Prvních 200 řádků.
Namaku Rangaraya Sakthivel.
Dari Kayalpattinam.
Aku, Rangaraya Sakthivel, dari lahir sudah bernasib
untuk menjadi seorang gunda , preman, yakuza.
Kata "yakuza" berarti gangster dalam bahasa Jepang.
Dewa Kematian sangat menyukaiku.
Dia terus mengejarku.
Saat masih dalam rahim ibuku,
Maut mengikuti kami di kereta api ke Delhi.
Namun, bukannya menjemputku, Maut malah merenggut ibuku.
Saat kereta tiba di Delhi …
aku sudah jadi yakuza.
Sejak saat itu, aku dan Maut
bermain untuk mencari pemenangnya.
Apakah kau? Atau aku?
Ayo!
Inilah kisah antara Dewa Kematian dan aku.
1994 - DELHI LAMA
Kakak!
Amaran.
Amaran, tunggu, aku dulu.
Koran!
Cepat! Aku terlambat.
Ada hal baru apa? Ada berita bagus?
Ada apa?
Kau membunuh orangku, dan aku membunuh orangmu.
Kalian berdua masih belia saat kutampung.
Ya, benar. Terima kasih untuk itu.
Karena kau paham kami tidak takut apa pun.
Aku ajari kalian bidang ini.
Sebagai gantinya, kalian…
Tn. Sadanand.
Kau kemari mau membahas masa lalu?
Aku dulu!
Curang!
Aku mau berkompromi.
Bagaimana bisa percaya dia?
Koran.
Kakak!
Aku mau yang pertama.
Baiklah, silakan.
- Hei, aku menang! - Chandra, dasar curang!
Minggir!
Kenapa kau setuju berdamai?
Kau lupa berapa uang dan orang kita hilang karena dia?
Dia bersumpah demi nyawa kedua keponakannya.
Perang ini haruslah berakhir.
Aku tak percaya Sadanand.
- Kalian bersalaman. - Sadanand berkhianat.
Amaran!
Chandra!
Tukang koran.
Minggir!
- Kakak! - Dia jalan lari kita.
Tahan! Tahan tembakan!
Sakthivel, kau dikepung.
Letakkan senjata kalian.
Tak apa-apa, Pak?
- Balas tembak. - Orang terluka!
Tembak!
Ayah!
Ayah!
Ayah!
Ayah!
Ayah!
Minggir! Rasakan ini.
Ayah!
Ayah!
Ayah!
Ayah!
Ayah!
Ayah!
Kakak!
Ayah!
Chandra?
Chandra!
Pintu belakang. Ayo!
Chandra!
Turunkan anak itu…
Berhenti menjerit!
Lari!
Lewat sini. Ayo cepat.
Pak…
Sakthivel!
Jangan takut.
Kau tamengku.
Dia takkan menembak.
Kalau aku luput dan anak itu tertembak, kau tanggung jawab.
Tancap gas!
Ayo! Cepat!
Abaikan sakitnya. Makin dipikirkan, makin sakit.
Kau dari tempat kumuh?
Gunting.
Tinggal dengan siapa?
Ibumu?
Ada kerabat? Kakek, nenek, bibi?
Hei! Jawab!
Chandra.
Minta Chandra mengurusmu dengan baik. Akan kubantu biayanya.
Chandra adikku.
Usia empat tahun.
Dia di mana?
Mengantar koran bersamaku.
Dia hilang di tengah kekacauan. Kudengar jeritannya.
Lalu aku tak tahu lagi nasibnya.
- Nyonya, Chandra? - Aku tak tahu, Nak.
- Sudah lama tak kulihat. - Chandra!
- Kau lihat Chandra? - Tidak. Apa yang terjadi?
Kau tahu cara ayahmu meninggal?
Ya.
Kau tahu siapa penembaknya?
Kau dan orangmu menembaknya, mengira dia polisi.
Katakanlah itu yang terjadi.
Aku butuh uang.
Akan kuganti saat aku mendapat uang.
Uang? Untuk apa?
Kalau ini kucetak di kolom "orang hilang",
Chandra akan mencariku.
Berapa lama pun, di mana pun dia berada,
akan kucari Chandra-mu dan kubawa kepadamu.
Fotoku?
Aku ambil.
Kau menyelamatkanku.
Kau melindungiku dari Dewa Kematian.
Kedua takdir kita ditulis menjadi satu.
Oleh siapa?
Dia.
Kau dan aku ditakdirkan menjadi satu.
Hingga akhir.
Bebaslah! Kebebasan, kebebasan, kebebasan
Kau bebas! Kebebasan, kebebasan, kebebasan
Bebaslah! Kebebasan, kebebasan, kebebasan
Aku bebas!
Shanthi.
Mau nanti Ayah jemput?
Aku akan pulang sendiri, Ayah.
Aku tak dengar ucapan orang palsu Bilang oh
Aku tinggi di atas nyala api Aku memudar oh
Aku raja permainanku Permainanku, permainanku oh
Raanu.
Kebebasan
Kau bebas! Kebebasan, kebebasan, kebebasan
Kita harus bagaimana?
Aku tak peduli.
Bebaslah! Kebebasan, kebebasan, kebebasan
Kau bebas! Kebebasan, kebebasan, kebebasan
Aku raja permainanku Permainanku, permainanku oh
Raanu, aku cinta kau!
Aku membuat kesalahan buruk, Ayah.
Raanu mengecewakanku.
Aku tak lihat jalan keluarnya.
AYAH
Raanu, sekali lagi!
Sivaguru, Sadanand turut berduka setelah tahu soal putri Manickkam.
Dia mau bicara denganmu.
Dia bohong.
Raanu keponakannya. Dia tidak mau sampai terluka.
- Tutup! - Mereka akan bahas…
Chinnavar bertanya dia harus bilang apa lagi.
Kesalahan bisa terjadi, Sakthivel.
Anak muda membuat kesalahan begitu.
Sivaguru, tutup.
Aku belum selesai. Jangan ganggu keponakanku.
Dia mengancamku?
Aku menjadikanmu seperti sekarang!
Sebentar …
Bilang keponakannya tamat.
Keponakannya tamat.
Bodoh!
- Paman, dia gila. Aku bisa apa? - Diam!
Dia bunuh diri. Aku tak membunuhnya.
- Diam! - Berhenti!
Telepon Deepak.
Akan kuusahakan.
Telepon Menteri Brij Mohan.
Ayo, telepon dia!
- Hei! - Hei…
Waspada! Area ini milik Pasukan Pertahanan Perbatasan (BDF).
Mobil pribadi dilarang melanjutkan.
Kami diperintahkan membawa Ranvijay Yadav ke barak.
Keluar dari mobil dan berjalan perlahan ke arah kami.
Kau selamat!
Raanu, akan kutelepon pamanmu.
Semua akan baik-baik saja. Sana!
Hei, tunggu!
Hei, Nak!
Orang BDF membawanya, mungkin atas perintah Menteri.
Tapi Pak Menteri di sini.
Kuminta kau membawa Raanu ke barak Mayor Ashok.
Tahu dari mana mereka BDF?
Kusuruh kau konfirmasi dulu. Bodoh!
Awas kalau kau kembali ke Delhi tanpa keponakanku. Bodoh!
- Terus jalan, cepat! - Tangkap!
Menikmati lagu rap, ya?
Kalian siapa? Aku mau dibawa ke mana?
Kau tahu Dara Singh si pegulat?
Aku Dara Singh yang asli.
Amaran! Permainan dimulai sekarang!
- Mundur! - Ayo!
Jangan lolos!
No comments yet. Be the first to leave one.