Prvních 200 řádků.
Makanan!
Ibu, aku dapat ayam!
WABAH HITAM
Ibu!
Dia ke mana?
Aku tak tahu dia ke mana.
Istriku...
Dia meninggal!
Istriku... Dia meninggal!
Istriku meninggal!
- Dia meninggal! - Kisah cinta yang indah.
Apa cinta tunangku padaku akan sedalam itu?
Sedalam itu sampai setia pada mayatmu setalah kau lama mati?
Tentu saja!
Istriku meninggal!
Istriku meninggal!
Berisik, ya? Biar kutangani.
- Dia mati! - Gaun pengantinnya sudah?
Kain dewangga suciku sudah dikemas?
- Untung kauingatkan! - Dia meninggal!
Dokter, putriku.
- Tolong bantu aku, Dokter. - Maaf, tidak bisa.
- Tolong kami! - Maaf.
- Dokter, putriku. - Tolong aku.
Lepaskan!
Berdoa saja, nanti selamat.
- Tidak cukup. - Bohong!
- Enyahlah! - Bohong!
Jangan tinggalkan kami! Kau mau ke mana?
Dokter!
Dokter!
- Padrone? - Tanganku tersangkut.
Tenang, aku datang.
Mari kubantu.
Bagian lengan pada tunik ini terlalu kompleks.
- Ini tidak aman. - Baiklah.
Aduh!
Untung kau sudah bangun, Padrone Tindaro. Aku sudah tak sabar berangkat ke vila.
Apakah si Leonardo dari Fiesole ini orang kampung?
Di sana ada pemikir serius, atau isinya cuma orang kurang cerdas?
Kau pasti bisa mendidik mereka.
Yang jelas, kita harus tinggalkan Firenze demi kesehatanmu.
Kurasa warna tinjaku lebih gelap pagi ini.
Biar aku yang menilai tinjamu.
- Sudah kubungkus di saputangan. - Oke.
Biar kuperiksa sebelum berangkat.
Hamba memang sudah berkali-kali mengaku dan bertobat atas dosa ini,
tapi dosa kesombongan sungguh memberatkan jiwa hamba.
Hamba merasa cantik di hari pernikahan.
Hamba merasa memesona.
Hamba sungguh angkuh.
Ampuni hamba, Tuhan.
Hamba juga pernah berbohong soal...
Maaf menyelang, tapi keretanya sudah menunggu.
Aku belum selesai.
Aku bahkan belum mengaku soal kemalasan, kedengkian,
bahan pakaian yang haram, dan godaan.
Neifile, akan ada makan malam sambutan. Sayang kalau dilewatkan.
Biasanya, hidangannya selalu lezat.
Setelah itu, hanya ada pasta.
Tunggu. Bapa, bagaimana penebusan dosanya?
Perjalanan ke vila sangatlah lama. Kau bisa minta pengampunan seharian.
Benar juga.
Amat disayangkan, ya?
Ya.
Mereka adalah ayah atau saudari seseorang, atau...
Sepatu bot! Milikku!
Beruntungnya.
Jangan disentuh. Dia juga terinfeksi.
Kau aneh sekali, Licisca.
Bagaimana itu bisa membuat ayahku merasa lebih baik?
Kudengar, pes adalah udara terkutuk yang muncul akibat gempa bumi,
jadi azimat ini dapat mengusir udara jahat ke Neraka.
Lantas bunga itu?
Bunga ini dapat menangkal udara jahat agar tak memasuki tubuh kita.
Oh, mulutmu kurang lebar?
Sisir rambutku.
- Akan kuurus ayahmu... - Sisir rambutku.
Dasar menyebalkan.
Ambilkan sisir ibuku.
Ayahku juga akan mati.
- Jangan begitu. - Memang benar.
- Lalu aku akan jadi yatim piatu. - Kau tak akan jadi yatim piatu.
Kau hanya akan jadi wanita dewasa tanpa orang tua.
Kau tak tahu saja bagaimana rasanya, Licisca.
Kau beruntung jadi yatim piatu sejak lahir.
Makanya, kau tak bisa memahaminya.
Ya, kau benar. Maafkan aku, Padrona.
Aku akan jadi yatim piatu yang tak bersuami
dan terjebak di sini selamanya.
Ini kuterima hari ini.
Apa isi suratnya?
Barone Piero tak akan melamar siapa pun kali ini
karena dia sudah mati.
Ya ampun.
Oh, Padrona, aku turut prihatin.
Meski kau amat membenci dia.
Lantas apa hubungannya?
Nanti kau jadi harus sering menghabiskan waktu bersamanya
kalau jadi menikah.
Tapi kita bisa saja diam-diam keluar untuk memeluk kambing misalnya,
atau apalah itu yang dilakukan orang desa.
Atau jika aku susah tidur, kau bisa membacakan cerita di dapur.
