Prvních 200 řádků.
Astaga, aku lelah sekali.
Aku ingin tidur.
Apa? Saet-byul?
Apa yang terjadi? Kau sungguh Saet-byul? Kenapa kau di sini?
- Pak Choi... - Ada apa?
Ibu, sedang apa dia di sini?
Aku yang mengundangnya.
Kenapa Ibu membawa dia ke rumah?
Dia akan tidur di sini malam ini.
Apa maksud Ibu?
Kenapa dia tidur di rumah kita?
Tidak, kita tak bisa membiarkannya. Sama sekali tidak.
Jika Ibu tak mengusirnya, aku akan pergi.
Kalau begitu, keluarlah.
Kau dengar itu, kan? Cepat keluar!
Bukan dia. Maksudku kau, berandal.
- Ibu? - Keluar!
- Ibu? - Tidurlah.
Hei! Kau mau ke mana?
Hei! Ibu.
Lepaskan aku! Aku mau tidur.
Ibu?
Apa yang terjadi?
Jantungku hampir copot. Aku sungguh mengira dia hantu.
Apa yang dia lakukan di rumahku?
Kau tampak teralihkan di acara musikal itu. Ada masalah apa?
Dae-hyun ada di sana.
Pak Choi ada di sana?
Ya.
Bukan hanya Dirut Cho yang mengundangku ke pertunjukan pertamanya.
Kau tahu kursi tempat dia duduk?
Kursi di sampingnya seharusnya adalah kursiku.
Tapi melihatnya duduk di sana sendirian...
Kau menyesalinya?
Entahlah.
Tidak apa-apa.
Tapi apa yang membuatmu gelisah? Si pekerja paruh waktu itu?
Tidak, dia sudah berhenti bekerja.
Lalu apa masalahnya?
Entahlah.
Akhir-akhir ini, aku merasa tidak bisa melakukan apa pun
Aku terus kehilangan kepercayaan diri.
Jika sudah berusaha dan hubungan kalian tetap sulit, berarti dia bukan jodohmu.
Menurutmu hubungan yang dipaksakan akan bertahan berapa lama?
Ibu, kenapa Saet-byul tinggal di rumah kita?
Dae-hyun, jangan tanya kenapa.
Kau bisa tinggal di toserba untuk sementara.
Aku? Kenapa harus aku?
Kita bicarakan ini nanti.
Turuti saja perintahku, ya? Dah.
Aku harus mandi di mana?
Halo?
Astaga!
Kenapa dia tinggal di rumahku padahal dia punya rumah sendiri?
Astaga, aku tak mengerti ini.
Ayah, bangun. Sudah waktunya Ayah pulang.
Aku di sini.
Sial.
Ayah tak marah, kan?
Aku hanya terlambat sedikit.
Sial.
Maafkan aku. Jangan marah.
Apa yang bisa kulakukan agar Ayah merasa lebih baik?
[Upah minimum, upah lembur, dan kompensasi 150 dolar]
Bagaimana bisa Ayah berharap untuk meminta 150 dolar dariku? Aku tak punya uang.
Tidak.
Sial.
Astaga. Ayolah, Ayah!
Baiklah, akan kuberikan.
Ini, Ayah.
Dae-hyun,
terima kasih. Aku akan pergi sekarang.
Omong-omong... Ayah, Saet-byul...
Astaga. Ayah, Saet-byul...
Halo?
Halo? Kau bilang sedang mencari tiket musikal, kan?
Ohh, Iyaa.. Iyaa
Aku juga tinggal di dekat Jongno-gu. Bisakah kita bertemu besok pagi?
Ya, aku bisa!
Kalau begitu, aku akan bersepeda ke tempat pertemuan besok.
Baik, terima kasih! Sampai jumpa.
Akhirnya aku mendapatkannya!
150 dolar cukup untuk membuatku memulai perjalanan ke Zhangjiajie.
Bagaimana jika kurayakan dengan minuman?
Benar.
Bagian terbaik dari bir kalengan adalah saat baru dibuka.
Pak Choi? Bu!
- Kau baik-baik saja? - Ada apa?
Ada apa?
Aku keluar untuk mengambil air,
lalu Pak Choi pingsan.
Astaga. Kau datang untuk mengambil air?
Ambil saja airmu dan naiklah. Biarkan saja dia.
Apa? Kita akan membiarkannya tidur di sini?
Ya. Dengan begini, setidaknya aku tidak akan mendengarnya mendengkur.
Aku bisa tidur dengan tenang sesekali.
Minum airmu dan naiklah.
Merepotkan sekali.
Tapi...
[Eun-byul, aku akan memaafkanmu untuk semuanya.]
Kau yang mau membeli tiketnya?
