Prvních 200 řádků.
M MASS 65 mempersembahkan
PARA PAHLAWAN TERAKHIR
Produser: Film Guru
DESA KUNG RAKA
terjemahan broth3rmax
Hey,
Pheuak, Chot.
Puang. / Ya, bang.
Boontheung.
Hey, Faeng.
Pagi-pagi udah memandikan gajah, huh?
Apa kau mau pergi memanen padi?
Ya, atau tanaman nanti bisa gepeng.
Ayo pergi, Soi. / Ya, bibi Faeng.
Fati-hati, Faeng.
Ya, pastilah.
Aku tak berniat mati di sana kok.
Pagi-pagi udah sial.
Ayo, cepat!
Bapak, Ibu!
Pak Kades dan Biksu manggil untuk berkumpul.
Aku akan gabung ke sana.
Faeng.
Faeng.
Faeng., kau di situ tidak? / Hai, Deuan.
Faeng sudah pergi sejak tadi.
Kemana perginya? / Memanen padi.
Saeng, bangun!
Mereka pada kumpul, kenapa kau masih tidur saja?
Bangun!
Aduh bu,
terserah merekalah
tak ada hubungannya sama aku.
Kenapa kau bilang begitu?
Cepat ikut ibu!
Ayo jangan letoy!
Saeng, kau masih di sini?
Ya, kalian duluan saja.
Ayo, cepat!
Ikut aku!
Kenapa mereka memanggil kita?
Entahlah.
Fuk.
Bukan Fuk, aku Faeng. / Pak Kades menyuruh kumpul.
Kenapa manggilnya sekarang?
Aku lagi sibuk panen. Rencanaku hampir saja selesai.
Soi, ayo!
Cepat Soi, ikut aku!
Ya, bibi. / Ikut aku.
Permisi.
Deuan, tunggu aku!
Tolong minggir dong.
Minggir.
Hari ini, aku meminta kumpul disini
karena aku ingin mencari sukarelawan
untuk memata-matai Manramaeng di kota Yasotrawadee.
Aku bersedia. / Jika kau ikut,
siapa yang akan melindungi desa ini?
Begini, kalau kau tak ijinkan dia pergi...
lalu siapa yang pantas pergi?
Siapapun yang pantas untuk misi ini
penampilannya tidak boleh seram
agar mereka tak gampang curiga.
Misi ini sangat berbahaya.
Kita cuma butuh orang yang cerdas
dan pintar saja!
Aku termasuk tak pintar ya?
Kayaknya begitu.
Kenapa kita harus memata-matai mereka?
Lagian tak ada kaitannya sama desa kita.
Kenapa tak berkaitan?
Kalau mereka ingin menyerang Asoraya,
mereka harus melewati desa kita, Kung Raka.
Pada saat seperti ini, kalau kita cuma memikirkan enaknya saja,
maka saat bencana melanda kita...
kita akan kehilangan segalanya.
Kami ini cuma petani, bisa apa kami untuk melawan mereka, Biksu?
Jika hari ini tak ada yang bersedia jadi sukarelawan,
kalian balik saja dan coba pikirkan
apakah kalian memang ingin mementingkan diri sendiri,
atau hidup demi negara sekali saja.
Hari ini kalian ada disini.
Yang bersedia, tetap disini.
Yang tak bersedia, silahkan pulang.
Ayo pulang.
Ayo.
Tak ada yang bersedia.
Terima kasih Hom, atas kesediaan jadi relawan kali ini.
Cuma pura-pura ingin bantu.
Baguslah kalau dia pergi dan mati di sana.
Maka desa kita tak akan berisik lagi.
Jangan keras-keras!
Gon.
Apaan? / Jadi, kau ikut?
Kemana?
Kota Yasotrawadee.
Kali ini, kalau kita tak pergi...
desa kita pasti bakal hancur.
Tapi kalau aku pergi... aku yang mati,
gimana dong?
Kau diam saja karena bingung? / Ya, bibi.
Tapi kalau aku ya...
