULIS
Perempuan dulu?
Ini acak?
Sebentar! Sistem acak?
Tampaknya kencan dengan yang memilih tempat sama.
Namun, jumlahnya kurang.
Silakan ambil.
KENCAN LOKASI ACAK PEREMPUAN MENUNGGU DI LOKASI ACAK
Lagi pula sistem acak.
KOLAM RENANG, TENDA PIRAMIDA ATAP, KARAVAN
KENCAN LOKASI ACAK
KENCAN DENGAN PARTNER YANG MEMILIH LOKASI SAMA
Andai aku dapat kesempatan mengobrol berdua,
mungkin aku akan lebih tertarik.
Aku merasa ini kesempatan satu-satunya.
Aku bisa menanyakan perasaan mereka yang sesungguhnya.
Mungkin aku harus lebih aktif mengekspresikan perasaanku.
BATAS WAKTU 15 MENIT
KENCAN LOKASI ACAK DIMULAI
Menurutku, 15 menit cukup bagi mereka untuk menikah.
Itu sangat memungkinkan.
Setidaknya mencoba.
- Ya. - Aku jadi tak sabar.
Partner Ji-su siapa, ya?
Aku lagi.
Aku datang lagi.
- Kau di sini? - Ya.
- Siapa? - Sang-ho?
Aku datang lagi.
Ini takdir!
TENDA PIRAMIDA
Ini takdir.
Ini seakan-akan semesta menghendaki.
- Benar. - Ya.
Agar mereka bersama.
Luar biasa. Belum apa-apa sudah merinding.
Aku datang lagi.
- Kau di sini? - Ya.
Aku senang bisa kencan dengannya lagi.
Pilihan nomor satuku masih Sang-ho,
belum berubah.
Aku punya selera yang pasti.
Saat kesan pertama, aku memilihmu.
Sungguh?
Aku memikirkan itu
sejak sebelum memilih.
- Benar ke sini? - Ya.
Boleh tolong bantu lihat peta?
- Kau janji memberi tahu pilihanmu. - Kesan pertama?
Aku memilih Yeo-myung.
- Yeo-myung? - Ya.
Aku tidak pikir panjang soal itu.
OBROLAN KURANG LANCAR
Semestinya aku lebih mengakrabkan diri,
dan setelah dipikir, kurasa aku memang salah.
Aku akan lebih aktif bicara.
Dia dapat kesempatan lagi.
Mendadak ada orang baru.
- Aku jadi... - Kursinya di sini.
- Apa kau tak nyaman di sampingku? - Tidak.
Lucu sekali.
- Kita sudah kencan tadi siang. - Benar.
Namun, aku memang ingin mengobrol lebih banyak.
- Ya. - Kau tak mau?
Tentu aku mau.
Jangan begitu. Jujur saja.
- Namun... - Aku memang berpikir begitu
sebab tadi siang...
kita banyak mengobrol,
tetapi belum terlalu dekat.
Maka itu, aku ingin mengobrol lebih.
Mau minum?
Mau bersulang? Bersulang.
Aku jarang minum anggur.
Ini mungkin beda topik, tapi aku memang sempat menduga
akan ada orang baru, walau tak semendadak ini.
Kau tidak kaget?
Mungkin ini bisa terkesan tak sopan,
tetapi dia bukan tipeku, jadi, aku tak begitu peduli.
Akan tetapi...
saat pertama kali melihatnya,
aku merasa dia tampan,
sehingga aku penasaran apa dia mapan.
Setelah mendengar tadi,
meski agak berumur, ternyata dia seorang dokter.
Ada mahasiswa kedokteran pula.
Menurutku, itu lumayan... seru? Mengagetkan?
Aku tak memedulikan orang yang tak kupedulikan.
Aku tak begitu memperhatikannya.
Maka itu, jujur, aku tak paham
kenapa kita membahas mereka di sini.
Aku heran kenapa dia membahas orang lain
saat kami berduaan.
Lantas aku jadi berpikir, "Apa obrolan kami tidak seru?"
Menurutmu, berapa umurku? Ini mudah.
Umurmu?
Kau lebih muda dariku, 'kan?
Kenapa kau berpikir begitu?
Dari penampilanmu...
Walau tak yakin, kurasa kau lebih muda.
- Hanya terkesan muda? - Ya.
Kau suka yang lebih muda atau tua?
Terus terang, aku...
suka yang lebih tua.
- Lebih tua? - Aku tak yakin.
Sang-ho...
- Jeda sebentar! - Tunggu.
- Tolong, Sang-ho! - Maaf, tapi Sang-ho...
- Kau tak becus mengajarinya. - Dia tidak tertarik.
Dia bilang, "Kurasa kau lebih muda,"
tapi mengaku suka yang lebih tua.
Ada apa dengannya?
Aku tak habis pikir.
Kau pulang saja, Sang-ho.
- Apa dia terlalu jujur? - Menurutku,
dari gerak-geriknya,
Sang-ho pasti punya selera tersendiri.
Jadi, aku menduga dia lebih memilih
- berterus terang... - Agar tak berharap?
daripada memberi harapan palsu.
Kenapa pose gambar rubah di kausnya pun begitu?
- Seperti Sang-ho. - Benar juga.
- Lebih tua? - Aku tak yakin
sebab aku belum pernah berpacaran.
Akan tetapi, sepertinya aku...
cenderung suka yang lebih tua atau muda daripada seumur.
- Lebih tua atau muda? - Lebih muda juga boleh.
- Jadi... - Berarti semua umur?
Benar juga.
Terus terang, aku belum pernah memikirkannya.
Jadi...
Mengagetkan.
WAKTU HABIS PILIH LOKASI BARU
Sudah beres?
Apa-apaan? Masih ada yang ingin kutanya.
- Boleh tanya satu lagi? - Boleh.
Bila ada kesempatan, kau mau kencan denganku lagi?
Tentu saja.
Andai aku diberi nilai, berapa nilaiku?
Menurutku...
- Jangan dijawab. Pergilah. - Baiklah.
- Cepat pergi. - Kini kau nomor satu.
Sungguh?
Cukup. Aku jadi terkesan memaksa.
- Bukan begitu. - Pergilah.
Aku tak merasa terpaksa.
Baik. Pergilah.
- Sampai jumpa. - Ya, dah.
- Sampai nanti. - Ya.
Kita pasti bisa merasakan ketika mengobrol bersama orang
yang tertarik pada kita.
Biasanya dia sering tersenyum
atau menjadi pendengar yang baik.
Namun, aku tak merasakan hal itu dari Sang-ho.
Aku jadi merasa mungkin aku terlalu bersikeras mendekatinya
hingga membuat dia sungkan, padahal dia belum siap.
Jika benar, itu sungguh menyakitkan.
Setelah kencan terakhir,
aku merasa mungkin kami bisa jadi pasangan
jika aku berusaha lebih keras.
Apa?
Secara strategi...
Walau belum yakin,
aku merasa mungkin akan ada satu peserta lagi.
Apa-apaan?
Kau salah.
- Sebentar. Dia kenapa? - Ini strateginya?
Jadi, ini strategi Sang-ho?
Seperti membuka segala kemungkinan?
Dia sungguh memusingkan.
Apa kau memberi saran seperti itu?
No comments yet. Be the first to leave one.