Prvních 200 řádků.
- Diterjemahkan oleh C. Sugiarto --
Namanya, Nyad, dalam bahasa Yunani berarti "peri air".
Diana Nyad, 28 tahun,
berenang untuk menaklukkan satu perairan lagi.
Perenang maraton juara dunia,
juara Phi Beta Kappa, ahli bahasa, penulis.
Nona Nyad memegang rekor dunia Capri ke Napoli, Italia.
Dia berenang 51,5 kilometer melintasi Danau Ontario.
Dia berenang mengitari Pulau Manhattan,
membuat rekor baru untuk 45 kilometer itu.
Pertanyaan dari jutaan orang yang enggan berenang di Manhattan adalah mengapa?
Konon ini kerumitan terkait emosi terdalamnya.
Berenang jarak jauh 143 kilometer dari Bahama ke Florida
butuh 27 jam 38 menit untuk diselesaikan,
dan itu rekor laut terbuka baru.
Sambutlah, Diana Nyad.
THE TONIGHT SHOW, 5 SEPTEMBER 1979
Selamat.
Kau bosan diberi selamat atas pencapaian luar biasa itu?
Tidak, aku tak bosan. Itu sepadan.
- Ya… - Senang bertemu denganmu.
Aku bertanya-tanya kapan bisa bertemu denganmu.
Renang yang aku mau adalah 60 jam, dua setengah hari.
Kuba ke Florida.
- Itu sangat berani dan… - Dua setengah hari?
Sangat ambisius, tapi kurasa aku bisa.
Itu renang terakhirku.
Enam puluh jam nonstop di laut lepas.
168 KM, 200.000 HELAAN
Seperti menang emas Olimpiade.
Menurutku, Bahama adalah hidangan pembuka,
Kuba adalah hidangan utama, dan pensiun adalah penutupnya.
Berenang di Kuba berat.
Maksudku, kurasa tak ada yang tahu apakah itu bisa dilakukan.
Diana Nyad memiliki keinginan kuat
menuntaskan renangnya, membuat rekor dunia, dan diabadikan.
Namun, sejak awal dia tahu peluangnya untuk finis hanya 50-50.
Nyad bilang ini renang terakhirnya.
Kami semua merasa dia bisa finis jika dia beristirahat.
- Kariermu selesai? - Ya, untuk renang maraton.
22 AGUSTUS 2010
Seluruh dunia tertidur.
Saat terjaga pun, mereka tak ada.
- Aku tahu. - Kemalasan menular.
Kita diharapkan ikut mengangguk
seakan-akan itu normal menjadi orang-orang dangkal.
Ini soal usia 60?
- Apa? - Enam puluh?
- Bukan. - Baik.
Untuk besok, aku tak mau apa-apa. Jangan siapkan kue.
Bahkan kue toko kelontong.
Untuk orang yang enggan merayakan, kau sering menyebutnya.
Ya.
Jangan dibesar-besarkan, ya? Hanya kita. Mungkin Scrabble.
Bagus.
Aku tak buat rencana karena dilarang 37 kali.
Ya. Jangan lakukan itu.
- Lupa kantong kotoran. - Bonnie, itulah alasanmu pergi ke Petco!
Aku tahu. Ayo, langkah kita akan bertambah.
Ayo. Satu, dua, tiga. Kau pasti bisa.
Teddy, hai.
Hai.
Bisakah kau duduk?
Anjing pintar.
Anjing pintar.
Pintar.
- Pintunya terkunci. - Selamat ulang tahun.
Kubawa Scrabble-ku karena, meski tak kau akui,
kau tak punya satu G, dua E, dan satu kotak kosong.
- Sini. - Makan apa?
- Aku mau tunjukkan sesuatu. - Kenapa bicaramu begitu?
Bagaimana?
Bicaramu jelas.
Rambutmu ditata?
Kejutan, Diana!
Apa?
Selamat ulang tahun, Diana!
Kubilang jangan buat pesta.
Kau tidak serius.
- Kau senang? - Ya.
- Tiup lilinnya. - Baiklah.
- Aku harus buat permintaan. - Buat yang bagus.
Buat permintaan.
Aku berharap…
Usiaku lima tahun,
dan ayahku menjatuhkan Kamus Webster di pangkuanku.
"Sayang, Ayah menunggu lima tahun
sampai kau siap untuk menunjukkan
namamu di halaman buku.
Arti namamu, dalam mitologi Yunani,
nenek moyang Ayah,
adalah peri yang berenang di danau, sungai, dan lautan."
- Cukup. - "Ini takdirmu."
Aku akan menculiknya sekarang. Ayo.
- Ini bagian bagusnya. - Pernah dengar ini?
Pasti pernah. "Buat mereka penasaran."
Itu tak pernah berlaku untukku.
- Kemarilah. - Apa?
- Ada Nina. Dia masih… - Lihat di sana.
Dia pakai celana putih, dan dia tinggi.
- Astaga. - Apa?