- Ya, benar. - Halo.
- Halo. - Terima kasih.
- Selamat menikmati acaranya. - Terima kasih!
- Terima kasih. - Sama-sama!
[Kuharap kau akan makan di restoran besok.]
Halo, Dae-hyun. Ada apa pagi-pagi sekali?
Aku punya kabar baik.
Kabar apa?
Yeon-joo, aku dapat tiket musikal.
- Apa? - Acaranya malam ini.
Bukankah sulit sekali mendapatkan tiket itu?
Aku Choi Dae-hyun. Aku bisa melakukan apa pun.
Aku membelinya karena kita melewatkan pertunjukan pertama.
Kau bisa malam ini, kan?
Apa?
Tentu.
Sampai jumpa di lokasi nanti malam
Baiklah.
- Apa yang kau lakukan? - Bu.
Aku akan pergi sekarang. Terima kasih untuk semuanya.
Kau akan ke sauna kering lagi?
Kau harus menangkap penipu itu,
atau mencari tempat tinggal lain. Sementara itu, tetaplah di sini.
- Apa? - Ini rumahku.
Kau bisa datang semaumu, tapi tak bisa pergi semaumu.
- Tapi, Bu... - Sudah, jangan membantah.
Ayo kita makan. Ayo!
Astaga, aku lapar sekali.
Apa ini? Aku sangat terharu dengan sarapan yang luar biasa ini.
- Luar biasa. - Hei!
- Letakkan itu. - Ibu mengagetkanku!
- Kenapa kau di sini lagi? - Kenapa tak boleh?
Kau Saet-byul, kan?
Halo.
Kenapa situasi ini sulit dimengerti?
Ada yang bisa jelaskan ini?
Kau tak boleh makan ini,
dan kau tak boleh makan di sini. Kau mengerti?
Kenapa Ibu sangat kejam padaku pagi-pagi begini?
Aku ditipu dan diusir dari rumahku.
Jadi, dia mengizinkanku menginap di sini.
Agensi Properti Manbok?
Astaga! Bukan main!
Aku tak percaya aku mengenal salah satu korbannya!
- Diam! Duduk di sini dan makanlah. - Astaga.
Kenapa kau membawa wadah kosong ini? Pergi!
- Aku datang untuk membungkus... - Pergilah.
Makanlah. Sendok ini bersih.
Makanlah.
- Makanlah jjigae-nya. -Terima kasih.
- Jangan sungkan. - Ayo makan bersama.
Tentu.
Ayo makan.
Cobalah bulgogi ini.
Geum-bi, kenapa kau mengajakku ke sini?
Ada yang mencarimu.
- Aku? - Ya.
Jawab teleponnya.
Halo?
- Siapa ini? - Aku kakaknya Eun-byul.
Halo, Kak Saet-byul!
Aku Oh Hyeon-ji.
Ya, aku tahu kau Hyeon-ji.
Aku juga tahu kau teman dekat Eun-byul.
Itu sebabnya aku akan menemuimu sekarang.
Sekarang? Kenapa?
Karena kau pasti tak mau memberitahuku di mana Eun-byul.
Jika tak bisa dengan kata-kata, aku terpaksa.
Tidak, kau tak perlu datang ke sini.
Aku sungguh tak tahu apa-apa.
Tidak, kau pasti tahu
Beri tahu aku sebelum kau berantakan.
Apa pun yang terjadi, jangan beri tahu dia.
Kau bilang ingin menjadi manajerku.
Kau tahu manajer juga tampil di banyak acara, kan?
Mari kita ambil alih industri hiburan bersama-sama, kau dan aku!
Saet-byul, ayahku seorang pastor.
Menurutmu putri seorang pastor bisa berbohong?
Jika tahu sesuatu, aku pasti sudah memberi tahu Geum-bi.
Bukankah begitu?
Aku juga tak bisa menghubungi Eun-byul..
..setelah dia lolos audisi babak pertama.
Sungguh.
- Baiklah. - Baiklah.
Astaga.
- Teman-teman, lihat kemari sebentar. - Halo!
Dia anggota baru grup empat anggota kalian.
Beri salam.
Halo, namaku Jung Eun-byul. Senang bertemu kalian.
- Selamat datang di tim. - Salam kenal!
Kau yang paling cantik.
Tidak, kau terlalu memujiku. Kau bisa bicara santai denganku.
Baiklah.
Jaga dia baik-baik. Kini dia bagian dari grup kalian.
- Baik! - Baik!
- Jangan khawatir. - Sampai jumpa!
- Berapa usiamu? - Aku kelas 12.
- Benarkah? - Kau masih sangat muda.
Ini sudah cukup bersih.
No comments yet. Be the first to leave one.