Prvních 200 řádků.
Sekuat apakah seni itu?
Mampukah ia merasa layaknya cinta, atau duka?
Dapatkah ia mengubah hidup anda? Bisakah ia mengubah dunia?
Pada tanggal 25 Februari 1970,
sembilan lukisan karya seniman Amerika Mark Rothko
tiba di Tate Gallery, London.
Beberapa jam sebelumnya, pada hari yang sama, jasad Rothko ditemukan,
tergolek di lantai kamar mandi studionya yg ada ditengah kota.
Sang Pelukis,
yang telah menghabiskan begitu banyak waktu dalam pikirannya sendiri di alam kematian,
telah bunuh diri,
dan kini, pamerannya di London seperti semacam musoleumnya sendiri.
Itulah sebabnya, pada musim semi tahun 1970,
Saya tidak merasa sedang terburu-buru untuk melihat lukisan-lukisan yang baru dipasang.
Sebuah monumen bagi gugurnya satu lagi pelukis abstrak Amerika,
tak terlalu banyak penghormatan.
Dan kita tidak bakalan menghormatinya secara berlebih, tidak pada tahun 1970.
Kita ada dalam era bermain-main. Andy Warhol!
Rosenquist! Lichtenstein! Wham! Shazam!
Lebih nikmat sembari mendengarkan rock and roll
dan menikmatinya dengan, yah, tidak berpikir terlalu kencang.
Gagasan bahwa seni harus serius telah padam,
seperti seseorang yang disuruh pergi ke gereja.
Fakta bahwa Mark Rothko melakoni yang disebut "bunuh dirinya seorang pelukis abstrak"
hanya menambah masa depan menjadi lebih suram.
Di lain pihak, saya sangat bersemangat untuk menonton ulang karya Francis Bacon.
Jadi, suatu pagi, pada musim semi tahun 1970,
ke Galeri Tate saya pergi,
berjalan ke sini dan berbelok ke arah kanan yang keliru.
Dan di situlah lukisan-lukisan itu. Terpampang dalam penantian.
Bukan, itu bukan cinta pada pandangan pertama.
Rothko bersikeras menyembunyikan pencahayaan hampir sampai seredup-redupnya.
Seperti sedang menonton bioskop,
berharapan dalam keremangan.
Sesuatu berdegup mantap di sana, berdenyut,
seperti dalam bagian tubuh, semuanya merah dan ungu.
Saya merasa ditarik melalui garis-garis hitam itu
ke dalam semacam tempat misterius di semesta.
Rothko mengatakan lukisannya dimulai
dari petualangan asing ke dalam ruang asing.
Aku tak yakin mau dibawa ke mana atau ke mana aku mau pergi.
Aku hanya tahu bahwa aku tak punya pilihan.
Dan tujuannya mungkin tidak seperti sebuah tempat piknik.
Konon 'uang mengikuti seni'.
Yah, seni juga seperti halnya uang.
Nyatanya, seorang pelukis menjadi patron kemakmuran hidup.
Jadilah, kepausan Roma dengan Caravaggio-nya,
Amsterdam abad ke-17 bersama Rembrandt-nya.
Ketika, pada tahun 1958, perusahaan minuman keras Kanada Seagram
menginginkan seorang pelukis menghias markas mereka di New York,
hanya ada satu pilihan yang mungkin, Mark Rothko.
Pelukis 55 tahun yang sedang berada di puncak ketenarannya.
Antara 1954 dan 1957, lukisannya telah tiga kali lipat harganya.
Mewakili Amerika di Venice Biennale,
lima lukisan lainnya sedang keliling Eropa
untuk membuktikan kepada dunia bahwa Amerika Serikat punya kedalaman dan bukan hanya mempesona.
Dia adalah pelukis terbesar Amerika yang masih hidup.
Atau begitulah kata mereka.
Tahun 1958, mungkin,
tapi dia telah melalui 30 tahun yang penuh dengan kesulitan keuangan
dan perjuangan mental, bergulat dengan pertanyaan terbesar,
"Apa yang bisa dilakukan dengan seni?"
dari kehidupan sehari-hari?
Mempertemukan kita dengan emosi-emosi dasar yang menjadikan kita sebagai seorang manusia,
ekstasi, kesedihan, gairah, teror?
Sang arsitek Gedung Seagram
mendekati Rothko untuk melakukan sesuatu untuk 'Four Seasons',
sebuah restoran mewah yang akan diletakkan di lantai dasar pencakar langit Manhattan.
