Simon Schama's Power of Art

Simon Schama's Power of Art

Stáhnout Indonesian titulky

Informace o verzi

BBC Power of Art (5 of 8) - Turner
Komentář od SugijoDwiarso

Tagy

other
Zveřejněno: 2016-04-07
Stažení: 27
Pro sluchově postižené: No

Náhled titulků v jazyce Indonesian

Prvních 200 řádků.

Beritahu mereka semua.

Mei 1840.

Pameran tahunan Royal Academy di London

mengalami sukses besar.

Pada papan pengumuman, semua pengulas setuju,

ada satu karya hebat yang tak terbantahkan.

Dilukis oleh Edwin Landseer, berjudul 'Laying Down the Law'.

Dan lukisan itu menampilkan, seekor pudel sebagai hakim.

Terhadap lukisan ini, para kritikus berpadu suara, sempurna.

Sempurna dalam eksekusinya, cita rasa dan perbaikan.

Tapi ada lukisan lain menggantung di pameran tahun 1840 itu

tentang yang apa yang benar-benar dicemaskan dan dicemooh

para kritikus

yaitu karya JMW Turner 'Slave Ship'.

Bagaimana mungkin kita bisa memandangnya sebagai sebuah karya 'masterpiece',

sementara para kritikus membandingkannya dengan sebuah kecelakaan di dapur

atau isi tempolong tempat ludah?

Apakah Turner telah mencapai puncaknya dengan perjalanan mimpi buruk penuh keringat ini,

gambaran fantastis tentang para budak yang dengan kejam dibunuh di laut ini?

Mengapa karya Turner diharapkan bisa membuat orang terharu,

bukannya memindahkannya untuk menggambarkan bahwa hal itu

sebagai karya absurd yang menjijikkan?

Ada apa dengan lukisan ini, penyelesaian tugas dalam karir Turner,

yang membebani kepalanya seperti sebuah badai yang melanda?

Kita semua berpikir bahwa kita mengenal Turner, bukan?

Ia tampak seperti orang Inggris yang hidup nyaman bagai secangkir teh.

Dia adalah, bagaimana pun juga, seorang pelukis favorit Galeri Nasional sepanjang masa.

Tapi ada Turner lain, Turner yang anda tidak ketahui.

Pelukis tentang kekacauan, kebakaran dan kiamat,

Lukisan-lukisan yang liar dan ambisius,

yang oleh seorang kritikus disebut "sebuah lukisan tentang omong kosong, dan sangat seenaknya."

Nah, ini baru Turner yang saya maksud, Turner yang ekstrim.

Penyair Cockney hanyalah contoh kecil dari kegilaannya.

Turner yang harus kita tahu, Turner yang benar-benar harus kita hormati.

Turner ini sedang dalam sebuah perjalanan visioner

yang akan berujung pada lukisan Inggris terbesar

abad kesembilan belas, 'The Slave Ship'.

Kenapa, baiklah.

Empat puluh tahun sebelum kegagalan heroik 'The Slave Ship',

Turner muda tak pernah salah.

di usia 20-an, anak seorang tukang cukur ini sedang bersiap

menyongsong sesuatu yang besar dalam dunia seni lukis Inggris.

Dengan kibasan kuasnya, ia bisa menebarkan 'debu peri'

di pedesaan Inggris yang sederhana.

Dan itu nantinya akan berubah menjadi sebuah tempat dengan pesona yang luhur.

Dan keindahan menelannya.

Inggris sedang berjuang demi kelangsungan hidupnya melawan Prancis,

dan romansa Albion

belum pernah tergigit lebih parah ke dalam imajinasi nasional.

Turner, sementara itu, baru saja diberi satu kehormatan besar.

Beasiswa dari Royal Academy di usianya yang masih 26 tahun.

Kini, ia harus memberikan mereka hadiah sebuah lukisan untuk menandai diterimanya dia di akademi itu.

Dia memberi mereka ini.

Yang bisa dikatakan, kejutan.

Istana Dolbadern di Snowdonia

di mana seorang pangeran dari Welsh pada abad pertengahan, Owen Gough, menemui ajalnya.

Pada kenyataannya, itu hanya sebuah tumpukan batu sederhana di atas bukit,

tapi Turner mendramatisasinya, dengan cahaya latar pada karang terpencil itu,

hingga istana itu jadi sebuah personifikasi dari pangeran yang menantang itu.

Simbol tragis dari kebebasan yang terpenjara.

Tapi pada saat itu orang tidak mengerti, ia menambahkannya sebuah puisi kecil.

Betapa mengerikan keheningan mereka yang terbuang

Di mana alam mengangkat gunung-gunungnya ke langit

Kesendirian agung

Lihatlah menara

Dimana Owen yang malang lama terpenjara

Dan meremas-remas tangannya demi kebebasan yang sia-sia

Baiklah, itu tidak persis karya Keats, tetapi Turner berhasil dengan epik-nya.