Atau mengelus kakiku.
Tapi kini semua itu kandas.
Saat ayahku mati, aku akan terjebak di sini sendirian.
Masih ada aku.
Kini tinggal kau pelayanku. Kau mungkin juga akan pergi.
Aku tak akan pergi.
Kau membutuhkanku.
Lakukan sesuatu untuk membuatnya berhenti.
Kau tampak berbeda, Licisca.
Kau mengubah gaya rambut?
Wah, ini pasti akan langsung menyembuhkanku.
Aku langsung merasakan khasiatnya,
sampai rasanya ingin berlari-lari.
Yah, apa pun patut dicoba.
Aku tak akan selamat.
Kau punya kesempatan.
Semoga kita semua mendapat kesempatan.
Aku amat bersyukur memilikimu di rumah ini selama bertahun-tahun
dan melihatmu tumbuh besar.
Kau bagikan putriku sendiri...
meskipun miskin...
dan tak sepenting putri-putriku yang lain, tapi masih hidup.
Licisca, aku butuh camilan!
Siapa yang menyangka dari ketiga putriku, dia yang selamat?
Yang seperti itu memang susah mati.
Kau bukan pengidap, 'kan?
- Belum. - Kukira simbol itu untuk pengidap.
Wah, yang benar?
Aku membawa pesan untuk Signor Eduardo
dari sepupunya, Visconte Leonardo dari Fiesole.
- Lord di Vila Santa? - Ya.
Lanjutkan.
Visconte Leonardo meminta kehadiran Signor Eduardo,
istrinya, Signora Elissa...
Mati.
- ...putrinya, Violetta... - Mati.
- ...Lauretta... - Mati.
- ...dan Filomena... - Belum mati.
...di vila perdesaannya.
Dia memintamu meninggalkan kota yang dilanda wabah
dan melepas penat di perdesaan yang indah dan tidak terinfeksi.
Dan kau diundang untuk tinggal selama yang kaumau.
Visconte Leonardo masih melajang, 'kan?
Dia sepupu ayahmu.
Lantas mau bagaimana lagi?
Visconte Leonardo masih melajang, tapi sebentar lagi tidak.
Dia akan menemui calon pengantinnya pada hari Jumat.
Siapa lagi yang diundang?
Banyak keluarga penting Firenze yang diundang.
Bukankah sebagian besar sudah mati?
Tolong kabari sepupu kami, Leonardo,
bahwa putri Eduardo, Filomena, dengan senang hati akan hadir
dan aku tak sabar untuk menemuinya pada hari Jumat.
- Padrona, mari bicarakan... - Makasih.
Padrona Filomena, ayahmu tak mungkin ditinggal.
Jangan bodoh.
Aku tak mungkin melewatkan kesempatan ini.
Jika bertemu bangsawan yang membelikanku kastel,
aku tak akan sendirian lagi.
Ayahmu sakit keras.
Ini peluang kita untuk pergi.
Pes belum mencapai perdesaan.
Jika pergi sekarang, kita bisa selamat.
Baik, sudah jelas. Kita berangkat saat fajar.
Aku tak bisa.
Apa katamu?
Ayahmu majikanku, jadi tak mungkin kutinggal saat sulit.
Aku sudah janji pada ibumu.
Apa gunanya menepati janji pada orang mati?
Baiklah, kita akan tetap di sini, lalu sakit dan mati.
Saat bertemu ibuku di Surga,
dia pasti senang kau menepati janji.
Selamat terjangkit pes!
Aku heran kenapa pamanku memintaku pergi ke vila bodoh itu.
Mending aku tetap di kota.
Pes telah menyebar di Firenze.
Karena tubuhmu rentan, sedikit paparan saja bisa berakibat fatal.
Tinggal beberapa pekan di perdesaan amat baik bagi kesehatanmu.
Akan ada wanita lajang di sana.
Kau bersemangat begitu tahu ada wanita.
Bukan untukku, tapi untukmu. Aku hanya memedulikan kesehatanmu.
Apa manfaat wanita bagi kesehatanku?
Menyeimbangkan kadar humormu dan menyemangatimu.
Wanita?
Mereka bodoh, suka perhitungan, dan tidak simpatik.
Sebelum aku jadi ahli waris pamanku, wanita tak melirikku.
Aku selalu saja dibandingkan dengan Luigi dan Antonio.
Kini Luigi sudah mati,
begitu pun Antonio.
Aku tak akan sudi wanita mana pun menggerogoti kekayaan pamanku.
Lagi pula, "anu" mereka belum tentu nikmat.
Nikmat, tidak?
Nikmat banget.
Haruskah kaum flagela menghukum diri di depan umum?
Justru harus di depan umum.
Mereka seakan mencari muka.
Kenapa Tuhan mengirimkan wabah pes? Apa dunia akan kiamat?
No comments yet. Be the first to leave one.