- Entahlah. - Kenapa?
Dia tampak sedikit…
Cantik? Tampak normal? Tidak gila?
Dia tahu banyak tentangku?
Dia memasang postermu di dindingnya dan wajahmu ditato di bokongnya.
Ya.
- Itu tidak lucu. - Bicaralah dengannya.
Kau akan bertanya tentang dirinya,
dan kau tak akan bicara tentang dirimu sendiri.
Aku pernah ke Vietnam, Uganda,
gua-gua Belize, Sydney.
Meliput Olimpiade di sana.
Tiga puluh tahun di ABC Sports membawaku ke seluruh dunia.
Tapi tempat favoritku, Kuba.
Aku yakin kau bisa menebaknya. Kurasa kau tahu…
- Ya. - Ya.
Kuba, itu terbayang dalam imajinasiku sejak aku masih kecil.
Tempat ajaib di seberang perairan.
Negeri terlarang.
Kita dilarang ke sana, dan sebaliknya.
Itu luar biasa.
Kenal Bonnie dari mana?
Kupikir mungkin kau dan dia…
Bukan, kami sahabat.
Kami sempat berkencan 200 tahun lalu, tapi…
Jadi, ceritakan sesuatu tentangmu.
Hanya karena berjalan menuju kematian,
bukan berarti kita pasrah pada hal yang biasa saja.
Kau berusia 60 tahun, dan dunia memutuskan kau sekantong tulang.
Usiaku 58, aku tak tahu.
Sepertinya berjalan lancar dengan entah siapa namanya.
Ya, menyenangkan. Dia menyenangkan.
Menyenangkan. Tidak, bukan itu.
Masalahnya, berkencan. Kurasa aku tak butuh itu lagi.
Aku mengerti. Aku juga.
Jadi, apa persoalannya? Pekerjaan?
Semuanya.
Paham? Di mana keunggulannya?
Ya Tuhan.
- Aku serius. - Itu lagi.
Rasanya aku tak tahan lagi.
Jika kau merasa seperti itu, lakukan sesuatu.
Mau main Scrabble?
Aku harus cuci piring. Aku sibuk.
Jadi, kau takut kalah. Baik, kuingat itu.
Kau akan kukalahkan!
Kau akan kalah, Nona.
Sekantong tulang atau bukan, aku tak diskriminatif.
- Bon? - Ya?
Pestanya sangat bagus.
Bukan masalah. Ayo.
Bersiaplah untuk kalah. Bersiap mati!
INTAN HANYA GUNUNGAN BATUBARA YANG TERSEMBUNYI!
Akhirnya aku memeriksa kotak tua ibuku, barang-barang dari panti jompo.
Dengarkan ini.
"Katakan, apa yang kau rencanakan dengan hidupmu yang liar dan berharga?"
Mary Oliver.
Kau tahu Mary Oliver?
Kutipan terkenal.
Aku tak suka puisi.
- Karena tak sabar. - Kenapa tak berterus terang?
Aku harus menyimpan ini.
Ini konyol. Jangan simpan apa pun.
Lihat ini.
Kau akan simpan ini, New Yorkers ?
Maksudku, lihat, 2006. Seperti penimbun.
Jadi, aku berpikir, apa Lucy membaca puisi ini?
Apa dia menandai halaman ini?
Tapi aneh, kan? Selama hidupnya, dia tak berbuat apa-apa.
- Mendiang ibumu? - Kau tahu maksudku.
Dia tidak aktif, dia pasif,
dikendalikan oleh ayahku sampai dia meninggalkan kami.
Jadi, aku berpikir puisi ini pasti berarti baginya.
Dia menyimpan buku ini.
Apa yang dia rasakan tentang hidupnya, dan apa ini pesan untukku?
- Pesan. - Lalu aku sadar, lihat.
Ini bukan miliknya.
Milik pria bernama Uli, tetangganya yang 102 tahun.
Mungkin Uli meninggalkanmu pesan.
"Apa lagi yang harus kulakukan?
Bukankah semuanya mati pada akhirnya dan terlalu cepat?
Katakan, apa yang kau rencanakan dengan hidupmu yang liar dan berharga?"
Aku mengalami dilema dalam upaya yang berat ini,
yaitu renang maraton,
antara tidak ingin merasakan semua ketidaknyamanan itu lagi,
merasakan kebosanan, muntahnya, dinginnya, dan waktunya.
Aku mengalami dilema antara itu dan membenci
harga diri yang bisa hilang jika tak kulakukan.
Kurasa kata itu "kebanggaan".
Aku merasa gagal, terutama secara mental.
Baiklah, ini hanya berenang.
Bukan masalah.
Tiga puluh tahun. Hampir tak pernah.
Halo, Kegelapan, teman lamaku
Aku datang untuk bicara denganmu lagi
Karena visi merayap dengan lembut
Meninggalkan benihnya saat aku tidur
Namun, visi yang tertanam di otakku itu
Masih tersisa
No comments yet. Be the first to leave one.