Dickinson

Dickinson

Stáhnout Indonesian titulky

Série 2

Informace o verzi

Dickinson S02E06 Split the Lark 720p 1080p ATVP WEB-DL
Komentář od karagara
An Apple Original Subtitle

Tagy

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
720p
720
1080
Zveřejněno: 2021-02-13
Stažení: 12
Pro sluchově postižené: No

Náhled titulků v jazyce Indonesian

Prvních 200 řádků.

Astaga.

Wow.

Kami sudah tiba!

Belah burung lark itu

Baik, Semuanya. Mari lihat seperti apa kehebohan opera ini.

Semua orang sungguh amat elegan. Aku seharusnya memakai jubahku.

Aku lapar. Menurutmu mereka jual berondong jagung?

Mereka tak menjual berondong jagung di opera, Ship.

Aku amat senang akhirnya ke sini.

Aku sudah membaca semua ulasan dari produksi Italia.

Aku gelisah.

Kenapa kau suka pakai kata-kata sulit?

Semoga ini menghibur. Tiketnya mahal sekali.

- Aku cuma berharap kursi kita bagus. - Lihat, itu Sue dan Austin.

Hei!

Tentu saja dia memakai jubahnya.

- Hai. - Wow.

Sue, kau tampak menakjubkan.

Kalian pun juga.

- Ya, bagaimana rumah Bibi Lavinia? - Ada tikus.

Bagaimana hotelnya?

Lumayan.

Cukup untuk satu atau dua malam. Aku tak mau tinggal lebih lama.

Ya, kurasa kau tak sanggup menyewa lebih lama.

Jadi, semuanya senang?

Kita hadir di malam pembukaan,

dan seluruh Boston bicarakan penyanyi sopran utama.

Ya. Adelaide May yang hebat.

Baru tiba dari Italia tempat dia berlatih langsung dengan Verdi.

Dia aslinya dari Philadelphia.

Kebanyakan orang Amerika tak bisa bernyanyi opera,

tetapi Adelaide memukau sepenjuru Eropa dengan suaranya.

Katanya dia pernah memecahkan kacamata pengulas dengan nada C tinggi.

Yang benar?

Itu mitos. Itu pasti mitos.

Dia datang.

Keluarga Dickinson.

- Hei. - Selamat datang di opera.

Kami amat senang datang kemari.

Kurasa aku melihat kenalanku di bawah.

Permisi sebentar.

Itu mendadak.

Sam, terima kasih atas bantuanmu untuk tiketnya.

Kami senang bisa di tribune itu.

Tunggu dulu.

Kita duduk di mana?

Orkestra. Barisan belakang.

Kenapa tak beli tribune?

Ya. Pertama kau tinggal aku di lubang. Kini kau mau tempatkan aku di kotak.

Kursi orkestra juga amat bagus.

Aku yakin begitu.

Ayo, Edward, mari cari barisan belakang.

Baik, ayo.

Emily, kau ikut dengan kami?

Aku cuma mau bicara dengan Sue.

- Sampai jumpa. - Ya. Dah.

Baik. Jadi, sampai jumpa setelah acara?

Sam, tunggu. Jangan pergi.

Kupikir kau mau bicara.

Tidak juga. Aku cuma mau bicara denganmu.

Baiklah.

Tentu saja.

Sang Pujangga perlu bicara dengan Redakturnya.

Baik.

Sam, kau tak sendirian, bukan? Di mana Mary?

Dia tak bisa datang.

Sayang sekali. Aku ingin sekali menemuinya.

Ya. Dia agak kurang sehat.

Lagi.

Kurasa Emily beruntung.

Aku?

Ya, kini kau bisa duduk dengan Sam di tribunenya.

- Kurasa itu... - Sam, dia harus ikut.

Ini kali pertamanya menonton opera, dan Adelaide May sedang tampil.

Ini kesempatan emas.

Terutama bagi seniman sensitif seperti Emily.

Jika boleh, aku ingin duduk denganmu.

Kau harus!

Sam, jadilah pria baik. Biarkan dia duduk denganmu.

Jika dia di bawah sana jauh di belakang,

dia bahkan tak bisa melihat.

Ingat, dia punya masalah mata.

Iritis.

Baiklah, kurasa tak ada gunanya membiarkan kursi kosong.

Ayo.

Hei.

Siapa itu di sisi Sam Bowles?

Yang baru.

Aku tak sabar mendengar Adelaide May bernyanyi.

Semua orang bilang dia sungguh ahli.

Bernyanyi seperti burung lark katanya.

Aku tak sabar.

"Penyanyi internasional yang sensasional." Itu katanya di poster.

