Prvních 200 řádků.
EPISODE 9
Kenapa Kakek tadi?
Kau ingat apa yang terjadi tadi?
Tentu saja aku ingat.
Kenapa seperti tak mengenalku?
Mana mungkin aku tak mengenalimu?
Bukan begitu.
Aku hanya sedang memikirkan hal lain.
Maka itu, aku…
Benar, aku hanya melamun.
Jangan melamun saat berlatih.
Kau bisa terluka.
- Kakek, pulanglah. - Ya.
Kalau begitu, sampai jumpa.
Aku mau makan di rumahmu.
Apa?
Aku harus bilang Hae-nam untuk menyiapkan makanan enak.
Halo, Nek.
Aku ingin makan babi tumis pedas.
Seong-gwan.
- Halo. - Ya.
- Ada perlu apa? - Aku ingin mengambil barang.
- Kau mau pergi? - Ya.
Baiklah. Ayo masuk.
- Masuklah. - Baik.
Sudah pulang?
Seong-gwan, ada apa?
Aku mau ambil barang-barang.
Baguslah. Makanlah bersama kami.
Duduklah.
Kenapa mereka belum masuk?
Mereka sedang mengobrol.
Padahal bisa mengobrol di dalam rumah.
Kau mau pergi?
Ya.
Membuat film dokumenter.
Butuh waktu lama?
Ya.
Aku akan pergi cukup jauh.
Kenapa?
Ada apa?
Kakek mengalami…
suatu masalah.
Suatu masalah?
Dia sedang sakit.
Apa dia terluka karena balet?
Bukan.
Lalu?
Katakan.
Kakek…
mengidap Alzheimer.
Apa?
Dia mengidap Alzheimer.
"Alzheimer"?
Ayahku?
Tadi dia terdiam berdiri di jalan selama 30 menit.
Ketika menghampirinya, dia bahkan tak mengenaliku.
Kau pasti salah.
Ini sudah kali keduanya.
Sepengetahuanku.
Bagaimana kau tahu?
Aku membaca catatan miliknya.
Ini membuatku gundah.
Aku ingin beri tahu keluarganya.
Dia juga tidak tahu sebenarnya aku tahu penyakitnya.
Namun, aku akan terus berpura-pura
sampai dia mengatakannya sendiri.
Kakek masih ingin terus menari balet,
dan kupastikan menjaga keinginannya.
Hei, Ho-beom. Cepat!
Tidak boleh. Kembalikan.
- Kembalikan. Itu milikku. - Bagaimana? Ada?
Kembalikan.
Sial, kita mengacau.
Kenapa kau tak bermain?
Ayo main lagi.
Tumben kau menelepon.
Kau di mana?
Ada apa mendadak menelepon?
Apa terjadi sesuatu?
Tidak ada.
Katakan. Ada apa?
Seong-san.
Suatu saat,
siapa yang akan lebih menyesal?
Aku atau dirimu?
Tidak, kau lebih baik karena masih bekerja di sini.
Apa yang kau bicarakan? Jangan buat aku bingung.
Jika kau…
Jika…
kau sakit atau terjadi sesuatu padamu,
apa kau akan bilang pada Eun-ho?
Tentu saja tidak.
Kenapa?
Menutupi kelemahan di depan anak merupakan hal yang dilakukan orang tua.
Sampai jumpa.
Seong-gwan.
Kenapa dia?
Ada apa, Seong-gwan? Kenapa menatapi ayah?
Mulai lagi. Jangan bicarakan ide aneh lagi.
Ayah,
lolos!
Apa? Apanya yang lolos?
Mulai hari ini, ayah menjadi tokoh utama film dokumenterku.
Ayah juga cukup fotogenik.
Apa maksudmu?
"Kisah pria bernama Sim Deok-chul yang memulai balet di usia 70 tahun."
Keren, bukan?
Ayah hanya perlu membicarakan diri sendiri dengan santai.
