Prvních 200 řádků.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
EPISODE 7
Astaga. Dia membuatku gila.
Kenapa mereka selalu buat masalah?
Kenapa? Ada apa?
Seo Dal-mi, CEO dari Samsan Tech,
punya sangat banyak pertanyaan. Dia terus mengirimiku pesan semalaman.
Lihat ini. Lebih dari 400 pesan.
Lebih dari 400 pesan? Dia sudah gila.
Kenapa seenaknya kepada mentor? Bagaimana menjawab semuanya?
Bagaimana lagi? Harus aku jawab.
Kenapa juga aku mau menjadi mentor? Sial.
Aku menjadi kesusahan begini. Benar-benar.
Kau kesusahan?
Ya. Ini menyusahkanku. Nasibku benar-benar sial.
Bukan main.
Benar yang ini? Ya.
MENGIRIM SEO DAL-MI
SUREL ANDA TELAH DIKIRIM
Akhirnya selesai!
Aduh, tanganku pegal.
Nona Seo?
Kenapa dia? Ucapan dan tindakannya berbeda.
Nona Seo. Ada apa kemari?
Tolong cek daftar pemegang saham.
Kirim saja lewat surel. Kenapa sampai…
kemari?
Ada yang mau kusampaikan juga.
DAFTAR PEMEGANG SAHAM
Suntikan dana akan dikirim besok.
Terima kasih.
- Tak pergi? - Kau saja lebih dulu.
Aku mau bicara dengan Ji-pyeong.
Baiklah. Aku permisi.
Mau bicara apa?
Begini…
Aku berpikir untuk memberi tahu Dal-mi kebenarannya.
Kebenaran?
Tentang surat?
Ya.
Kenapa tiba-tiba begitu?
Aku mau hilangkan kekutu yang suatu saat harus kuhadapi.
- Sebaiknya jangan. - Akan kukatakan.
Berarti hubunganmu dengan Dal-mi dan Samsan Tech juga ikut berakhir.
Tidak. Semua akan baik-baik saja.
Yakin sekali.
Itu yang ingin kutanyakan padamu.
Kenapa menentukan akhirnya dengan surat 15 tahun lalu?
Setidaknya surat itu…
lebih kuat darimu.
Lihat saja nanti.
"Lihat saja nanti"?
"Lihat saja nanti"?
Lancang sekali.
Belok ke kiri setelah lampu merah.
"Lihat saja nanti"? Kenapa aku harus menurut?
Tidak mau!
Kenapa sudah dibawa ke rumah padahal belum lama kenal?
Sudah sangat lama.
Kami sudah kenal selama 15 tahun. Wajar kuajak ke rumah.
Astaga. Tak ada lauk di rumah.
Dal-mi, pergilah ke pasar swalayan,
beli ikan layur dan rumput laut.
Tak usah. Aku tak perlu makan malam.
Aku harus makan malam. Cepat pergi.
- Sekarang? - Ya. Pergilah.
Duduk yang nyaman. Anggap saja rumahmu.
Nek, jangan bicara aneh-aneh.
Dal-mi sering cerita tentang dirimu.
Aku tahu suatu saat kita akan bertemu,
tapi siapa sangka akan seironis ini?
Apa penglihatanmu sangat buruk?
Masih bagus.
Aku bisa melihat jelas.
Jika dirawat dengan baik,
memburuknya penglihatanku bisa diperlambat.
- Pasti Dal-mi tak tahu. - Benar.
Jadi, kau juga berpura-puralah tak tahu.
Bagaimana bisa begitu?
- Jika Dal-mi tahu, dia… - Pasti akan menangis.
Dia pasti menangis dan marah
karena tak diberi tahu.
Kemudian…
dia akan mengasihaniku sepertimu.
- Nenek, aku… - Aku tak suka dikasihani.
Jika ditatap begitu…
aku merasa masalah besar tengah terjadi.
Seolah-olah…
seluruh sinar di dunia akan menghilang,
dan kehidupanku akan hancur.
Faktanya…
mataku memang tak akan bisa membaik.
Cukup kau saja yang menatapku kasihan.
Aku tak mau…
ada lagi yang menatapku begitu.
