De første 178 linjer.
Mundur! Mundur!
Bukan jebakan.
Banyak kehadiran manusia, kami tidak menduganya.
Kalian langsung mengerti bahasa kami.
Jadi, kalian itu siapa?
Penduduk Kota Emas?
Kami hanyalah Unit Interferensi,
bertugas mengobservasi, menyentuh, mencari, dan mengumpulkan.
Kosa kata baru, pengalaman baru.
Kami ingin lebih mengenal kalian.
Aku paham sekali.
Kami juga haus pengetahuan.
Mari kita mengobrol.
Supaya bisa saling mengerti.
Benar, pada akhirnya kami tahu.
Meskipun di sini memang benar Kota Emas,
ternyata lingkungan di sini
lebih kejam daripada tempat asal yang telah kami tinggalkan.
MADE IN ABYSS THE GOLDEN CITY OF THE SCORCHING SUN
Kalau memang ingin kembali, kita cuma bisa menaiki ini, ya?
Bagaimana cara pakainya?
Minta tolong dia untuk menggerakkannya lagi?
Tidak ada cara lagi selain mencobanya.
Ketika tiba di Shourou,
altar di tempat ritual kebetulan berfungsi,
membuat kami bisa turun.
Pemicunya adalah Narehate yang memegang batu di dekat altar.
Setelah meletakkannya, altarnya mulai bergerak.
Aku tidak tahu kenapa dia bisa ada di sana.
Tapi kami perlu mengetes apakah dia bisa membawa altar itu ke lapisan atas.
Altarnya bisa naik,
tapi setelah beberapa waktu,
turun kembali.
Apa?
Di tempat ini, manusia tidak bisa kembali ke wujud manusia mereka yang sebelumnya.
Ada penjelasan dari Wazukyan!
Kita sudah tidak bisa pergi atau kembali.
Tapi Kota Emas yang melegenda, terbentang, dan belum tersentuh itu benar adanya.
Saat ini kita sedang ada di dalam legenda,
dan kitalah yang akan mengurai legenda yang ada di sini.
Lagi pula, kita ini orang buangan.
Kalau tidak punya tempat, kita mulai saja dari sini.
Kitalah yang akan menjadi penduduk pertama di tanah Kota Emas ini!
Selain di tempat misterius ini, tidak ada lagi tempat
yang dapat mewujudkan keinginan lama kami yang terpendam.
Meski bukan utusan yang dipilih oleh dewa,
kami bisa mengatakan hal itu dengan pasti.
Bagaimana?
Asalkan mengirit, kita bisa bertahan tujuh hari.
Tapi airnya akan segera habis.
Mungkin para Unit Interferensi tahu sumber mata air.
Aku sudah tanya, tapi rutenya sulit.
Karena mereka bukan makhluk hidup, jadi, tidak akan terkena Kutukan.
Selain itu kita tidak bisa mengukur sejauh mana kita bisa naik
sebelum terkena Kutukan.
Susah juga, ya.
Ini dibacanya apa?
Kau bisa membacanya?
Maen.
Mengejutkan.
Bahkan aku pun tidak tahu ini.
Tingkat literasi penduduk di sini jauh lebih tinggi dari kita.
Pengetahuanmu akan sangat berguna untuk mempelajari Kota Emas ini.
Belaf, dia namanya Irumyuui.
Dia memberitahukan namanya padaku.
Vueroeruko,
kumpulkan orang-orang yang bisa baca tulis.
Para Unit Interferensi juga.
Irumyuui, aku mengandalkanmu.
Hei, Irumyuui.
Ke mana orang-orang yang tinggal di sini?
Tidak tahu, tapi mereka tidak ada di sini.
Kata seorang legenda desa yang memiliki tato di tubuhnya,
mereka terlihat seperti manusia.
Kalau sudah menjadi penduduk desa yang teladan,
tubuh kami akan diberi tato.
Seperti penduduk Kota Emas.
Tapi aku…
Tidak bisa hamil dengan tubuh ini.
Kemudian ditato untuk dijadikan tumbal.