"Kenapa menyukai balet,
dan bagaimana rasanya belajar balet"?
Berbicara tentang diri sendiri?
Kau sungguh tak ingin kembali ke rumah sakit?
Bagaimana, Ayah?
Seong-gwan, idemu bagus, tapi…
Chae-rok juga setuju.
Sungguh?
Aku tak terlalu peduli soal diri Kakek.
Namun, sepertinya dalam balet, itu bisa membantu. Jadi, aku setuju.
Akhir-akhir ini, Kakek kehilangan fokus.
Apa Kakek sudah merasa terpuruk?
Anggaplah ini sebagai sarana motivasi.
Apa sungguh membantuku dalam balet?
Ya.
Kalau begitu, baiklah!
Seong-gwan, berapa bayaran untuknya?
Ada bayaran?
Bu, kenapa dia selalu makan di rumah kita?
Kenapa kau sendiri makan di sini?
Kau tak pernah mendengarkanku.
Kau masih bisa makan masakan ibu?
Biar aku yang cuci piring, Hae-nam.
Lantas, siapa lagi?
Seong-gwan.
Kau tidak naik bus?
Aku sudah selesai cuci piring.
Kemarilah, Sayang.
Kenapa aku mendadak harus pakai masker?
Kau akan jadi pemeran utama
di film dokumenter Seong-gwan.
Jadi, kau juga setuju?
Kau baru tanya itu sekarang?
Astaga, bagaimana bisa ayah dan anak ini sangat mirip?
Kini bertambah dengan Chae-rok.
Bagaimana bisa menang melawan tiga orang?
Aku sudah tak peduli.
Lakukanlah terserah kalian.
- Hae-nam. - Jangan bicara.
Maskernya bisa kusut.
WARNET
Ho-beom.
Apa?
Maafkan aku tadi.
Aku salah paham.
Lalu?
Kakek punya penyakit.
Jika melihatnya lagi,
tolong hubungi aku.
Aku mohon, Ho-beom.
Kau mengagetkan ibu.
Kenapa kemari sepagi ini?
Aku mau menemui pemeran utamaku, Pak Sim Deok-chul.
Untuk sementara ini, aku akan tinggal di sini.
Jadi, kau akan makan dan tidur di sini?
Ternyata Ayah cukup lentur.
Seong-gwan,
ada apa kemari?
Ini pasti akan jadi karya terbaiknya.
Dia akan tinggal di sini.
- Sungguh? - Aku akan berusaha, Ayah.
Aku juga.
Cepatlah mandi. Sarapan sudah siap.
Baiklah.
Alzheimer?
Bagaimana kau tahu?
Aku membaca catatan miliknya.
SIM DEOK-CHUL 11, SILLIM-RO 3GA-GIL, GWANAK-GU
NAMAKU SIM DEOK-CHUL. AKU MENGIDAP ALZHEIMER.
HARI INI, AKU TERSESAT UNTUK PERTAMA KALINYA.
BALET MENJADI MAKIN MENYENANGKAN.
INI BATAS KEMAMPUANKU? TIDAK! AKAN KUCOBA SAMPAI BISA.
Benarkah…
ayahku mengidap Alzheimer?
Benar.
Jadi, bagaimana kondisinya sekarang?
Perkembangan penyakitnya tidak cepat.
Namun, seperti katamu, dia mendadak melamun di jalan.
Gejala seperti itu
mungkin tak berkembang secara bertahap.
Bisa saja gejala mendadak meningkat beberapa langkah,
atau lebih buruknya meningkat drastis.
Jadi, kusarankan agar segera memberi tahu keluarga.
Ayahku…
menari balet.
Aku tahu.
Tak apakah dia meneruskannya?
Katamu kau dokter?
Aku yakin kau tahu jawabannya.
Apa yang kau lakukan?
Tidurlah di mobil.
No comments yet. Be the first to leave one.