Prvních 200 řádků.
Bu, Alisha berangkat.
- Hati-hati. - Ya.
- Jangan pulang terlalu malam. - Ya, Bu.
Alisha!
Alisha!
Minggir!
Tapi tadi katanya kau mau ke rumah Sashi.
Tadi Sashi tiba-tiba meneleponku, dia sedang bersama Yeni di studionya.
Aku mau ke sana.
Serius?
Ada apa denganmu?
Aku lihat Instagram milik Yeni, dia sedang berada di Bandung.
Postingan lama.
Siaran langsung IG, Sha.
Ya sudah. Kita ke rumah aku saja.
Ada yang mau aku bicarakan.
Aku merasa kau aneh akhir-akhir ini.
Ada apa?
Ceritakan.
Tidak ada apa-apa.
Ada apa denganmu?
Sha.
Aku selalu cerita kepadamu setiap kali aku ada masalah, ketika aku senang,
tapi kenapa kau seperti ini?
Besok lusa aku ceritakan semuanya.
Apa kau tak lelah menyembunyikan sesuatu dari aku?
Apa salahku kepadamu?
Kau ada masalah apa?
Ceritalah kepadaku.
Apa kau memercayaiku?
Apa yang kau sembunyikan dariku?
Ricky.
Percaya sama aku.
Aku juga menyayangimu…
Bukan itu pertanyaanku.
Apa yang kau sembunyikan dari aku?
Kumohon.
Percaya sama aku.
Ini bukan yang kau khawatirkan.
Baiklah, kalau begitu ceritakan!
- Besok aku ceritakan kepadamu. - Masih butuh waktu buat besok?
Aku yakin kau juga akan senang.
Supaya kau bisa mengarang alasan?
- Kenapa tidak sekarang saja? - Sekarang belum waktunya.
Sekarang sudah waktunya karena aku sudah bertanya.
Kumohon.
Besok.
Kenapa tidak sekarang saja, Alisha?
Kenapa tidak sekarang saja?
Ya, karena ulang tahunmu besok lusa,
bukan sekarang.
Jadi, aku harus cerita kepadamu
jika aku membuat kejutan ulang tahun untukmu?
Itukah maumu?
Puas sekarang?
Sha.
Aku minta maaf, aku salah.
Aku sudah berpikir yang tidak-tidak.
Ini masalahmu.
Berpikir berlebihan.
Selama ini sumber-sumber masalahmu itu dari pikiranmu sendiri.
Tapi, sayangnya, kau tidak pernah sadar.
Ini kadonya.
Isinya sepatu.
Buka sendiri.
Buka!
Tadi tanya aku apa yang aku sembunyikan?
Kenapa diam?
Dahulu ibuku pernah bilang…
kadang kita harus merelakan pasangan kita itu punya rahasia.
Tidak semuanya harus dibicarakan.
Tidak semuanya juga harus diceritakan.
Karena yang penting kita saling percaya.
Ya, Sha.
Maafkan aku.
Maukah kau memaafkanku?
Kau harus berubah.
Kita punya ruang pribadi yang harus dihargai.
Apa kau tidak lelah?
Selalu curiga kepadaku. Tidak lelah terus mengaturku?
Atau laki-laki memang seperti itu?
Dia butuh perempuan buat diatur, dinasihati, dimaki,
untuk menunjukkan bahwa dirinya itu berharga, berguna.
Sha, bukan seperti itu.
Aku memberimu kebebasan,
tapi apa yang kau berikan kepadaku?
Baiklah, Alisha.
Mulai sekarang,
aku akan memberimu kebebasan
dan aku akan selalu ada untukmu.
Aku janji.
Pintar buat janji, ya, sekarang?
Selamat, kau layak jadi politisi.
Sha, aku serius.
Keseriusan itu dibuktikan, bukan hanya janji.
Tunjukkan kalau memang serius!
Aku mau pulang. Sudah malam.
Ini kadonya.
Isinya sepatu.
Buka sendiri.
Aku tahu selama ini kau susah mencari ukuran sepatu.
Karena kaki kiri sama kaki kananmu beda setengah nomor.
