Simon Schama's Power of Art

Simon Schama's Power of Art

Stáhnout Indonesian titulky

Informace o verzi

BBC Power of Art (7 of 8) - Picasso
Komentář od SugijoDwiarso

Tagy

other
Zveřejněno: 2016-03-30
Stažení: 38
Pro sluchově postižené: No

Náhled titulků v jazyce Indonesian

Prvních 200 řádků.

Ini pertengahan musim dingin 1941.

Pablo Picasso tinggal dan bekerja

di lantai atas sebuah rumah tua di 'Left Bank' Paris.

'The Third Reich' menguasai Eropa.

Sering sekali, Picasso mendapat kunjungan Gestapo.

Mereka bergumam tentang kemerosotan seni dan mencurigai dia menyembunyikan teman Yahudi.

Lalu mereka mengorek-orek studio sebentar.

Suatu hari, ada kunjungan yang menyinggung karya legendaris Picasso.

Tamu yang tak diinginkan itu sedikit mengamati.

Lalu ia melihat ada kartu pos yang tergeletak di sana

karya yang paling terkenal Picasso.

Gambaran epik tentang apa yang terjadi ketika bom-bom Jerman

dijatuhkan pada kota kecil Basque saat Perang Saudara Spanyol.

Guernica.

"Apa kau yang buat ini?" katanya.

"Oh, bukan," kata Picasso. "Tapi anda. Ayo, ambil satu. Buat suvenir."

Kepulangan hebat (?), cerita yang bagus,

tapi apa yang benar-benar bisa seni lakukan dalam menghadapi kekejaman?

Tidakkah seni seharusnya hanya tetap pada apa yang terbaik dilakukannya,

yaitu memberi kenikmatan, dan melupakan menjadi sorang 'prajurit bersenjata kuas'?

Ataukah, ketika bom-bom berjatuhan,

kita baru tahu untuk apa seni itu sebenarnya?

Paris di tahun 1920-an.

Pablo Picasso adalah raja seni lukis modern.

Dia tinggal di sebuah apartemen mewah dekat 'Champs Elysees'

dengan istri balerina Rusia-nya, Olga, dan anak lelaki kecil mereka.

Dia memamerkan lukisan-lukisannya di galeri berkelas,

dan semua aliran seni adalah kerajaannya.

Mabuk kepercayaan diri dan kepandaian, ia bisa kemana pun ia suka.

Suatu hari, di bulan Januari 1927, dia melihat sesuatu yang pasti ia suka.

Blonda, berwajah Skandinavia, bagai patung, 16 tahun.

Dia bernama Marie Therese Walter,

dan Picasso melihat dirinya suatu sore di luar 'Galeries Lafayette', sebuah pusat perbelanjaan.

Dia tak mau buang waktu, mendekatinya dan bilang,

"Mademoiselle, anda memiliki wajah yang sangat menarik"

"Dan saya ingin melukisnya."

"Saya Picasso."

Marie Therése lalu menjadi kekasihnya

dan 'obsesi kompulsif' dalam karya seninya.

Tahun 1932, dia melukis Marie Therese dalam pose melamunan dengan lesu.

Dengan lembut bermasturbasi, dia bercinta di dalam pikirannya.

Warnanya dan kecerdasan membentuk, menciptakan hiburan sensual yang melenakan.

Ini karya yang provokatif dari seorang yang angkuh, yang terobsesi pada diri,

seorang jenius yang memanjakan diri.

Dan itu semua masih jauh dari Guernica.

Picasso tiba di Paris pada pergantian abad,

Orang Andalusia kecil, suka berkelahi dan dengan bakat yang 'mengerikan'.

Di kota dengan ke'avant-garde'annya, kemana pun anda lihat

semua aturan berpuisi, bermusik, melukis, dibuang.

Picasso muda hidup seperti seorang bohemian

dengan rambut licin berminyak, mata hitam besar dan 'hidung kelinci' yang besar itu.

Dia tahu dia harus menjadi bagian dari kebebasan.

Dan dia tahu apa yang tidak ia inginkan,

pantomim-pantomim tua beruban yang perkasa.

Seni modern disebut modern karena ia telah berbalik

dari sejarah mereka yang sok-sokan,

dilukis untuk para bangsawan dan raja-raja.

Ini adalah kekuasaan di atas kuda, kemahakuasaan para pemimpin

ditampilkan bersama pengendalinya yang acuh tak acuh.

Dengan hanya satu tangan di tali kekang.

Pesannya adalah, jika si penguasa dapat mengendalikan kuda besar,

ia pasti bisa mengelola urusan negara,

persoalan kritis dari perang dan perdamaian.

