Prvních 200 řádků.
Belalah kami pada hari pertempuran.
Jadilah pelindung kami melawan kejahatan
dan jebakan si jahat.
Mencampakkan ke dalam neraka,
setan dan semua roh jahat lain.
Percayalah pada belas kasih Tuhan
dan akuilah dosamu selama ini sejujurnya. Amin.
Amin.
Aku…
melihat iblis.
Aku dibutakan oleh ketamakan
sehingga tak ragu melakukan apa saja
seolah terpikat iblis.
Ada orang yang berniat mencegahku…
dan mengancam
akan membeberkan…
seluruh perbuatanku.
Aku merasa
dia iri dan dengki kepadaku
sehingga berniat menjegal masa depanku.
EPISODE 13 MASA LALU, DOSA AWAL
Pertunjukannya bagus sekali.
Akhirnya aku paham kenapa kau selalu membahas tradisi.
Waktu kau masih manusia…
Seo Yi-sun.
Namaku kala itu.
Seo Yi-sun.
Namamu bagus.
Bagaimana akhir hayatnya?
Dia bunuh diri
sebab konon yang bunuh diri
mustahil masuk surga.
Aku tidak ingin
dan merasa tak pantas masuk surga.
Malangnya Seo Yi-sun.
Omong-omong, kau bohong.
Katamu akhirnya datar dan monoton,
tidak senang maupun sedih.
Itu sebabnya
aku akan membuat akhir bahagia.
Kunang-kunang?
Ya.
Pertemuan kita
setelah perjalanan panjang ini
mungkin merupakan
kesempatan kedua bagiku.
Kali ini,
aku tidak akan membuatmu menderita.
Tumben hari ini kau di sini.
Kadang aku juga butuh menghilangkan penat.
Melihat manusia itu penghilang penat bagimu?
Kadang membuatku sedih,
kadang jadi penghilang penat.
Semua punya sisi baik dan buruk.
Aku tak mau mengulang penderitaan yang lalu bersama Do-hee.
Bagaimana caranya?
Kau meminta bantuanku?
Tidak. Lagi pula, kau pasti enggan membantu.
Aku…
hanya minta saran.
Jika bisa dicegah,
namanya bukan penderitaan.
Kau benar-benar tak membantu.
Kau bilang tak minta bantuan.
Kebahagiaan ada karena ada penderitaan.
Manusia tak akan sadar apa itu bahagia jika terus berbahagia.
Kau berkata seolah penderitaan itu begitu bernilai.
Aku tak butuh tahu apa itu bahagia.
Hidup manusia bahkan masih kurang panjang
untuk selalu berbahagia.
Kadang kebahagiaan pun
bisa menjadi racun.
Bangunlah, Do-hee.
Lima menit lagi.
Ayo makan makanan rumahan favoritmu.
Makanan rumahan?
Mana makanan rumahannya?
Coba tutup mata sebentar.
Sebentar saja.
Apa ini?
Rupanya kau ingat aku ingin makan makanan rumahan.
Tentu saja.
Aku selalu ingat semua katamu.
Suamiku.
Menggiurkan.
- Kita makan sekarang? - Ayo.
Sebelum itu, minum air mineral dahulu.
Tunggu. Aku sikat gigi dahulu.
Tunggu sebentar, ya? Jangan makan sendiri.
Tunggu!
Kalau minum, boleh!
Tak terasa sudah bulan Desember.
Waktu cepat sekali berlalu.
Kencan perjodohan dan resepsi pernikahan kita
terasa sudah lama berlalu.
Benar juga.
Banyak yang sudah kita lalui.
Berarti Natal tahun ini
adalah Natal pertama kita bersama.
Benar juga, aku baru ingat kau benci Natal.
Tidak,
kini aku suka.
Aku suka semua yang kau sukai.
Aku jadi tak sabar merayakan Natal pertama kita.
Saat Natal itu wajib memutar lagu Natal.
Kenapa macet sekali, ya?