- Aku pesan sepatunya di Bandung… - Kenapa?
Kenapa?
Bu.
Maafkan aku, Sha.
Aku tidak bisa membayangkan pasti hancur hidupku kalau tidak ada kau.
Kalau yang sudah lewat, tidak usah dibahas.
Asalkan jangan diulang.
Ya.
Aku menyayangimu, Sha.
Aku serius.
Kalau serius, ayo kita nikah.
Aku juga…
Sebenarnya aku juga
sudah merencanakannya, tapi…
Kalau kau masih plin-plan, aku anggap kau tidak serius.
Tapi ya sudah, tidak masalah.
Sha.
Pernikahan itu tidak hanya modal cinta.
Terus semua masalah selesai.
Banyak pasangan yang waktu pacaran baik-baik saja, tapi begitu nikah…
di tengah jalan mereka hancur karena mereka tidak siap, Sha.
Lupakan.
Aku siap.
Aku siap dan aku sudah merencanakan ini,
tapi ini tidak hanya tentang aku dan kau.
Pernikahan itu harus memikirkan juga tentang ayahmu yang…
Sebentar.
Kau tidak yakin menikah denganku?
Karena ayahku tidak jelas?
Karena keluargaku berantakan?
Bukan seperti itu.
Pernikahan itu memang harus…
Harus melihat latar belakang keluarga.
- Bukan. - Aku paham kau tidak mau nikah denganku.
Karena kau takut nanti keluarga kita juga berantakan.
- Alisha, dengarkan aku dahulu. - Kita putus!
- Alisha… - Putus!
Putusan
nomor 388.
Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Rika Sucirowati
dengan pidana penjara selama tiga tahun.
Dasar bodoh!
Tiga tahun yang lalu, ayahmu datang ke rumah.
Waktu itu kau masih kuliah.
Dia datang mau minta maaf.
Ibu belum bisa memaafkan.
Kemudian dia keluarkan selembar kertas.
Dia tulis alamat.
Ayahmu beli rumah baru.
Di jalan Melati 94,
Mangkurogo.
Dia minta Ibu hubungi dia sewaktu-waktu.
Alisha.
Maafkan Ibu,
tidak bisa merawatmu.
Santai, Bu.
Kalau kau butuh apa-apa,
kau temui ayahmu, ya?
Bagaimanapun…
itu ayahmu.
Aku tidak punya ayah.
Yang aku punya hanya aku sama Ibu.
Kau tetap tidak berubah.
Mohon maaf waktunya habis.
Maaf, bolehkah aku minta pulpen dan kertas?
- Boleh. - Baiklah.
Ini alamat ayahmu.
Kau simpan dahulu.
Maaf, Mbak Alisha.
Ini bukan kemauanku.
Ini kesepakatan warga.
Kenapa aku harus pindah, Pak?
Cobalah Mbak Alisha pikir dahulu baik-baik.
Pernahkah aku membuat rusuh di kampung ini?
Bukan itu masalahnya, Mbak Alisha.
Pernahkah aku membuat masalah sama warga?
Kami hanya tidak mau kampung ini rusuh.
Ibuku sudah tidak tinggal di sini.
Ya.
Ibuku sudah di penjara.
Terus masalahnya apa?
Ya, kalau Mbak Alisha tidak mau mendengar nasihatku, tidak apa-apa.
Tapi jangan salahkan aku
kalau warga menyerang Mbak Alisha.
Aku minta maaf atas nama ibuku
karena telah mencemari nama baik kampung ini.
Kalau Mbak merasa bersalah, Mbak pasti pindah ya?
Mekanisme hukum sudah berjalan.
Ibuku juga sudah menjalani hukuman.
Mas tidak usah menambah masalah.
Menurut saja, daripada masalahnya tambah panjang.
Ini. Uang kontrakannya kukembalikan semuanya.
Utuh biaya satu tahun.
Mbak Alisha, kami beri waktu satu minggu
mencari rumah baru dan pindah.
MENGOBROL DENGAN PENJUAL
Halo. Dengan Pak Safwan?
Aku mau menanyakan rumah yang dikontrakan.
No comments yet. Be the first to leave one.