Tampaknya dia juga aslinya orang baik.

Sungguh?

Aku akan mewawancarainya setelah acara.

Kau bisa ke belakang panggung?

Tentu saja.

Ini gedung opera baru. Mereka butuh liputan.

Ini amat luar biasa.

Lihat.

Hei, Ibu!

Kenapa kau lama?

Kau tak akan percaya aku bertemu siapa di bar.

Siapa?

Frazar Stearns.

Siapa itu?

Frazar. Teman lamaku di sekolah.

Orang baik. Putra kepala kampus.

Kau pasti mengingatnya.

Ya. Sedikit.

Ayolah. Frazar Stearns.

Orang paling baik di dunia.

Belum bertemu dia lagi setelah kami lulus.

Dia di West Point sekarang.

Dia mengenakan seragamnya.

Seperti tentara sungguhan.

Astaga, aku rindu geng lama.

Mungkin aku harus mengadakan reuni.

Itu masa yang menyenangkan.

Kami dulu sering bersenang-senang.

Kau masih bersenang-senang. Bukan begitu?

"La traviata." Artinya "yang terjatuh".

Ya, aku tahu itu.

- Sungguh? - Aku belajar bahasa Italia di kampus.

Ya, tetapi kau putus kuliah.

Baiklah. Terserah.

Kau tahu, reaksi orang pada opera saat pertama kali menonton amat dramatis.

Antara mereka suka atau benci.

Jika suka, mereka akan selalu menyukainya.

Jika tidak, mereka mungkin belajar untuk menghargainya,

tetapi tak akan menjadi bagian dari jiwa mereka.

Keren.

Aku mau kencing.

Kau baru kencing.

Lavinia, aku tahu.

Apa dia akan pakai topi sepanjang pertunjukan?

Ini penipuan.

Kita bahkan tak bisa melihat.

Semua orang ini amat...

Ya. Baik. Tentu.

...angkuh.

Apa ini ditampilkan dalam bahasa Italia?

Astaga.

Bahasa Italia.

Aku berharap kita menonton pertunjukan vaudeville.

Ya.

Kau belum pernah ke opera?

Belum, aku hanya memimpikannya.

Kurasa mimpimu jadi kenyataan.

Begitu banyak mimpiku terwujud sejak bertemu denganmu.

- Emily... - Aku harus berterima kasih kepadamu.

Tak perlu. Ini bukan apa-apa. Aku bahkan tak membayar tribune ini.

Bukan untuk itu.

Bukan cuma untuk itu.

- Maksudku, semuanya. - Emily, tolong...

- Untuk semua yang kau beri untukku. - Itu bukan apa-apa.

Itu segalanya.

Kau ubah hidupku. Sebelum bertemu dirimu, aku bukan siapa-siapa.

Kini...

Kini puisiku akan dipublikasikan.

Emily, kita punya masalah.

Sungguh?

Ya.

Kau...

Kau menulis surat untuk Mary.

Ya.

Benar.

Ya. Itu bukan langkah yang bagus.

Tetapi aku... Apa maksudmu?

Kau menulis surat untuk Mary, dan itu membuatnya amat tidak nyaman.

Kami berdua, harus kukatakan.

Surat itu membuat kami berdua tak nyaman.

Suratmu membuat Mary amat kesal.

Itu alasan dia tak ikut malam ini.

Dia menolak untuk datang karena suratmu membuatnya merasa terhina.

Aku tak paham.

Kau menulis hal paling gila di surat itu.

Katamu aku seperti matahari.

Kau kedinginan saat aku tak di sana.

Seperti setiap kali kutinggalkan Amherst musim dingin muncul.

Kenapa kau menuliskan itu?

Karena itu yang kurasakan.

Tentang pria beristri?

Kepada istrinya?

Aku tak bermaksud membuatnya kesal.

Aku cuma mau menunjukkan

- rasa terima kasihku, kekagumanku... - Ya...

Dengar kau agak kelewatan kali ini.

Maafkan aku.

Kadang saat aku menulis... aku kehilangan kendali.

Aku tahu. Itu hal yang membuatmu menjadi penulis hebat.

Tetapi kau harus menyadari semua rumor.

- Rumor apa? - Ayolah, kau pasti sudah dengar.

Setiap aku memilih untuk mendukung suara wanita

semua tukang gosip di Pesisir Timur berpikir aku punya maksud terselubung.

Mary mendengar bisikan-bisikan itu...

dan hal itu membuatnya kesal.

Membuatnya sakit...

walaupun dia tahu, di dalam hatinya, aku selalu setia kepadanya.

More Indonesian subtitles for Dickinson

Komentáře

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left