Kelihatannya ada lakalantas.
Do-hee.
Ya?
Tadi kita sedang bahas apa, ya?
Natal.
Benar juga.
Natal.
Mau putar lagu lain?
Terima kasih.
Silakan.
Ini paling enak diminum pukul sebegini.
Segarnya, aku jadi melek.
Tumben
kau mengajakku bertemu lebih dahulu.
Kau orang yang paling mengenal Do-hee.
Do-hee ada masalah?
Kami melihat lakalantas waktu pergi ke kantor.
Kurasa
itu mengingatkan dia pada lakalantas orang tuanya.
Aku ingin membahagiakan Do-hee,
tapi dia…
selalu merasa bersalah saat bahagia.
Mungkin rasa bersalah,
mungkin juga kecemasan.
Do-hee sempat bilang
kalau momen paling bahagia dalam hidupnya
adalah beberapa tahun bersama orang tuanya
sebelum mereka meninggal.
Bisa jadi Do-hee takut bahagia
sebab malapetaka datang di puncak kebahagiaannya.
Apa Do-hee langsung tinggal dengan Ju Cheon-suk usai kejadian itu?
Tidak, dia cukup lama berpindah-pindah dari rumah kerabat ke kerabat lain.
Kerabatnya menampung Do-hee demi harta warisan dan dana asuransi,
lalu membuang Do-hee ketika uangnya habis.
Waktu pertama bertemu Do-hee,
dia sangat ketus.
Dia membangun benteng tinggi karena takut dan ditinggal sendiri lagi.
Bibilah yang memperbaiki hal itu.
Namun, kini dia pun kehilangan Bibi.
Kurasa luka hatinya yang sempat terlupakan tiba-tiba mencuat lagi sebab selama ini…
dia fokus…
mencari pembunuh Bibi.
Masuk.
Rapat sudah siap.
Baik.
Demi meningkatkan popularitas
serta penjualan produk baru Mirae F&B
secara signifikan,
kami berencana membuat acara promosi.
- Silakan, Nona Choi. - Baik.
Kami sudah mendaftar lokasi acara,
yaitu pusat kebugaran, kejuaraan maraton, festival kampus, dan lain-lain.
Tak ada tempat lain?
Tempat yang lebih baru dan trendi,
bukan tempat yang terlalu biasa macam ini.
Bagaimana
kalau Teater Sunwol?
Teater Sunwol Pak Jeong?
Animo akan budaya tradisional begitu bagus dewasa ini
sampai ada istilah tradisional trendi.
Pertunjukan Nona Jin pun sedang banyak diminati.
Kurasa pertunjukan Nona Jin kurang…
Siapa Nona Jin?
Perempuan yang ke sini
saat Pak Jeong baru selamat dari maut
dan memeluknya di depan umum.
Kau sempat bilang
itu lebih seru dari Love and War.
Apa maksudmu? Kapan aku bilang begitu?
Maafkan aku.
Menurutku, itu ide bagus.
Kita adakan di Teater Sunwol.
- Bu Do. - Ya?
Bu Shin akan mengurus segalanya.
Baiklah.
- Bu Do. - Ya?
Bisa jadi Do-hee takut bahagia
sebab malapetaka datang di puncak kebahagiaannya.
- Jeong Gu-won. - Hai.
Kami berencana mengadakan
acara promosi produk di Teater Sunwol. Bagaimana menurutmu?
Lakukanlah apa pun yang kau mau.
Jangan begitu.
Aku memberi tawaran resmi,
jadi, pertimbangkanlah secara resmi sebagai presdir Teater Sunwol.
Kalau begitu, aku resmi setuju.
Baiklah.
Berarti nanti tim pemasaran kami
akan mengirimkan proposal.
Ini dia.
- Coba lihat. - Ya.
Singkatnya,
kami akan memeriksa jadwal pertunjukan dan memutuskan tanggal…
Aku jadi cemas.
No comments yet. Be the first to leave one.