Untuk lukisan seukuran 500-600 kaki persegi,
mereka setuju membayar Rothko $ 35.000.
Itu sekitar 2,5 juta dolar sekarang ini.
Komisi sebesar ini, jarang datang untuk kedua kalinya.
Orang lain akan melompat kegirangan pada tawaran seperti itu.
Tapi tidak dengan Rothko.
Dia berpikir panjang dan keras tentang itu, berbicara dengan semua teman-temannya,
memikirkanya bolak-balik.
Kenapa? Sebab ia ambivalen, dan bukan hanya perihal komisi,
tapi juga tentang kapitalisme Amerika,
tentang kisah sukses Amerikanya sendiri.
Lahir di Rusia pada tahun 1903,
Rothko di kemudian hari akan bilang bahwa sebagai seorang anak ia ingat
kaum Cossack melakukan kegiatan kesukaan mereka...
Memukuli orang-orang Yahudi.
Pada tahun-tahun pertama abad ke-20,
Amerika membuka tangan bagi keluarga Rothkowitzes dari Dvinsk,
seperti yang terjadi pada jutaan orang Yahudi lainnya datang melalui Pulau Ellis
ke 'Goldene Madinah', Kota Emas.
Nah, ada dua jenis orang Yahudi di Amerika,
mereka yang terjun ke bidang bisnis yang kotor dan kejam,
dan mereka yang membawa bersama mereka dari 'Dunia Lama'
hal yang paling berharga yang mereka miliki, kebudayaan.
Rothkowitz Senior adalah jenis kedua. Seorang apoteker yang pelamun dan kutu buku,
bahagia bercerita kepada anak-anaknya tentang Dostoyevsky dan Dickens
dari pada mengerjakan pembukuan.
Dia cukup kewalahan membawa si kecil Marcus bersama seluruh keluarga
keluar dari kesengsaraan di negara asal
dan meninggal karena kanker enam bulan kemudian.
Anak-anak Rothkowitz dibesarkan oleh ibu mereka, Anna.
Saya tahu jenis anak seperti ini, saya tumbuh dengan mereka.
Ia pergi ke sekolah Ibrani,
membaca segala jenis buku yang bisa direngkuh tangannya,
bermain tidak hanya biola tapi juga mandolin. Wow.
Orang dewasa menyebutnya chochom, Si Tahu Segalanya.
Mark adalah seorang yang cerdas, orang yang akan selalu berhasil.
Dan dia ingin menyenangkan ibunya.
Dia itu sangat-sangat berpendidikan, canggung, seorang Yahudi yang sentimental,
dalam cengkeraman ide-ide besar dan mati-matian ingin mengungkapkanya pada anda.
Gelisah di sofa dan melambai-lambaikan tangannya,
hati besar dan mulut besar bertarung.
Anda tahu sendirilah jenis orang seperti ini.
Rothko mendapatkan beasiswa kuliah di Universitas Yale,
tapi Yale tidak menginginkan orang-orang Yahudi sama sekali dan memberlakukankan kuota.
Rothko cepat menyadari bahwa tidak perlu sebilah pedang Cossack
untuk merasakan apa arti tidak dicintai.
Dia dikeluarkan.
Tapi dia adalah jenis orang Yahudi yang tak ingin jadi pengacara atau pialang saham.
Dia lain, sejenis manusia dengan kegatalan kreatif.
Orang yang berpikir bahwa seni bisa mengubah dunia.
Tepat, sebab ia benar-benar mempercayai hal itu, 30 tahun kemudian,
ia tak bisa menghindar dari pekerjaan Seagram,
tantangan terbesar dalam karirnya.
Rothko menyewa tempat yang luas
di Bowery nomor 222, tempat olah raga lama.
Setiap hari, ia datang di pagi hari pukul 8:30,
berganti dengan pakaian lukisnya dan mulai bekerja.
Saat ia memulai kerja pada musim semi tahun 1958,
Rothko menggambarkan mural Seagram sebagai semacam pengajaran tanpa kata-kata.
Penangkal kesia-siaan kehidupan modern.
Tapi apa yang mampu lukisan katakan?
Dan bagaimana karya seni bisa mengatakan itu?
Salah satu masalah mendasar dari komisi itu adalah masalah keber-jarak-an.
Segala sesuatu yang pernah dilakukan Rothko sejauh ini adalah skala manusia. Pribadi.
Tapi ini menyangkut masyarakat. Dan penduduk Manhattan sedang menyaksikan.
Lukisan itu hidup dari sebuah jalinan,
melebar dan mempercepat di mata seorang pengamat yang sensitif.
