De første 182 linjer.
Irumyuui.
Ada sesuatu yang harus kucari sebelum bertemu denganmu.
Kompas ini...
Di sanalah tempat kompas ini berdiri dengan tegak.
Pria yang memungut diriku yang sebatang kara,
benar-benar sangat jahat.
Dia selalu menceritakan ini padaku.
Cerita bualan soal "Menjadi Pemeran Utama".
Karena dipaksa mendengarkannya, aku ingat betul dengan cerita itu.
Pada suatu hari yang tenang,
saat pergi ke laut untuk memancing,
dia menemukan kapal yang mengeluarkan asap.
Tidak terbakar tapi mengeluarkan asap.
Jasad yang terus mengeluarkan asap.
Tubuh yang hampir terbelah dua,
terus menggeliat seperti cacing.
Organ dalamnya tercerai-berai.
Di dalam kabin,
ada satu orang yang masih tersisa dalam wujud manusia.
Tapi dia...
sudah ada di dalam kondisi tidak bisa diajak bicara.
Apa ini?
Dijual laku berapa?
Itu...
Kompas.
Di sanalah tempat kompas ini berdiri dengan tegak.
Lubang raksasa.
Terus menuju ke dasar bumi yang tidak berujung.
Pemakan manusia.
Aku...
Aku tidak mampu melihatnya.
Kota...
Di sana ada Kota Emas.
Di lubang raksasa.
Pemakan manusia.
Itulah yang dia katakan.
Akhirnya dia mati.
Hei, tidak apa-apa, kan?
Jawab.
Aku tidak sepertimu.
Hei.
Jawab.
Aku...
bukan cuma orang yang membual sepertimu.
Aku sudah bersiap.
Demi tujuan itu.
Cuma demi tujuan itu.
Hanya demi tujuan itu.
Tidak.
Bukan.
Aku hanya mendambakannya saja.
Ke tempat...
yang tidak ada seorang pun mengenaliku.
Kota Emas itu...
bisa mengubah sampah menjadi emas.
Bahkan orang bekas pakai seperti dirimu,
daging busuk seperti ini pun,
sepertinya aku bisa mengubah kalian menjadi emas.
Masih menggema meski telah menjauh.
Suara itu...
Tempat aku bisa menghilang.
Berat banget.
Sebanyak apa pun aku berlatih,
aku tidak pernah terbiasa dengan mabuk laut.
Sudah 20 hari berlalu sejak dari pelabuhan terakhir.
Ikan segar dan miras yang tidak bisa basi adalah makanan mewah di sini.
Hari ini pun Komandan Wazukyan menangkap serangga dari lambung kapal,
lalu dimakan mentah-mentah.
Katanya buat mencegah penyakit.
Selain itu, cakrawalanya...
Terkadang hilang dari pandangan,
kemudian jadi terlihat lagi.
Berulang dan terus berulang.
Lama-lama aku jadi terbiasa dengan muntah.
Bagus.
Tak ada yang bagus.
Kamu sudah terbiasa muntah.
Makanan yang berharga...
Tidak usah dipikirkan.
Kita masih ada stok biskuit laut untuk satu bulan.
Lagi pula kita hampir sampai.
Saat Kompas Bintang berhasil berdiri tegak,
kita hanya bisa mengandalkan angin
di laut yang belum dipetakan ini.
Yakin aku saja yang membawa ini?
Tentu.
Sekarang kamu sudah termasuk Tiga Anggota Terkuat Ganja.
Saat kamu membawa kompas itu,
aku merasakan sebuah takdir.
Justru kamulah yang menjadi petunjuk jalan kami.
Tidak usah khawatir.
Hal yang kupercaya biasanya tepat.
Kita hampir sampai.
Sungguh.
Dah, aku mau menangkap tikus dulu.
Tidak usah cemas.
Belaf.
Dia bukannya menyepelekan.
Seharusnya kamu sudah mengerti.
Terkadang dia, dan kami semua, tidak bisa mengungkapkan
pengalaman yang kami alami dengan kata-kata.
Makanya dia jadi seperti itu.
Awalnya kami tidak menganggapnya serius karena semua hanya asumsinya saja,
tapi omongannya selalu tepat.
Mungkin dia dicintai Dewa.
Meskipun Kota Emas itu ternyata tidak nyata,
aku yakin dia pasti akan menemukannya.
Dia sudah memprediksi kalau kamu akan bergabung dan menjadi Tiga Anggota Terkuat bersama kami.
Di hari sebelum kamu muncul.
Dia punya bakat seperti itu.
Begini, Belaf.
Apa aku pantas menjadi Tiga Anggota Terkuat?
Aku merasa tidak pantas.
Memang apa alasannya?
Aku ini tidak berguna.
Tubuhku seperti sampah yang bahkan tidak laku dijual dan hanya bisa merepotkan orang lain.
Menurutmu apa itu keindahan?
Itu...
Orang yang percaya diri sepertimu, Belaf.
Aku tidak tahu.
Sesuatu bukan menjadi indah karena indah.
Bukan buruk karena buruk.
Matamu...
indah, ya.
Tepat sekali.
Keindahan adalah mata.
Tapi bukan mata dalam arti fisik.
Artikan sebagai "tatapan" dari mata.
Posisi, status sosial, kehormatan, penampilan,
dan percaya diri bukanlah esensi dari keindahan.
Meskipun buruk rupa, terus terjatuh saat melangkah ke depan,
terus dijegal saat mencoba bangkit,
Tataplah, cintailah, dan terus kagumi.
Tatapan itulah esensi dari keindahan.
Kamu memiliki mata yang gelap.
Arahkan pandanganmu pada kegelapan.
Satu-satunya cahaya yang tidak pernah ditemukan siapa pun hanya ada di dalam kegelapan sejati.
Kamu itu cukup berbakat dan manis lebih dari yang kamu bayangkan.
Bahkan sangat.
Meski kamu bilang kalau kamu kotor dan buruk rupa,
kamu tidak bisa mengelabui mataku.
Ingatlah ini kalau suara itu menakutimu.
Vueko, cepat kemari!
Samashura demam lagi!
Aku segera ke sana!
Menceramahi...
seperti biasanya, ya.
Tidak juga.
Aku hanya ingin mengenalnya lebih dalam.
Mana kapal yang lain?
Cuma kapal Jomi dan kita yang tersisa.
Wazukyan!
Lihat!
Barang-barang kapal Jomi.
Kemungkinan besar...
Belaf, Wazukyan!
Kompasnya!
Hei, itu!
Apa?
Pulau terpencil di perairan terlarang?
Jadi itu...
Ada yang mau turun duluan?
Baiklah, kita akan maju dengan gagah berani!
Akhirnya dimulai juga.
Ke tanah air yang kita tinggalkan.
Gemakanlah kepada orang-orang kita!
Langkah kita akan meratakan ketidakadilan!
Betulan ada.
Jadi itu...
Wazukyan.
Kita tidak diberi tahu tentang mereka.
Apa itu?
Boleh juga.
Justru ini asyiknya bertualang.
Begitu, ya.
Karakter yang unik.
Jadi ini lubang raksasa?
Hadimaen?
Madimo.
Apa katanya?
Sepertinya orang-orang yang kemari sebelum kita sangat kasar dan ingin menguasai tempat ini.
Dia enggan untuk berbagi informasi.
No comments yet. Be the first to leave one.