De første 129 linjer.
Hei, Nishikata.
Hmm?
Kamu lagi apa?
Apa itu?
Kemarin baru beli nih!
Bagaimana? Ini bisa buat olahraga agar tangan jadi kuat, lo...
Iri, ya...
Oh, bagus juga ya.
Kecil dan praktis bisa dibawa ke mana-mana.
Lalu? kenapa kamu melatihnya?
Kamu tidak ikut ekskul, 'kan? Memangnya berguna?
Jangan-jangan karena keren saja?
Bukan begitu.
Kalau pergelangan kuat, aku bisa menggenggam apa saja.
Oh, misalnya?
Misalnya untuk membuka botol.
Kenapa tak pakai pembuka botol?
Karena lama.
Maksudnya?
Bisa menghancurkan apel.
Kenapa?
Ya pokoknya bisa lakukan apa saja!
Omong-omong...
Kok jadi berhenti?
Menggenggam Tanganku!
Satu, dua, satu...
Dua, satu, dua...
- Satu... - Ada apa?
Cuma menghitung ritme saja, kok.
Aku cuma iseng saja.
Oh, 'gitu.
Satu, dua, satu, dua...
Aku mengerti Takagi! Dia pasti 'nantangin aku.
Kalau aku tak bisa mengikuti ritmenya, maka aku yang kalah.
Jadi seperti itu ya...
Akan tetapi! Dibanding aku, dia cuma mengeluarkan suara.
Bagaimanapun tetap aku yang-
Dua, satu, dua, satu, dua...
Ritmenya makin cepat!
Tanganku, tapi kalau cepat begini Takagi akan kalah duluan.
Terburu-buru akan membuatmu gagal, Takagi.
Ayo semangat!
Satu, dua, satu, dua...
Selesai.
Akhirnya aku menang!
Akhirnya menang melawan Takagi.
Kamu berjuang keras sekali, ya.
Ngeselin!
Apa dia tak berniat bertarung?
Hei...
Oh, ternyata dari awal ini maksudnya.
Pertarungan tadi agar membuat pergelanganku lelah...
Kamu naif sekali Takagi.
Selelah apa pun, aku tak mungkin kalah.
Loh? Nishikata.
Maksudku, mau pinjam alat itu.
Yah, kukira pertarungan menggenggam tangan.
Apa kamu masih kurang menggenggam tanganku?
Apa ini?
Takagi! Takagi!
Takagi! Takagi!
Hei, Nishikata.
Hei, Nishikata...
Sebelah sini, Nishikata...
Takagi!
Takagi yang kamu cari,
apakah Takagi yang ini?
Atau Takagi yang ini?
- Hei, Nishikata... - Bukan!
Oh... kalau begitu Takagi yang ini?
Apakah Takagi yang ini?
Hei, Nishikata.
Hei, Nishikata!
Nishikata, sebelah sini.
- Ke mana kamu melihat? - Junko?
Saya perkenalkan murid baru.
Halo, mohon bantuannya.
Ayo lebih mendekat padaku.
Tu-Tunggu!
Tanganku sebelah sini.
Kamu ini bagaimana?
Sial... cara menggoda seperti ini!
Dasar Takagi!
Hei, Nishikata.
Cara menyerang kelemahan lawan...
- Bukankah itu curang? - Kenapa ada Dandy segala?!
Itu namanya strategi.
Dor!
Ta-Takagi!
Takagi.
Waduh, 'kan hari ini masuk.
Oh iya, masih libur musim panas.
Waktu mengerjakan PR, aku masih melatih genggaman dengan ini.
Lalu tertidur.
Ternyata cuma mimpi.
Apa jangan-jangan!
Di festival musim panas kemarin.
Sampai ke dalam mimpi pun masih dijahili sama Takagi.
Terbakar sinar matahari
Hai.
Hai, terakhir kali ketemu waktu di festival musim panas ya?
Lama tidak bertemu.
O, Oh...?
Bukan berarti ketemu di mim-
- Mimpi? - Ah... sial!
Terucap yang tidak penting.
Eh... aku tersanjung sekali.
Mimpi seperti apa?
Ga, gak tau ketika bangun aku sudah lupa.
- Mimpi yang mesum? - Mana mungkin yang itu!
Loh? Bukannya tadi kamu bilang sudah lupa?
Ada urusan apa?
Padahal mulai besok sudah masuk sekolah.
Urusan yang penting?
Oh, iya. Kamu ada waktu gak?
- Ya... ada sih. - Ok!
Kalau begitu ayo jalan-jalan.
Hari ini sudah akhir libur musim panas ya?
Iya yah, padahal kalau lebih lama lagi lebih seru.
- Apa liburmu menyenangkan? - Ya itu mah...
Kemarin pun berenang sampai kulitku begini.
Wah, keren, ya. Nishikata.
Aku juga ke pantai tapi kulitku tidak sekeren kamu.
Ya, begitulah.
Panas banget! Obrolan di tengah panasnya matahari!
Bakal gawat kalau punggungku yang sakit ketahuan sama Takagi.
- Ternyata punggungmu masih sakit, ya? - Langsung ketahuan.
Tapi aku tidak boleh kalah di sini.
Tidak sakit sama sekali kok.
No comments yet. Be the first to leave one.