Dal-mi belakangan ini…
sering tersenyum berkat dirimu.
Sejak bertemu denganmu,
semua pembicaraannya selalu tentangmu.
Matanya berbinar-binar seperti berlian setiap bercerita tentangmu.
Kau pasti tahu.
Mata Dal-mi…
sangat cantik ketika tersenyum.
Ya.
Tentu saja.
Aku bersyukur, Do-san.
Berkat dirimu,
kulihat mata cantiknya itu
setiap hari.
Jika kulihat terus sekarang,
aku tak akan menyesal
meskipun nanti
mataku tak bisa melihat.
Apa tak boleh?
Apa permintaanku terlalu seenaknya?
Tidak.
Bukan begitu.
Aku mengandalkanmu.
Tolong rahasiakan dari siapa pun, ya?
Ya.
Jangan bilang Dal-mi atau Ji-pyeong.
Maksudmu Pak Han Ji-pyeong?
Ya.
Jika Anak Baik tahu,
dia akan lebih heboh membahas utang budinya.
Aku sudah muak.
Keputusasaan yang tak bisa dibayangkan.
Aku sadar setelah melihat Nenek
yang menutupi keputusasaannya dengan kehidupan sehari-hari.
Maafkan aku. Aku tahu ini terdengar konyol.
Aku berutang budi kepada neneknya.
Hanya satu jam.
Berpura-puralah menjadi orang dalam surat itu.
Dia mempertemukanku dengan cinta pertamaku yang tak kutahu.
Seberapa besar utang itu
sampai tak bisa dibayar dengan uangmu?
Kuharap itu bisa dibayar dengan uang.
Ternyata orang baik yang membuatnya berutang budi seperti itu…
adalah dia.
Awal dari semua keajaiban ini
adalah dia.
- Nenek. - Ya?
Nek, aku…
ingin memberikan sesuatu.
Aku membuat sendiri busa cuci piring ini.
Astaga.
Kau terampil sekali.
Bagus sekali.
Ada sesuatu yang disebut RGB.
RGB adalah tiga warna primer.
Aku terinspirasi dari itu ketika membuatnya.
Kenapa Nenek bereaksi aneh begitu?
Mereka sudah tak bertemu 15 tahun. Apa tak senang?
- Pak Han? - Di mana Pak Nam?
Maksudku, di mana Do-san?
Do-san sedang di rumahku.
Di rumahmu?
Kenapa?
Kenapa kau di sini?
Nenek, beri salam. Dia mentor kami.
Dia sangat dekat dengan Do-san. Namanya Han Ji-pyeong.
Astaga. Halo.
Halo.
Ini CEO Corn Dog Cheong-myeong,
nenekku, Bu Choi Won-deok.
Senang bertemu denganmu.
BAKAR UANG
PENGHITUNGAN LAJU PENGELUARAN PERUSAHAAN RINTISAN
Sama-sama.
Tapi kenapa berkunjung malam-malam begini?
Ada sesuatu…
yang mau kubicarakan dengan Do-san.
Ayo. Bicara denganku.
Bicara tentang apa?
Ji-pyeong!
Aku akan lakukan sesuai kemauanmu.
Sesuai kemauanku?
Ya. Sesuai kemauanmu.
Jadi, jangan khawatir.
Pergilah.
- Benarkah? - Ya.
Baiklah. Aku pergi.
Selamat malam.
Kau sudah makan malam?
Dal-mi, Ji-pyeong sudah ada janji.
- Benarkah? - Ya. Benar, 'kan?
- Tak ada. - Pasti ada.
Tidak ada.
Kalau begitu, biarkan aku makan malam di sini.
Ya ampun.
Cepat pergi.
Biarkan aku makan.
Nek, plafon kita terlihat rendah karena mereka berdua di sini. Ya, 'kan?
Benar.
Kebetulan sekali.
Karena kalian tinggi, bisa gantikan lampu kamar mandi kami?
- Tentu. - Tentu.
Aku saja. Aku lebih tinggi daripada Ji-pyeong.
Hanya satu atau dua sentimeter.
- Tak masalah. Hampir setara. - Hei.
No comments yet. Be the first to leave one.