Prvních 200 řádků.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
EPISODE 7
PERUT BABI
Terima kasih.
- Terima kasih. - Ayah…
Terima kasih.
Aku jalan-jalan sebentar.
Ya.
Alasan suamimu minta cerai bukan terlalu lama hidup bersama.
Suamimu berselingkuh darimu.
Hanya pasangan yang tahu masalah mereka.
Lebih sulit untuk mengetahui apa yang terjadi di dekatmu.
Kita berangkat.
Halo?
Kau di mana? Sudah sampai?
Masuklah ke taman.
Ayah tidur di mana semalam?
Rumah teman.
Teman pria atau wanita?
Kenapa?
Kemarin aku melihat Ayah di Swalayan Gangnam.
Siapa wanita itu?
Ayah tidur di rumahnya?
Ayah.
Bagaimana jika Ibu tahu kalau Ayah…
- Ibumu tahu. - Ibu tahu?
Ini memalukan.
Ayah tak berani mengakui,
tapi beginilah adanya.
Kau belum mengerti cinta…
Bagaimana bisa…
Bagaimana bisa Ayah…
Ini salah, Ayah!
Wanita macam apa dia?
Tidak, aku tak perlu tahu.
Dia sampah.
Ayah masih tidur?
Ayah menginap di rumah teman.
- Di mana Hyang-gi? - Olahraga.
Ini cinta Ibu padaku?
Ya.
Besok tolong buatkan ini lagi.
Ya. Kau suka?
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi…
Kenapa ponselmu mati? Membuat Ibu cemas saja.
Kukira Hyang-gi.
Dia tidak pulang?
Dia sedang berjalan-jalan.
Ayo sarapan dulu.
Ayah sudah pulang? Pagi sekali.
Ya.
Aku tak akan bosan makan omurice setiap hari.
Ibu akan sering membuatkannya.
Sarapan dulu.
Hyang-gi sudah tahu.
Apa?
Kau memberitahunya?
Kemarin aku berbelanja di Swalayan Gangnam
karena ingin memasak perut babi.
Hyang-gi melihatnya
Kau berbelanja bersamanya?
Aku sendirian. Dia menunggu di mobil.
Dia melihat saat kami di mobil.
Hyang-gi menelepon tadi pagi dan mengajak bertemu di Taman Banpo.
Dia memergokiku.
Aku tak bisa berdalih lagi.
Dia mengkhawatirkanmu. Jadi, kubilang kau sudah tahu.
Kau menikmati perut babimu?
Tak akan ada masalah. Hyang-gi hanya tak mau melihatku.
Kau mau pergi dengan alasan itu?
Tidak.
Astaga.
PUTRIKU
Ayah tak sarapan?
Ya.
Ayah bertengkar dengan Ibu?
Tidak, kami membicarakan Hyang-gi.
- Aku mencemaskannya. - Jangan cemas.
Kenapa tak dimakan?
Aku menunggu Nenek.
Cucuku, Ji-a. Kau sempurna sekali.
Sopan…
Nenek, sekarang ini lebih umum mengatakan "tak ada cacat satu pun."
Seperti itu.
- "Satu pun"? - Ya.
Nenek mengerti.
Nenek belajar banyak darimu.
Kenapa hanya makan sedikit?
Nanti juga kita makan lagi.
Nenek takut gemuk.
Rasanya seperti mimpi.
Karena kita di sini atau aku datang ke rumah Nenek?
Waktu-waktu seperti ini.
Nenek
tak bisa sarapan di sini sendirian.
Ya, pasti membosankan.
Ji-a, selera makanmu luar biasa.
Kau mengambil semua makanan termasuk kentang.
Aku suka makan kentang.
Nenek pernah ke Hanguk World?
Mungkin dua kali saat ibu dan bibimu masih kecil?
Sekarang sudah bagus sekali. Nenek akan takjub.
Benarkah?
Ayo, kita ke sana.
Bagaimana dengan malnya?
Bisa setelah dari Hanguk World.
Ayo.
Aku juga ingin bertemu dengan adik Nenek.
Kau akan segera menemuinya.
Setelah aku meninggal dunia.
Sarapan lengkap, ya?
Kau dan aku bisa hidup di luar negeri.
Kau benar.
Kalau Pi-young, dia akan rindu rumah hanya karena kimci.
Orang Korea umumnya seperti itu.
Ada anak kembar.
- Ayah, apa Hanguk World jauh? - Tidak.
Astaga. Jangan berlepotan.
- Fokus pada makananmu. - Ya.
Apa kau ingat kau mengajakku ke Hanguk World saat aku kecil?
- Aku ingat. - Waktu itu aku senang sekali.
Waktu pergi bersama teman TK-ku rasanya biasa saja.
Kau pernah ke sana lagi?
Tidak.
Ayo ke sana hari ini.
- Itu… - Kita lihat perubahannya.
Ayo.
Mari bertemu banyak orang dan melupakan beberapa hal.
Terima kasih. Ayo.
Astaga!
- Astaga. - Luar biasa.
Astaga.
Nenek, itu hanya riasan dan kostum.
- Ayo, kita melakukannya juga. - Tidak.
Ada banyak riasan cantik juga.
Benarkah?
Ya. Ayo.
Sebelah sini.
Astaga, keren sekali.
- Cantik, 'kan? - Ya.
Ayo.
Ya, Ayah.
Kau di rumah?
Tidak, aku ke studio untuk rekaman siaran.
Kapan kau selesai?
Aku ke Seoul untuk memberimu obat herbal.
Aku juga mau menemuimu.
Aku tak suka obat herbal.
Tak suka pun kau harus meminumnya.
Tubuh calon ibu harus tetap hangat.
Selesai sejam lagi?
Tidak. Aku akan meminumnya kalau kondisi sudah membaik.
Baiklah, kalau begitu. Ya.
- Pak Kim. - Ya, Pimpinan?
Jangan panggil aku begitu.
Bagaimana kondisimu?
Aku selalu sehat.
Berkat perhatianmu padaku.
- Tak ada masalah hubungan ranjang? - Tidak.
- Bagaimana denganmu? - Lumayan.
Karena aku sudah tua.
Ya.
Bagaimana kabar Dong-mi yang asli?
Dia tak membalas pesanku.
Benar-benar berbeda dengan dulu.
Benar.
Mau pakai kostum?
Ayo.
Di sini, rupanya.
Pakailah yang kau suka.
Nenek, kita mulai dari itu.
Aku tak bisa. Kau saja, nenek akan memotretmu.
Ya.
Mereka sampai berteriak. Kau yakin bisa?
Aku duduk paling belakang.
Ji-a!
Sudah kuduga akan sangat cocok. Kita serasi.
Aku tak boleh tertawa.
Memang kenapa?
Astaga, sepertinya aku sudah gila.
Ayo.
Ini menakutkan.
Astaga, seperti melayang ke arah kita.
Pintu terbuka.
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
Kau pelihara kucing atau anjing?
Tidak.
Kau benci hewan berbulu?
Tidak. Aku tak memelihara karena tak bisa.
Kau punya alergi, rupanya.
Aku hanya kasihan
membiarkan mereka sendirian seharian.
Itu tidak benar.
Hyang-gi masih belum pulang?
Ya.
Selamat pagi.
Apa?
Halo?
Halo, Bu.
Jangan memanggilku begitu. Kita sudah lama saling mengenal.
No comments yet. Be the first to leave one.