Informace o verzi

세작-매혹된자들-Captivating-The-King-E02-NEXT-NF
Komentář od Anangkaswandi

Tagy

other
Zveřejněno: 2024-01-21
Stažení: 26
Pro sluchově postižené: No

Náhled titulků v jazyce Indonesian

Prvních 200 řádků.

EPISODE 2

Sudah cukup.

Tuan?

Bagaimana keadaannya?

Tabib sudah datang?

Apa kata tabib?

Pangeran Agung berkata

tak perlu memanggil tabib.

Mengapa tidak?

Dia banyak berdarah.

Katanya dia mujur pisau itu tak kena tulang,

dan dia sudah sering terluka seperti itu.

Jadi, katanya dia tahu harus bagaimana.

Dia menyuruhmu jangan cemas.

Pangeran Agung ingin menemuimu.

Apa kau bersedia?

Yang Mulia Pangeran Agung.

Yang Mulia Pangeran Agung?

Yang Mulia Pangeran Agung.

Astaga.

Bukankah mau menjengukku? Mengapa kabur?

Jangan-jangan…

kau berbuat salah tanpa sepengetahuanku?

Jangan sembarang menuduhku kabur.

Aku hanya hendak pergi karena sepertinya Anda sedang tidur.

Benarkah?

Ya.

Anda yakin tidak perlu diobati tabib?

Tabib pun tidak bisa mengobati luka seperti ini.

Ini akan membaik setelah beberapa hari.

Anda terluka karena aku.

Ini bukan salahmu.

Ini salah pria tidak berguna itu.

Kalau begitu, istirahatlah.

Yang Mulia, lepaskanlah aku…

Sebenarnya aku tahu cara menghilangkan…

rasa sakit ini.

Bagaimana cara menghilangkannya?

Bermain Baduk .

Apa?

Anda serius?

Tentu saja.

Saat Guan Yu diobati Hua Tuo usai tertusuk anak panah beracun,

dia menghilangkan rasa sakitnya dengan bermain Baduk .

Kau aneh sekali. Mengapa harus ragu?

Bukankah waktu di lembah itu

katamu ingin sekali bertarung Baduk melawan aku jika ada kesempatan?

Waktu itu…

Aku tak tahu bahwa kau…

orang yang seperti ini.

"Waktu itu" apa? Cepat katakan.

Seperti Anda tahu,

aku selalu bertaruh saat bermain Baduk .

Papan Baduk -ku tidak ada di sini,

tetapi akan kukabulkan permintaan taruhanmu.

Apa itu?

Aku akan beri tahu setelah menang.

Bantu aku berdiri.

Dasar tak berperasaan.

Kau menang dengan satu jip .

Apa yang kau inginkan?

Ternyata turun hujan.

Sudah lama tidak turun mongwoo .

" Mongwoo "?

Rintik hujan halus dan deras bak kabut.

Itu nama panggilan kesukaanku.

Aku sudah tahu apa yang aku inginkan.

Tolong tulis nama panggilanku di sini.

Siapa nama panggilanmu?

Mong-woo.

Aku minta itu sebagai hadiah taruhan kita.

Kau enggan memberi tahu namamu sampai akhir?

Baik, tidak apa.

MONG-WOO

Ini.

Mulai hari ini…

kau adalah Mong-woo.

Kau manghyeongjiu -ku,

Mong-woo.

TEMAN, APA PUN STATUS SOSIALNYA

Padahal meski minta uang,

atau emas banyak sekali pun,

aku pasti akan mengabulkannya.

Kau sudah membuat kesalahan besar.

Kau hanya akan terus menatapinya?

Tolong, yang itu juga.

Ambilkan ikat pinggangku.

Yang itu juga.

Sekarang aku tahu siapa kau sebenarnya.

Tanganmu begitu halus dan lentik,

tak bisa mengikat tali topi sama sekali.

Kau pasti anak dari keluarga kaya

yang selalu dibantu seumur hidupmu.

Ya, kan?

Sudah selesai, Yang Mulia.

Kapan kita bisa bertemu lagi?

Apa?

- Soal itu… - Aku baru ingat.

Katamu suka kemenangan, tetapi benci hal membosankan, kan?

Karena kau sudah menang,

jadi, tak tertarik melawanku?

