Prvních 200 řádků.
Barangkali aku berpikir tentang kaki
lebih banyak dibandingkan rata-rata orang.
Sebagai seorang desainer sepatu, aku harus melakukannya.
Kaki kita diciptakan untuk berjalan, dan berlari dan memanjat sekali waktu.
Kaki telanjang bisa jadi hal yang terbaik untuk semua itu.
Tapi apa yang diminta atlit modern untuk kaki-kaki mereka
jauh melampaui apa yang pada awalnya didesain bagi kaki-kaki itu.
Pekerjaanku adalah memikirkan soal bagaimana membuat instrumen alam yang cakap ini
bekerja lebih baik lagi.
Itulah Tinker Hatfield!
Kalian serius? Itulah Tink.
Tinker Hatfield?
Dia adalah seorang legenda!
Apakah itu orang yang menciptakan sepatu milik Jordan?
Di tahun '80-an, Tinker Hatfield memulai memperlihatkan arti pentingnya
bekerja sama dengan seorang atlit.
Itu adalah sebuah persahabatan dengan atlit,
benar-benar menggali, mencari tahu mereka sebagai atlit.
Pada akhirnya, ini tentang performa.
Tapi ada lebih banyak lapisan di bagian puncaknya.
Tinker adalah seorang ilmuan gila.
Dia datang dari lompat galah.
Saat aku bermain olah raga, semuanya tentang melompat,
jadi, maksudku, mudah menemukan sinergi
dan komplemen besar antara kita berdua.
Yang kita lakukan sebagai sebuah tim adalah bahwa kita mampu membangun sebuah produk yang awet.
Itu mampu menuruti kemauan atlit mencapai tingkatan tertinggi
hingga ke titik dimana mereka masih mampu bermain dengan sepatu yang sama,
tiga puluh tahun kemudian.
Yah, itu buruk sekali.
Aku tak pernah berpikir tentang desain.
Aku selalu fokus bagaimana menjadi atlet.
Di SMU, aku memenangkan beberapa kejuaraan nasional,
dan bahkan aku menerima beasiswa atletik penuh
ke Universitas Oregon,
dimana aku bertemu dengan orang yang begitu memengaruhiku bernama Bill Bowerman.
Pelatih, aku tertarik dengan reaksimu
berpartisipasi dalam melatih atlet-atlet kelas dunia ini.
Yang pertama, Hal, panggil aku Bill.
Ingat, aku tak suka dipanggil Pelatih. Aku sensitif mengenai hal itu.
Oke.
Julukan yang dia suka sebenarnya adalah Guru Respon Kompetitif.
Dia mencoba menolong orang-orang belajar cara untuk menang.
Dia juga salah seorang dari dua pendiri Nike.
Jadi saat aku datang ke sini, dia sedang mendesain sepatu lari Nike dan 'track spikes' (sepatu lari).
Dia mau mengambil resiko dan mencoba apa pun untuk membuat atlet-atletnya menjadi lebih baik.
Dia pernah punya toko reparasi sepatu kecil tepat di bawah stadium.
Jika kau tak hati-hati,
dia mungkin muncul begitu saja dari toko itu dan menarik kerah belakang bajumu
dan menyuruhmu mencoba sepatu- sepatu ini dan berlari mengitari trek.
Kadang sepatu-sepatu kurang bagus,
dan kadang kau kembali dengan kaki berdarah.
Salah satu cabang olah ragaku adalah lompat galah,
dan Bill percaya kalau aku punya potensi menjadi juara nasional,
dan bahkan menjadi seorang atlet Olimpiade.
Lompat galah itu penuh dengan segala macam bahaya.
Jika kau tak punya naluri yang benar-benar kuat atas
"Aku berniat melakukan ini, dan aku sedang melakukannya,"
kau bisa benar-benar terluka.
Untuk menghadapinya, kau pokoknya harus melakukannya.
Kau harus punya mentalitas ini,
seperti kau hendak berlari menembus tembok.
Kau tak bisa mundur.
Tujuan akhirmu adalah bagaimana caranya jungkir balik dan terbang ke udara dan melompatinya.
Ada momen dimana kau terbang.
Kau seperti terbangun, dan kau bilang, "Wow."
Tahun ke-2 kuliahku, aku terjatuh dari ketinggian 17 kaki ke permukaan yang kasar
dan merobek separuh tungkaiku.
Butuh lima kali pembedahan dan dua tahun rehabilitasi.
Aku merasa agak depresi,
berbaring di rumah sakit malam itu
sayup mendengar para dokter bilang "Karir anak ini berakhir."
