Prvních 200 řádků.
MANJHI - MANUSIA GUNUNG
Jadi... menurutmu kamu itu terlalu besar?
...Terlalu hebat?
Terlalu kuat?
Itu hanya kelihatannya saja...
Sekarang lihat!
Akan kuhancurkan kesombonganmu!
Sudah kau hancurkan seluruh hidupku...
Akan ku potong kau!
Lihat saja!
Permainanmu sudah berakhir...
Sekarang lihat saja!
Hey Dashrath!
...Kamu gila ya?
Kenapa kamu bakar gunung ini?
Kamu bisa mati disitu.
Bisa-bisa tubuhmu jadi abu.
...Kamu gila ya?
Sekarang lihat saja!
Lihat saja!
Dashrath...
Kau menjual kambing terakhirmu untuk beli palu dan linggis?!
Aku bicara denganmu...
Anak babi... Aku ini ayahmu!
Apa yang kau lakukan?
Shuklaji,
Ini adalah daerah yang paling terbelakang di India.
Tidak ada perubahan selama berabad-abad.
Sudah 13 tahun sejak pemerintahan namun tidak ada perubahan.
Tidak ada sekolah, tidak rumah sakit, jalan juga tidak ada.
Apa kamu lihat gunung ini?
Dia sudah menghalangi desa Gehlore.
Dengan kota terdekat Wazirgunj, hanya 4 mil disebelah gunung.
tapi harus pergi sejauh 40 mil untuk mengelilinginya...
Banyak yang sudah meninggal... karena mencoba menyebrangi gunung.
Apa ini?
Jadi kau ingin pake sepatu & merasa mulia?
Salah ku, Pak Tak akan ku unlangi lagi.
Bagaimana bisa kami memperacyaimu?
Sumpah demi ibuku.
Buat dia menggunakan sepatu itu, sampai tak bisa memakainya lagi .
Maafkan aku pak.
Pakukan sepatu kuda ke kakinya.
Minggir.
Maafkan aku pak.
Bagai mana kabarmu Tn.Mukhiya'?
Sungguh suatu kehormatan...
apa kabarmu?
ada apa ini?
Hanya sebuah peringatan kecil.
Pertama kali kau berkunjung kesini ...sejak menang pemilu!
Aku harus berkata apa Tn.Mukhiya?
Politik... menyebalkan sekali.
Kau harus bisa mempertahankan kursi.
Lalu kau bisa nikmati yang kau mau?
Pertama menangkan dulu pemilunya...
Rumah-mu akan berubah menjadi Taj Mahal!
Tuan Shukla belikan tiket untuk anak-ku Ruab di pemilu berikutnya.
Ya... ya... bilang sama dia.
Siapa dia?
Alok - Jurnalis yang sangat pandai!
Dia mengajakku menelusuri jalan yang menghubungkan Gehlore dan Wazirgunj.
Sekarang gimana.
Jika proyeknya terlalu besar, seberapa "besar" rencananya!
Anda menikmati sekali!
Ambilkan foto...
Ayo nak.
Namanya - Dashrath Manjhi.
Desa - Gehlore.
daerah Gaya.
kawasan Bihar.
Saat pertama aku meliatnya...
Ku kira dia gila.
Hei Dashrath.
Turunkan kepalamu!
Tidak lihat siapa yang duduk disini?
Apa yang kau lakukan Ruab?
Setidaknya jangan melemparinya saat ada aku!
Aku ini calon dia adalah pemilihku
Aku melakukan itu agar dia menghormatimu.
Tak perlu hormat-hormat.
Kamu tidak dengar kejadiannya.
Kemarin si tolol itu hampir membakar seluruh gunung.
Dia sering makan tikus makanya otaknya jadi begitu.
Kami sudah tahu orang-orang sini biar kami yang urus.
Aku bersumpah.
Dashrath, apa yang kau lakukan?
Menghancurkan gunung.
Apa! Kamu mau menghancurkan gunung?
Ya.
Sendiri?
Ya.
Kamu gila ya?
Ya.
Bisa mati kamu...
Dia pasti sudah kerasukan!
Dashrath lahir dikawasan pertanian yang miskin.
Dari kasta terendah yaitu Moosahar' atau pemakan tikus.
Berdasarkan kavar, dia sudah nikah sejak kecil.
30 botol miras & 5 ekor babi itu kesepakatannya.
