Prvních 190 řádků.
[Apakah Hubungan Kita Sebuah Insiden atau Kecelakaan?]
Aku mau ke toilet.
Benar. Manajernya bilang aku harus meneleponnya kalau ada masalah.
Ini jelas masalah.
Jangan pedulikan aku dan lakukan saja yang kau inginkan...
- Dia lama sekali di toilet. - Benar.
Itu pasti telepon penting.
Jika tidak keberatan, boleh kujawab?
Tentu. Silakan.
Terima kasih.
Maafkan aku.
Beberapa penggemar gila kadang menguntitku di rumah,
sepertinya mereka menyentuh sistem keamanan.
Penghuni lain sangat marah,
jadi, sepertinya aku harus ke sana.
- Begitu rupanya. - Begitu rupanya.
Baiklah. Kita sudahi saja.
- Baiklah. - Kerja bagus hari ini.
Begitu penulisan naskah selesai, aku akan membawa naskahnya
- dan berkunjung lagi. - Terima kasih.
- Sampai jumpa. - Baiklah.
Astaga, kau harus fokus. Tetap fokus.
Beraninya dia menyuruhku datang dan pergi.
Apa?
Hei!
Kenapa dia di sini?
Di mana dia?
Sebaiknya dia tidak mempermainkanku.
Hei, Geun-young!
Geun-young!
Ini memalukan.
Apa dia bercanda? Sulit dipercaya.
Bisa buka pintunya?
Tolong buka.
Kau tidak tampak putus asa.
Tunggu, apa? Ayolah. Buka pintunya.
Aku sungguh... Aku...
Terima kasih banyak. Sampai jumpa!
Sulit dipercaya.
Astaga, aku hampir mati.
- Astaga. - Kau menjijikkan.
- Apa yang kau lakukan? - Maksudku...
Kru produksi menerobos masuk,
jadi, aku bersembunyi, lalu aku terkunci.
Hei, Ji-hyang.
Bukan masalah besar. Aku akan segera ke sana.
Akan kuberi tahu langsung.
Kau.
Aku akan membunuhmu jika kau ketahuan.
Aku hampir mati karena berusaha tidak ketahuan!
Bukankah setidaknya dia harus bertanya apa aku baik-baik saja atau terluka?
Kasar sekali.
Aku lapar.
[Kami butuh beberapa barang kalian untuk syuting besok.]
[Apa pun yang kau butuhkan selagi tinggal di sana.]
Hei, kurasa acara realitas itu memang nyata.
Mereka bahkan meminta barang-barangmu ditaruh di sana.
Pria itu satu-satunya yang tidak jujur di acara itu.
Benar, itu juga.
Kenapa dia mengirimimu koleksi biografi?
["Yi I", "Yi Hwang", "Jeong Yak-yong", "Monk Wonhyo", "Aristotle", "Plato"...]
Kau benar-benar menyebabkan berbagai masalah.
Apa ini? Dia sungguh membuatku gila.
Kurasa ayahku membeli barang aneh lagi.
Boleh kutaruh di sini?
Tidak, tidak akan pernah.
Kau mau melihat kamarnya? Itu seperti toko buku.
Kau bisa memberikan ini kepada Who-joon si Hebat.
Dia akan menyukai ini.
Terserah. Akan kupakai sebagai alas ramyeon.
Tunggu, seniormu hanya memberimu ramyeon?
Kau baik-baik saja di sana?
Ya, tentu saja. Dia baik.
Bagaimana aku membawa semuanya?
Setelah Shin-hyuk pulang, kusuruh dia mengirimkannya?
Ya, itu jauh lebih baik.
Ongkosnya akan kubayar.
Baiklah.
Pak, aku baru saja membaca artikel tentang penampilan Who-joon di acara ragam.
Dia akan muncul dengan si sepatu mengamuk, pembenci resminya.
Menurut sumberku, mereka telah sudah syuting pertama.
Tapi ada kecelakaan kecil, jadi, sepertinya ada masalah.
Karena sudah lama tidak tampil di acara ragam,
banyak orang tertarik apakah acara itu akan sukses.
- Lalu? - Lalu,
kami ingin mencari acara ragam baru untukmu.
Apa aku peniru Who-joon yang meniru semua yang dia lakukan?
Cobalah memikirkan sesuatu yang lebih membangun.
Aku berharap banyak darimu.
Baik, Pak.
Bagaimana perasaanmu saat pertama kali menerima tawaran itu?
Kelihatannya itu baru.
Kau tidak merasa tidak nyaman? Dia pembencimu.
Sebenarnya, awalnya, aku ingin melakukan sesuatu dengan penggemarku.
