De første 200 linjer.
Mana yang lebih merusak, laser atau petir?
Hari ini, untuk menentukan juara
di antara semua elemen yang diuji di kanalku,
keduanya akan diadu dengan tujuh benda rumahan,
termasuk CD, bola kristal, dan brankas penuh uang.
Ayo!
Karena laser mengalahkan lava untuk mencapai final,
mantan guru SMP kesayangan kalian yang jadi ilmuwan gila ini
kembali hadir, Science Bob Pflugfelder.
- Sukses, Mark! - Kau positif sekali.
Mewakili petir, inilah Mehdi Sadaghdar, alias ElectroBOOM.
Dia datang tanpa tata krama,
tapi membawa sejumlah mesin listrik canggih
untuk pamer penguasaan elektron.
Aku memang jago. Agak jago.
Lagi-lagi, untuk pertunjukan penutup,
aku takkan diam menonton saja.
Ketujuh benda tadi harus menghadapi metode penghancuranku alias X-Factor
yang berbeda untuk setiap benda.
Misalnya, lampu lava ini mungkin akan jadi lampu lava sungguhan.
Astaga!
Lalu sesuai dugaan,
mereka langsung mulai saling ejek.
- Petir unggul. - Aku khawatir kau selamat.
Wah! Omong-omong, pemenang kompetisi hari ini…
- Akan dapat brankas penuh uang. - Masa?
- Jangan senang dulu. - Uang asli.
Sebelumnya, aku menang perahu berkarat.
- Biaya buangnya lebih mahal. - Astaga.
Ayo kita mulai.
- Tamatlah kau, Bob. - Petir.
Kini, saatnya mulai adu penghancuran tujuh benda ini,
dimulai dari tantangan membakar CD dari koleksi pribadi kami.
Bob akan menggunakan laser kelas militer superkuat
untuk menghancurkan lagu-lagu hit Rod Stewart.
Boleh juga.
Aku penggemar beratnya, terutama lagu kesembilan.
Bob pun menyalakan laser dan lagu Rod Stewart yang jarang didengar.
Wah!
Apa? Tunggu, musnah!
- Di mana CD-nya? - Musnah!
- Seperti akhir Avengers . - Apa yang terjadi?
Kami putar ulang untuk melihat
laser superkuat Bob menekuk CD-nya , lalu menghanguskannya secara spektakuler.
Apa-apaan itu? Tidak seberapa, Bob.
Itu sudah jadi abu.
- Paling masih bisa diputar. - Ya.
Lihat saja aksiku.
Mehdi langsung mulai provokasi.
Semoga bukan cuma gertak sambal.
Wah, dia ceroboh.
Kini giliran petir,
jadi saatnya melihat aksi Mehdi dengan kumparan Tesla sangar
yang ia bawa ke CrunchLabs.
Untuk membakar CD-ku, aku memakai…
Barusan kau tersetrum?
Arusnya ke tanah lewat sepatuku.
Bicaramu jadi melambat, ya?
CD-ku patah. Chris De Burgh yang malang.
Saatnya membuktikan apa kumparan Tesla juga bisa menyetrum CD-nya.
Wah!
Ternyata sukses besar. Kilatan listriknya menghiasi CrunchLabs.
Cantik sekali.
Ibarat ngengat pada cahaya, kami tertarik mendekat.
Tapi batal begitu ingat standar K3 Mehdi.
Wah! Sedikit lagi bakal terputus.
Kita coba sekali lagi.
- Aku ragu. - Aku tidak ragu.
Aku tak kapok mencoba dan selalu belajar hal baru.
Bonus bekas luka.
Firasatku buruk.
Dia memasang kabel arde pada CD
supaya dia bisa mendekat dengan aman.
Mehdi telah menjadi dewa petir.
Begitulah cara melenyapkan CD!
CD ini pun menghadapi Ragnarök-nya.
Cantiknya.
Lalu, Mehdi tersetrum.
Oke.
Meski hari itu sudah dua kali kecelakaan,
Mehdi bisa menghanguskan CD-nya.
Aku memang jago. Agak jago.
Biar kuluruskan, meski Mehdi biasa merakit
alat-alat keren yang ujung-ujungnya menyetrumnya…
dia punya gelar S2 Teknik Elektro,
sangat pintar, dan memang menguasai bidangnya.
Jadi, jangan tiru adegan ini memakai kumparan Tesla di rumah.
Keluarkan X-Factor-nya.
Saatnya menunjukkan kehebatan X-Factor.