Apa ini?
Sejak kapan ia di situ?
Ada apa?
Vueko! Ada yang masuk ke topimu.
Kapan ia masuk ke sini?
Imutnya!
Irumyuui, mungkin saja ia berbahaya.
Sepertinya sangat jinak.
Terlalu jinak untuk ukuran makhluk hidup yang bersembunyi di dalam cangkang.
Vueko, untuk sekarang kita belum bisa memelihara makhluk itu.
Tenang saja!
Di tempat seperti ini pun ia bisa bertahan hidup.
Jadi…
Dengan menyelidiki pola hidup makhluk itu,
mungkin bisa bermanfaat bagi kita untuk bertahan hidup.
Benar!
Sementara kita amati situasinya dulu.
Wazukyan, tidak apa-apa, 'kan?
Tentu saja, soalnya imut.
Tempat untuk mencuci sudah siap.
Kemungkinan terkena Kutukan juga rendah.
Ada lima sumber mata air di tempat yang sejajar.
Dua yang besar di antaranya
merupakan wilayah para makhluk mematikan.
Salah satu dari ketiga yang tersisa,
ada menara baja yang tenggelam di dalamnya,
membuat air tersebut bercampur karat.
Satu lagi suhunya sangat tinggi hingga Unit Interferensi pun tidak bisa mendekat.
Berarti hanya ada satu?
Ya.
Unit Interferensi tidak membutuhkan air.
Jadi, kita sendiri yang harus menguji apa air itu bisa diminum.
Bening dan tidak berbau.
Tunggu! Harus dimasak dulu.
Untuk sekarang kita bawa dulu.
Semuanya sudah menunggu.
Sumber mata air itu kami jadikan sebagai batu loncatan
untuk mencari cara bertahan hidup di Kota Emas pemakan manusia ini.
Meski beberapa mengalami luka-luka, perlahan tapi pasti,
kami pun menguasainya.
Kau kenapa?
Tidak apa-apa?
Terasa panas.
Aroma Ibu.
Jadi, itu alasanmu
menempel padaku sejak awal?
Aroma Ibu.
Aroma orang yang sering kawin dengan banyak orang.
Apa?
Ibu orang yang sangat penting, jadi, dia punya banyak anak.
Tapi cuma aku yang anak perempuan.
Jadi, aku sering dimanjakan oleh kakakku.
Tapi setelah diperiksa, aku tidak bisa hamil.
Katanya aku telah dikutuk.
Karena orang yang terkutuk dilahirkan oleh lubang raksasa.
Harus dikembalikan ke asalnya.
Ibuku dan kakak-kakakku,
sudah tidak menganggapku lagi.
Mereka bilang aku bukan…
Keluarga mereka lagi.
Aku…
Irumyuui, aku juga tidak bisa hamil,
jadinya, itu…
Aku tidak bisa jadi pengganti ibumu.
Kau bukan pengganti, akulah yang menginginkan sosok Vueko.
Aku tidak ingin dibuang lagi.
Aku…
Aku…
Ingin menemukan cahaya.
Tapi yang kutemukan di dalam kegelapan ini
hanyalah kegelapan semata.
Tapi kenapa?
Kenapa kegelapan ini begitu hangat?
Aku tidak akan melepasmu,
Irumyuui.
Vueko!
Bangunlah.
Ya.
Selamat pagi, Irumyuui.
Irumyuui?
Diare? Sebanyak ini?
Telur bening?
Ulat?
Vueko, cepat ke sini!
Semuanya…
Padahal kemarin hanya demam ringan.
Coba lihat Eychem.
Jari kakinya meleleh dan mengeras seperti timah.
Mereka semua punya bekas diare.
Aku butuh air untuk merawatnya!
Ini bisa jadi akan menular!
Vueroeruko, sisanya kuserahkan padamu.
Ya.
Aku berangkat.
Demamnya tidak turun.
Vueko!
Sekarang apa lagi?
Kurasa mereka dari tim pencari bahan makanan.
No comments yet. Be the first to leave one.