Ini semua tentang suasana, tidak ribet, penggambaran topografiis.

Sebab itulah yang Inggris inginkan dari Turner, sebuah sentimen biologis,

naluri di dalam darah,

pengaturan yang luar biasa dari cahaya, udara dan air, bagai opera.

Elemental, heroik, legendaris.

Lukisan itu memuluskan jalan pemuda itu ke dalam tingkatan tinggi di Akademi.

Tetapi harus menjadi perhatian semua orang

bahwa ini adalah seorang pelukis yang tidak pernah puas hanya untuk jadi menarik dan cantik.

Turner bisa saja hidup layak dengan sempurna,

tapi ia buang jauh-jauh kesenangan dan kenikmatan.

Dalam imajinasi yang subur,

Tapi sesuatu yang besar dan berdarah-darah sedang mengaduk-aduk.

Tapi dia masih punya cita-cita yang harus diwujudkan.

Dia belum lagi siap untuk menjadi seorang penggubah epik-epik kelam.

Ini waktunya untuk menikmati menjadi seorang JMW Turner, RA.

Dia sibuk bergumul dengan uang dan komisi,

dan dia membeli sebuah rumah di West End buat lukisan-lukisannya, dirinya dan ayahnya,

yang dengan tanpa malu-malu dia jadikan pembantu serba gunanya.

Ayah akan merentangkan dan menyiapkan kanvasnya.

Ayah akan berpatroli di galerinya.

Ayah akan memelihara kebun sayur di pinggir sungai

dan bersenang-senang dalam ketenaran dan keberuntungan anaknya.

Ayah yang baik.

Tapi, ikatan keluarga yang konvensional tampaknya tak berarti banyak bagi Turner.

Tak ada Ny. T yang mendampingi di rumah.

Pernikahan dan seni tidak pernah sejalan, katanya.

Malahan, ia mencari kekasih seorang janda temannya, Sarah Danby,

dan menjadikannya sebagai gundik.

Dia bahkan memiliki dua anak darinya.

Terlebih lagi, Sarah adalah sumber imajinasi erotisnya.

'Drawing-drawing'-nya menggambarkan dia menikmati banyak kesenangan seks seperti bulan purnama di atas Buttermere.

Sampai akhirnya keinginan Turner dipublikasikan

hingga siapa pun tahu tentang Sarah Danby dan anak-anaknya.

Dan erotika tetap ditutupi dengan rapat selama hidupnya.

Turner memilih menjalani sebagian hidupnya di tengah bayang-bayang fantasi rahasia.

Tapi ketika ia muncul dari dunia itu dan berjalan-jalan di tepi Thames,

ia terlibat dalam fantasi yang lain lagi.

Bahwa ia tinggal di sebuah negara yang miskin, kelaparan dan kesengsaraan telah dibuang.

Thames-nya Turner adalah suatu tempat

ketika romansa Inggris mendatanginya dengan intensitas liris.

Sebuah tempat dengan ketenangan yang nyaris memabukkan.

Ini adalah pencarian kesenangan, penghiburan publik oleh Turner.

Dan mungkin saja dia bisa nyaman dalam dunia mimpi yang memanjakan ini,

lembut dibelai kepuasan diri 'Regency England' ini.

Tetapi bahkan saat ia terhanyut lewat 'Home Counties Eden'-nya,

Turner pasti menyadari bahwa di samping segala yang sempurna ini, ada Inggris yang lain,

Inggris yang dalam kesulitan.

Dan sesuatu di dalam diri Turner ingin melukis Inggris yang itu juga.

Untuk itu di awal tahun 1800-an,

tahun terberat dalam sejarah Inggris modern,

saat ketika jarak antara

khayalan dan kenyataan di Inggris sedang pada tahap yang paling lebar.

Kerajaan seharusnya menjadi panutan stabilitas politik dan sosial.

Tapi banyak pengangguran terjadi, kelaparan, kemarahan, pembakaran di pedesaan,

hantaman mesin-mesin di kota-kota.

Perang berdarah-darah dengan Napoleon dari Perancis terus menerus menggerus.

Ini adalah masa-masa yang sulit, masa-masa yang radikal.

Jadi Turner menghasilkan lukisan kasar Britannia yang sedang kacau.

Apa khayalan anda yang paling nikmat dari Inggris lama?

Musim panas? Sebuah piknik?

Yah, inilah fajar musim dingin yang menggigit, dan itu bukanlah piknik.

Seekor kelinci yang tertembak tersampir di bahu seorang gadis.

Jejak-jejak bekas roda.

Dua orang menggali sebuah lubang, atau apakah itu sebuah liang kubur?

Anda bisa merasakan kerja berat di tanah beku yang keras itu.