Itu gambaran yang paling abadi dari kekuatan murni.

Dan inilah yang Picasso lakukan.

Alih-alih seorang pangeran di atas pelana, seorang anak telanjang menuntun kuda tanpa pelana

melalui lanskap primordial kosong yang menakutkan.

Tidak ada pahlawan yang bisa dikenali di sini, tak ada cerita, tak ada subjek,

sepertinya sesuatu yang modern keluar begitu saja dari yang kuno,

seakan tidak pernah ada apa-apa diantara keduanya.

Sejarah sedang dipertaruhkan, jika demikian. Pembongkaran berikutnya, keindahan,

Sesuatu yang ideal klasik dari seni itu sendiri

dibuat nyata dalam bentuk yang sedap dari wanita telanjang.

Dan ini adalah serangan ganas Picasso pada 'sapi suci' itu pada tahun 1907.

Ini adalah bagaimana selama berabad-abad orang memandang pose telanjang

dan bergumam malu-malu tentang berakhirnya bentuk anggun berakhir,

sebuah antrean di rumah bordil.

Mereka menelanjangi, anda periksa sendiri.

Segala sesuatu yang pernah terkait dengan wanita telanjang dalam seni Eropa,

kecantikan, mewajibkan sensualitas, kelembutan,

semua yang bersifat brutal dicukur habis.

Dan kemudian, sekitar tahun 1910, setelah menyaksikan keindahan dan sejarah,

Picasso melakukan hattrick.

Sesuatu yang bahkan lebih mengesankan, sesuatu yang, bagi kebanyakan orang

selama berabad-abad, telah menjadi keseluruhan inti seni.

Selamat tinggal, kemiripan.

Jika itu 'duplikat dua dimensi dari alam' adalah apa yang anda inginkan,

maka fotografi akan untuk melakukan pekerjaan itu jauh lebih efisien.

Ini adalah 'art dealer' Picasso, Ambroise Vollard.

Ini adalah bagaimana Picasso melihatnya,

visi yang berbeda dari keadaan yang sebenarnya.

Kubisme.

Jauh di dalam permainan bentuk berjenjangnya

terlihat peralihan saat-saat dalam waktu, adalah, dia bersikeras,

sesuatu yang kompak, solid dan kuat.

Dengan seperti meledakkan benda-benda, Picasso berkata,

aku mendapatkan seluruh permukaan kanvas, menuju satu inti.

Itu bukan untuk mereka yang ingin sesuatu yang mudah bagi mata.

Tapi Picasso tidak tertarik pada sesuatu yang memberi kenikmatan pada publik.

Dia benar-benar menikmati 'kultus kesulitan'.

"Terlalu keras?" anda seperti samar mendengar dia mencibir. "Sulit."

Pada tahun 1920,

ada sesuatu yang yang tidak begitu mengusik tidurnya,

keadaan dunia.

Dia baik-baik saja, terima kasih, tapi Eropa dalam kesulitan besar,

fasisme mulai merintis jalan untuk berkuasa.

Tapi dari kekacauan dan kebencian, kerusuhan dan revolusi,

tidak ada tanda-tanda pada karya Picasso.

Untuk beberapa seniman, itu tidak ada masalah, bahkan wajib,

untuk menggabungkan politik yang radikal dan lukisan yang radikal,

untuk mejadikan seni modern sebagai kritik atas kemunafikan dan ketidakadilan.

George Grosz, seniman Jerman,

sibuk melukiskan dinosaurus militer dan simpatisan Nazi

yang sedang sibuk menumbangkan demokrasi yang rapuh Jerman.

Kreatif, tentu saja, Grosz bukanlah Picasso.

Tapi dia tidak pernah berpura-pura bahwa seni dapat tetap kebal dari ideologi,

di atas segala keributan.

Dia tahu ada peperangan yang harus diperjuangkan,

dan dengan dipersenjatai kuasnya untuk melakukan serangan.

Satu-satunya perang yang pernah Picasso lakoni ialah melawan

konvensi-konvesi seni.

Oh, ya, ia sebagian besar berpihak pada sisi kebebasan,

tapi yang selalu kreatif, tidak berpolitik, kebebasan.

Tidak heran salah satu teman terbaiknya menyebut Picasso,

"Orang tak berpolitik yang pernah saya kenal."

Apa yang terjadi di studio Picasso

adalah sejauh barikade yang anda dapat dirikan.

Semua sangat berbau 'obsesi diri'.

Politik dan konflik sosial sama sekali tidak menarik baginya di tahun 1920.

Sebaliknya, dia merenungi kecenderungan hatinya.