Tak mungkin ada
hampir semua staf pelatihan merasa bahwa aku tak akan ikut andil
dalam tim atletik lagi.
Apa yang benar-benar hebat, bagiku,
bukanlah apa yang dikatakan Bill Bowerman, tapi apa yang dia lakukan.
Bill tidak membuatkan aku track spikes khusus yang memiliki tungkai yang dinaikkan di satu sisi
karena aku pincang.
Yang menambah kemampuanku untuk menjadi pemecah persoalan bagi orang lain,
sebab aku paham konsekuensi dari sebuah cidera.
Dia mencegahku dari dikeluarkannya diriku dari tim dan kehilangan beasiswaku.
Aku tidak tahu akan seperti apa hasil sebuah disiplin arsitektur itu.
Kabar baiknya adalah bahwa aku baru tahu kalau aku bisa menggambar
dan itu benar-benar kebetulan.
Hal itu cukup mengejutkan.
Butuh waktu lama untuk bisa menggambar ini, akan kuceritakan hal itu.
Lihat benda kecil itu... Itu sebuah Rapidograph ...
Dan bekas tanda-tanda kecil itu...
Selama masa kuliah di sekolah arsitektur di sini,
Aku juga bekerja untuk Bill Bowerman.
Kami secara tak terduga menemukan gambaran seperti yang kubuat
sebuah desain awal dari salah satu track spikes Nike yang pertama.
Pokoknya aku tak ingin, seperti, mengutarakan apa yang kupikirkan,
Aku juga menggambar dan menuliskannya
beberapa, kupikir bisa dikatakan, interpretasiku atas desainnya.
Dalam hal ini, dia memintaku mencoba beberapa track spikes yang sedang dia kerjakan...
dan desain-desain itu tidak berhasil.
Mereka terlepas dengan sendirinya setiap kali aku akan mengujinya.
Tanpa kita semua ketahui sebabnya, Aku sedang belajar, aku kira,
bagaimana mendesain sepatu dan memecahkan masalah bagi para atlit setelah mengalami kekalahan.
Tengoklah kaki para atlit-pro yang telah bermain selama 10 tahun.
Mereka kepayahan, sebab sepatu mereka terlalu ketat.
Mereka mengikat sepatunya terlalu kencang sebab mereka menginginkannya melekat ketat,
tapi mereka terus begitu selama latihan dan bertanding,
dan kaki mereka berubah bentuk dan rusak dan kadang membuatnya cidera.
Studi-studi kami mengatakan jika kau bisa merawat kakimu lebih baik
dan memperoleh aliran darah yang lebih lancar, kebugaran yang lebih tinggi dan kenyamanan yang lebih baik,
kau benar-benar bisa bermain lebih baik.
Jika kau berdiri saat lemparan bebas,
tidakkah hebat jika sepatumu lebih longgar dan membiarkan...
Membiarkan darah mengalir kembali ke kakimu
dan memberi kakimu sedikit istirahat?
Dan begitu orang itu melontarkan lemparan bebasnya, si sepatu mengetahuinya?
Sepatu itu tahu bahwa kau hendak memulai bergerak cepat
dan mereka "zzzim" kembali lagi.
Kau duduk di sebuah bangku. Kenapa kau biarkan sepatumu ketat?
Mereka pokoknya "zzzz..." Mereka akan rileks.
Itulah saat aku memulai E.A.R.L.
E. A. R. L. Electro Adaptive Reactive Lacing.
Orang pertama yang kuajak bicara adalah developer Tiffany Beers,
untuk melihat jika kami bisa mewujudkan ide untuk memulai sebuah proyek seperti ini.
Bagaimana menurutmu?
Yah, aku bilang aku tak begitu yakin
sebab aku tidak memberi laporan kepadanya.
Dan jadi aku menghadap dan berbicara pada manajerku.
Mereka bilang, "Kau tak bisa bilang tidak pada Tinker. Yah, kau terima saja proyek itu.
jika dia bertanya padamu, kau menerimanya."
Kita mulai fokus terutama pada mekanismenya.
Seperti, bagaimana kita mengencangkan tali sepatu?
Bagaimana kita memikirkan performa dan sepatu itu tetap terlihat bagus?
Aku pikir inilah desain produk baru
yang akan menjadi bagian dari masa depan.
Aku pikir ada seni yang dilibatkan dalam desain.
Tapi menurutku, aku tak menyebutnya sebagai seni.
Persepsiku terhadap seni adalah bahwa hal itu
ekspresi-pribadi paling tinggi dari seorang individu yang kreatif.