Maksudnya kamu pergi gitu? / Ya enggaklah.
Lantas kau mau ngomong apaan?
Sana masuk. Waktunya tidur.
Ya, bibi.
Tak ada gunanya bicara sama kamu.
Faeng.
Hey, ada apa, Boontheung?
Ada yang ingin kubicarakan. / Soal apa?
Soal pergi ke Yasotrawadee.
Apa kau pergi?
Aku lagi mikir. / Mikir?
Mikir.
Sana mikirlah dalam gubukmu.
Sana. / Ya, mbak.
Ayo lekas.
Tunggu aku. / Faeng!
Faeng!
Kayaknya tak bisa tidur nyenyak aku ini.
Apa maumu, Hom? / Ada yang mau dibahas.
Soal pergi ke Yasotrawadee?
Oh ya.
Tapi aku tak bersedia.
Tapi kenapa kau masih berdiri waktu kumpul-kumpul tadi?
Ketiduran.
Sana, pergi.
Kemana? / Tidur, sudah larut malam.
Sudah larut malam, maka kita harus tidur, Gon?
Lalu kapan kau mau tidur?
Siang hari. / Betul itu.
Ayo balik, nanti kita akan dapat banyak masalah lagi.
Sama Faeng? / Sama aku!
Dasar wanita jahat.
Harusnya jangan buang-buang waktuku sama masalahmu.
Enakan di rumah mengerjakan kerjaan rumah.
Itu akan lebih bermanfaat.
Lalu aku akan bicarakan ini sama siapa?
Deuan.
Deuan, Deuan. Ada yang mau kubicarakan.
Aku tidur.
Zzz...
Pasti dia lagi tidur.
Kenapa bisa ngorok kalau dia tak tidur?
Ya!
Makan yang banyak biar kau kuat.
Bertarung kayak ayam jantan, mengeras kayak lelaki.
Deuan, Deuan. Itu dua kali.
Ada yang ingin aku bicarakan.
Bapak, Ibu.
Huh? / Sini masuk.
Oh, aku lagi kasih makan ayam.
Hati-hati jalannya.
Ya.
Masuk rumah lagi?
Siapa lagi yang bisa kuajak bicara?
Ada yang ingin kubicarakan.
Kurasa alasanmu bagus.
Huh? Kau ngomong apa?
Ud-wud, ya?
Mm, ud-ud, baiklah.
Terima kasih banyak, aku pergi dulu.
Sekarang aku tahu harus berbuat apa.
Kosong.
Saeng.
Ya, Bu.
Kau ini laki-laki,
jangan terus mabuk begini.
Negara lagi butuh orang kayak kamu sekarang ini
untuk melindungi kita dari musuh.
Bu, laki-laki kayak aku apa bisa melawan mereka?
Tentu bisa.
Ibu ingin melihatmu bertarung kayak ksatria.
Lihatlah Krai, kau harus seperti dia.
Bertarunglah demi ibu, agar ibu bisa melihatnya sebelum mati.
Krai.
Kau mau apa dariku, Saeng?
Aku ingin tahu
apakah kau ingin bertarung dengan orang lain?
Aku belum tahu.
Aku lagi cemas.
Istriku, Kamlai, seperti yang kau lihat.
Bagaimana aku bisa pergi?
Benar juga ucapanmu.
Tapi bila kau sudah memutuskan,
beritahu aku.
Sampai nanti.
KOTA ASORAYA
Kau memanggilku untuk masalah mendesak,
masalah apa?
Aku berniat mau menangkap gajah sama istriku di waktu luang.
Kali ini bukan masalah administrasi,
mengapa kau anggap mendesak, Jenderal?
Bukan urusanmu!
Unit mata-mata memberitahukan bahwa
Yasotrawadee berencana menyerang kita
dan mereka mengutus unit mata-mata berpatroli
di dalam kota kita, Raja.
Maksudmu mereka memata-matai kota kita
dan mungkin tahu rencana kita, begitu?
No comments yet. Be the first to leave one.