Mati dengan cara yang sama.
Oleh karena itu adalah tindakan berisiko dan tidak berperasaan
untuk mempertontonkannya ke dunia.
Sama seperti empu tua dia begitu dikagumi,
Rothko menyiiapkan kanvas-kanvasnya dengan lem kulit kelinci (gelatin) tradisional.
Dia bekerja cepat, dan lalu duduk, kadang selama berjam-jam, kadang-kadang berhari-hari.
Ketika seseorang bertanya, beberapa tahun kemudian, berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk membuat lukisan,
dia jawab, "57 tahun."
Ketika ia tiba kembali di sini pada tahun 1920, tentu saja, tak seorang pun meperhatikan.
Dia hanyalah 'jiwa tersesat' di kota New York pada era jazz.
Tapi, dia tidak lalu benar-benar berdiam diri.
Lebih seperti Marx dan Mozart,
ia bersemangat untuk melakukan sesuatu bagi dunia modern.
Sesuatu dalam 'mood' yang berlawanan dengan Busby Berkeley.
Rothko datang ke New York pada tahun 1923
untuk "berkeliaran, menggelandang, dan sedikit kelaparan," itu yang ia kemudian katakan.
Dia terdaftar di kelas seni dan, untuk memenuhi kebutuhan,
mengajar anak-anak di sebuah pusat komunitas Yahudi.
Ketika ia berdiri di depan kelas Brooklyn, semuanya tampak begitu mudah.
Dia akan memberitahu anak-anak untuk tidak begitu mempedulikan segala aturan.
Lukisan, katanya, adalah seperti halnya orang bernyanyi. Seharusnya seperti musik.
Tapi ketika ia mencoba, suaranya keluar parau.
Pekerjaan ini seperti imajinasi terikat yang menyakitkan.
Masalahnya adalah ia melakukan sesuatu yang anak-anak tidak lakukan,
yaitu berpikir terlalu keras.
Jadi, ia mencoba-coba ekspresionisme.
Cat hitam tebal.
garis-garis seperti sketsa.
Paha yang memakan Coney Island.
Tidak, tidak bagus.
"Akar-akar yang membelit"
"Apa cabang-cabang tumbuh dari sampah yang menggumpal?"
"Hai anak manusia, kau tidak bisa mengatakan atau menebak "
"Sebab kau tahu hanya tumpukan gambar berserak, di mana matahari membakar"
"Dan pohon mati tidak memberikan tempat berteduh, si jangkrik tak bisa melepas lelah"
"Dan batu kering tanpa suara gemercik air."
Seri Kereta Bawah Tanah
adalah karya-karya pertama Rothko yang dengan mudah anda kenali.
Penuh pria dan wanita terasing yang suram seperti di karya Waste Land-nya TS Eliot,
Lukisan ini mengandung keanehan yang menarik.
Menggambarkan sebuah adegan perkotaan sehari-hari
dan sarat sensasi yang kental tentang malapetaka.
Apakah komuter ini berasal dari Brooklyn
ataukah jiwa-jiwa gentayangan yang terjebak di api penyucian?
Orpheus mencari Eurydice di kereta D kota.
Arsitektur stasiun kereta bawah tanah, dengan tiang-tiang kolomnya yang sendu,
perhatiannya terhenti.
Tapi yang nyata terlihat adalah warna-warnanya.
Lihatlah tepi platform-nya, warna crimson yang berpendar brilian,
dan anda bisa lihat apa yang dimaksud Rothko ketika dia sebut warna sebagai pemeran utama.
Ini adalah keberangkatan yang dramatis tapi berada disana sebagai pelukis
akan membawanya 20 tahun lagi.
Pada tahun 1958, tiga bulan menjelang komisi Seagram,
Rothko memberikan kuliah.
Itu terakhir kalinya dia berbicara tentang seni
dan itu adalah laporan terdekat yang kita punya bagaimana ia memandang lukisannya.
Gagasan tragis sebuah gambaran
selalu muncul dalam pikiranku.
Aku tak bisa menunjuknya.
Tak ada tengkorak dan tulang.
"Masalah seni," katanya,
"adalah untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan dalam peradaban tertentu."
Menyangkal adanya sesuatu yang bersifat psikologis maupun internal atau pewahyuan tentang karyanyaa,
katanya, "Bukan, bukan. Ini tentang dan dari dunia."
Lalu ia lanjutkan menyebut daftar semua bahan yang membentuk menjadi sebuah lukisan Rothko
No comments yet. Be the first to leave one.