Prvních 200 řádků.
SEOUL, KOREA SELATAN
Selamat ulang tahun!
-Kejutan! -Kejutan!
Tidak lucu. Kau berhasil membuatku ketakutan
Aku harap kau menikmatinya.
Mau cetak : Brosur, ID Card, Undangan, Kartu Nama, Nota Continous Form, Buku, Company Profile, Kalender, Stiker, Banner,dll?
Wee, ini kue tart-nya.
Makasih.
Wee.
Dia tidak gemuk, kok.
Memang tidak, tapi dia diabetes.
Kalau cuma sesuap tidak apa-apa.
Cuma sesuap?
Lucky!
Lucunya!
-Lucky. -Itu namamu, ya?
Wee memanggilnya Lucky, iya kan?
Kau selalu menyelesaikan masalah sendiri.
Kaliancobalah untuk saling curhat.
Kita buka kartu yang terakhir, boleh?
Kartu ini mengatakan...
sesuatu yang dulu hilang akan kembali padamu.
Apa kau kehilangan sesuatu?
Kartu ini artinya kau akan mendapatkannya kembali.
Tidak.
Kalau begitu,
ini artinya bukan barang.
Apa kau pernah ingkar janji kepada seseorang?
Mungkin orang itu akan menemuimu
untuk menagih janji itu.
Hei, hei.
Jangan percaya dengan perkataan Jiho.
Dia pernah meramalkan aku akan mendapatkan jodoh.
Tapi sampai sekarang aku masih jomblo.
Jangan suka pilih-pilih jodoh.
Kalau aku punya wajah secantik kau, Aku pasti sudah punya pacar tampan seperti Wee.
Akan sakit sedikit.
Bukankah kau sudah terbiasa dengan jarum suntik?
Sedikit.
Sudah selesai.
-Aku tinggal dulu. -Oke.
Halo?
Tunggu sebentar.
Pim, ada telpon.
Pim!
Ada hal yang penting?
Pim sedang tidak ada.
Apa?
Ada apa?
Pim,
ini telpon dari rumah sakit di Thailand.
Ibumu kena stroke.
Apa kau akan segera terbang pulang?
Andai aku tidak pindah ke sini,
semuanya akan baik-baik saja.
Pim, kau baik-baik saja?
Ini.
Sebenarnya aku tidak ingin pulang.
Sejak Ploy meninggal,
segalanya terasa berbeda.
Apa menurutmu aku ini egois, menginggalkan segalanya dan pindah ke Seoul?
Tentu saja tidak.
Tapi, andai saja aku tidak memaksa agar kami dipisahkan,
Ploy mungkin masih hidup.
Pim,
sudah aku katakan.
Kematiannya bukanlah kesalahanmu.
Tidak ada seorangpun yang mengharapkannya.
Ibu anda lumpuh
dan tidak bisa bicara.
Pendarahannya
menekan sampai ke batang otak.
Sebelum kami memelakukan tindakan pembedahan,
kami harus menunggu kondisi beliau membaik.
Mama.
-Mama. -Maaf, Pim.
Biarkan beliau istirahat dulu.
Kita tunggu di luar saja.
Masuk sana.
Pim.
Itu lagu kesukaan Ploy.
Ploy.
Permisi.
Kalau tidak ada yang lain, saya pamit pulang.
Kau tidak tinggal di sini?
Tidak, nyonya.
Kau, aku izinkan tinggal di sini.
Jadi kau tidak usah pulang.
Tidak, terima kasih nyonya.
Sebaiknya saya pulang saja.
Wee!
Wee!
-Wee! -Kenapa?
Ada apa?
Wee.
Ada apa?
Kenapa?
Mama.
Mama, kenapa?
Apa yang terjadi?
-Kenapa? -Permisi, nyonya.
Saya harus memberikan suntikan.
Noi.
Apa yang terjadi saat itu?
Kenapa Mama pingsan?
Saya tidak tahu, nyonya.
Apa kau menyadari ada yang aneh
dengan tingkah laku mama?
Noi.
Itu,
Saya tidak tahu ada apa dengan beliau.
Beliau suka mengurung diri dalam kamar.
Dan menangis seharian.
Terkadang ...
saya merasa...
beliau seperti takut akan sesuatu.
Takut apa?
Dokter, bagaimana kondisinya?
Kondisinya memburuk dengan cepat.
Sepertinya kami harus lakukan tindakan operasi malam ini.
Ahh.
Permisi, nyonya. Nyonya?
Anda baik-baik saja?
Pim,
Apa kau lelah?
Kenapa kau tidak pulang dan istirahat saja di rumah?
Aku mau menungguhasil operasinya.
Aku baik-baik saja, Wee.
Beliau sudah tidak kritis lagi.
Tapi masih koma.
Kapan beliau akan sadar diri?
Saat ini saya tidak tahu.
Itu pun tergantung dengan semangat hidup beliau.
Lucky!
Lucky!
Lucky.
Lucky!
Lucky.
Lucky!
Lucky.
Lucky!
Lucky.
Apa ini?
Pim?
Pim! Buka pintunya, Pim!
Pim!
Pim!
Pim, apa yang terjadi?
Ada apa denganmu?
Sudah selesai.
Pim,
Apa yang terjadi?
Kenapa kau melukai diri sendiri?
Pim.
Kenapa kau tidak katakan apa yang telah terjadi?
Aku melihat kembaranku.
Apa maksudmu?
Aku merasa dia masih di sini bersamaku.
Aku tidak mengerti.
Bagaimana bisa kau melihat dia?
Ploy sudah meninggal.
Lupakan.
Mungkin karena aku stress.
Pim.
Menurutku kau harus ke dokter spesialis.
Wee.
Tidak ada masalah dengan ku.
-Bagaimana kabarmu? -Aku baik-baik saja.
Lama tidak berjumpa.
Kau berubah sekali.
Sungguh?
-Silahkan kopinya. -Makasih.
Pim.
Ini Danai. Kita dulu satu sekolah.
-Halo. -Halo.
Kami teman dekat sebelum aku pindah ke Korea.
Kita sudah tidak bertemu berapa lama? Sepuluh tahun?
Iya, sekitar sepuluh tahunan.
Lama sekali.
Bagaimana kalian bisa bertemu kembali?
Wee menghubungiku
dan mengundangku ke sini.
Bagaimana dengan pekerjaanmu sekarang?
Sedikit sibuk. Aku masih mengajar.
Dan menangani banyak pasien.
Kau praktek kedokteran apa?
Aku... Psikiater.
Permisi sebentar.
Pim.
Pim.
Kau pikir aku sudah gila?
Pim.
Dengarkan aku dulu.
Pim.
Pim.
Buka pintunya. Pim, dengarkan aku.
Pim!
Lucky!
-Lucky. -Pim!
Dari hasil scan kepala,
No comments yet. Be the first to leave one.