Berdiri Dashrath. ..
Membuatku malu saja kamu?
Nama istrinya saat itu 'Phaguniya'
Ada apa?
Tuan, Kau kupanggil malah lari.
Kapan mau kau lunasi utangmu dengan Tuan Mukhiya?
Aku tidak punya apa-apa Pak.
Silahkan periksa. Tak ada sepeser uang pun. Lihat...
Tapi kamu ada uang untuk minum (mabuk).
Apa maksudmu pak?
Kalau aku tidak minum, mana bisa hidup?
dan kalau tidak hidup, bagaimana aku bisa membayar utangku?
Tolol, tidak penting.
Ya ampun nanti tangan anak ini kesakitan
Aku saja yang pukul.
Bodoh kau Magru... dasar kau cacing...
Anak Babi...
Rasakan ini!... dan ini juga.
Dihajar...
Di hajar lalu mati.
Hei ratu lebay!
Kamu mau bayar atau mau pakai sepatu (sepatu kuda)?
Aku akan bayar... Akan ku bayar.
Jangan dekat-dekat...
Tapi bagaimana?
Hidpku sudah tergantung padamu.
Ya sudah buat anak'mu tergantung juga!
Bawa saja dia... bawa saja...
Sekarang dia yang akan bayar uangmu.
Ibu aku tidak mau.
Mukhiya dengar aku.
yang benar saja?
Diam kau bodoh!
Kamu senang senang aku dihajar?
Sekarang kau berhutang ke Mukhiya
Aku tidak mau.
Tidak mau?
Terus siapa yang mau bayar hutangnya? Ayah mu?!
Aku tidak mau.
Kau ini
Kamu tidak mau?
Ayo...
Lari Dashrath... lari...
Tangkap anak babi itu.
Mau menghancurkan gunung lagi?
Ini sudah dua tahun Apa ada yang membantumu?
Apa kamu tidak mengerti? atau kepalamu sudah jadi batu?
Nanti bisa mati kamu karena menghanurkan batu-batu itu.
Dulu kera sakti pernah mengangkat gunung.
sekarang di tempat kita ada Dashrath yang mau menghancurkan gunung Oorang Gilaa! Oorang Gilaa!
Hai aku kembali.
Apa semuanya baik-baik saja?
Bagus.
Kamu kira aku tidak akan kembali?
Salah!
Aku tidak akan berhenti sampai kamu hancur.
Kita akan ada disini untuk pertarungan panjang... Kau dan Aku.
Jadi, apa kamu siap?
Dia siap!
Mau mempermainkanku?
Aku tidak akan meninggalkanmu, Aku takkan memaafkamu.
Lihat apa yang sudah kau perbuat padaku.
Aku tidak bisa melupakan semuanya...
Itu masalahnya.
Seperti ada film yang berputar di kepalaku.
Dia berputar tak menentu.
Maju, mundur maju, mundur...
Pikiran itu menari-nari di kepalaku...
Aku ingat semuanya...
...Semuanya...
Seolah olah itu baru terjadi kemarin...
...Kemarin. ..
Mainan... mainan bagus untuk anak-anak.
Mainan... mainan bagus agar istrimu selalu tersenyum.
Mainan... mainan...
Gajah, kuda, tandu... maha besar tuhan...
Mainan... mainan...
Kamu buta ya bangsat! Tunggu aja sampai ku balas...
Hebat! Luar biasa! Merdeka!
Bilas dulu wajahmu.
Halo semuanya!
"Pengkastaan sudah berakhir."
"Semuanya setara... Setara... setara..."
Apa yang mereka rayakan?
Akhir dari pengkastaan!
Pemerintah sudah merubah undang-undangnya.
Semuanya setara.
Apa? kita boleh boleh bersama siapapun?
Lihat! Semuanya sudah tertuis di koran.
‘Akhir dari Pengkastaan‘
Ya tuan.
Kita bebas bersama siapapun!
"Semuanya setara... Setara... Setara..."
"Pengkastaan sudah berlalu tertiup angin!"
"Semuanya setara... Setara... Setara..."
Berharap bisa masuk kuil...
Mereka tidak akan berhenti sampai 10 sampai 20 dari mereka dihajar.
"Semuanya setara... Setara... Setara..."
"Semuanya setara... Setara... Setara..."
"Semuanya setara... Setara... Setara..."
No comments yet. Be the first to leave one.