Bagiku sebagai seorang desainer,
bukan tujuan akhir tertinggi untuk menjadi ekspresi pribadi.
Tujuan akhirnya adalah memecahkan persoalan untuk orang lain,
dan berharap karya itu terlihat hebat bagi orang lain
dan terlihat keren bagi orang lain.
Inilah cara kerja desain bagiku.
Aku mulai menggambar ruang angkasa.
Aku benar-benar hanya mencoba untuk merefleksikan mood -ku pada saat itu.
Aku mulai mendapat sedikit kesenangan bersama planet-planet
dan menaruh wajah-wajah padanya dan...
Aku taruh wajah George Jetsen.
Kau tahu, aku punya Bus Volkswagen,
Porsche Speedster , simbo-simbol perdamaian dan jari-jari.
Aku bahkan tak tahu kenapa aku melakukan ini, aku hanya melakukannya.
Aku menggambar kaki cheetah yang sebenarnya tertanam di dalam sebuah sneaker .
Dan aku semacam bergerak menembus dari halaman pertama ruang itu.
Kini aku menjadi lebih spesifik perihal inovasi secara umum.
Aku ingat seseorang pernah berkata padaku akan lebih bagus
jika Nike bisa membuat sepatu yang tak terlihat dan aku menggambar Invisible Man .
Ini hanyalah hal-hal yang melintas di kepalaku
dan aku cuma membuat sketsanya.
Semuanya ini berakhir berupa gambar sebuah sepatu.
Aliran kesadaran mampu membawamu ke suatu tempat.
Barangkali kau bahkan tak tahu kemana kau hendak menuju,
tapi bagaimana pun juga kau akan berhenti di suatu tempat, dan disinilah aku berakhir bersama sepatu.
Saat ini di Nike, kita tahu.
Kami mengembangkan salah satu laboratorium riset olah raga yang paling canggih di dunia.
Nike telah berkembang begitu cepat.
Kami mengarahkan industri ini,
fokus pada bola basket dan lari.
Reebok muncul, bersama kegandrungan orang pada aerobik.
Reebok menciptakan sepatu-sepatu aerobik. Itu adalah sesuatu yang baru.
Mereka punya produk yang pas pada saat yang tepat,
dan mereka benar-benar menyalip Nike dalam hal ukuran.
Jadi ada sedikit kepanikan dan Nike membuat orang-orang terombang ambing.
Mereka juga berpikir bahwa mereka perlu meningkatkan kemampuan grup desainnya.
Jadi, aku diundang untuk berpartisipasi dalam kontes desain 24 jam.
Tinker bukanlah seorang desainer sepatu pada saat itu.
Dia mendesain pameran-pameran penjualan dan display dan retail .
Aku bekerja selama 24 jam. Aku tidak tidur malam itu.
Kebanyakan desainer-desainer lainnya,
aku pikir, hanya mengerjakan apa yang pernah mereka buat,
dan itu bukanlah sesuatu yang benar-benar unik dalam hal bercerita.
Aku kembali masuk dengan sebuah presentasi yang besar,
semacam bersenang-senang dengan fakta bahwa ini adalah sepatu yang sempurna
yang cocok untuk naik skuter.
Dan lalu keluar dan lalu berlari-lari dan sedikit berjalan berkeliling.
Dua hari setelah kompetisi itu,
Aku... aku bahkan tak diminta,
Aku dibilang bahwa sekarang aku adalah desainer sepatu Nike.
Dalam jangka waktu yang pendek, aku bisa dikatakan menjadi desainer utama.
Salah satu proyek pertamaku adalah Air Max.
Aku rasa ini adalah kesempatan untuk berpikir dengan cara berbeda.
Nike adalah kapsul gas di dalam sebuah bantal udara urethane
untuk komponen perlindungan.
Aku pikir, "Ayo kita buat bantalan yang sedikit lebar, pastikan itu bisa stabil,
Tapi dengan begitu buang bagian tengah sol, jadi kita benar-benar bisa melihatnya."
Hal paling dekat dengan munculnya karya itu adalah, aku ingat waktu kecil,
melihat Elton John memakai sepatu hak tinggi dengan ikan emas di dalamnya.
Benar 'kan?Maksudku, itu sederhana, seperti, sangat... punk .
Aku pernah ke Paris
dan menyaksikan gedung-gedung yang sangat kontroversial yang aku sukai atau lebih sering aku membencinya,
'The Georges Pompidou Center', yang dedesain oleh Renzo Piano.
No comments yet. Be the first to leave one.