Saat mongwoo lagi,

akan kuberi kesempatan untuk membalas.

Baiklah kalau begitu.

Saat mongwoo turun,

ayo kita bertemu lagi di sini.

Yang Mulia.

Anda tampak ceria padahal terluka hari ini.

Mungkin karena Mong-woo.

Apa? Maksudnya hujan mongwoo ini?

Bukan.

Maksudku, pemuda tadi. Bukan hujan ini.

Kuberi dia nama panggilan karena enggan memberitahukan namanya.

Lancangnya dia tak beri tahu namanya.

Biar kuberi dia pelajaran.

Biarkan saja.

Dia tetap tak akan gentar meski dimarahi sekali pun.

Cara bicara dan pemikirannya sangat tegas.

Kau pasti akan kalah darinya.

Kita langsung pulang?

Tidak. Aku mau mampir ke suatu tempat.

Apa baru selesai sekarang?

Ya.

Kau sempat kemari?

Aku kemari beberapa kali saat kalian bermain Baduk .

Apa kau tidak sadar?

Aku tak sadar sama sekali.

" Mongwoo "?

Ini nama panggilan kesukaan Yang Mulia.

Kini dipakainya untuk memanggilku.

Jadi, kau menang juga hari ini?

Ya.

Tidak. Sebenarnya,

aku kalah darinya.

Namun, aku berpura-pura menang.

Aku tidak boleh mengaku kalah.

Aku baru sekali melihatmu kalah, Nona.

Bagiku juga.

Selain dahulu, waktu belajar dari Ayah.

Namun, mengapa kau berpikir tak boleh mengaku kalah?

Entahlah. Hanya saja…

sepertinya aku tidak mau kalah.

Tidak juga.

Bukan begitu, tetapi…

Nona.

Kau baik-baik saja?

Ada apa denganku?

Mengapa jantungku berdebar?

Mungkin aku kaget melihat Yang Mulia terluka.

Sepertinya tubuh dan wajahku juga panas.

Ya, kan?

Sepertinya

kau jatuh hati kepada Yang Mulia Pangeran Agung.

Apa maksudnya itu?

Kau menyukainya sampai jatuh cinta kepadanya.

Cinta?

Tidak. Ini hanya karena aku terkejut.

Mungkin karena itu harus ada yang memberimu saran.

Terkadang ada hal yang tak bisa kau lihat, tetapi terlihat jelas di mata orang lain.

Benarkah aku…

jatuh cinta pada Yang Mulia Pangeran Agung?

Kalian siapa?

Mengapa berkeliaran di rumah Menteri Perang semalam ini?

Aku lancang karena tak mengenali Anda.

Maaf, Yang Mulia.

Tidak apa.

Salahku yang datang tanpa mengabari.

Namaku Kim Myung-ha.

Menteri Perang adalah ayahku.

Ada hal yang mau kubicarakan dengan ayahmu.

Baik.

Silakan ikut denganku.

Anak buahmu melukai Pangeran Agung Jinhan?

Maksudmu, dia sampai berdarah?

Mereka berniat menangkap dan menginvestigasi penjudi Baduk

yang ada di bawah naungan Pangeran Agung.

Namun, mereka ketahuan Pangeran Agung,

jadi, tak sengaja melukainya.

Mengapa bisa sampai begitu?

Maafkan aku.

Aku harus bagaimana?

Bagaimana apanya?

Singkirkan anak buahmu ke luar kota.

Meski Pangeran Agung dibenci rakyat,

tetap saja dia keluarga kerajaan…

dan keturunan Ibu Suri.

Cukupkah masalah ini diselesaikan dengan begitu saja?

Jika Pangeran Agung menyalahkanku,

bukankah itu pasti akan berdampak buruk juga kepadamu dan Ratu?

Tutup mulutmu.

Berani sekali kau mengancamku.

Maaf, Tuan.

Ayah, ini Myung-ha.

Ya. Masuklah.

Ayah.

Pangeran Agung Jinhan datang.

Yang Mulia Pangeran Agung,

mengapa mendatangi tempat sederhana ini?

Rumah sebesar dan sebagus ini kau anggap sederhana?

Kau terlalu merendah.

Komentáře

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left