Jadi, banyak lukisan rumit, gambar super-halus sang seniman di studio.

Refleksi dari dan di cermin.

Banyak lukisan model yang ditarik dengan cara ini dan itu.

bagian tubuh yang disusun ulang dengan artistik.

Dia juga merenungi pada kehidupan cintanya yang semakin kusut.

Liburan di pantai mereka yang mengerikan, Picasso dan istrinya, Olga,

berkonflik terus-menerus.

Dan ketika ia merasa dipenjarakan oleh sebuah 'hubungan',

distorsi pada karya seninya menjadi aneh.

Perkenalkan wanita belalang sembah,

dengan mulut bergigi serba gunanya yang menakutkan.

Tidak semua perempuan dalam lukisannya brutal dan buas.

Ketika dia mulai melukis Marie Therese,

garis bergerigi Picasso tiba-tiba menjadi

meliuk dan menggairahkan seperti tubuh kekasihnya.

Kita bisa tenggelam di dunia Picasso,

bila inspirasi utamanya adalah keseniannya, perempuan dan dirinya sendiri.

Picasso sering berkata, "Ini adalah bagaimana seharusnya seni modern itu,

"Bebas dari keterikatan sentimental terhadap tempat dan kenangan."

Tetapi bahkan Pablo Picasso pun tidak bisa membebaskan diri dari sejarah.

Di tanah airnya, Spanyol, ketentuan-ketentuan lama berguguran.

Negara ini telah memilih mengusir keluarga kerajaan.

Sebuah zaman keemasan baru bagi terbitnya

keadilan sosial dan kebebasan politik.

Namun delapan tahun berdirinya Republik Spanyol

akan menjadi siksaan berkepanjangan bagi para pembela dan musuhnya sekaligus.

Kekerasan senantiasa meletus antara faksi-faksi politik kanan dan kiri,

antara masa lalu dan masa kini.

Di pengasingannya di Paris, sang virtuoso modernis

merasa dirinya dihantui oleh seorang empu masa lalu,

jenius paling kelam seni lukis Spanyol,

Francisco Goya.

Goya adalah seniman pertama yang membuat seni melihat tepat ke mimpi buruk dari kekejaman

perang modern.

Bencana perangnya mengubah bentuk ideal seni,

keindahan tubuh manusia, menjadi lelucon pahit.

Terlalu banyak bacokan si tukang jagal.

Obsesi-obsesi Goya menginfeksi Picasso.

Adu banteng para empu tua, dengan ritual pembantaian mereka,

tak terelakkan menariknya kembali ke Spanyol.

Pada tahun 1934, Picasso menyeberangi Pyrenees pada perjalanan turnya ke tanah air.

Di sebagian perjalanan, ia ditemani Marie Therese.

Tak pelak, di sini di Madrid, mereka pergi menyaksikan adu banteng.

Penyair Federico Lorca menggambarkan Spanyol

sebagai satu-satunya negara di mana kematian adalah sebuah tontonan nasional.

Pada pertengahan 1930-an,

tontonan terancam tumpah dari arena adu banteng.

Spanyol menjelang terkoyak.

Negeri itu sudah terbelah tanpa harapan.

Muncul Spanyol modern,

di perkotaan, yang sekuler, industri.

Sebuah gerakan sosialis Spanyol berkembang dan meng-agitasi secara anarkis.

Tapi di sisi lain, Spanyol yang lebih kuno.

Sebuah negara dengan orang yang bekerja di perkebunan dan kaum tani miskin berjumlah besar.

Spanyol yang tercekik oleh kehadiran Gereja Katolik yang terlalu dalam.

Picasso menyebutnya 'The Black Spain'.

Masalahnya adalah bahwa keduanya mengklaim diri mereka sebagai warga negara sejati.

Tidak siap menerima putusan pemilu.

Apakah mereka menganggap diri mereka hanya sebagai partai-partai politik yang bersaing,

yah, permusuhan tapi hidup berdampingan dengan damai akan mungkin terjadi.

Tapi tidak dengan mereka.

Masing-masing pihak, kiri dan kanan, lama dan baru, berbeda keyakinan

tidak hanya menjadi oposisi

tapi musuh dari kelahiran kembali Spanyol itu sendiri.

Masing-masing pihak menuntut pemusnahan yang lain.

Beberapa seniman Spanyol

punya lebih dari sekedar firasat tentang apa yang bakal terjadi.

Tidak ada yang lebih teatrikal dari Salvador Dali

Karyanya 'Firasat tentang Perang Saudara'

adalah epik phantasmagoria Surealis sebuah bencana.

Simon Schama's Power of Art subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Simon Schama's Power of Art

Komentáře

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left