Prvních 200 řádků.
Aku bersumpah.
Aku tidak pernah punya niat berkhianat.
Jangan menyepelekan sumpah.
Kau sudah lancang menodongkan pedang ke arahku.
Itu bentuk pengkhianatan!
Aku harus bagaimana
agar Paduka memercayaiku?
Mengakulah bahwa kau sungguh mata-mata…
lalu bunuh diri.
Mengapa?
Kau tidak sanggup?
Ingat perkataan Paduka kali terakhir
sebelum aku dibawa ke Shenyang?
Kejadian itu sudah bertahun-tahun lalu.
Mana mungkin aku masih ingat?
"Kembalilah hidup-hidup.
Aku tak akan memaafkanmu
jika kau mengingkari titahku ini.
Aku kakakmu satu-satunya…
dan kau adikku satu-satunya.
Aku juga terluka jika kau terluka.
Jadi, berhati-hatilah dan kembali dengan selamat."
Aku pasti gila waktu itu.
Perkataan itu sama sekali tidak tulus dari dalam hatiku.
Aku tak peduli meski Paduka berusaha melukaiku dengan perkataan itu.
Paduka sangat menyayangiku sejak kecil,
dan aku yang paling tahu soal itu.
Ya, dahulu memang begitu!
Kupikir itu jalan kebebasanku dari tekanan Ibu Suri.
Agar aku bisa bertahan
sampai naik takhta menjadi raja.
Aku…
sama sekali…
tak pernah menyayangimu.
Aku…
sekalipun tidak pernah tidak menyayangimu, Kak.
Kau memohon nyawamu diselamatkan dengan cara berbohong?
Aku tidak bisa bunuh diri.
Kakak saja yang bunuh aku.
Baik!
Jika itu maumu…
akan kubunuh kau
dengan tanganku sendiri.
Jangan benci aku.
Ini permintaanmu sendiri.
Jangan khawatir.
Aku akan meninggalkan dunia ini
tanpa kebencian dan penyesalan.
Semoga…
Paduka bisa terbebas dari hasutan…
dan menjadi raja bijaksana.
Kakak!
Kakak!
Ada apa ini?
Kau minum obat yang belum dicicipi.
Ada orang di luar?
Apa tidak ada orang di luar?
Ada apa…
Paduka Raja…
Cepat panggil tabib!
Apa?
Ya, baik.
Paduka…
Jika…
aku mati sekarang,
hanya akan ada satu orang…
yang mendapatkan keuntungan.
Tadi…
katamu…
kau tidak pernah punya niat berkhianat.
Katamu kau tidak bohong sama sekali.
Apa kau bisa bersumpah soal itu?
Ya.
Aku bersumpah.
Ini wasiatku.
Hukumlah…
orang yang mencelakaiku…
dengan tanganmu sendiri…
dan buatlah…
Pangeran Kerajaan naik takhta menjadi raja.
Jangan…
percaya kepada siapa pun.
Siapa pun…
Kumohon…
nanti saja bicaranya.
In…
Adikku,
In.
Aku…
sudah…
Kakak.
Kakak.
Yang Mulia!
Para tabib sudah tiba!
Paduka Raja pingsan.
Cepat obati dia.
Cepat rawat dia!
Maafkan aku.
Bunuh saja kami, Yang Mulia!
Mengapa harus membunuhmu?
Apa maksudmu?
Paduka Raja…
sudah mangkat.
Hongjang.
Bertahanlah sedikit lagi.
Yang Mulia Pangeran Agung pasti akan menyelamatkan kita.
Baik, Tuan.
Yang Mulia.
Aku segera datang saat mendengar kabar bahwa Paduka Raja sudah mangkat.
Jika aku mati sekarang,
hanya akan ada satu orang…
yang mendapatkan keuntungan.
Ini wasiatku.
Hukumlah…
orang yang mencelakaiku…
dengan tanganmu sendiri…
dan buatlah…
Pangeran Kerajaan naik takhta menjadi raja.
Yang Mulia.
Aku yakin Yang Mulia pasti sangat sedih
karena mengkatnya Paduka Raja.
Namun, penyakit Paduka memang sudah parah.
Kakakku…
diracuni.
Siapa yang berani melakukan hal kurang ajar seperti itu?
Siapa yang meracuninya?
Harimau sudah lenyap.
Kini, dunia akan penuh dengan hiena.
Mereka akan menyerang secara terang-terangan
tanpa menyembunyikan niat buruk mereka lagi.
Ingat perkataanmu waktu itu?
Yang kukatakan waktu itu?
Katamu, waktu itu…
aku tak boleh menolak menjadi raja yang memerintah dan berkuasa di negeri ini
karena itu sudah takdirku.
Aku…
akan menerima takdir itu.
Keputusan bijak, Yang Mulia.
Ayo kita segera ke istana Ibu Suri.
Yang Mulia.
Ada apa?
Kita tak bisa meyakinkan Kim Jong-bae
dengan perintah Ibu Suri.
Namun,
bukankah kita tak punya solusi lain sekarang?
Biar kuhapus darah ini dahulu.
Maafkan aku.
Apakah Paduka Raja…
meninggalkan wasiat?
Maafkan aku.
Aku tidak berada di sisi Paduka saat beliau mangkat.
Paduka Raja mangkat secara tiba-tiba.
Mustahil dia sempat memberikan wasiat.
Kalian semua salah.
Paduka Raja meninggalkan wasiat.
Paduka Raja meninggalkan wasiat kepada siapa?
Kepadaku.
Aku yang dapat wasiat darinya.
Paduka Raja mangkat secara tiba-tiba.
Bagaimana bisa Anda dapat wasiat dari Paduka?
Ini berkat Menteri Kim.
Aku menemui Paduka Raja untuk membuktikan aku tak bersalah,
tetapi malah menerima wasiatnya.
Lantas,
apa wasiat Paduka Raja?
Paduka mau aku meneruskan takhtanya.
Meneruskan takhtanya?
Apa…
maksud…
"Jadilah raja.
Pertahankan takhtamu dan lindungi bangsa serta rakyat."
Omong kosong!
Paduka Raja mustahil memberi wasiat itu!
Lancangnya kau!
Beraninya kau mencurigai Yang Mulia!
Paduka Raja…
tidak pernah memercayai Pangeran Agung sejak dia kembali dari Shenyang.
Namun,
katamu dia mewasiatkanmu
untuk naik takhta menjadi raja
dengan menyingkirkan Pangeran Kerajaan?
Kau bahkan sedang dicurigai sebagai
dalang mata-mata!
Aku pun terkejut mendengar wasiat itu.
Namun,
di saat-saat terakhirnya,
Paduka Raja menyadari kesetiaanku…
dan mencemaskan bangsa serta rakyat kita yang berada dalam keadaan krisis.
Maka…
Paduka Raja memilihku,
alih-alih Pangeran Kerajaan.
Buktikanlah…
jika perkataanmu memang benar.
Ada orang yang mendengar wasiat itu bersamaku.
Siapa orang itu?
Masuklah dan katakan.
Ini perkara sangat penting.
Jadi, kau tak boleh berbohong sama sekali.
Benarkah Paduka Raja memberi wasiat
kepada Pangeran Agung Jinhan?
No comments yet. Be the first to leave one.