Semuanya tanpa ekspresi, tanpa rasa sentimental, capek.

Sebagaimana hal yang sebenarnya terjadi.

Kapan Constable mengalami musim dingin itu di Utara?

Mengapa Turner melakukan sesuatu yang begitu berat hati?

Yah, di Yorkshire, ia berteman baik dengan seseorang

yang akan mengubah caranya melihat dunia.

Pandangan Walter Fawkes terhadap Inggris tidak sama sekali berbeda,

dan dia bukan seorang pria desa yang biasa.

Dia seorang politisi yang militan,

momok dari kemapanan Tory lama.

Namun penyebab yang paling disayangkan bagi pria terhormat yang radikal ini

adalah perang salib moral pada saat itu,

penghapusan perdagangan budak.

Kemarahan Fawkes meresap ke dalam imajinasi Turner.

Suatu hari pada tahun 1810,

Turner mengajak anak lelaki Fawkes berjalan- jalan di Yorkshire Moor setelah badai mereda.

Keduanya membuat sketsa. Turner mengeluarkan pensilnya.

"Itu, Hawkey," katanya, "Dalam dua tahun kau akan melihat ini, dan akan berjudul

'Hannibal Crossing the Alps'."

Jadi badai selama di Yorkshire Moor

berubah menjadi bencana tak tertahankan di pegunungan Alpen.

Sebuah badai salju terus-menerus dan sinar matahari yang pucat.

Tentara Hannibal adalah korbannya,

seperti pendakian berat menyeberangi jalan setapak pegunungan Alpen.

Para pejalan kaki yang ditikam mati oleh manusia-manusia gunung yang menakutkan,

sementara pusaran penghisap melayang di atas adegan itu

seperti burung pemangsa jahat raksasa.

Turner melakukan sesuatu yang luar biasa dengan badai Yorkshire Moor itu.

Ini bukan hanya cuaca dahsyat, ini adalah sebuah perhitungan kosmik.

Hannibal adalah sebuah 'hit'.

Orang berkerumun di sekelilingnya begitu padat,

para penonton sikut sikutan supaya mereka bisa melihatnya.

Tapi mengapa lukisan ini menarik banyak orang?

Bukan karena itu adalah adegan dari sejarah kuno,

tetapi karena semua orang tahu itu juga sebuah lukisan modern.

Sebuah cerita kontemporer.

pembalasan yang ditujukan pada penyerang arogan

yang melintasi Alpen untuk mencari kejayaan.

Pasukan panah musuh itu, Napoleon.

Dalam sebuah penghancuran, Turner menyusutkan sang komandan perkasa

menjadi figur mungil, nyaris menggelikan di latar belakang yang terpencil,

di atas gajah yang terlihat lebih seperti kumbang tahi.

Meskipun begitu anda harus katakan ini tentang Turner. Dia pada saat yang sama adalah seorang pesimis.

Sebesar keinginan dia melihat berakhirnya Napoleon,

dia punya cara yang sangat lucu dalam merayakan peristiwa Waterloo.

Pada tahun 1817, apakah dia melukis kejayaan Wellington

dan lapangan penuh pasukan infantri merahnya yang gagah?

Tidak, dia memberi kita selembar karpet penuh mayat dalam kegelapan.

Istri dan orang-orang terkasih dengan bayi mereka,

dengan sedih mencari orang-orang yang mereka cintai dalam pembantaian itu.

Penampakan murni dari neraka.

Lebih daripada memuliakan Iron Duke,

tampaknya untuk memberi contoh salah satu putusan penghukumannya.

Hal terburuk berikutnya adalah kekalahan perang kepada kemenangan perang.

Tidak heran hal itu tak sampai tahun 1980-an lukisan ini ditampilkan dengan selayaknya.

Penolakan Turner untuk menabuh drum patriotik atau mengibarkan bendera menjauhkan dia dari pelanggan.

Tapi dengan 'The Field of Waterloo', dia meraih sesuatu yang mendalam.

Sebuah karya seni Inggris yang hendak bertindak bagi penderitaan korban.

Tapi, kemudian, Turner mengerti semua hal tentang kebanyakan masyarakat umum.

Dia bukan seorang seniman 'gentleman'.

Ia lahir dan dibesarkan di gang-gang belakang yang kotor di Covent Garden,

di mana setiap hari, ia mengusap bahu dengan putus asa dan tanpa daya.

Ini tidak membuat karya 'Waterloo'nya atau segala epik-epik sejarahnya

merupakan manifesto bagi revolusi.

Lukisan-lukisan lebih agung, lebih mengganggu dari itu semua.

Mereka telah tersucikan lewat karya-karya itu

kebenaran yang tragis tentang ketidakberdayaan dari orang-orang biasa

Simon Schama's Power of Art subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Simon Schama's Power of Art

Komentáře

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left