Bersiaplah untuk terpukau.
Serius? Microwave?
Bukan microwave biasa.
Ada dua mata mainannya.
Mata mainan atau bukan,
Mariah Carey siap untuk keseruan ini.
Tiga, dua, satu.
Katanya jangan pernah memasukkan logam ke microwave.
Benar. Jangan dicoba di rumah. Coba di CrunchLabs saja.
Wah!
Wah!
Microwave menyuguhkan atraksi cahaya yang keren.
- Wah! - Wah!
Hasilnya memuaskan.
Jangan hirup asapnya.
Pada akhirnya, selain menghancurkan CD, putusan akhirnya adalah …
- Punya Mehdi paling keren. - Ya.
Tentu saja, Bob.
Lanjut ke ronde dua.
Setelah poin pertama didapat, kami bersiap untuk ronde dua yang dingin.
Es balok.
Aku mau membuat patung angsa.
Aku takkan beri bocoran, tapi aku yakin bisa menang.
Jangan-jangan gergaji mesin…
Bob maju duluan dengan lasernya.
Baiklah, ayo.
Saat dia mengarahkan laser ke permukaan es,
air yang menetes itu pertanda lasernya…
- Lemah! - Sangat lemah.
Memang manjur, Bob?
Sifat cahaya memang begini.
Sejujurnya, dia benar.
Karena es itu transparan, laser hanya menembusnya
tanpa memantul atau terserap.
Jadi, tak ada akumulasi panas yang bisa merusak esnya.
- Wah! - Akan kucoba lagi.
Kali ini, Bob memusatkan lasernya pada satu titik saja.
Gawat.
Permukaan kasar pun terbentuk pada es
sehingga laser bisa berinteraksi dengan permukaan es
dan mengakumulasi panas
hingga akhirnya
berhasil melubangi es tersebut.
Keren juga.
Seperti ditembus peluru.
Peluru yang membunuh dalam setengah jam.
Saatnya Mehdi membuktikan sesumbarnya.
Biar kutunjukkan.
Aku akan memakai mesin las dan mengalirkan arus 650 ampere ke…
Oh!
Seperti kataku.
Mehdi berencana memanfaatkan akumulasi panas
dari hambatan listrik untuk membuat…
Pisau besi panas menembus mentega es.
Wah, ada suara mendesis.
Tambah arusnya.
Wah, memerah.
Lihat ini.
Wah!
- Keren. - Beginilah caranya.
Besinya bengkok.
Awalnya lancar,
tapi mendadak macet.
- Apa yang terjadi? - Tengahnya menghitam.
Esmu terlalu dingin.
Mehdi harus keluar tenaga
untuk memotong esnya
dengan bagian besi yang masih panas membara.
Dari sisi ini juga.
Walau sudah berusaha hingga es agak meleleh,
tapi setelah memanas lagi dan besinya bengkok…
Berhenti memercik.
Baiklah, aku selesai.
Wah, nyaris.
Memang gagal, tapi tetap keren.
Cukup sudah main-mainnya.
Saatnya X-Factor beraksi.
Beginilah caranya menang.
Aku tidak sabar melihatnya.
Pakai bola nikel yang panas membara!
Wah!
Suaranya enak didengar.
Pertanyaannya, bisakah ini menembus lebih dalam?
Ayo!
Inti bola sudah dipanaskan hingga 1.100 derajat.
Perlahan, tapi pasti, bolanya menembus bongkahan es.
- Makin dalam. - Masa?
Tapi sayangnya, hukum termodinamika…
Apa?
…berkata lain.
Tidak!
Dalamnya penuh air.
Energinya habis terserap.
Butuh banyak energi untuk memanaskan air.
Pemenangnya jelas.
Memangnya jelas?
Pemenang ronde ini belum jelas.
Aku punya solusi. Begini saja.
- Gravitasi akan sedikit membantu. - Dorong!
Yang pecahannya paling rapi, dialah yang paling merusak esnya tadi,
jadi dialah pemenangnya.
Tapi sayangnya, dua ronde berturut-turut…
- Aduh. - Sial!
Oh, Kanada
Kau jadi nasionalis.
Baiklah, dua-nol.
Lanjut.
Kami beralih ke lampu. Tantangan ini sedikit berbeda.
- Ini lampu Science Bob. - Ini lampu Science Bob.
Kali ini, tujuannya bukan menghancurkan lampu,
tapi menciptakan lampu dari elemen pilihan kami.
No comments yet. Be the first to leave one.