Kurasa seorang pembenci tetaplah penggemar.
Lupakan itu.
Begitu aku membangun hubungan lewat program ini,
kurasa aku bisa belajar merangkul orang yang membenciku. Aku punya...
- Harapan? - Ya, aku berharap begitu.
Aku tidak ingin terlihat begitu jauh sebagai selebritas.
Aku ingin menjadi seseorang yang berkomunikasi dan terhubung
dengan orang yang kutemui, seperti orang biasa.
Bagaimana perasaanmu setelah syuting pertama?
Kurasa dia orang pertama yang membuatku banyak terkejut dalam sehari.
Kau di sini.
Halo.
Ini sudah semuanya?
Barangnya akan dikirim.
Begitu rupanya. Kurasa ini cukup.
Kita akan mulai syuting setelah wawancara. Bersiaplah.
Masuklah, Nona Lee Geun-young.
Masuklah.
Senang bertemu denganmu.
Mari kita bereskan barang-barang kita lebih dulu.
Apa yang kau bawa?
Aku membawa...
Kau pasti menyukai biografi.
Benar. Ya. Ayahku mengirim ini
untuk dibaca, agar aku menjadi orang baik, jadi, aku membacanya.
Bacalah. Ini akan membantu menjadi disiplin.
Tentu.
Socrates. "Kenali dirimu."
Itu buku yang bagus. Aku akan membaca.
- Aku tidak membawa banyak. - Astaga.
Aku yakin wanita itu juga tidak waras.
Aku membawa gitar dan surat dari para penggemarku.
Belakangan ini aku menulis lagu,
jadi, aku memainkan musik tiap kali dapat inspirasi.
Aku ingin segera memainkannya untuk penggemarku.
Dan surat dari penggemarku. Tiap kali aku lelah dan sakit,
membaca surat-surat ini akan mengembalikan semangatku.
Aku tidak bisa membuang surat yang ditulis tangan ini.
Ini harta terbesarku.
Canggung, 'kan?
Ada pertanyaan atau hal lain yang ingin kau katakan?
Benar, mau makan?
Tidak ada yang bisa dimakan di...
tempat ini, bukan begitu?
Dapurnya terlalu bersih.
Kalau begitu, kita bisa memesan sesuatu, 'kan?
Karena kita pindah hari ini, ayo pesan jjajangmyeon.
Aku juga mau tangsuyuk...
bagaimana denganmu? Aku akan pesan.
Tentu.
Kukira aku menekan satu.
Aku hendak memesan satu saja.
Geun-young, kau berbakat memberikan kejutan.
Duduklah. Mari makan.
Tapi kita punya kesamaan.
Aku tidak mengerti orang yang menuangkan saus di atas tangsuyuk.
Kenapa kau tidak bilang lebih awal?
Aku tipe yang menuangkan saus.
Astaga, Geun-young juga wanita yang aneh.
Kalau dipikir-pikir, kita tidak pernah bertukar nomor ponsel.
Bisa berikan nomormu?
Apa? Baiklah.
- Ini. - Baiklah.
Selamat makan.
Cut. Ayo kita makan juga.
Kita sudah selesai. Mari bersihkan dan pergi makan.
- Mari beres-beres. - Baiklah.
Kau mau...
Tidak, kami akan makan di luar. Tadi lucu sekali, Geun-young.
Karena kalian sudah makan, kalian bisa istirahat selagi kru makan.
Tolong matikan kamera, dan kita akan ke restoran di depan.
Haruskah kami tunggu di sini?
Pak Seo, bisa kita bicara?
Ada Ra-ra dan Kang-yeon di sini, jadi, aku akan pergi.
Baiklah.
Ayo.
Aku lapar.
- Ayo. - Lewat sini.
Periksa apakah ini sudah dimatikan.
Sudah mati.
Hei, kau.
Kenapa kau mengabaikan pesanku?
Apa kita boleh memakai ponsel di depan kamera?
Aku tidak tahu.
Dan tangsuyuk itu bukan hanya milikmu.
Kenapa kau tidak bilang lebih awal kalau tidak mau saus?
Maaf.
Sayang, Joon seperti Cinderella, jadi, sihir kameranya mati.
Kau mau yang di pinggir
- yang tidak terkena saus? - Semuanya milikmu. Semuanya.
Pak Han, apa yang ingin kau katakan?
Mereka datang. Kami di sini.
- Hei. - Hei. Di sini.
Staf Who-joon juga terlibat produksi.
Mereka harus makan.
- Begitu rupanya. - Benar sekali.
No comments yet. Be the first to leave one.